
Bintang memandangi gundukan tanah berwarna merah dengan tatapan kehilangan yang tak bisa digambarkan dengan apapun. Sementara Ibunya terus saja menangis di pusara sang putra sulung yang kini telah berpulang untuk selamanya ke sisi Tuhan nya.
Ibu Ara dan Alfa membantu Ibunya Bintang untuk berjalan pulang walau sesekali Ibunya Bintang masih menoleh tak percaya ada kuburan dengan nisan bertuliskan nama Gilang Pratama.
Yang tertinggal hanyalah Bintang dan sejuta kenangannya bersama sang kakak disana. Ara memegangi lengan Bintang dan mengajaknya pulang dari sana. Langit sudah mulai gelap dan rintik hujan sepertinya akan berlangsung lama.
Alfa pun mengendarai mobil menuju kediaman rumah Bintang.
Setelah seluruh orang pulang. Sesosok wanita datang dengan perlahan ke pusara yang masih baru itu. ya dia adalah Tata. Tata datang ke makam Gilang dengan wajah bersalah.
"Lang, kenapa? gue bahkan belum minta maaf sama kamu lang.." lirih Tata sambil tersungkur memeluk nisan Gilang.
***
Dikediaman Bintang.
Bintang duduk di tepi rajang di kamarnya sambil memegangi foto keluarga. Matanya terfokus pada sosok Gilang.
Ara ikut duduk disamping Bintang namun tak mau berkata apa-apa.
"Ini semua gara-gara gue Ra. Gue yang udah bikin kakak gue mati. Dia bunuh diri karna dia putus asa sama perasannya!" Ucap Bintang yang menyalahkan dirinya sendiri.
Ara menggeleng dengan kuat sambil memeluk Bintang yang di detik kemudian menangis seperti seperti orang kesetanan.
"Gara-gara gue Ra!" Ucap Bintang lagi.
"Gak tang bukan gara-gara lu. Ini memang sudah jalan takdirnya Gilang. Entah dengan alasan apapun dan kapanpun, kematian bisa menghampiri siapa saja.."Hibur Ara sambil mengusap butiran bening dikedua pipi laki-laki tampan itu.
Bintang terus terisak sampai akhirnya dia lelah sendiri.
Tak lama hp Ara pun berderit. Ara merogoh kantong bajunya. Terlihat nama Vania dilayar hpnya.
"Hello Van," ucap Ara pelan agar Bintang yang duduk disampingnya merasa tak terganggu.
"Ra, buka WhatsApp sekarang!" Suruh Vania dengan nada serius.
"Kenapa emang?" Tanya Ara heran.
__ADS_1
"Udah buka aja sekarang!" Vania pun langsung mematikan telponnya dan segera melihat pesan masuk si WhatsApp.
Mata Ara terbelalak kaget saat mendapati 7 panggilan telpon masuk dari Bayu sejak sore tadi. Sepertinya Bayu menelpon sesaat sebelum kecelakaan dirinya terjadi.
Ada pesan masuk berupa sebuah rekaman juga dari Bayu. Karna saking sibuknya ara baru sempat memperlihatkannya pada Bintang.
Ara seketika menekan tombol putar dan terdengarlah suara percakapan antara Bayu dan Tata. Ara mendekatkan hpnya ke telinganya. Saat rekaman sampai di bagian saat Tata mengaku kejahatannya, Ara ternganga tak percaya.
Bintang yang melihat ekspresi Ara yang melongo mulai bertanya-tanya ada apa? apa ini soal Bayu yang baru saja mengalami kecelakaan mobil?
"Kenapa Ra?" Tanya Bintang sambil menatap Ara penasaran.
Ara tak menjawab namun perlahan dia serahkan telponnya ke tangan Bintang agar laki-laki itu bisa mendengar semuanya.
Bintang menerima hp dari tangan Ara lalu kemudian di lihatnya layar handphone Ara. Masih terbuka pesan WhatsApp dari Bayu. Bintang menekan tombol rekaman dan langsung menempelkan handphone itu ke telinganya.
Selang beberapa detik Bintang tercengang. Tangan kanannya yang sedari tadi memegangi hp pun terkulai dengan lemah diatas pahanya.
"Tata.. Jadi dia dalang di balik semuanya!"
Ucap Bintang dengan nada tak percaya.
