
Alesha memasang kamera di sudut ruangan kamar yang sekarang dia tempati. Dia juga membawa buku-buku kisah nabi dan meletakkannya di perpustakaan istana secara diam-diam. Keesokan harinya pengawal datang menemui raja Erland.
"Raja kami ingin melapor, bahwa masjid Tursia gagal untuk di robohkan. Pekerja di sana tewas dengan luka parah." Lapor Pengawal bernama Chan.
"Bodoh, menangkap gadis-gadis itu saja tidak bisa." teriak Erland.
"Mereka adalah teman dari gadis yang ada di istana ini sekarang." ujar Chin.
"Prajurit panggilkan gadis itu ke sini?" Raja Erland tampak murka.
"Baik raja." Prajurit menunduk memberi hormat, lalu bergegas menuju kamar Alesha.
"Tok! Tok! Tok!" Prajurit mengetuk pintu.
"Aduh gawat, aku harus segera keluar." Alesha yang ingin melaksanakan shalat Dhuha membatalkan niatnya, dan segera memasukkan mukenanya ke dalam tas.
"Hei gadis cepatlah keluar, raja memanggilmu." Prajurit berteriak dari luar.
"Iya sebentar." Alesha membuka pintu, lalu berjalan membuntuti prajurit.
"Raja, ada apa memanggil saya?"
__ADS_1
"Ada empat orang gadis yang sangat kurang ajar padaku, dia berani memberantas orang-orang ku. Apa mereka adalah temanmu?" teriaknya murka.
"Bukan raja, saya tidak memiliki teman seperti itu." jawab Alesha, dengan berusaha tenang.
"Sepertinya kamu mirip dengan gadis yang berlari saat itu, kenapa raja membiarkan dia tetap mengenakan hijab?" tanya Chan penasaran.
"Lepaskan hijab kamu!" Raja Erland memberi titah.
"Raja Erland, sesuatu hal itu akan lebih istimewa untuk kamu lihat, sampai aku memberikan jawaban." Alesha merayu raja dan berusaha tenang.
"Sepertinya dia aneh sekali, jangan biarkan ada orang yang masih menganut agama Islam di sini. Sebagai pembuktian agar kami percaya, harusnya kamu melepaskan hijab." Pengawal bernama Chin memprovokasi.
"Raja aku akan memberikanmu jawaban, berikan aku kesempatan sampai besok pagi. Bagaimana, cepat 'kan? Besok, kamu bisa melihatku tanpa hijab, jika aku menerima lamaran kamu." ujar Alesha.
"Aku tidak menerima penolakan, jika itu sampai terjadi akan aku penggal kepalamu."
"Iya baiklah, tunggu sampai aku siap raja tampan." Alesha terpaksa merayunya agar luluh, padahal dia sangat jijik mendengar kalimat yang dia ucapkan.
Raja Erland tersenyum. "Siapa namamu gadis cantik?"
"Namaku Alesha raja." jawabnya dengan berani.
__ADS_1
"Aku yakin kamu teman dari ke empat gadis pembangkang itu." Chan tetap kekeh, dengan keyakinannya.
"Jika iya, kenapa aku berani datang ke istana. Sama saja dengan mencari mati 'kan? Saat ada perkumpulan di lapangan, aku tidak ikut" Alesha berusaha tenang.
"Kenapa kamu tidak berkumpul di lapangan kota Shanan?" tanya raja menyelidik.
"Aku pergi ke luar kota."
"Oh begitu. Sekarang aku bisa meminta bukti 'kan, jika kamu tidak akan berkhianat kepadaku?"
"Apa dia tahu jika ini adalah tipu muslihat, untuk menyelamatkan islam, apa yang harus aku lakukan?" batin Alesha, yang mulai sedikit cemas.
"Kenapa kamu diam?" tanya raja Erland.
"Memangnya raja butuh bukti apa?" tanya Alesha.
"Aku ingin kamu ikut berperang hari ini, bantu aku untuk menghabisi kelima gadis tersebut."
"Baik raja, dengan senang hati."
Alesha ikut keluar bersama raja, mencari keberadaan Amina, Azizah, Asma, dan Qiyna. Meski sebenarnya dia tidak mau menyerang temannya, namun tetap menyembunyikan perasaan sebenarnya. Dia harus sabar menjalankan trik halus, untuk memperoleh sebuah kemenangan. Pura-pura tunduk, agar raja Erland lengah.
__ADS_1