
Ara kembali ke kelasnya. Vania menatapnya dengan tatapan berbeda penuh makna.
Setelah Bintang memperingatinya untuk waspada pada Vania, Ara jadi lebih ingin hati hati dengan sikapnya.
"Ra, tadi Bintang nanyain lu terus gue jawab aja lu lagi diajak ngobrol sama bayu."
Vania mengeluarkan buku di tasnya tanpa menatap Ara, ada yang aneh dengan sikap Vania, Ara merasa sikap Vania terkesan agak dingin dari biasanya. Dan kata kata Vania tidak sama dengan Bintang.
Bintang bilang kalau Vania yang memberitahunya bahwa bayu menariknya untuk bicara berdua, sedangkan Vania malah bilang kalau Bintang duluan yang nanyain. Jadi mana yang benar?
"Iya Van, gue udah ketemu Bintang kok tadi."
Ara mencoba tersenyum namun Vania tetap tak mau menatapnya.
"Van... lu kenapa? gue ada salah ya?"
"Gak kok Ra."
Jawab Vania singkat, tetap tidak mau menoleh ke arah sahabatnya.
Ara tau betul pasti ada sesuatu yang salah. Ada yang membuat Vania kesal padanya. Apa gara- gara bayu tadi mengajaknya ngobrol berdua saja? pasti Vania salah paham. Pasti Vania cemburu padanya. Pikir Ara.
"Van, gue sama bayu.."
belum sempat Ara melanjutkan kalimatnya Vania segera memotongnya.
"Udah Ra, lu gak usah jelasin apa-apa, gue gak kenapa napa lagi!"
Nada Vania terdengar Malas.
"Tapi Van, gue ..."
"Gue bilang cukup, gak usah lu jelasin apa-apa ke gue Ra!"
Vania sedikit membentak Ara. Ara benar-benar kaget, baru kali ini dia dibentak sahabatnya itu.
Vania kembali fokus dengan bukunya, bel masuk telah berbunyi dan guru sudah datang ke kelas Ara . Ara benar-benar bingung dan sedih, kenapa hubungannya dengan sahabatnya tiba tiba jadi tidak nyaman seperti ini. Pasti ini ada hubungannya dengan Bayu.
****
Bel istirahat berbunyi, Ara buru buru memasukkan buku buku kedalam tasnya. Baru saja hendak mengajak Vania ke kantin, Vania malah pergi begitu saja meninggalkannya. Biasanya Vania akan menunggu Ara dulu. Tapi kali ini tidak, Ara semakin yakin kalau Vania memang sedang marah pad dirinya karena suatu hal yang Ara sendiri tidak tahu.
Ara berjalan menyusul Vania dari belakang, namun Vania malah berlari menghindar. Ara hanya bisa menatap Vania dilorong sekolah sampai Vania menghilang dari pandangannya. Ara tidak jadi ke kantin. Nafsu makannya tiba tiba hilang. Dia berbelok dan menuju perpus saja, Ara ingin rebahan saja disana.
__ADS_1
Ruang perpus terlihat kosong, hanya terlihat beberapa siswi disana. Ara berjalan ke pojok lemari sambil menyenderkan kepalanya ke tembok, Hhhh~~~ Ara menghela nafas. Dia bingung harus menghadapi sikap sahabatnya dengan sikap apa, sementara dia sama sekali tidak tau kenapa Vania marah kepadanya. Satu satunya yang dia curigai alasannya ya pasti karna cowok yang disukai Vania, Si bayu. Si bayu yang akhir akhir ini terus saja membuat kejutan dengan mengungkapkan perasaanya pada Ara. Astaga Ara tersipu dan jadi pusing sendiri. kenapa jadi runyam begini..
Ara memejamkan matanya, agak ngantuk juga dia, mending tiduran sebentar deh. Pikir Ara.
Ara meletakkan wajahnya diatas lengannya sendiri, dan menyenderkan badannya dimeja perpus. Lama lama Ara benar benar pulas.
Sosok tubuh jangkung itu berjalan ke arah pojok, berdiri disana sambil menatap kedepannya. Langkahnya terhenti dan menatap sosok seorang gadis yang tengah tertidur pulas dan membenamkan wajah mungilnya diatas meja.