"Gila ya.. Gue gak nyangka Tata bisa sejahat itu sama lu Ra!" Ucap Bintang sambil mengepal kedua tangannya. Bintang mengatupkan mulutnya rapat-rapat menahan amarahnya pada Tata. Bintang langsung berdiri hendak menemui Tata namun Ara mencegat tangannya.
"Jangan Tang gue mohon, keadaan lagi berduka. Gue tau posisi lu karna gue dulu pernah kehilangan orang yang teramat penting dalam hidup gue.. lu lebih baik istirahat aja.."
Pinta Ara sambil mencegat tangan Bintang kuat-kuat.
Bintang berbalik dan di tatapnya gadis mungil itu dengan tatapan sendu.
"Maafin gue Ra. Gue buta banget gak bisa ngenalin orang yang beneran baik dan orang yang cuman pura-pura baik aja, gue bahkan gak bisa ngelindungin lu!"
Ara menggeleng cepat dan diusapnya punggung laki-laki jangkung itu dengan lembut.
"Gak tang jangan ngomong gitu. Lu yang selama ini selalu ada saat gue lagi dalam masalah. Gue bahkan belum sempet ngucapin terima kasih buat semuanya.."
Bintang menatap Ara lurus-lurus. Dia sadar gadis inilah yang sudah membuat hari-harinya lebih berwarna belakang ini. Kenapa dia bodoh sekali tidak bisa merasakan jika sesuatu sudah terjadi pada hatinya. Sesuatu yang selalu coba di tepisnya jauh-jauh karna Bintang terlalu takut untuk membuka hatinya lagi.
__ADS_1
"Tang, ini.. hari terakhir perjanjian kita, gue udah gak bisa kan minta gelang gue lagi.."
Deg! jantung bintang tersentak nyeri saat Ara mengatakan kalimat itu. Entah kenapa tiba-tiba ada yang begitu menyayat perasaannya.
"Gue juga mau minta maaf kalau selama ini gue punya salah sama lu dan.."
Bintang menarik Ara lebih dekat dan menutup mulut gadis itu dengan telapak tangannya.
Seketika mata mereka saling bertautan. Bintang merasakan kesedihan dari tatapan Ara.
Bintang mengambil sesuatu dari lemarinya. Bintang menyerahkan sebuah kotak merah ke tangan Ara.
Ara menerimanya dan kemudian segera membukanya. Sebuah gelang yang sangat Ara rindukan kini sudah kembali padanya. Gelang kesayangan dari almarhum ayahnya.
Bintang memakaikan gelang itu di tangan Ara dengan perasaan sedih karna ini berarti menandakan jika hubungan pura-puranya dengan Ara harus berakhir sampai disini saja. Entah kenapa Bintang merasa tak bisa mengikhlaskan Ara pergi darinya begitu saja.
Ara menatap gelang itu juga dengan perasaan bercabang, dia senang sekaligus sedih. Tak terasa butiran bening kini mengalir di kedua pipinya.
"Ra, terima kasih buat semuanya.." Ucap Bintang sambil memegang kedua tangan Ara.
Ara tak tahan diapun langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ara menangis sesenggukan.
Bintang langsung menarik tubuh Ara ke dalam pelukannya. Wangi parfum Bintang yang begitu khas semakin membuat Ara terpekik sedih karna mungkin besok dia tidak akan mencium wangi itu lagi. Wangi yang setiap pagi selalu bersama dengannya, memenuhi hari-harinya.
Bintang menarik gadis mungil itu ke dalam pelukannya. Mereka semakin larut dalam kesedihan yang berkecamuk di benak masing-masing.
"Tang, gue harus pergi sekarang. Gue mau jenguk Bayu. Gue pergi dulu ya.."
Ara pun melepaskan pelukan Bintang.
"Gue anter ya," Ucap Bintang sambil menahan tangan Ara.
"Please tang jangan kaya gini lagi, biar gue gak ngerasa semakin kehilangan besok-besok!"
Ara menepis tangan Bintang dan kemudian berlari meninggalkan laki-laki itu di kamarnya sendirian.
Bintang merasakan kekosongan yang luar biasa saat dilihatnya Ara tengah berjalan keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Hari ini, detik ini dia menyadari satu hal, sepertinya gadis itu mulai menempati satu tempat spesial dalam hatinya
bersambung