
Tata tersenyum puas karna Beni mau menurutinya untuk berbohong soal kejadian kemarin.
Ternyata tak sulit untuk membuat Beni menurut. Cukup dengan mengancamnya lewat adik tersayangnya.
"Jangan maen maen lo! jawab yang jujur siapa yang udah nyuruh lo ngunciin Ara di toilet?"
Bintang menarik kerah baju Beni karna merasa kesal. Beni dinilai plin-plan dan tak bisa dipegang omongannya.
Namun Beni tak melawan, dia membiarkan Bintang meluapkan semua kekesalannya. Sekarang yang ada dibenaknya hanyalah keselamatan adik semata wayangnya.
Ancaman Tata jelas bukan main main. Beni teringat semalam Tata datang kerumahnya dengan membawa dua orang pria dewasa berbadan kekar. Tata mengancam jika sampai Beni membongkar semuanya dia tak akan segan-segan melukai adiknya.
"Gue.. gue kemaren asal ngomong aja, biar gue bisa dapet duit dari lo men.." Beni pura pura menyeringai agar Bintang tambah emosi.
BRUGGH !
Bintangpun tak tahan untuk tak meninju wajah Beni yang menurutnya begitu ngeselin.
"Sialan lo! berani beraninya lo ngefitnah Tata!" Bintang terus melayangkan tinjuannya sampai Beni ambruk ke tanah.
Ara menjerit mencoba menghentikan Bintang.
Namun seperti orang kesetanan Bintang terus saja memukuli Beni hingga wajah Beni lebam.
"Tang, udah tang..!" Pinta Ara sambil menarik lengan Bintang agar menjauh dari Beni. Ara tak tega melihat Beni sampai terbatuk-batuk dipukuli Bintang. Dia takut jika sampai Bintang lepas kendali seperti waktu dulu.
Tata malah tersenyum puas karna melihat Bintang berbalik membela dirinya. Ini memang yang di harapkan nya. Tata ingin agar Bintang percaya bahwa bukan dia lah dalang yang sudah mengunci Ara di toilet kemarin.
Bayu melirik ke arah Tata dan menangkap raut wajah Tata yang begitu bahagia melihat Bintang memukuli Beni.
Bayu masih curiga jika Tata memang terlibat dalam semua ini. Karna Bayu kenal betul sepupunya ini memang licik dan jahat.
"Tang, udah ya please..." Ara memohon kembali.
"Udah tang, gue gak apa apa kok difitnah, lagian kalian udah percaya sama gue aja udah cukup buat gue."Tata mendekati Bintang dan langsung memeluk tubuh jangkungnya.
Bintang dan Ara sontak kaget begitu juga dengan Bayu.
Ara yang masih memegangi lengan Bintang langsung buru buru melepaskan tangannya. Ara mundur beberapa langkah sambil menahan sakit di dadanya.
__ADS_1
Bayu yang melihat itu langsung menarik tangan Ara untuk pindah di dekatnya.
"Lu bisa percaya gitu aja apa yang Beni ucapin tang? apa lu gak mau nyoba buat nyelidikin lagi?"
Tanya Bayu sambil menatap Bintang dengan kecewa karna begitu mudahnya dia mempercayai ucapan Beni.
Tata menoleh ke Bayu dengan tampang kesalnya. Tapi Bayu masa bodo dan tak ambil pusing.
Bintang hanya diam saja. Manik matanya masih menatap Beni dengan penuh amarah.
"Apa lagi yang mau di selidikin? Dia udah bilang semuanya kan tadi?" Ucap Bintang yang membuat Tata makin tersenyum lebar di dalam pelukan Bintang.
"Udahlah Bay, gue udah gak apa-apa." Ara menatap Bayu dengan tatapan sendu. Bayu bisa membaca ada kesedihan di mata Ara. Bayu jadi tak tega untuk membiarkan Ara tetap berada disana melihat Tata memeluk Bintang didepan matanya.
"Ayo Ra, kita balik aja..!" Bayu menarik Ara meninggalkan taman itu. Bintang hendak menghentikan Ara namun Tata mencegat tangannya.
Akhirnya Bintang hanya bisa termenung menatap kepergian Ara tanpa berbuat apa-apa.
