Panah Cinta Muslimah

Panah Cinta Muslimah
Kabur Lagi


__ADS_3

Ada seorang pria paruh baya, yang hendak menjemur tumbuhan cokelat. Dia terkejut ketika menerima sodoran senjata.


"Lebih baik mengaku, mengapa ada jilbab di jemuran itu?" Menunjuk objek yang dilihatnya, dengan intonasi penuh ancaman.


"Oh, itu hanyalah lap untuk piring basah. Sudah kotor, wajar saja bila dicuci." jawabnya.


"Kalau memang benar seperti itu, maka kami ingin menginap di sini." Sengaja melihat detail, untuk mengetahui reaksi sebenarnya.


Pria paruh baya itu berusaha menutupi. "Tidak masalah, lagipula tempat ini diperbolehkan untuk tamu istimewa raja Ghukong." Menunjuk sebuah jalan, agar para prajurit mengikutinya.


Mereka akhirnya ikut saja, sampai masuk ke dalam rumah. Mereka menerima jamuan air teh, seadanya saja tanpa embel-embel yang mewah.


"Sungguh malang kehidupan Bapak, sudah tua renta masih hidup di rumah seperti ini." ujarnya.


"Tidak mengapa, lagipula tidak bisa dibawa mati." jawab pria tersebut.


Alesha, Asma, dan Qiyna keluar dari persembunyian. Mereka segera berjalan ke asrama, lalu mengunci pintu rapat-rapat. Mereka tidak ingin tertangkap, oleh para manusia yang kejam tersebut.


"Bagaimana bila asrama ini diperiksa?" tanya Asma.


"Kita bisa sembunyi di tempat lain untuk sementara waktu." jawab Alesha.

__ADS_1


"Iya sudah, kita kemasin barang sekarang juga." ucap Qiyna.


"Iya cepat, kita masih sempat diam-diam." jawab Alesha.


Mereka berjalan mengendap-endap, agar tidak diketahui oleh orang-orang kafir. Tidak lama kemudian, terdengar suara tembakan.


"Gawat, kita harus cepat melarikan diri." ujar Alesha.


"Iya, kalau ketahuan kita bisa ditangkap." jawab Qiyna.


Qiyna dan Asma melangkahkan kaki masing-masing, mengikuti langkah kaki Alesha. Sementara pria paruh baya di belakang Chan, merasa takut jika ketiga gadis itu tertangkap.


"Kami ingin masuk ke dalam rumah ini." Menunjuk sebuah rumah, yang sebelumnya ditinggali mereka.


Mereka mendobrak pintu, tegak pinggang dengan sombong. Melangkahkan kaki dengan santai, sampai tidak sengaja menginjak jam tangan di lantai. Chan mengambilnya, lalu melihat ke arah pria paruh baya tersebut.


"Ini jam siapa?" tanya Chan, penuh selidik.


"Ini jam milik seorang Bibi, yang bersih-bersih asrama." jawabnya, dengan tenang.


"Ini asrama untuk siapa?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Untuk siapa pun yang ingin menginap." jawabnya datar.


"Aku melihat ada masjid di desa ini, apa itu untuk beribadah?" tanya Chin penasaran.


"Dulu memang banyak umat Islam, namun sekarang populasinya berkurang. Muslim kebanyakan dikucilkan, jadi sulit ingin berpegang teguh." jawab pria paruh baya itu.


Chan, Chin, dan beberapa prajurit percaya saja. Mereka memilih istirahat di dalam ruangan, daripada bertanya yang tidak dapat jawaban memuaskan.


Qiyna memegangi kakinya, begitupula dengan Alesha. Masih terasa sakit, bekas luka yang pernah ada.


"Oh iya, kita mau kemana?" tanya Qiyna.


"Kita akan mampir ke rumah cat hijau itu." jawab Alesha.


"Itu rumah siapa, memangnya tuan rumah kenal sama kita?" sahut Asma.


"Itu rumah Cika, aku mengenalnya waktu di masjid. Asalkan kita mau mengajari agama Islam, dia juga bersedia memberikan tumpangan." jawab Alesha.


"Lumayan, bisa untuk sementara. Kita bantu dia beres-beres rumah saja, agar tidak memberatkan bebannya." ujar Qiyna.


"Iya sudah ayo, perutku sudah lapar." ajak Asma.

__ADS_1


Alesha memegangi perutnya, yang sempat diganjal dengan kain. Hal tersebut bisa menahannya, dari rasa terlalu lapar.


__ADS_2