
Bayu melangkah mendekati Ara yang masih tercengang dibuatnya. Suasana romantis ini benar benar diluar dugaannya.
Bayu membungkukkan badannya didepan Ara yang sedang duduk manis ditempatnya. Raut wajahnya berubah menjadi serius dan sedikit nervous terlihat dari cara Bayu yang menggigit bibir bawahnya sendiri beberapa kali. Ara malah jadi ikutan tegang. Diremasnya kuat kuat telapak tangannya sendiri yang sedari tadi mulai dingin karna kegugupannya.
"Ra.." Ucap Bayu lembut sambil mengambil salah satu tangan Ara dan kemudian digenggamnya dengan hangat.
Matanya menatap Ara lurus lurus.
"Ra.. sebenernya gue sering banget ngomong ini. Tapi gue sadar kalau lo gak pernah nganggep gue serius.." Ucapanya dengan hati hati.
"Gue,.."Bayu menahan ucapannya.
"Gue sayang sama lu Ra..."
Ara menarik nafas dalam. Sebenarnya dengan suasana romantis kaya gini aja dia sudah bisa menebak apa yang bakal dilakukan Bayu. tapi tetap saja pernyataan cinta cowok jangkung ini membuatnya panas dingin. Jujur dia sedikit deg degan juga.
"Lu mau kan jadi cewek gue?"
Ara mematung. Dia bener bener bingung harus bersikap atau menjawabnya dengan kalimat apa. Disisi lain dia senang karna ternyata ada cowok yang benar benar menyatakan cintanya. Walaupun cowok itu bukanlah orang yang dia harapkan. Disisi lain dia takut jika bakal mengecewakan Vania sahabatnya. Karna yang Ara tau Vania itu sukanya sama Bayu bukan Bintang.
Bayu mengambil sesuatu dari dalam saku celananya. Sebuah kotak merah berbentuk persegi memanjang.
Bayu membuka kotak itu. Dan ternyata sebuah gelang bermotif bunga terpajang manis didalamnya. Ara terkesima. Cantiiik sekali gumamnya dalam hati.
Bayu menarik tangan kanan Ara dan kemudian tangan kanannya dengan sigap langsung memakaikan gelang itu ditangan Ara persis disebelah gelang yang diberikan oleh Bintang. Ara ingat Bintang. Dan segera menarik kembali tangannya dari genggaman Bayu.
"Sorry bay..." Ucapnya sambil memalingkan wajah ke arah lain.
Bayu tersenyum. "Gak apa apa Ra, gue ngerti lu pasti kaget karna gue tiba tiba nembak kaya gini.."
"Ra.. lu gak harus jawab sekarang. Gue akan sabar nungguin sampe lu siap jawab."
"Tapi.. gimana sama Bintang?"
Ucapan Ara sontak membuat Bayu merubah ekspresinya menjadi malas.
"Si brengsek itu gak perlu lu pikirin ra. lagian kalian cuman pura pura ajakan? biar itu jadi urusan gue."
"Tapi.. Vaniaa..." Ucap Ara ragu ragu.
__ADS_1
"Kenapa sama Vania?" Tanya bingung.
"Se..sebenernya Vania itu suka sama lu Bay. Gue gak mau ada masalah lagi sama sahabat gue.."
Sontak Bayu tertawa mendengar perkataan Ara. Dicubitnya pipi Ara sampai Ara sedikit menjerit karna kesakitan.
"Lu tuh ya, naif. Pantes aja si Bintang bisa dengan mudah ngajak lo jadi pacar bohongannya..!"
"Maksud lu ?"
"Vania dia gak pernah suka sama gue.. yang dia suka itu.. "
Ara mengerutkan alisnya. Dia tak sabar menunggu kelanjutan ucapan Bayu.
"Bintang!!!"
"Apaaaaaa????" Tanyanya sambil melotot. Tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Bintang, maksud lu si Bintang Prayoga?"
Tanya Ara lagi memastikan pendengarannya masih berfungsi dengan baik atau tidak.
"Iya Bintang yang jadi pacar bohongan lu!" jawab Bayu santai.
"Kenapa gue harus ngarang? gue gak pandai ngarang kaya Bintang Ra!"
"Tapi gak mungkin Bay! Vania cerita sendiri ke gue kalau dia tuh suka sama elu!" Elak Ara yang masih kekeh dengan pendiriannya.
"Suka itukan universal sifatnya Ra, bisa suka sebagai temen atau suka hanya sekedar suka aja."