***
Didalam mobil Bayu.
"Bay.." Ucap Ara dengan suara parau.
"Iya Ra?" Bayu menoleh sesaat.
"Apa gini ya rasanya patah hati?" Pertanyaan Ara sontak membuat Bayu mengernyitkan alisnya.
"Maksud lu Ra?" Tanya Bayu tak mengerti.
"Engga, lupain. Bukan apa-apa!"
Ara langsung menarik nafas panjang dan berusaha menyingkirkan bayangan Tata dan Bintang yang sedang berpelukan tadi didepan matanya.
"Ra.. "Bayu memegang jemari Ara dengan lembut.
Tak lama Bayu menepikan mobilnya disebuah jalan rindang di dekat rumah Ara.
Ara menoleh dan menatap wajah Bayu. Bayu mematikan mesin mobilnya.
__ADS_1
Bayu diam beberapa saat sebari mengumpulkan keberaniannya untuk menatap wajah Ara.
"Kenapa kita berhenti disini Bay?"
Tanya Ara bingung.
"Ra.. " Bayu menahan kalimatnya.
"Gue sayang sama lu, gue tau lu pasti bosen ngedenger ini dari mulut gue. Tapi gue pengen lu tau, gue bakal selalu ada buat lu dan gue bakal setia nunggu sampe lu mau buka hati lu buat gue." Bayu membelai kepala Ara dengan penuh kasih sayang.
Ara sedikit berdebar dibuatnya. Wajah Ara memerah karna malu. Bayu yang selalu ceplas-ceplos soal perasaannya. Yang selalu bersikap hangat dan terbuka ini, mengapa begitu sulit bagi Ara untuk memberikan cowok ini tempat di hatinya?
Belum Ara membuka mulutnya Bayu telah lebih dulu memajukan wajahnya dan mendaratkan sebuah kecupan hangat di kening Ara.
Mata Ara membulat kaget. Mulutnya ternganga tak percaya dengan apa yang baru saja di alaminya. Sontak Ara melepaskan diri dan mundur hingga badannya kini berada diujung bangku mobil.
Bayu yang menerima reaksi itu langsung gelagapan. Dia benar benar refleks tak bisa menahan ketika melihat wajah manis Ara dihadapannya.
"Ma.. maafin gue Ra, sumpah gue gak ada maksud apa-apa" Bayu mencoba menjelaskan namun Ara masih syok tak bergeming.
Keduanya saling memalingkan wajah ke arah lain. Ara benar benar tak menyangka Bayu akan mencium keningnya tiba-tiba.
"Ra, maaf kalau lu gak nyaman gue minta maaf ya Ra.." Bayu akhirnya memberanikan diri menatap wajah Ara. Meski hatinya masih sangat berdebar-debar.
Ara masih tak bergeming. Matanya malah tak fokus menatap ke samping. Dia berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya akibat malu.
Meskipun Bayu itu sering blak-blakan soal perasannya tapi Ara tak menyangka Bayu akan nekat mencium keningnya.
"Ra.." Bayu menepuk pundak Ara. Ara menoleh dan terlihat gelagapan.
"Bay, gue mau balik sekarang!" Pinta Ara mencoba mengalihkan perhatian. yang dijawab anggukan oleh Bayu.
Bayupun kembali menjalankan mesin mobilnya dan mengantar Ara pulang kerumahnya.
Sesampainya didepan rumah Ara. Ara langsung turun dari mobil tanpa pamit apalagi menoleh ke arah Bayu. Bayu pun tidak berusaha menghentikan Ara. Dia takut jika Ara malah akan lebih marah kepadanya karna kejadian tadi.
Dada Bayu berdebar hebat namun dia sangat senang karna bisa mencium kening Ara. Mulutnya tersenyum bahagia. Baginya Ara adalah wanita istimewa yang harus dia lindungi.
Bayu pun teringat kembali pada ucapan Beni di taman tadi. Bayu yakin jika apa yang diucapkan Beni itu semua bohong. Bayu bertekad akan menyelidikinya sendiri. Dan jika sampai dia tahu Tata ikut terlibat. Maka Bayu sendirilah yang akan menghukum sepupunya itu.
__ADS_1
...***...