
Raja Erland diberikan pelayanan terbaik, sebuah penginapan besar nan megah. Tidak menyadari bahwa negara A sedang diporak-porandakan oleh Tauhid. Dia melawan para prajurit, yang hendak menghancurkan masjid.
"Aku pasti bisa, Tuhan tidak pernah tidur." monolog Tauhid, dengan semangat berkobar.
Tauhid sengaja mencuri alat perang, yang ada di kerajaan. Dibantu oleh seorang pelayan, yang memberikan kunci gudang. Namanya adalah Raudah, seorang ketua pelayan paling terpercaya.
"Cepat, jangan sampai ketahuan." ujar Raudah.
"Iya, sabar dulu. Ini masih memasukkan kunci, supaya pintunya tertutup rapat." jawab Tauhid. "Alasan Bibi ingin menolongku, ada apa?"
"Karena aku pernah membaca buku Islam. Ada tersedia beberapa di perpustakaan." jawab Raudah.
"Teruskan pemahaman Bibi, terhadap agama Islam. Terima kasih sudah menolongku, assalamualaikum." ucap Tauhid.
"Baiklah, waalaikumus'salam." jawab Raudah.
Tauhid terinjak ranjau jebakan, namun masih dapat melarikan diri. Tangan kanannya memegangi kaki yang terluka. Sebuah panah melayang, hingga mengenai pahanya. Tauhid mencabutnya, sampai meringis menahan sakit.
Alesha singgah ke sebuah mall, untuk membeli pembalut. Saat ingin melakukan transaksi pembayaran di meja kasir, dia bertemu dengan raja Erland.
__ADS_1
"Aku harus segera bersembunyi, aku tidak ingin ketahuan." Alesha baru saja ingin pergi, namun ada yang memanggilnya.
"Hei, kamu perempuan kurang ajar itu 'kan?" ujar Chan.
"Maaf, sepertinya anda salah orang." Melangkahkan kaki dengan buru-buru.
Barang yang ingin dibeli, malah dibatalkan secara mendadak. Takut dikira mencuri, Alesha meletakkannya di keranjang yang ada pada pintu masuk.
Chan disuruh raja Erland mengejar Alesha bersama dengan beberapa prajurit. Raja Erland merasa familiar, dengan wajah perempuan yang melarikan diri tadi.
Alesha tidak sengaja menabrak Asma, lalu keranjang baju basah terjatuh. Alesha malah sibuk menoleh ke belakang, bukannya membantu mengambil baju yang tergeletak di tanah.
"Ada raja Erland, dia pasti datang untuk mencari kita." jawab Alesha.
"Apa? Bagaimana mungkin, dia bisa sampai ke sini dengan cepat?" Asma bingung.
"Sudahlah, cepat pergi dari sini." Alesha buru-buru mengangkat keranjang baju.
Mereka sudah sampai di belakang rumah, lalu mendengar suara Qiyna memanggil. Dia sedang menyiram tumbuhan cabai, yang mulai berkembang.
__ADS_1
"Kenapa kalian ini, kok datang-datang cemas." ujar Qiyna.
"Gawat, Alesha bertemu raja Erland." jawab Asma.
"Bukankah kita memang akan melawannya suatu hari nanti." Qiyna berpikir apa yang harus ditakuti.
"Iya, tapi sekarang sedang mempersiapkan starategi. Tidak etis saja, bila melakukan perlawanan mendadak. Lebih baik bersembunyi, sampai menemukan cara yang benar-benar tepat." Alesha mengusulkan idenya.
Dor!
Terdengar suara tembakan di seluruh penjuru, rupanya para prajurit sedang memeriksa. Mereka ingin memastikan, rumah komplek tersebut bukan tempat persembunyian.
"Cepat kita sembunyi, sebelum tertangkap oleh mereka." ajak Qiyna.
"Baiklah, kita berpencar." Asma segera bersembunyi di balik rerimbunan bunga.
Alesha menyelipkan dirinya, di antara dua drum yang mengapit. Sedangkan Qiyna bersembunyi di balik pohon besar. Para prajurit sudah sampai di area jemuran pakaian. Mereka heran, melihat jilbab yang dijemur di sana.
"Bukankah negara B juga melarang untuk menganut agama Islam?" tanya salah satu dari mereka.
__ADS_1
"Iya, sungguh aneh. Kita harus tanyakan pada penduduk sekitar, siapa yang berani melanggar aturan. Kita bisa adukan hal ini pada raja negara B." jawab orang di sebelahnya.