Ara menggeleng. Gak mungkin sahabatnya Vania suka sama Bintang. Karna selama ini memang dia tak melihat tanda tanda perasaan Vania untuk Bintang.
"Yang gue lihat dia tuh sukanya sama lu Bay. Bukan Bintang!"
"Ra.. " Bayu menghela nafas berat. Bingung juga harus menjelaskan bagaimana agar Ara mengerti.
"Kadang yang kita lihat itu bukanlah yang sebenarnya terjadi Ra.."
"Lu.. tau ini dari mana emang Bay.."
__ADS_1
"Gak penting tau dari mana. Sekarang kita bisa kan kembali ke topik awal?"
Ara mengangguk pelan. Walau pikirannya masih melayang memikirkan Vania dan Bintang.
"Gue bakal setia nunggu sampai lu siap buat jawab. Bolehkan gue nunggu, tapi gue harap jangan terlalu lama Ra, jangan bikin gue gelisah terlalu lama, oke ?" Pintanya dengan nada berharap. Ara tau Bayu sangat serius dengan ucapannya.
"Bay.. gue ..."
"Gue kan udah bilang gak perlu jawab sekarang" Potongnya yang tak ingin Ara sampe menolaknya saat itu juga. Setidaknya dia bisa mengulur waktu dan membuat Ara memikirkannya lagi masak masak jawabannya, meskipun pada akhirnya kemungkinan terburuk nanti di tolak. Yaah.. setidaknya jangan patah hati hari ini, di moment romantis ini.
Namun sorot mata Ara tiba tiba menegang. Dia menatap lurus ke arah objek dibelakang bayu. Bayu yang penasaran segera membalikan badannya. Mata bayu menyipit tajam. Bintang sudah berdiri disana dengan raut wajah dingin dan hanya berjarak beberapa langkah dari tempat duduk itu.
Bayu berdiri dan kemudian mendekat ke arah Bintang.
"Wiih ada nyamuk ternyata disini.. "
Ucap bayu meledek ke arah Bintang. Ara segera berdiri mematung karna Bintang terus saja menatapnya lurus lurus tanpa menghiraukan Bayu.
Bintang tak menggubris bayu dan segera mendekati Ara.
"Ikut gue!" Perintahnya sambil meraih satu tangan Ara dan segera berjalan cepat meninggalkan Bayu.
Bayu pun tak tinggal diam. Dia menarik tangan Ara yang satunya dan seketika membuat langkah Ara dan Bintang terhenti.
"Lepasin dia. Gue yang bawa dia kesini dan gue juga yang bertanggung jawab nganterin dia pulang!"
Bayu menatap Bintang penuh emosi.
"Lepasin tangan Ara!" Sahut Bintang pendek.
"Kalau gue gak mau gimana?"
Tantang Bayu yang membuat Ara jadi senewen karna ingat pertengkaran mereka tadi pagi saja sudah makan korban. Ternyata Bayu gak kapok kapok kena bogem mentahnya Bintang.
"Udah stop!" Teriak Ara akhirnya.
Ara berusaha lepas dari cengkraman kedua cowok jangkung disampingnya. Tapi apalah daya dia bukan wonder women yang punya kekuatan super ngelawan cengkraman dari dua cowok yang sedang dikuasai emosi masing masing ini.
"Lebih baik lo deh yang lepasin Ara. Karna kayaknya gue pengen bales nonjok lo nih! gue takut cewek yang gue sayang kena juga. Makanya lo lepasin gih tangannya!" Bayu mengangkat sebelah alisnya membuat Ara jadi takut kalau Bintang sampai terpancing emosi lagi.
__ADS_1
Akhirnya Bintang melepaskan genggamannya. Bayu menatapnya gemas. Dicengkeramnya kerah baju Bintang kuat kuat sampai wajah Bintang mendongak ke atas. Kali ini Bintang hanya diam saja. Tak digubrisnya perlakuan Bayu sedikitpun. Pikirannya sedang buntu. Entah kenapa saat melihat Bayu menyatakan cintanya pada Ara tadi membuat hatinya perih. Ada perasaan tak rela jika sampai gadis itu menjawab iya. Padahal dia sendiri tidak tahu alasannya mengapa. Apa benar tanpa sadar Ara sudah mulai menelusup masuk kedalam hatinya. Apa mungkin Ara mampu melelehkan hatinya yang sudah lama dia bekukan untuk mahluk bernama cewek.
...****...