PANGERAN KUTUB UTARA

PANGERAN KUTUB UTARA
Bukan Dia Tapi Aku


__ADS_3

"Iya, Tang. Gue udah mutusin buat udahan aja sama Gilang." Seru Tata membuat Bintang menoleh kaget.


"Jangan Ta. Gue kan udah bilang semua yang terjadi diantara kita dulu udah selesai. Sekarang itu keadaannya udah beda."


Bintang memelankan suaranya agar orang orang disekitar mereka tak mendengarnya.


"Apa sih yang beda Tang? gue tau Tang lu sama Ara gak pernah bener bener jadian. Kalian cuman lagi pura-pura kan?"


"Ngaco lu!"


"Ngaco apanya? udah deh tang lu gak perlu sandiwara lagi. Lagian Gilang juga udah tau perasaan gue yang sebenernya. Sekarang apalagi yang bikin lu gak mau ngejalanin hubungan sama gue ? Gue juga gak tega terus terusan maksain buat cinta sama dia. Gak bisa tang.. gue sayangnya cuman sama lu."


Tata memulai akting memelas nya.


Ara memperhatikan wajah Bintang yang terlihat serba salah. Diapun mengambil inisiatif untuk mendekati Tata dan Bintang.


"Tang.. sini gue bantuin bakar jagungnya.."


Ara sengaja berdiri diantara Tata dan Bintang. Membuat Tata terlihat sangat jengkel.


"Makasih Ra."


"Kita bicara lagi nanti Tang..!" Tata pun pergi meninggalkan Ara dan Bintang sambil mengumpat dibelakang mereka.


"Makasih ya Ra,"


"Buat apa? gue udah bantuin bakar jagung?"


Tanya Ara sok polos. Padahal dia tau Bintang berterima kasih karna sudah menyelamatkannya dari pertanyaan Tata yang membuat hatinya Bingung.


Dia memang menyayangi Tata. Tapi untuk kembali lagi rasanya akan banyak hati yang tersakiti termasuk kakaknya sendiri Gilang. Dan dia tidak ingin jika sampai Gilang patah hati karna dirinya.


"Makasih buat semuanya.. Makasih karna lo udah bantuin gue sejauh ini."


Ara hanya mengangguk pelan.


***


Besoknya keluarga Ara dan keluarga Bintang kembali dari liburan singkatnya.


Semuanya kembali menjalani aktifitas normal.


Gilang sejak pulang dari liburan berubah menjadi orang yang sangat pendiam. Bintang mencoba mengajaknya mengobrol namun Gilang selalu menghindarinya.


Pagi itu seperti biasa Bintang menjemput Ara dirumahnya. Sepanjang perjalanan Bintang kembali menjadi orang yang sama. Pendiam, irit ngomong dan selalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Padahal di pantai kemarin Ara pikir Bintang akan berubah menjadi orang yang lebih hangat. Dia bahkan sudah mengajak Ara melihat sunset. Menurut Ara itu sangat romantis. Tapi mungkin bagi Bintang hal seperti itu bukanlah apa apa.


"Gilang masih marah sama gue Ra.."


Bintang akhirnya membuka percakapan. Sorot matanya terlihat gusar walau dia bersikap sangat cool.


"Dia pasti butuh waktu Tang.."

__ADS_1


Bintang terus termenung sambil memikirkan kejadian di Villa kemarin. Bagaimanapun sekarang dia harus segera membereskan masalahnya dengan Tata.


"Tang... gue boleh gak nanya sesuatu.."


"Apa Ra?"


"Lu bakal balikan sama Tata?"


Bintang menoleh sesaat kemudian kembali fokus menyetir.


"Gue gak tau Ra.."


"Gak tau? berarti ada kemungkinan iya?" Tanya Ara penasaran.


Bintang tak menjawab. Ara kemudian diam tak berani mengulik lebih jauh lagi. Dia sadar itu privasi Bintang.


Setelah sampai di dalam gerbang sekolah Ara meminta untuk turun duluan karna dia merasa kebelet ingin pipis.


"Gue disini aja Tang.."


"Yuadah gue turunin disini ya. Gue ke parkiran dulu, ntar gue tung.."


Belum Bintang menyelesaikan omongannya Ara segera memotong.


"Udah gak usah nungguin gue, lo duluan aja ke kelas lo!" Ara keluar mobil dan langsung lari terbirit birit membuat Bintang tertawa geli.


"Tuh anak ada ada aja.."


Tata yang sedari pagi menunggu Bintang melihat kedatangan Ara yang buru buru lari ke arah Toilet. Dia pun langsung terpikir untuk mengerjai Ara dan membalas dendam pada Ara karna dia sudah mengganggunya kemarin malam saat bicara dengan Bintang.


Diapun mengikuti Ara sampai ke depan toilet. Dan saat Ara sudah berada didalam dia langsung menyanggah pintu toilet dengan gagang pelan sehingga pintu akan terkunci dari luar.


