
Semua rakyat kota Shanan dikumpulkan di sana. Raja datang bersama pengawal, memberi titah sesuai keinginannya.
"Aku ingin memberitahu kalian, bahwa peraturan baru telah aku buat untuk negara A dan harus dipatuhi. Untuk selanjutnya, semua orang yang mempercayai agama Islam harus keluar dari agamanya, dan menghentikan semua aktivitasnya. Jika tidak mau menuruti perintahku, akan aku lemparkan ke sungai yang panas airnya di sebelah selatan bukit Almond. Jika ada yang berani melanggar dan diam-diam masih melaksanakan keyakinannya akan aku lemparkan dari bukit Huruia yang tertinggi di negara ini biar hancur berkeping-keping tubuhnya terkena batu di bawah bukit. Intinya, kalian yang tidak mematuhi perintahku selaku raja negara A akan aku bunuh. Apa kalian semua mengerti?" teriaknya murka.
"Kami mengerti raja." Pengikutnya menjawab dengan jumlahnya jauh lebih banyak, daripada yang bertahan dengan agama Islam.
"Hei kalian yang di sudut sana, berani-beraninya tidak menjawab perintah raja." teriak pengawal setia sang raja.
Di lapangan yang luas itu, islam tampak disudutkan. Hanya yang beragama di luar islam yang tidak protes terhadap perintah raja, dan yang beragama Islam pun sebagiannya mulai takut terhadap ancaman tersebut, dan memilih keluar dari agamanya. Mereka ikut tunduk kepada pemimpin.
"Kalian semua tetap bertahan dengan islam iya." ucap gadis bernama Alesha.
"Iya Alesha, aku akan berusaha untuk Istiqomah." jawab Azizah temannya.
"Kami juga InsyaAllah istiqomah." Jawab ketiga sahabatnya, yang bernama Qiyna, Asma, dan Amina.
"Lepaskan cadar dan hijab kalian." teriak raja tersebut.
"Apa yang harus kita lakukan Alesha." tanya Asma.
"Iya, kita terkepung di sini." tanya Qiyna, yang bergemetar tubuhnya.
__ADS_1
"Kalian tenang iya, kita akan kabur perlahan-lahan. Kita tidak membawa senjata sekarang. Kita harus pulang ke rumah kita dahulu bagaimana pun caranya."
"Iya Alesha." jawab mereka bersamaan.
"Kalian semua tangkap lima gadis di sana, mereka masih tidak mau menuruti perintah raja Erland." teriak pengawal setia itu.
Pengawal yang melihat gadis-gadis itu masih mengenakan hijabnya tanpa ingin melepasnya, segera berlarian untuk menghampiri mereka yang ada di sudut lapangan sana.
"Ayo lari!" Alesha.
Lima gadis itu terus berlari kencang tanpa melihat ke belakang. Mereka berlari bukan karena takut, namun mereka akan menyusun rencana untuk mempertahankan agama mereka di sana.
"Sial, kemana mereka?" tanya pengawal itu, kepada pengawal lainnya.
"Mereka kabur sepertinya."
"Ayo kita kembali ke lapangan."
Mereka semua pergi ke lapangan menemui raja Erland.
"Raja, lima gadis tadi sudah kabur." Pengawal yang mengejar mereka, memberikan sebuah laporan.
__ADS_1
"Hahaha bukan hal sulit bagiku untuk menangkap mereka, bagaimana pun mereka tidak akan keluar dari negara A." ucap raja dengan sombongnya.
"Kalian semua bubar dari lapangan ini."
Mereka semua bubar dan kembali ke rumah masing-masing.
"Alesha, kenapa tiba-tiba berubah menjadi peraturan aneh seperti itu, aku tidak ingin kehilangan agamaku. "Iya, aku juga tidak mau. Karena hidup tanpa agama terasa mati." jawab Alesha.
Alesha menceritakan apa yang dia lihat, sehingga peraturan biasanya berubah di negara itu.
*Flashback On*
Beberapa hari yang lalu, Alesha hendak berjalan ke toko dan melihat pasukkan raja dan pengawalnya yang sedang duduk di atas kuda.
"Raja, jangan merampas harta kami. Kami hanya orang miskin." ucap pria paruh baya.
"Kau berani memerintah ku? Aku ini raja kamu."
"Dalam agama islam, kita tidak boleh menindas orang yang lemah."
"Kurang ajar kamu! Akan aku buat peraturan baru di negara A ini, bahwa semua orang harus keluar dari agama Islam."
__ADS_1
"Raja jangan lakukan itu." Memohon.