PANGERAN KUTUB UTARA

PANGERAN KUTUB UTARA
BERHENTI DISINI


__ADS_3

Bel pulang berbunyi, Ara masih melamun memikirkan kejadian tadi. Wajah Bintang yang begitu khawatir saat melihat Tata terhuyung dan saat Bintang menggendongnya menuju Uks masih terus membayangi Ara. Vania yang menyadari Ara sedang melamun langsung menepuk pundaknya.


"Ra, lo kok ngelamun? mikirin apa? udah hayu kita balik udah bel tuh!" Vania menyadarkan lamunan Ara.


"Hmm.." Ara hanya mengangguk. Merekapun berjalan keluar menuju gerbang sekolah.


"Gue balik duluan ya Ra..., lu lagi mau bareng Bintangkan?"


"Gue gak tu Van, mungkin dia mau nganterin tata, gue gampang deh, ntar naik angkot aja"


"Kok Bintang sih yang nganter Tata? kan ada Gilang pacarnya!!" Protes Vania karna ikut kesal mengingat Tata hanya pura pura sakit saja tadi. Namun Ara hanya menggeleng. Dia juga tak tahu apakah Bintang akan mengantarnya pulang atau tidak hari ini. Ya kalau diantar syukur kalau engga ya gak apa apa juga. Lagian siapa dia? Hanya pacar bohongan inget.


"Yaudah gue duluan ya Ra.."


Vania pergi meninggalkan Ara sendiri. Ara melihat sekeliling dan berharap ada Bintang. Namun sudah 15 menit menunggu Bintang tak juga menampakan batang hidungnya. Sementara keadaan sekolah mulai sepi. Ara menghela nafas sesak. Setetes Air mata jatuh diantara dua pipinya yang mulus. Dia sudah sekuat tenaga menahan air matanya. Namun gagal. Mengapa dia berharap? sementara dia bahkan tak berhak atas perasaan sukanya ini. Kalau bukan karna gelang dari ayahnya itu, dia mungkin tak harus terjebak dengan Bintang dan perasaan sialan ini. Bintang adalah satu satunya cowok yang berhasil bikin dia jatuh cinta sekaligus patah hati disaat yang bersamaan.


Arapun melangkah menyusuri jalanan sambil melamun. Langkahnya gontai. Dia tak tahu harus berbuat apa sekarang. Dia ingin Bintang tahu perasaannya tapi dia bisa apa? Dihati Bintang sudah ada Tata. Apa ini yang namanya sakit tapi tak berdarah?!!!


Ara terus berjalan tanpa menyadari ada sebuah mobil sedan melaju cepat dibelakangnya.


Hampir menabrak tubuhnya kalau saja seseorang tidak langsung menarik badannya.


"MAHARANIIIII..!!!!!!"


seseorang itu langsung menarik tangan Ara dengan cepat untuk menghindari tabrakan terjadi.


Ara yang hilang keseimbangan hampir terjatuh dan lagi lagi seseorang itu langsung menyanggah tubuh mungilnya. Ara mencium wangi khas yang manis itu dan tak lain itu wangi parfumnya Bintang!!! DEEEGG jantung Ara berdegup kencang. Dia mengangkat wajahnya perlahan dan benar saja. Seraut wajah tampan itu kini telah ada didepannya. Menatapnya dengan tatapan khawatir dan nafasnya memburu seperti habis berlari jauh.


"Lo ngapain sih ngelamun dipinggir jalan!!! dari tadi gue manggil manggil malah bengong, tau gak gue nyariin lo keliling sekolah, gue kira lo dikantin makanya gue nungguin disana. Malah gak muncul muncul !!! Makanya gue susul keluar. Kata Bang ucup lu jalan ke arah sini. Dan gue liat mobil dibelakang itu kenceng banget. Sialaaan bikin khawatir aja sih lu!!!" Nada Bintang terdengar serius dan nafasnya terdengar ngosngosan.

__ADS_1


Ara terbengong bengong. Bukan karna hampir ditabrak mobil, melainkan dia kaget karna barusan sipelit ngomong ini sudah bicara panjang kali lebaaaar. Uwow, apa barusan itu Bintang mengkhawatirkannya? Masa sih!!! Ara berdecak tak percaya.


"Kanapa lu malah bengong sih. Ayo kita balik!!" Bintang menarik tangan Ara dan membawanya masuk kedalam mobilnya.


