
Hanya tinggal hitungan hari Ara dan Bintang akan menyelesaikan perjanjian pacaran bohongannya. Jauh dalam lubuk hatinya dia tidak ingin waktu berlalu dengan cepat. Ara masih ingin menikmati kebersamaan bersama dengan orang yang di sayanginya.
"Ra, tiga hari lagi ada pertandingan basket antara sekolah kita sama sekolah dari jakarta. Bintang sama Bayu ikut maen lho Ra. Kita nanti nonton ya!" Ucap Vania antusias.
"Loh emang kapan?" Tanya Ara sambil meneguk sekotak susu coklat kesukaannya.
"Ntar loh sabtu ini, di Gedung olahraga!"
Jawab Vania sambil mengeluarkan buku tulis dari dalam tasnya.
Ara diam sesaat 'Sabtu' ini, tepat sekali hari itu adalah hari terakhirnya menjadi kekasih Bintang.
Wajah Ara tiba-tiba menjadi mendung. Vania menyenggol lengan Ara yang seketika membuat Ara menoleh kaget.
"Ngelamun aja lo pagi-pagi! ada apa Ra?"
"Itu hari terakhir perjanjian hubungan gue sama Bintang Van.."
Vania tersentak kaget. Ditatapnya Ara yang tiba-tiba menjadi lesu tak bersemangat.
"Ra, ini berita bagus kan, secepatnya terbebas dari hubungan palsu, bukannya ini yang lo mau dari dulj?"
Vania senang saat membayangkan sebentar lagi dia bisa leluasa mendekati Bintang tanpa harus canggung pada Ara.
"Lo kok kayaknya sedih sih Ra?"
Tanya Vania lagi.
"G-gue.. gue udah kemakan omongan gue sendiri Van!"
"Maksudnya?"
Tanya Vania tak mengerti.
"Gue udah jatuh cinta sama Bintang Van.."
Vania tercengang tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Tentu saja ini bukan berita baik bagi Vania. Karna niatnya selepas Ara dan Bintang selesai dengan hubungan pura-puranya Vania bertekad untuk jujur kepada Ara soal perasaannya kepada Bintang.
Namun Vania terpaksa harus mengurungkan niatnya ini setelah mendengar kalau ternyata sahabatnya ini malah jatuh cinta pada pria yang telah lama diincarnya.
"Sejak kapan Ra?" Tanya Vania.
"Lumayan lama Van. Tapi gue sadar Bintang gak punya tempat buat gue di hatinya, makanya gue gak pernah ngutarain ini sama dia."
__ADS_1
Vania hanya diam tak tahu harus berkata apa.
Bel pulang pun berbunyi.
Bayu menatap ponsel ditangannya dengan tatapan kosong.
'Haruskah dia menyerahkan rekaman soal kejahatan Tata kepada si Bintang sekarang?'
Bayu jadi bingung karna 3 hari lagi akan ada pertandingan basket antar sekolah. Kalau dia serahkan sekarang pasti konsentrasi Bintang akan buyar karna masalah ini. Terlebih Bayu juga tahu kalau Tata sangat begitu berarti bagi Bintang.
Tapi di sisi lain Bintang memang sudah waktunya membuka matanya soal sifat Tata yang sebenarnya.
Dan terlebih dia ingin keadilan untuk Ara. Dia tidak ingin Tata terus-terusan menganggu gadis yang disayanginya.
"Mungkin lebih baik habis pertandingan aja gue kasih rekaman ini ke si Bintang." Ucap Bayu sambil memasukkan ponselnya kedalam saku celananya.
Di kediaman rumah Tata.
Tata terus mondar-mandir tak jelas di dalam kamarnya. Wajahnya terlihat sangat gelisah. Tata takut jika sampai Bayu nekat memberikan rekaman percakapannya itu pada Bintang. Tapi seharian ini sikap Bintang masih tetap biasa saja. Apa Bayu berubah pikiran?
Dari pada bertanya-tanya dalam hati, Tata langsung mengambil hpnya dan bergegas menelpon nomor Bayu.
"Ada apa?" Tanya Bayu dari sebrang telpon.
"Lo.. apa udah ngasih tau semuanya sama Bintang?" Tanya Tata dengan nada cemas.
"Bay, gue mohon kali ini aja. Gue janji gue gak bakal ngulangin kesalahan gue lagi.."
Pinta Tata yang jelas saja ditolak mentah-mentah oleh Bayu.
"Gue kenal lo dari kita masih bocah Ta. Lo itu gak bakal berhenti sampai lo bisa dapetin apa yang lo mau! gue tau lo bakal terus gangguin Ara sampai lo bisa dapetin si Bintang!"
"Engga Bay.."
"Udah ya gue ngantuk!" Bayu langsung menutup telponnya dengan kasar.
Tata jengkel bukan main pada sepupunya itu. Bibirnya mengatup menahan amarah.
"Awas lo Bay! terpaksa gue harus lakuin cara terakhir!" Ucap Tata sambil menyeringai seram.
Tiga hari kemudian..
