
Di Rs melati waktu menunjukkan pukul 19.00 wib
Ara menyusuri lorong rumah sakit dengan sedikit tergesa-gesa. Ara janjian bersama Vania. Vania mengekor dibelakang Ara dengan membawa tentengan buah-buahan untuk Bayu.
mereka berhenti di sebuah kamar pasien. Ara membuka gagang pintu dengan perlahan, merekapun langsung masuk ke dalam ruangan dengan langkah yang sangat pelan agar Bayu tidak merasa terganggu.
Ara berdiri mematung saat melihat Bayu dengan balutan kabel-kabel ditubuhnya. Bayu terlihat sangat mengenaskan. Sekujur tubuhnya dipenuhi luka, kepala bayu diperban dan sepertinya sedikit darah masih tembus dari kain kasa nya.
Ara berjalan gemetar dan tanpa sadar air matanya mengalir di kedua pipinya yang mulus. Si tengil ini, si tukang nekat ini sekarang sedang berjuang melawan maut.
Bayu menoleh dan menatap Ara saat sadar gadis yang disayanginya datang menjenguknya. Raut wajahnya seketika berubah bahagia, Bayu melambai dan menyuruh ara mendekat dengan menjentikkan jarinya, gerakannya sangat pelan, lemah dan lambat.
Ara dan Vania buru-buru berdiri disisi ranjang Bayu.
"Bay, lo udah sadar?" Tanya Vania. Dia kemudian meletakkan sekeranjang buah-buahan dimeja samping tempat tidur.
Bayu mengangguk perlahan. Ara duduk di samping bangku yang terletak disebelah ranjang.
"Hei, kenapa nangis?" Tanya Bayu dengan suara yang sangat lemah.
Ara menggeleng cepat. Tapi tangisnya malah bertambah keras. Vania mengusap-usap punggung Ara dan berusaha menenangkan gadis itu.
"Udah ra, kan bayu udah gak apa-apa."
Bayu menggenggam tangan Ara. Ara tersentak dan tidak seperti biasanya dia hanya diam dan membiarkan laki-laki itu menyentuhnya.
"Ra, gue keluar bentar ya gue mau beli minum aus nih, lo ngobrol dulu aja nanti gue balik lagi kesini oke?" Vania sadar kalau Bayu saat ini pasti ingin ngobrol berdua saja dengan Ara. Bayu mengucapkan terima kasih lewat sorot matanya yang berbinar kepada Vania.
'Terima kasih Van, lo udah peka'
Setelah Vania keluar kamar, tinggallah hanya mereka berdua disana.
"Kata dokter gimana? gak ada luka dalam yang serius kan? kenapa bisa sih Bay? lo ngelamun apa gimana? makanya jangan suka petakilan Bay. Kalau udah kaya gini lo bikin semua orang khawatir tau!" Ara terus mengoceh seperti petasan renceng.
"Hei, slow gue gak apa-apa, justru kalau lo ngoceh terus kayaknya gue bakal kenapa-napa deh."
"Hah?" Ara ternganga namun kemudian sadar jika sedari tadi dia memang terus nyerocos sendiri.
"Gimana? lo udah denger pesan suara yang gue kirim?" Tanya Bayu. Matanya menatap gadis itu lurus-lurus.
"Iya udah."
"Terus?"
"Udahlah Bay, biarin aja. Gue udah lupain kejadian itu kok. Gak usah dibahas lagi ya, gue juga udah maafin Tata."
"Lo bego atau gimana sih? gue tuh cape-cape tau nyelidikin ini demi lo! lo malah seenaknya maafin gitu aja!" Bayu tampak emosi.
Ara hanya menunduk saja. Tak ada lagi kata kata yang keluar dari mulut gadis itu.
Karna Ara memang sudah lelah dengan keributan keributan yang tercipta akhir akhir ini.
"Ra.." Bayu mencoba meraih tangan Ara.
"Hmm, kenapa?" Tanya Ara.
Bayu tampak kikuk dan ragu melanjutkan ucapannya.
"Gue boleh ngomong sesuatu gak sama lo? gue tau ini bukan waktu yang pas, tapi gue bener bener udah gak bisa mendem perasaan ini lebih lama lagi, gue kesiksa."
Kening Ara mengkerut mendengarnya.
