PANGERAN KUTUB UTARA

PANGERAN KUTUB UTARA
BUNGAKU


__ADS_3

Malam itu setelah Bintang dan Mamahnya pamit pulang. Ara langsung masuk ke kamarnya dan mencari novel yang pernah diberikan Bintang untuknya. Entah kenapa rasanya dia ingin tiba tiba membacanya.


Dibukanya halaman demi halaman. Dibacanya novel itu sampai Ara ketiduran.


Esoknya, Saat didalam mobil, dia dan bintang sama-sama diam. Ara sedang tak ingin memulai pembicaraan, dia hanya akan bersuara jika ditanya.


Bintang menoleh ke arah Ara.


"Lo kenapa diem aja. Bukan lo banget, biasanya lo pecicilan."


Bintang tersenyum kecut meledek Ara. Namun Ara tetap tak bergeming.


Bintang meminggirkan mobilnya, lalu tangannya memegang kening Ara.


"Lo sakit Ra?, tapi panasnya sama nih kaya ****** gue"


Bintang tertawa renyah. Hah guyonan yang menyebalkan, di kibasnya tangan Bintang dengan wajah cemberut.


"Apaan sih lo, garing!!!! "


Ara manyun lalu mencubit lengan Bintang sekuat tenaga, sengaja, dia memang sedang ingin melampiaskan kekesalannya pada Bintang.


"Aw sakit Ra sakiti, badan lo kecil tenaga lo kaya babon juga ya."


Bintang mulai menggoda Ara lagi. Sepertinya Bintang menikmati setiap Ara mulai kesal kepadanya.


"ISH, IYA GUE BABON, DAN GUE BAKAL NINJU INDUK BABON!!! "


Ara memukul dada Bintang bertubi-tubi, kesal sekali rasanya dikatain babon. Namun pukulan Ara tak berarti apa apa untuk Bintang. Di cegatnya tangan cewek didepannya itu. Ditatapnya Ara lekat lekat. wajah tampan itu kini benar benar dekat dengannya sampai hembusan nafasnya pun bisa ara rasakan.


Ara terdiam, dia jadi deg degan gak karuan. Kenapa sih Bintang doyan banget bikin dia jadi DEG DEGAN.


"Ra,, "


Kata Bintang pelan sambil terus menatap wajah Ara


"Apa? "


Tanya Ara serius


"Ada belek ra, ngaca geh"


Bintang menunjuk Kedua bola mata Ara.


"Hah? " Ara benar benar kaget, malu bukan main, langsung diambilnya kaca didalam tasnya.


"Mana tang, gak ada?"


"haha lo polos banget ya!!!"


Bintang tertawa puas. Dijalankannya kembali mobilnya, tak dipedulikannya Ara yang benar benar kesal dibuatnya.


Sesampainya di sekolah.


Ara masuk kedalam kelasnya dengan perasaan campur aduk, sungguh malang nasibnya, kenapa dia bisa bisanya jatuh cinta pada si Tangki Air itu. Emang sih dia ganteng, tapi kelakuannya bener bener gak bisa ditebak. Kadang dingin, kadang absurd banget.


"Kenapa Ra? kusut banget! "


Vania menepuk bahu sahabatnya yang sedang ngelamun itu.


"BIASALAH"


ucap Ara sambil menirukan salah satu lagu yang lagi hitz di tiktok.


"Hmm gue tebak, pasti ini masalah Bintang kan? cerita dong sama gue dia udah ngapain emang sampe lu bete banget kayaknya."

__ADS_1


"Van, lo kan udah lama sekolah disini, gue mau nanya deh, Bintang sama Tata emang sedekat apa sih dulu? "


"Deket banget Ra, mereka nih ya kemana mana selalu berdua, Ya semuanya juga pada ngira mereka pacaran, tapi semenjak kelas 2, gue jarang liat mereka deket lagi, Dan yang gue denger sih Tata malah pacaran sama kak Gilang."


"Emm Van, apa lu pernah liat Tata sakit?"


"Iya Ra, gue sering liat dia pingsan beberapa kali waktu kita upacara, mungkin dia kecapean kali ya, emang kenapa Ra? kok lu tiba tiba nanyain Tata? "


"Gak apa-apa Van, gue cuman nanya aja"


Saat bel istirahat, Ara melenggang ke perpus, dia ingin rebahan disana.


