Panah Cinta Muslimah

Panah Cinta Muslimah
Serangan Tauhid


__ADS_3

Tok!


Tok!


Terdengar suara ketukan pintu, lalu dibuka oleh seorang perempuan. Alesha tersenyum ke arahnya, lalu mengatakan maksud kedatangannya.


"Assalamualaikum ukhty." ucap Alesha sopan.


"Waalaikumus'salam." jawabnya.


"Sebenarnya, maksud kedatangan aku ke sini, karena ingin menumpang tempat tinggal. Jika ukhty berkenan, aku ingin memberikan bantuan tenaga." ujar Alesha.


"Jangan sungkan!" Cika tersenyum padanya. "Tidak mengapa kalau kalian ingin menginap, lagipula aku sendirian juga." jawabnya.


"Terima kasih." ucap Alesha, dengan tulus.


Cika menoleh ke arahnya. "Sama-sama."


Alesha melangkahkan kaki masuk ke dalam, bersama dengan teman-temannya. Mereka membuntuti Cika dari belakang.


Cika membuka sebuah ruangan. "Kalian bisa meletakkan barang di kamar ini."


"Iya Cika, terima kasih banyak iya." jawab Alesha.


Raja Erland merasa nyaman, karena tubuhnya dipijat oleh pelayan profesional. Sekarang dia berada di atas matras. Raja Erland tersenyum sendiri, melihat ke arah kaca jendela. Ada burung pelatuk, yang sejak tadi menempelkan mulutnya.


"Mengapa burung itu suka dengan kaca istana ini." ujar raja Erland.

__ADS_1


"Mungkin dia hanya sekadar singgah bukan suka." jawab seorang pelayan, di tepi ranjang.


"Iya, seperti aku kepadamu, yang tidak bisa sungguhan." ucap raja Erland.


"Oh begitu iya." Menjawab santai, meski hati terasa kesal.


Tauhid terbangun dari peristirahatan tidur panjangnya, melihat ke sekeliling tidak ada siapa pun. Tauhid merasa bersemangat, untuk melanjutkan aksinya.


"Demi adikku, sungguh aku akan berusaha keras. Kota Shanan ini harus benar-benar merdeka." monolog Tauhid.


Tauhid berjalan dengan perlahan-lahan, meski kakinya masih sakit. Tiba-tiba saja, ada beberapa orang menghampirinya. Mereka terlihat asing, karena tidak pernah dilihat sebelumnya.


"Kamu Tauhid 'kan?" tanyanya.


"Kalian siapa?" Tauhid melihat mereka, dengan waspada.


"Baiklah, ada perlu apa." Memberikan jawaban, yang akhirnya membubuhkan pertanyaan.


"Jadi seperti ini, kami akan membantu untuk menyerang istana." ucapnya.


"Kalian ini perempuan, tugasnya menyelip di bagian belakang." jawab Tauhid.


"Kata siapa perempuan hanya di belakang, dalam urusan agama kita setara." ujarnya.


"Bagus, itu baru muslimah sejati." puji Tauhid.


Serbuan anak panah mulai melayang, menghabisi manusia dzalim penindas agama. Tidak ada toleransi, untuk orang yang sengaja membakar masjid. Apalagi kesalahan mereka fatal, mencaci maki agama sampai membakar Al-Qur'an.

__ADS_1


"Cepat, hentikan aksi kamu dan teman-teman." pinta Tauhid.


"Baiklah, kami mengaku kalah." Seseorang yang sudah melihat panah hampir menusuknya.


"Segera bertaubat, bereskan kekacauan. Urusan raja kalian, biar kami yang atur." ujarnya, seraya mengendurkan alat panah.


"Baiklah, terima kasih telah memberi kesempatan." jawab prajurit laki-laki tersebut.


Alesha meletakkan jari telunjuk di bibir, supaya anak kecil tidak memberitahu keberadaannya.


"Jangan beritahu keberadaan aku." ujar Alesha, dengan berbisik-bisik.


"Hmmm... mengapa Kakak bersembunyi." Laki-laki itu melihat dengan kebingungan.


"Aku sedang menghadapi sebuah bahaya." ucap Alesha.


"Baiklah, aku akan menyembunyikan Kakak." jawabnya.


Raja Erland dan raja Ghukong melewati Alesha, yang sedang bersembunyi di salah satu tempat.


"Tidak ada gadis bermata besar yang lebih imut?" tanya raja Erland.


"Mengapa isi otakmu selalu manusia cantik saja." jawab raja Ghukong.


"Dunia ini untuk bersenang-senang, harus berganti-ganti wanita sesuka hati." ujarnya.


"Hmmm... raja Erland tampak seru sekali dalam hal ini." jawab raja Ghukong.

__ADS_1


Raja Erland tersenyum lebar, menatap semua perempuan cantik yang menjadi target mata.


__ADS_2