Dipenjuru sekolah SMA BINA BANGSA seluruh murid sedang sibuk membicarakan pertandingan besar yang sebentar lagi akan di adakan disekolahnya.
__ADS_1
Ara dan Vania bahkan langsung ngibrit ke gedung olahraga agar kebagian tempat duduk. Bukan apa-apa karna ini adalah pertandingan besar pertama bagi sekolahnya setelah lama vakum dan absen dari pertandingan antar sekolah.
Ara dan Vania duduk di deretan bangku penonton paling depan. Ara mencari-cari sosok Bintang di lapangan namun tampaknya Bintang belum datang. Sementara para pemain dari lawan SMA mereka sudah hadir memenuhi pinggir lapangan. Mereka sedang melakukan pemanasan untuk meregangkan otot-otot mereka.
"Bayu sama Bintang kemana ya?" Tanya Vania sambil berdiri dan mencari ke segala arah namun tak juga didapatinya dua sosok laki-laki itu.
"Bayu? oh iya Bayu juga gak keliatan ya?" Ara ikut mencari namun memang keduanya belum nampak di lapangan.
Sementara itu diluar gedung olahraga Tata terlihat sedang serius menelpon eseorang.
"Gimana? apa lo udah ngelakuin yang udah gue minta? jangan sampai ada kesalahan sedikitpun!" Ucap Tata sambil tersenyum penuh arti.
"Siap bos. Semuanya udah beres sesuai kemauan lu bos.." Jawab seseorang dari sebrang telpon.
"Oke bagus! Awas kalau sampe ada kesalahan. Lo yang bakal gue abisin!" Ancam Tata dengan seringai mengerikan.
Tata pun menutup telponnya dan segera melenggang memasuki gedung olahraga.
Sementara di dalam gedung olahraga Ara cemas karna tak juga melihat Bintang ataupun Bayu sementara pertandingan tinggal beberapa menit lagi. Bintang dan Bayu adalah pemain inti di SMA-nya jadi wajar saja hampir seluruh murid yang berada didalam gedung bertanya-tanya kemana dua laki-laki pentolan SMA mereka.
Tak lama Bintangpun datang dengan tergopoh-gopoh. Sang pelatih pun terlihat sedikit lega dengan kedatangan Bintang. Setidaknya ada satu pemain inti yang hadir. Meski dia juga berharap Bayu bisa secepatnya hadir disini.
"Bintang, dimana Bayu?"
Tanya pelatih sambil menyerahkan Ban Kapten ketangan Bintang.
Bintang mengatur nafasnya sejenak.
"Saya gak tau pak. Tadi dia pamit mau pulang dulu ngambil baju pertandingan yang ketinggalan dirumah. Tapi pas saya telpon tadi nomornya malah gak aktif."
Pelatih terlihat sedikit khawatir. Terpaksa pertandingan harus segera dimulai tanpa kehadiran salah satu pemain terbaiknya karna waktunya sudah mepet.
Di sebuah jalan Raya terlihat Bayu dengan kecepatan penuh memacu mobilnya. Sesekali Bayu menoleh ke arah spion dengan wajah gelisah. Sejak dari rumah tadi sebuah moge terus membuntutinya.
Berapa kali moge itu menyerempet mobilnya sampai Bayu harus benar-benar fokus karna hampir beberapa kali mobilnya hilang kendali.
Moge itu dengan secepat kilat mampu menyeimbangi laju mobil Bayu. Terlihat dua orang berboncengan dengan menggunakan helm hitam yang membuat Bayu tidak bisa melihat wajah mereka dengan jelas. Salah seorang pria yang dibonceng itu terus saja mengetuk-ngetuk kaca mobil Bayu dengan keras Bayu tidak mengerti kenapa dua orang itu ingin mengganggunya.
Bayu menginjak gasnya lebih dalam dan memacu mobilnya dengan kecepatan penuh. Moge pun masih tak menyerah mengekor dibelakangnya. Saat sampai dijalan yang lumayan lengang. Moge dapat kembali menyusul mobil Bayu dengan mudah. Kejar-kejaranpun tak terelakan.
Beberapa kali Moge itu sengaja menyerempet Mobil Bayu. Naasnya saat berada di persimpangan jalan sang moge sengaja menghalau mobil Bayu dari depan dengan menancapkan gas lebih cepat. Bayu oleng dan terpaksa membanting stir nya arah ke kiri untuk menghindari tabrakan.
BRAG !
__ADS_1
Terdengar benturan yang begitu keras antara mobil yang Bayu kendarai dan pembatas jalan. Mobil Bayu sempat berputar beberapa meter sampai akhirnya berhenti karna menabrak sebuah tiang besar didepannya yang menyebabkan mobil Bayu ringsek parah tak berbentuk.
Seketika asap hitam pekat keluar dari dalam kepala mobil milik Bayu. Semua orang yang berada ditempat kejadian langsung menghampiri mobil Bayu dan berusaha menyelamatkan sang pengendara yang sudah terkulai bersimbah darah.