Ara masuk kedalam perpus dan mulai mencari tempat untuk rebahan sambil pura-pura memilih buku untuk dibaca.


Namun langkahnya terhenti ketika dia mendengar suara yang tak asing itu. Ya, itu suara Bintang.


Bintang sepertinya sedang berbicara dengan seorang perempuan. Ara pun mengintip diantara celah buku.


"Tang, kenapa lu diem aja, gue cuman butuh ungkapan itu dari lu! "


Ara kaget, suara perempuan itu ternyata Tata. Tata tengah berdiri disamping Bintang. Gadis cantik itu memasang raut muka serius. Sementara Bintang berlagak tak memperdulikannya.


"Ta, gak ada yang perlu gue ungkapin. Udahlah kita udah punya pasangan masing-masing, jadi gak ada yang perlu dibahas lagi tentang kita!"


Bintang hendak pergi meninggalkan Tata. Namun Tata langsung saja memegang tangan Bintang, matanya berkaca-kaca, air mata keluar diatas pipinya.


Ara tau betul sebenarnya Bintang pasti tak tahan melihat Tata menangis. Ara dapat melihat ekspresi Bintang yang sedang menahan dirinya sendiri untuk tidak melihat ke arah Tata.


"Apa bener lu sayang sama Maharani? sampe sampe lu berubah kaya gini tang!"


Bintang hanya diam. Jelas saja diam, karna memang bukan itu alasannya. Bukan itu alasan kenapa Bintang tidak mau mengungkapkan cintanya kepada Tata, Bukan Ara alasannya.


Ara menghela nafasnya dalam dalam. Rasanya sesak sekali harus menerima fakta bahwa dia sedang jatuh cinta pada Pria yang sudah punya cintanya sendiri.


Ara harus segera mengakhiri perasaannya ini. Ini tak benar. Perasaan ini hanya akan menyakiti dirinya sendiri. Dia harus segera melupakan Bintang.


"Ra, lo disini sejak kapan? , temenin gue ke kantin yuk! "


Bintang menggenggam tangan ara dan menariknya keluar perpus. Tinggallah Tata disana menatap kepergian bintang dengan tatapan sedih.


Saat mereka menuruni tangga menuju kantin, Ara langsung melepaskan tangannya dari Bintang.


"Lepasin tangan gue. Tata udah gak ada. Gak usah pura pura lagi."


Kata Ara pelan.


Bintang memandang Ara sejenak. Dia melihat raut wajah Ara yang terlihat sedih.


"Lo ngapain tadi disitu? ngintip gue? "


Selidik Bintang.


"enggaklah, pede banget sih lo!! Gue cuman lagi mau rebahan aja di perpus! " Ara manyun membuang mukanya kearah lain.


"Yaudah sih gak usah di monyong-monyongin bibir lo! "


Bintang mencoba menggelitik perut Ara. Namun Ara menangkisnya dan berlari kebawah. Bintang lalu mengejarnya. Namun saat dibawah tangga Gilang menghampiri kedua manusia yang tengah asik bercanda itu.


"Tang, sorry gue ganggu, lo liat Tata gak?"


Bintang dan Ara berhenti bercanda dan langsung menatap Gilang.


"Dia tadi di perpus, coba aja kesana, mungkin masih ada disana. "


Ara akhirnya menjawab karna Bintang hanya diam saja.

__ADS_1


"Ok, makasih ya Ra, gue duluan." Gilang tersenyum kepada Ara


Gilang naik keatas tangga menuju perpus. Wajah Bintang sepertinya berubah menjadi kesal. Ara memperhatikannya, Pasti Bintang kesal karna kakaknya itu hendak bertemu dengan Tata. Ara menyimpulkan sendiri.


"Tang, gue juga duluan ya, mau balik ke kelas."


Ara langsung berlari menuju kelasnya.


Bintang hanya diam. Dia tak berkata apa-apa lagi. Ara pergi menaiki anak tangga menuju kelasnya, Bintang menatap punggung Ara sampai Ara menghilang dari pandangan.