"Bisa gak lain kali lo lebih hati hati lagi. Kalau aja gue gak narik lu tadi, itu mobil udah pasti nyenggol lu Ra !" Terdengar nada dongkol dan setengha membentak dari ucapan Bintang. Namun Ara malah senyam senyum sendiri. Dia senang karna dugaannya ternyata salah. Bintang masih peduli kepadanya. Buktinya Bintang ternyata malah masih menunggunya didalam kantin padahal Ara sudah suudzon menyangka Bintang pulang dengan Tata.


"Gu.. gue pikir lu mau balik sama Tata, mak.."


"Makanya apa?" Potong Bintang kemudian. Matanya menatap Ara tajam.


"Gue cuman nolongin Tata ke UKS, setelah itu gue langsung nelpon abang gue buat nemenin dia."


"Ouh gitu, ngomong ngomong Tata gak apa apakan?" tanya Ara yang kemudian ingat pada kejadian di lapangan tadi siang.


"Gak apa-apa" Bintang seolah cuek padahal Ara tau Bintang pasti sangat khawatir pada Tata.


Bintangpun menyalakan mesin mobilnya dan segera mengantarkan Ara pulang kerumahnya.


Malam itu Ara sedang duduk didepan tv bersama Alfa kakaknya. Ara melamun dan membayangkan bagaimana tadi siang Bintang menolongnya dari sebuah kecelakaan. Kalau dipikir pikir, selama ini Bintang selalu jadi malaikat penyelamat dikala Ara hendak mendapat Musibah. Seperti waktu itu saat dia hendak kena lemparan Bola atau saat dia Akan jatuh ditoko Buku. Ara tiba tiba terkikik membuat alfa yang sedang asik menonton bola menjadi kaget. Takut jika adik semata wayangnya ini kesambet mba kunti. Padahal mah lagi kasmaran.


"Raa astagfirullah, iye saha iye??? maung lain maneh? keluar sana kasian adik gue masih muda !" Alfa berusaha menirukan salah satu pembawa acara disalah satu stasiun tv horor. Dia pun memegangi kening Ara sebari mulutnya berkomat kamit mirip mbah dukun baca mantra. Membuat Ara kemudian sontak melirik kakaknya dengan tatapan keheranan.


"Ikh bang lo kenapa siiii?! Sanaa ah ganggu ajaa!" Ara mengibas ngibaskan tangan Alfa dari keningnya agar segera menyingkir.


Alfapun sontak terkekek melihat wajah bingung adiknya.


"Bhahaha lagian lu pake acara ketawa ketiwi sendiri kaya orang kesambet aja, mikirin siape? Bintang?" Goda alfa kemudian membuat Ara jadi gelagapan.


"Ah, siapa juga yang mikirin dia, males amat," Kata Ara mengelak padahal mah 100% iya.

__ADS_1


"Bintang itu anak yang baik Ra, kamu beruntung deh. Kayanya Bintang bisa mama andelin nih buat jagain kamu"


Mama Ara yang datang dari Arah kamarnya tiba tiba ikut nimbrung diruang tv.


"Apa mamah jodohin kamu aja ya sama dia! Ah seru deh kalau mamah besanan sama sahabat mamah sendiri." Goda mamah sambil menyenggol lengan Ara. Sontak Ara membulatkan matanya dan jadi salting.


"Apaan sih mamah ni ikut2an abang aja! Lagian hari gini masih maen jodoh jodohan? emangnya ini jamannya siti nur bayeemm !!!"


"SITI NURBAYA ONENG!!" Timpal kakaknya sebari menjitak pala adiknya.


"Ya, ntu maksud gue bang!!"


"Lah emang Bintang itu kenapa? Dia ganteng, baik, tanggung jawab lagi anaknya. Buktinya dia mau nganter jemput kamu setiap hari padahal sekarang kaki kamu udah sembuhkan?" Tanya mamah.


Ara berkeciwes. Belum tau aja mamah aslinya Bintang kaya apa. Lagipula Bintang terus mengantar jemput Ara hanya karna mereka terikat perjanjian pacaran bohongan.


"Udah ah mah, lagian Bintang juga gak bakal suka sama Ara. Kita cuman temenan gak lebih."


Ada nada sedih dalam ucapannya. Kakanya kemudian merangkul Ara dan memberikan semangat


"Ra, selama janur putih belu..."


"Janur kuning maksud lo!!" potong Ara


"iya ntu maksud gue, selama si janur itu belum berkibar. Pantang maju Ra!!"


"Ah, gimana sih lu bang, maksud lu itu nyemangatin apa gimana nih?"


"ya gak gimane gimane sih. gue kan cuman lagi ngomongin janur!!" Alfapun kontan tertawa karna sudah puas menggoda adiknya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2