PANGERAN KUTUB UTARA

PANGERAN KUTUB UTARA
Keusilan Tata


__ADS_3

"Kerjaan apa, Bos?"


Tata mendekatkan wajahnya ke telinga Bram.


"Kerjain orang yang namanya Ara, dia kelas X. kasih bangkunya lem power biar mampus tuh anak!"


Bram mengerutkan alisnya sesaat lalu kemudian tertawa keras.


"Haha itu sih kecil!" katanya.


"Bagus, udah buruan kerjain! mumpung tuh anak lagi di kantin sekolah!"


"Oke!"


Bram pun tak membuang waktu, di segera pergi ke kelas Ara untuk melancarkan aksinya.


Saat ada siswa dari kelas lain, teman teman sekelas Ara langsung melirik Bram dengan penuh tanda tanya. Apalagi ketika Bram mencegat seorang siswa yang sedang duduk di dekat pintu.


"Woi, kasih tau dimana tempat duduknya cewek yang bernama Maharani!" Bram bertanya sambil menggebrak meja.


"Di baris kedua, disana!" Siswa itu menunjuk dengan wajah ketakutan.


"Oke, thanks!" Bram menepuk nepuk pipi siswa tadi dengan keras.


Bram segera berjalan menghampiri bangku yang ditunjuk siswa tadi.


Seisi kelas sekarang menatap penasaran ke arahnya.


"Ngapain liat liat!" bentak Bram pada seisi kelas.


Semuanya langsung memalingkan wajah ke arah lain, tapi ketika Bram sibuk mengoleskan sesuatu di bangku Ara. Mereka langsung berdesas desus dengan teman sebangkunya.


"Ngapain tuh Kak Bram?" bisik Sesil, cewek yang duduk dibarisan paling belakang ke teman sebangkunya.


"Gak tau, tangannya kaya lagi mengolesi sesuatu deh di bangku Ara." sahut yang lainnya tak kalah pelan.


Mereka melihat Bram seperti mengoleskan sesuatu di bangku Maharani.


Setelah selesai dengan urusannya, Bram terlihat berdiri dan hendak pergi ke luar dari kelas.


"Inget yah, jangan sampai ada yang buka mulut tentang ini, kalau kalian berisik..kalian berurusan sama gue!" Ancam Bram sebelum dia benar benar pergi dari kelas itu.


Jam istirahat pun berakhir. Ara dan Vania berjalan di lorong menuju kelasnya.


Hari ini Ara benar benar tidak melihat batang hidungnya Bintang, entah kemana cowok itu, apakah dia belum masuk? atau mungkin Bintang memang tidak mau lagi bertemu dengannya.


Sebenarnya Ara sangat kecewa, apakah kehadirannya selama ini benar benar tidak ada artinya untuk Bintang.


"Ayo masuk, kok ngelamun?" Vania menghentikan langkahnya dan menepuk bahu Ara yang sedang melamun.


"Eh, iya hayu!" jawab Ara.


Mereka berdua pun kemudian masuk ke dalam kelas tanpa curiga sedikitpun.


Vania mengernyitkan alisnya, kenapa rasanya anak anak dikelas seperti sedang memperhatikan ke arah mereka berdua, ah..mungkin cuman perasaannya.


Mereka pun kemudian duduk ditempat duduk masing masing.


Ara tertegun, dia merasakan sesuatu yang basah diarea pantatnya. Terasa kenyal dan seperti lendir.


"Apaan nih!" Ara memegang pantatnya.

__ADS_1


Ya Tuhan cairan lengket ini memenuhi rok belakang.


"Aaaaaaaa kok ada lem sih di bangku gue!" Ara berteriak.


Seisi kelas langsung menoleh.


"Ada apa Ra?" tanya Vania khawatir.


"Ini, rok gue basah kayaknya kena lem, liat nih Van.." Vania menunjukkan lem yang sudah mulai mengering di roknya.


Teman teman Ara hanya bisa menahan diri untuk tidak mengatakan yang sebenarnya, padahal mereka tahu itu ulah siapa. Tapi ancaman Bram membuat mereka harus bungkam.


"Ya ampun, siapa sih yang iseng naro lem di bangku lo!" sungut Vania.


Vania menatap ke sekeliling, dia kemudian berdiri dan mencoba bertanya pada yang lain.


"Kalian ada yang tau gak siapa yang naruh lem diatas kursi Ara?"


