PANGERAN KUTUB UTARA

PANGERAN KUTUB UTARA
Perasaan Yang Sesungguhnya


__ADS_3

Sementara itu dikelas.


Ara menjulurkan kepalanya ke arah pintu kelas. Kenapa Vania lama sekali. Kemana tuh anak ya, apa mungkin dia balik duluan?


Ara menunggu dengan cemas.


"Hai cantik.."


Ara menoleh kaget. Tiba tiba tiga orang kakak kelas masuk ke dalam kelasnya. Satu diantara adalah Bram.


Bram menarik salah satu ujung bibirnya sambil tersenyum smirk ke arah Ara.


"Kakak ada urusan apa kesini, nyari siapa?" Ara mencoba bersikap tenang, padahal dia sangat was was. Bagaimana tidak, dia hanya sendiri didalam kelas, sementara diluar juga sudah mulai sepi.


Ketiga Siswa itu hanya senyam senyum genit tanpa menjawab pertanyaan Ara. Mereka semakin mendekat ke bangku Ara.


Ara bersikap waspada, namun dia tidak bisa menghindar apalagi lari keluar kelas. Rok belakangnya bolong, jika dia berdiri, maka sudah bisa dipastikan underwearnya akan kelihatan dengan jelas.


"Cantik, kok duduk aja sih, berdiri dong!" Bram memancing. Dia terlihat sangat puas ketika menangkap wajah Ara yang sangat pucat.


Ara meremas jari jemarinya sendiri, ketakutan mulai melanda dirinya. Vania kemana sih, tolong gue Van.


"Nama kamu siapa cantik?" Ridho, kakak kelasnya menarik kursi ke sebelah kursi Ara dan duduk dengan melingkarkan tangannya di bahu Ara.


Ara tercengang. Dia langsung menepis tangan Ridho yang menggantung di bahunya.


"Jangan kurang ajar ya Kak!" kata Ara lantang, padahal dibawah sana kakinya gemetar hebat. Tapi dia harus pura pura berani agar ketiga cowok itu tidak berbuat macam macam padanya. Karna semakin dia takut, mereka pasti akan semakin berani mengusilinya.


"Wih galak banget sih cantik!" Bram tertawa terbahak saat melihat wajah panik gadis di hadapannya.


Dia mengulurkan tangannya menangkap kedua bahu ara dengan tangannya yang besar.


"Lepas!" Ara mencoba berontak.


"BERDIRI!" Bram menaikan intonasi suaranya.


Ara tertegun.


Dengan sekali tarik, Bram berhasil membuat gadis itu berdiri.


Ridho dan Ferdy yang berdiri disamping dan juga dibelakang Ara kontan langsung bersiul panjang.


"Wow Seksi!" Ucap Ferdy sambil menatap ke belakang rok Ara yang bolong.


Air mata Ara pecah seketika. tangannya mencoba menutupi bagian roknya yang bolong meskipun sebenarnya percuma, karna kedua teman Bram sudah melihat dengan jelas apa yang tersembunyi dibalik rok abu abu itu.


"Lepas!" Ara menggigit salah satu tangan, Bram terpekik kesakitan, dia bisa merasakan gigi runcing Ara menancap di kulitnya.


"Cih, dasar cewek sialan!" Umpat Bram.


Bram menarik kerah baju Ara. Aran yang tidak melakukan perlawan sam sekali terdorong ke hadapan Bram.


Bram menarik Ara dengan kasar ke depan kelas.


"Kurang ajar, beraninya lo ngegigit tangan gue!"


Bram mengangkat tangannya dia melayangkan tangannya dan menampar Ara dengan keras.


Plak

__ADS_1


Ara terjungkal kebelakang, keningnya membentur sudut meja yang tajam.


Kedua teman Bram langsung menghampiri.


"Woy, gila lo ya Bram! bisa kenapa napa tuh cewek! kan lo bilang cuman mau nakut-nakutin dia doang!" kata Ridho mencoba menenangkan Bram yang kelihatan sangat kalap.


"Persetan! lo liat nih tangan gue!" Bram menunjuk tangannya yang berdarah di bagian bekas gigitan Ara tadi.


Ara meringis memegangi dahinya, kepalanya terasa sangat nyeri, dia merasakan sesuatu merembes keluar dari sudut keningnya.


Bukannya iba, Bram malah tertawa melihat kondisi Ara. cowok itu berjalan menghampiri Ara yang sudah tersungkur diatas lantai.


Bram mencengkeram dagu Ara. Wajahnya menyeringai lebar saat melihat gadis itu kesakitan.


Bram memajukan wajahnya, dia hendak mencium Ara tapi tiba sebuah kaleng minuman melayang dari arah pintu dan tetap mendarat di kepalanya.


BRAK


Bram meringis kesakitan.


"Woy! siapa yang melempar gue!!" Bram berdiri dan melepaskan cengkeramannya ditangan Ara.


"Gue bangsat!"


Bram menyipitkan matanya, seorang cowok bertubuh tinggi kini tengah menatapnya tajam. Bram dan kedua temannya terbelalak.


"Bintang!"


Bram sontak mundur saat menyadari Bintang berlari ke arahnya, cowok itu langsung menarik kerah bajunya.


"Bangsat, beraninya lo nyentuh Maharani pake tangan kotor lo ini" Bintang langsung melayangkan satu tonjokan keras ke wajah Bram.


Bintang kembali menghampiri Bram yang sedang meregang kesakitan, dia merasakan hidungnya mungkin bengkok karna tonjokan Bintang tadi.