Bel pulang sekolah berbunyi..


Ara sengaja tidak langsung keluar kelas. Dia sedang tidak ingin pulang bareng Bintang. Dia ingin sehari saja tidak bertemu dengan si Tangki Air itu.


Tentu saja itu untuk kenyamanan hatinya. Untuk kewarasan pikirannya. Karna setiap kali dekat dengan Bintang, jantungnya serasa mau keluar. Ara sengaja berlama lama dikelas berharap Bintang bosan menunggunya dan akhirnya dia pulang duluan. Vania telah pulang lebih dulu karna dia ada urusan lain. tinggallah ara seorang diri di dalam kelasnya.


Sudah setengah jam Ara disana, diam sambil membenamkan wajahnya diatas lengannya sendiri. Sepertinya situasi sudah aman. sudah tidak ada siapa-siapa dikelasnya. Ara melenggang keluar. Mengamati sekitar, hanya ada beberapa anak Basket di lapangan yang sedang latihan. Matanya mengawasi takut takut kalau ada Bintang disana, dan ternyata tidak ada.


Baguslah, berarti bintang sudah pulang. Pikir Ara.


Saat Ara melewati lorong dipinggir lapangan, sebuah Bola basket dari arah lapangan melambung tinggi ke arahnya. Ara menoleh ketika ada anak laki-laki meneriakinya dari lapangan


"HEI Awas ADA BOLA!!!!! "


belum sempat Ara menghindar, sebuah tubuh jangkung entah dari mana datangnya berdiri tepat didepannya, mendekap ara kedalam pelukannya menghalangi Ara dari depan dan membiarkan bola basket itu mengenainya.


BRUUGHHH!!!!


Terdengar keras bunyi pukulan antara bola dan punggung pria tadi. Ara mendongak ke atas, dan ternyata itu Bintang. Kalau Bintang telat sedetik saja, mungkin bola itu sudah mengenai tubuh Ara. Ara masih syok dan tak bergeming.


"Bi bintang.. "


"Kenapa lama banget. Gue pikir lo pingsan dikelas, makanya gue susul!!! "


Bintang memegang punggungnya sambil meringis.


Ara hanya melongo saja.


"Maaf ya gue gak sengaja, kalian gak apa apakan?"


Seseorang datang menghampiri mereka berdua dari arah lapangan, masih mengenakan baju basket. seorang cowok dengan tubuh tak kalah tinggi dari Bintang, bola matanya bening memancarkan tatapan hangat, sangat bertolak belakang dengan Bintang yang tatapan matanya sedingin es.


"Lain kali hati hati Bro! "


Bintang terlihat jengkel.


Laki laki tadi menghampiri Ara kemudian tersenyum. Senyumnya manis banget. Membuat Ara terkesima. Ya ampun Gula aja lewat ini mah manisnya. Bintang melihat Ara yang tiba tiba terpesona dengan cowok basket itu.


"kenalin bay, ini cewek gue Maharani." Bintang memegang bahu ara mendekatkan tubuh ara ketubuh nya. Entah apa maksudnya, Ara pun tak paham.


"Hah, lo kenal dia tang? " tanya Ara pada Bintang. Dia berusaha melepaskan tangan Bintang, namun Bintang malah memegang bahunya lebih kuat.


,"Iyalah kita sekelas dan satu team basket masa gak kenal."


"Oh gitu.. " Ara membalas senyum bayu. Bintang menggelengkan kepalanya.


"Oiya tang akhir bulan ini kita ada pertandingan antar sekolah, lu ikutkan? " Matanya langsung tertuju pada Bintang


" Iya gue pasti ikut."


"Oke kalau gitu, gue mau latihan lagi. sekali lagi sorry ya Maharani."


"Panggil Ara aja.. " Ucap Ara tiba tiba memotong ucapan Bayu.


"Ouh oke Ra, sampai ketemu lagi, yuk Tang gue duluan."

__ADS_1


Bayu balik ke lapangan, meninggalkan Ara dan Bintang. Bintang merasa tak suka ketika Ara tersenyum kepada bayu. Tapi Bintang tak mengerti alasannya. Mungkin dia hanya tak suka saja.


***


__ADS_2