Si pemilik tubuh jangkung itu adalah bintang,
Bintang duduk pelan pelan disamping Ara. Sengaja agar tidak membangunkan gadis disampingnya itu.
Ditatapnya ara lekat lekat, diapun tersenyum kecil jika mengingat kejadian demi kejadian bersama ara. Gadis satu satunya yang acuh tak acuh kepadanya disekolah ini. Gadis yang harus dia libatkan kedalam permasalahan cintanya dengan tata.
Sinar matahari menyusup kedalam jendela perpus. Ara sempat kesilauan namun bintang segera menghalanginya menggunakan telapak tangannya.
Ara kembali tertidur dan dari arah rak buku dibelakangnya bayu memperhatikan mereka.
Ara kembali ke kelasnya dengan perasaan hampa, dia membayangkan wajah muram vania kepadanya. Apa yang harus dia lakukan agar Vania mau bersikap seperti biasanya lagi?
Ara duduk di mejanya namun vania ternyata belum muncul, dia mencoba bertanya pada andre si ketua kelas yang duduk didepan bangkunya.
"Ndre, Vania mana? lu liat gak?"
"Tuh dia baru dateng"
"Ni sobat lu nyariin Van"
Kata Andre pada Vania.
Vania cuma diam. Tak ada senyum sedikitpun di bibirnya.
Andre pun bingung karna biasanya Vania dan Ara itu dua mahluk paling berisik kalau udah ketemu dikelas. Tapi dia acuh tidak ingin ikut campur masalah mereka.
Vania duduk tanpa menoleh sedikitpun.
Ara mencoba memberanikan diri menyapa Vania.
"Van.."
tapi vania tetap diam tak bergeming
"Van, please kasih tau gue biar gue tau salah gue dimana? kenapa lo tiba tiba ngediemin gue gini"
__ADS_1
"Apa semua karna si bayu?"
"Gue gak marah, gue cuman sedikit kesel aja ra.
akhirnya Vania mau menatap Ara.
"Pasti semua ini gara gara bayu kan?"
"Iya, tapi gue sadar kalau perasaan emang gak bisa dipaksa. Mungkin bayu emang sukanya sama lu ra bukan gue."
Vania memasang wajah sedih sambil menutup wajahnya.
"Van, gue gak suka sama bayu. gue gak ada rasa apapun sama dia. Please kalau lo emang suka sama dia lo harus ungkapin semuanya ke dia biar dia tua perasaan lo"
Ara mengusap lembut bahu sahabatnya. Dia lega karna akhirnya Vania mau jujur dan mau bicara lagi kepadanya.
"maafin gue ya Ra. harusnya gue gak ngediemin lu kaya gini. gue emang bego Ra."
"Ssstt lo gak boleh ngomong gitu Van!"
Ara kemudian memeluk sahabatnya. dan membujuk Vania agar tidak sedih lagi.
bel pulang berbunyi nyaring. Ara dan Vania berjalan menyusuri tangga tiba tiba seseorang memegang lengan Ara dari belakang.
"Bintang" Kata Ara kaget. Hampir saja tubuh Ara jatuh kebelakang namun Bintang menahannya. Vania menatap mereka dengan tatapan datar.
"Yuk pulang bareng!!!" Bintang merangkul bahu Ara dan tak memperdulikan siswa siswi lain yang sedari tadi mulai menatap kearah mereka.
"Lepasin gak! gue mau pulang bareng Vania tang!" Ara mencoba melepaskan tangan Bintang namun tenaga Bintang terlalu kuat.
"Yaudah kenapa si Vania gak ikut aja sama kita. rumah dia di Cempaka kan? kita anter dia dulu baru ntar gue anter lo balik, gimana?"
Vania yang mendengar itu langsung berubah sumringah. Dia mendekati Ara sambil senyum senyum sendiri.
"Lah Vania kenapa girang banget, mungkin dia seneng bisa bareng gue sama bintang kan jarang-jarang tuh?"
gumam Ara dalam hatinya.
Bintang menatap Vania tajam, dia seolah sedang menyelidiki sesuatu.
"Yaudah yuk ngapain ngelamun disini. Lu mau kan Van ikut kita?" Tanya Bintang yang dibalas anggukan oleh Vania.
...***...
__ADS_1