BRUGH


Sekali lagi Bintang mendaratkan tinjuan keras ke arah Bram, tapi kali ini tinjuan itu dia darat kan tepat di ulu hatinya.


Bram memekik gila gilaan, sudut bibirnya bahkan menyemburkan sedikit darah, pukulan Bintang kali ini benar benar keras.


Kedua teman Bram mencoba melerai.


"Tang please maafin kami, kami cuman disuruh!"


"Disuruh?" Bintang menyipitkan matanya.


"Siapa yang nyuruh kalian?" Bintang seperti kesetanan, kali ini dia mencengkeram kerah baju Ferdy dengan ketat hingga tubuh Ferdy terangkat karenanya.


Ferdy memucat. "Cewek bernama Tata yang udah nyuruh kami, kami disuruh buat ngerjain Maharani!" jawab Ferdy.


"Tata!" dada bintang bergemuruh, kurang ajar, sepertinya Tata benar benar sudah melewati batas.


Semakin dibiarkan cewek itu malah semakin ngelunjak.


"Pergi dari sini, tapi ingat, kalian harus bertanggung jawab untuk hari ini!"


"Please tang jangan laporin kami ke kepsek! kami cuman ikut ikutan Bram, dia yang udah ngerjain Ara dan naro lem di bangkunya!" Ridho dan Ferdy memohon.


"PERGI!" Bintang menggebrak meja.

__ADS_1


Ridho dan Ferdy akhirnya pasrah, mereka membantu mengangkat tubuh Bram yang sudah terkapar dilantai.


Bintang segera lari menghampiri Ara. Dia jongkok di samping Ara dan mengangkat tubuh gadis itu kedalam pelukannya.


"Ra..maafin gue!" Bintang mendekap Ara dan menenggelamkan wajah Ara kedalam dadanya.


Ara menangis dalam diam, dia bersyukur Bintang datang tepat waktu, kalau saja tadi Bintang terlambat datang sedetik saja, Bram pasti sudah berhasil menciumnya.


"Tang.."


"St, diem jangan ngomong apa apa!" Bintang meletakan telunjuknya di bibir Ara.


Dia menatap sepasang mata coklat indah itu dengan intens.


Bintang membuka jaketnya dan segera mengalungkannya di pinggang Ara. Dia benar benar geram melihat rok Ara yang bolong.


"Jangan takut, gue bakal ngelindungin lo mulai sekarang, Ra." Bintang kembali membawa Ara kedalam pelukannya. Dia menyesal karna hari ini tidak menemui Ara.


Dia merutuki dirinya sendiri yang terlalu pengecut untuk mengungkapkan perasaannya sendiri. Tapi sekarang tidak lagi, kejadian ini sudah membuatnya sadar kalau dia tidak bisa kehilangan Ara. Kehadiran Ara sudah membuat segalanya berubah.


Bintang membelai rambut Ara dengan lembut. Jantung Ara berdetak lebih cepat. Wangi parfum yang begitu dia rindukan sejak tadi pagi akhirnya tercium lagi di hidungnya.


Ara terisak. Rasanya sesak memendam perasannnya sendiri.


"Ra.." Bintang melepaskan pelukannya dan menatap jauh ke dalam mata gadis itu.


Bintang menarik nafas panjang, dia kelihatan sangat gugup. Sudah terlambat untuk mengelak sekarang, hatinya tidak mengijinkan untuk mundur lagi. Dia tidak ingin kehilangan Ara untuk kedua kalinya.


Ara jadi ikut tegang, perlahan dia menegakkan badannya, menunggu Bintang bicara.


"Ra, gue.."


Bintang memenggal kalimatnya untuk beberapa saat.


"Gue sayang sama lo!" Ucap Bintang akhirnya sambil membelai pipi Ara.


Ara tercengang, begitupun dengan Bayu dan Vania yang ternyata sudah berdiri di belakang pintu sejak tadi.


Bayu yang menemukan Vania terkunci di ruang olahraga tadi langsung curiga kalau ada sesuatu yang gak beres, Vania seperti sengaja dikunci di ruangan itu untuk tujuan tertentu, firasat Bayu mengatakan kalau sasaran utamanya sebenarnya adalah Ara. Mereka pun buru buru menghampiri Ara ke kelasnya, namun ketika di lorong mereka malah berpapasan dengan Bram dan kedua temannya. Bram terlihat babak belur.


"Lo mau kan jadi pacar gue?"


Ara lagi lagi tercengang.


"Kali ini Bukan pacar bohongan.." Bintang buru buru menyempurnakan kalimatnya.


Ara menggigit bibir bawahnya, Bintang benar benar membuatnya syok, dia tak menyangka cowok yang selama ini dia taksir ternyata juga punya rasa yang sama dengan dirinya. Padahal kemarin kemarin dia sempat putus asa.


"Ra.." Sepasang mata Bintang menatap Ara menunggu jawaban.


Ara menarik nafas panjang, jantungnya berdegup sangat cepat.


"Iya, gue juga sayang sama lo tang.."


Bintang menghela nafas lega, segera dia menarik tubuh gadis itu mendekat, Ara memejamkan kedua matanya saat Bintang mendaratkan sebuah ciuman dikeningnya.


Bayu dan Vania berbalik dan memalingkan wajah. Mereka kemudian memilih untuk tidak mengganggu sepasang kekasih yang baru jadian itu.


TAMAT

__ADS_1


__ADS_2