
Mereka berjalan keluar dari terowongan bawah tanah, mereka membawa panah dan tas ransel seperti biasa. Azizah, Qiyna, Asma dan Amina pergi mengelilingi kota Shanan dengan berpencar.
"Lihat di sana, ada dua gadis berhijab. Tangkap dia." Pengawal berteriak, ketika melihat mereka.
"Azizah bagaimana ini, mereka melihat kita?"
"Ayo segera berlari." Azizah menarik tangan Amina.
Mereka berlari sekencang-kencangnya untuk menyerang secara sembunyi, namun tiba-tiba dihadang.
"Azizah!" teriak Amina, yang melihatnya tersungkur.
Azizah terlihat pucat, karena tubuhnya masih lemah. Pundaknya terasa sakit bekas sayatan pedang. "Berhenti menyerang, atau temanmu aku bunuh."
Amina mengangkat kedua tangannya, dan mereka segera memborgol kedua tangannya.
"Ayo kita letakkan mereka di rel kereta." ajak salah satu pengawal.
"Iya, kita pastikan mati. Kita harus memberikan laporan kepada raja."
Sementara di dalam terowongan bawah tanah, tampak Amina yang panik melihat kondisi Azizah. Wajahnya pucat, akibat mengeluarkan darah banyak pada pundaknya.
"Amina, kenapa dengan Azizah?" tanya Qiyna.
"Dia terluka oleh pedang." jawab Amina.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu beristirahat saja dulu iya, biar kami saja yang melanjutkan peperangan." ujar Asma.
"Tidak, aku tetap ingin ikut." jawab Azizah.
"Sebaiknya sekarang kamu makan, ini ada roti." Amina memberikan sebungkus roti ke Azizah.
"Terima kasih."
"Alesha kenapa belum kembali, atau jangan-jangan dia tertangkap?" tanya Qiyna.
"Iya, kita harus menyelidikinya." jawab Asma.
"Amina, seharusnya kita tidak membiarkan dia pergi ke kerajaan sendirian." Azizah berkata dengan suara pelan.
"Percayalah, kamu harus yakin bahwa Alesha pasti baik-baik saja." ujar Amina.
Mereka berdua keluar dari terowongan bawah tanah, dan ketika tiba sampai ke atas mereka melihat Alesha sedang berjalan bersama raja dan pengawalnya.
"Ayo sembunyi!" Amina menarik Qiyna lalu menunduk, di balik rerimbunan semak.
"Kemana kalian gadis brengsek." teriak raja Erland.
Alesha yang sempat melihat Amina dan Qiyna segera mengalihkan perhatian. "Raja yang tampan, lebih baik kita pergi ke suatu tempat. Di sini semak dan bau, aku yakin mereka tidak ada di sini."
"Baiklah, ayo kita pergi."
__ADS_1
Mereka pergi bersama meninggalkan tempat tersebut, sementara orang yang mengintip di balik rerimbunan semak merasa heran.
"Asma, kenapa Alesha bisa seakrab itu dengan raja? Apa dia sudah mengikuti mereka sekarang?" tanya Qiyna.
"Qiyna, aku yakin Alesha tidak mungkin meninggalkan Allah. Itu pasti bagian dari rencana yang dia susun." Asma tersenyum, dia senang karena Alesha baik-baik saja.
"Iya, sepertinya begitu. Ayo kita kembali ke terowongan bawah tanah, untuk memberitahu yang lain."
"Iya Asma." jawab Qiyna.
Mereka keluar dari rerimbunan semak dan segera berlari. Di sebuah gerbong kereta terlihatlah rel kereta yang panjang. Amina dan Azizah diikat kedua kakinya, dan tubuhnya direbahkan ditengah-tengah rel kereta.
"Azizah bagaimana ini?"
"Siapkanlah kalimat indah sebelum menutup mata. Aku ikhlas jika ini adalah akhir dari segalanya, setidaknya aku ikut berjuang." Jawab Azizah dengan tenang.
"Iya, kamu benar." Amina tersenyum.
Alesha yang sedang berjalan bersama raja disekitar sana, sempat melihat Amina dan Azizah.
"Raja, bolehkah saya permisi sebentar untuk pergi dari sini?" tanya Alesha.
"Memangnya kau mau kemana?" jawabnya datar.
"Aku ingin ke toilet, aku sudah tidak tahan." Alesha berpura-pura.
__ADS_1
"Pergilah, dan jangan berlama-lama." jawab raja.