Panah Cinta Muslimah

Panah Cinta Muslimah
Razia Pasport


__ADS_3

"Permisi Kakek, Nenek, bolehkah kami bertanya?" tanya Amina.


"Iya Nak, ada apa?" jawab nenek tua itu.


"Apa kakek dan nenek tinggal disini?" tanya Amina.


"Iya, kami adalah penduduk yang memeluk agama islam dan mengasingkan diri di sini." jawab nenek tua itu.


"MasyaAllah, ternyata masih ada yang diam-diam mempertahankan agamanya." Alesha berdecak kagum.


"Apa teka-teki yang menunjukkan arah panah itu adalah tulisan nenek dan kakek." Tanya Amina yang masih penasaran.


"Tidak, bukan kami. Tulisan itu sudah ada saat kami masuk ke hutan ini."


"Oh seperti itu, kami mau keluar dari hutan ini. Terima kasih atas penjelasannya."


"Iya nak, berhati-hatilah dengan raja Erland. Dia adalah raja kejam, akan banyak tantangan yang akan kalian lewati." Sang nenek melihat mereka satu persatu.


"Iya Nenek" Jawab mereka bersamaan.


Mereka melanjutkan perjalanan mereka kembali. Setelah cukup lama berjalan, mereka akhirnya keluar hutan larangan itu.


"Bagaimana ini Alesha, bila kita ke kota Alberd kita harus menggunakan pesawat, apa ada yang mau mengurusnya untuk kita?"


"Sepertinya tidak, makanya kita harus diam-diam. Sudah banyak spanduk kita berlima di jalanan, yang tertempel di pohon-pohon."


Mereka melanjutkan perjalanan, dan menaiki angkot. Pengawal raja Erland sempat melihat mereka dan berlari mengejar.


"Pak, kami turun di depan sana." ujar Alesha.


Mereka segera membayar ongkos dan turun.

__ADS_1


"Ayo masuk ke dalam toilet umum itu." tunjuk Alesha.


Mereka semua segera berlarian masuk ke dalam toilet umum wanita.


"Beberapa di antara kita akan menyamar menjadi pria."


"Iya kami setuju."


"Aku dan Qiyna akan menyamar menjadi pria" Ujar Asma, mereka segera mengambil baju koko didalam tasnya. Dan sebuah kain untuk dililitkan di kepala dan lehernya.


Mereka keluar dari toilet, Qiyna bergandengan dengan Azizah. Amina bergandengan dengan Asma. Alesha memutuskan untuk keluar terakhir, memberi jarak.


Saat keluar tidak ada yang curiga dengan mereka berempat, pengawal hanya memandangi Alesha.


"Aku seperti kenal dengan gadis itu, ayo samperin." ujar Chan.


"Kenapa tidak tembak langsung?" jawab Chin.


"Permisi nona!" Chan dan Chin menghampiri Alesha.


"Iya, ada apa?" Alesha santai, menyembunyikan kegugupannya.


"Apa nona asli warga negara A? Warga negara A tidak diperbolehkan lagi mengenakan hijab."


"Oh tidak, saya adalah warga dari negara C. Saya tinggal di kota Alberd. Kedatangan saya ke sini untuk mengunjungi keluarga saya."


"Bisakah anda perlihatkan pasport."


"Hmmm pasport saya sedang ada di rumah keluarga saya." alibi Alesha.


"Kami akan mengantarmu ke rumah keluargamu."

__ADS_1


Tampaklah dari kejauhan, keempat teman Alesha memperhatikannya.


"Ada apa dia, kenapa pengawal seperti menginterogasinya?" tanya Amina.


"Ah, mungkin pengawal curiga." jawab Azizah.


"Apa yang harus kita lakukan untuk membantu Alesha?" tanya Qiyna.


"Kita harus mengalihkan perhatian pengawal itu." Asma mengusulkan ide.


"Iya, biar aku yang melakukannya." Qiyna berjalan ke arah pengawal.


"Permisi, kalian pengawal raja Erland bukan?"


"Iya, ada apa?" tanya Chan bingung.


"Kebetulan, saya sedang mencari kalian."


"Kenapa?"


"Raja kota C ingin bertemu Kalian, mari ikut saya. Dia telah menunggu di perbatasan."


"Baiklah." jawab kedua pengawal itu.


Alesha tampak bingung, dengan yang dilakukan oleh Qiyna. "Ide apa ini, jika yang lainnya naik bus, lalu aku bersama pengawal. Kita akan berpencar Qiyna." batin Alesha.


"Kamu ikut kami gadis, kami belum menemukan pasport-nya." ujar Chan melirik Alesha.


Alesha menuruti pengawal itu, dan mereka berjalan bersama. Mereka menaiki kendaraan khusus kerajaan. Azizah, Asma, Amina menumpangi kendaraan umum mengikuti mobil mereka.


Di perjalanan di tempat sepi, tiba-tiba ada pemeriksaan oleh polisi negara dalam jumlah yang banyak.

__ADS_1


"Turun, turun semuanya. Kami mencari lima gadis pengkhianat raja Erland." Polisi melihat seluruh mobil yang berjajar, untuk diperiksa.


__ADS_2