Hening, teman teman yang tadi kebetulan melihat Bram masuk memilih untuk pura pura tidak mendengar pertanyaan dari Vania itu.


Vania hendak bertanya lagi namun urung saat melihat Guru sudah datang.


Vania akhirnya memilih duduk kembali ke bangkunya.


Ara tertunduk lesu.


"Ra..gimana nih?" Vania cemas.


Ara hanya menghela nafas berat.


"Kalau gue berdiri, kayaknya bakal robek nih rok gue Van." Jawab Ara pelan.


Jam menunjukkan pukul 13.00 Wib.


Bel pelajaran terakhir pun berbunyi.


Teman teman sekelas Ara sebagian sudah pergi keluar kelas.


Vania menatap Ara dengan wajah khawatir.


"Gimana nih? lo mau gue panggilan Bayu gak?"


Ara menggeleng.


"Gak udah Van, gue mau coba berdiri dulu."


"Yakin?"


"Iya, yakin, tolong pegangin kursinya ya.."


"Oke." Vani kemudian membantu memegangi kursi Ara.


Ara mengangguk, dia menarik nafas dalam dalam. Lalu sedetik kemudian dia langsung berdiri dari bangkunya.


Bret!


Suara robekan kain seketika terdengar keras dari arah bangku Ara.


Ara memucat. Dia langsung menghadapkan pantatnya ke tembok.


Sebagian anak anak yang memang penasaran dengan apa yang akan terjadi pada Ara selanjutnya ikut terkejut.

__ADS_1


"Ra! robek Ra!" Vania terpekik kaget saat melihat kain robekan yang berasal dari rok sekolah Ara. lumayan besar robekan itu.


Wajah Ara sudah sangat pucat pasi. Ragu dia meraba rok belakangnya.


"Van, bolong!" Ara meringis.


Cowok cowok langsung bersorak seperti habis mendapatkan durian runtuh.


"Wih, ternyata Kak Bram nakal juga ya!" teriak Andre, siswa yang duduk di sebrang barisan bangku mereka.


Vania dan Ara menoleh berbarengan.


"Bram? jadi kalian tahu siapa yang udah naro lem disini?" Vania kelihatan begitu marah.


Andre langsung tutup mulut. Dia segera kabur karna tidak mau terkena masalah.


Yang lain pun langsung mengikuti kepergian Andre.


"Dih, kalian mau kemana woy!"


"Udahlah Van, biarin aja." kata Ara.


"Terus gimana ini? lo bawa jaket ga?"


"Yah, gue juga engga lagi!" kata Vania.


Mereka tampak berpikir keras.


"Ah, iya tunggu ya gue pinjem diruang olahraga, kali aja ada kaos olahraga nganggur!"


"Iya, thanks ya Van!"


Vania mengangguk, dia pun kemudian langsung lari keluar kelas.


Kini tinggallah Ara seorang diri di dalam kelasnya. Ara kembali duduk tapi di bangku Vania sambil menunggu sahabatnya itu kembali.


Di ruang olahraga.


Vania masuk ke dalam ruangan itu, dia mencoba mencari ke dalam loker penyimpanan baju.


Saat sedang sibuk mencari, tiba tiba Vania mendengar suara pintu di tutup.


BRAK


Vania menoleh, dia tercengang ketika melihat pintu olahraga disampingnya tiba tiba tertutup sendiri.


Vania buru buru lari kesana. Dia mencoba membuka handle pintu tapi nahas, ternyata pintu sudah dikunci dari depan.


"Hei, siapa didepan! jangan iseng dong!" teriak Vania panik.


"Hahaha mampus! makanya jangan sok pahlawan!" sahut seseorang dari balik pintu.


Tawanya masih terdengar jelas meski lama lama redup. Vania mendekatkan telinganya ke daun pintu, dia terhenyak, dia kenal betul itu suara Tata, cewek itu ngapain pake acara ngunciin dia segala disini?


"Buka pintunya Ta! gue tau itu elo!"


Tidak ada sahutan. Dia hanya mendengar suara langkah kaki yang mulai menjauh.


Vania terjatuh ke lantai dengan suara tangis yang mulai pecah.


"Buka pintunya! gue takut gelap tau, Ta! Sialaaan banget sih lo!" Vania mengutuk Tata sambil berusaha terus menggedor pintu. Dia harap ada siswa yang lewat dan menyelamatkannya dari ruangan gelap ini.

__ADS_1


__ADS_2