Setelah selesai pipis Ara segera merapikan roknya dan bersiap untuk keluar. Tapi pintu toiletnya tidak bisa dibuka, dia mencoba berulang kali membukanya namun sia sia saja. Ara pun langsung merogoh tasnya dan mengambil Hp. Namun memang dasarnya itu mungkin adalah hari sialnya Hp Ara tak bisa menyala karna Ara lupa mengecasnya.


"Duh,, gimana nih? tolong ada orang gak diluar. Tolong saya terkunci didalam.."


Ara menggebrak gebrakan pintu sambil berusaha berteriak kencang.


Tapi Tata sudah merancang semuanya dengan matang. Dia menyuruh dua orang siswa yang terkenal brandal untuk berjaga didepan pintu utama toilet sehingga tak ada satu siswi pun berani untuk masuk kesana.


"Mampus lo!" Umpat Tata sambil tertawa puas.


"Denger ya jangan sampe ada yang masuk kesini, biarin aja sampe jam balik sekalian biarin dia terkunci disana biar gak banyak tingkah !" Tata menyerahkan beberapa lembar uang merah pada kedua siswa tadi.


"Siap bos laksanakan!" Dua siswa tadi pun menerima uang dari tangan Tata sambil berpose memberi hormat.


"Bagus, inget ya kalau sampe kalian ketahuan jangan bawa bawa nama gue!"


"Yoi gampang lah itu asal cuan nya bisa ditambah lagi gak masalah.." kedua siswa tadi menyeringai lebar.


Tata pun mengambil beberapa uang lagi dari dalam kantong bajunya.

__ADS_1


"Dasar lo pada mata duitan. Nih gue tambahin. Awas aja kalau dia sampe bisa keluar!"


"Siap bos beres kita pastiin tuh cewek gak bakal bisa keluar sampe bel pulang haha.." Salah satu siswa itu mengambil uang dari tangan Tata sambil menciumnya.


"Kita bakal blokir anak anak yang mau masuk kesini.."


kedua siswa itu kemudian terbahak bahak bersama diikuti tatapan penuh kebahagiaan Tata karna membayangkan Ara akan segera sengsara terjebak di dalam toilet sendirian.


Sementara itu didalam kelas, Vania heran karna bel pelajaran pertama sudah berbunyi dan Ara tak keliatan juga batang hidungnya. Vania mencoba menelpon Ara namun nomornya tidak aktif.


Vania pikir Ara mungkin hari ini tidak masuk sekolah.


Jam istirahat pun berbunyi. Vania berjalan ke kantin sendirian. Saat dia sampai di tangga dia berpapasan dengan Bintang.


"Van, si Ara kemana ? tumben sendirian?"


"Ara gak masuk tang,, gue telfon juga nomornya gak aktif tadi."


"Dia masuk Van, tadi pagi dia bareng gue.." Bintang mulai heran, apa jangan jangan Vania berbohong.


"Maksud lo dia dateng ke sekolah? kok gak masuk kelas?"


Vania malah keliatan lebih heran. Dia memang murni tidak tahu.


"Dia ijin ke toilet sih didepan gerbang tadi. Jangan jangan tuh anak pingsan di toilet!"


Bintang segera berbalik dan berlari menuruni tangga. Vania yang kaget langsung ikut membuntuti Bintang.


Sesampainya dibelakang sekolah Bintang menghentikan langkahnya. Dia melihat ada dua orang siswa kelas 3 yang sedang duduk sambil merokok didepan pintu utama toilet siswi.


"Ngapain lo pada disini!"


Mata Bintang mendelik tajam. Dia mencium ada sesuatu yang janggal. Dua orang siswa itupun segera berdiri dan menatap Bintang dengan senyum yang mengejek.


"Sopan dikit dong men, lo bukannya anak kelas dua IPA ? kita ini kakak kelas lo mana rasa hormat lo !!"


Ucap salah seorang dari mereka.


Vania yang baru sampai langsung menghentikan larinya ketika satu tangan Bintang menghalanginya.


Vania langsung menciut dibalik tubuh jangkung Bintang.


"Hei lo cewek! lo mau ke toilet ya? pake dulu deh toilet yang lain. Khusus buat hari ini nih toilet kita tutup dulu ya soalnya ada kecoa nya nih di dalem, ih serem ya kan Di ? hahaha!" kedua cowok itu menatap Vania dan saling tertawa terbahak bersama.


"Siapa yang di dalem?"


Bintang mendekat ke arah mereka.


"Wih nantangin nih anak! lo gak tau kita siapa hah?" kedua siswa tadi pun mulai terpancing emosinya.


Bintang menatap mereka dengan memasang wajah mengejek.

__ADS_1


"Gue tanya siapa yang lo tahan di dalem?"


__ADS_2