__ADS_1
"Gue sayang sama lo Ra. Lo mau kan jadi cewek gue?"
Ara malah tertawa mendengarnya.
"Becanda aja sih lo, lagi sakit kaya gini juga!" kata Ara ssmbil mendengus heran.
Bayu menggeleng serius.
"Gue gak lagi becanda Ra. Gue cuman pengen tau jawaban lo sekarang, lo mau gak jadi cewek gue Ra?"
Bayu meraih tangan Ara. Cewek itu terdiam. Dia menatap Bayu, cowok itu tampak tegang. Sepertinya dia memang serius dengan ucapannya barusan.
"Bay, lo.." Ara masih tak percaya Bayu sekarang benar benar sedang menembaknya menjadi pacar.
"Gimana, Ra? gue butuh jawaban lo.."
"Bay, gue..gue gak bisa jawab sekarang, gue bener gak tau sama perasaan gue, lo tau kan gue sama Bintang baru aja putus, maksud gue putus sebagai pacar bohongannya.." Ara tertunduk, hatinya selalu sakit jika membicarakan soal Bintang.
"Iya, gue tau, Bintang dan elo pacaran bohongan, justru karna itu gue gak bisa ngebiarin lo ada di dalam hubungan palsu itu terus, gue gak bisa ngeliat Bintang mempermainkan perasaan lo."
Bayu tampak emosi.
"Gue mohon Ra, kasih gue kesempatan buat bahagiain lo, gue gak akan minta lo jadi pacar bohongan, gue mau lo bener bener jadi pacar gue, gue sayang sama lo.." Bayu menatap Ara lurus.
Gadis itu memalingkan wajahnya. Bayu memang sangat baik dan dia selalu jujur dengan perasaannya, berbanding terbalik dengan Bintang yang sama sekali tidak bisa Ara tebak isi hatinya.
Ara meremas jadi jemarinya, dia bingung sekarang.
"Maaf, Bay. Gue bener bener gak bisa kasih jawaban itu sekarang. Please jangan maksa." Ara memberanikan diri menatap balik Bayu.
Bayu akhirnya mengangguk pelan.
Tiga hari setelah kematian Gilang, semua kembali masuk sekolah seperti biasanya.
Ara berjalan dari arah gerbang. Pagi ini tidak seperti hari hari biasanya, semuanya kembali ke kehidupan normal sebelum Ara bertemu dengan Bintang. Dia berangkat sekolah sendiri, tidak menunggu Bintang menjemputnya seperti hari hari kemarin.
Ara berjalan sambil memperhatikan gelang dari almarhum ayahnya yang sekarang sudah kembali ke tangannya.
Gara gara gelang ini, dia jadi terikat hubungan palsu dengan Bintang. Ara menarik nafas dalam dalam, ah, andai semuanya bisa dia putar lagi, ingin sekali dia rasanya memilih untuk tidak menolong Bintang waktu dia sedang berkelahi dengan Gilang.
Ara menepuk nepuk dadanya yang terasa begitu sesak.
"Gue sadar, ternyata begini rasanya kehilangan sosok yang selama ini sering menemani kita, hah hampa banget." Ucap Ara lirih.
"Wey, bengong lagi pagi pagi!"
Vania menggebrak bahu Ara dari belakang, cewek itu cuman menoleh sesaat.
"Kenapa lo Ra? gak semangat amat! ada apa?"
Ara hanya diam. Merekaa kemudian masuk ke dalam kelas.
Vania dan Ara menaruh tas bawah kolong meja.
"Lo sakit?" Vania memegang kening Ara.
Ara menggeleng. Cewek itu seperti menahan tangis.
"Ada apa sih?"
"Gue udah putus Van sama Bintang.." ucap Ara akhirnya.
__ADS_1
Vania terbelalak. Mulutnya ternganga lebar.
"Putus?"
"Iya, putus bohongan."
"Maksudnya gimana sih?"
"Iya, kan kita cuman pacarannya bohongan, ya putusnya juga bohongan."
Ara tertunduk, air mata meleleh dikedua pipinya. Dia pikir dia akan biasa aja setelah lepas dari Bintang, ternyata dia salah, hatinya malah hancur begini.
"Ra, sabar ya. Lo kenapa nangis? lo katanya gak ada perasaan apa apa sama dia?" Vania mengusap pundak Ara.
Tidak pernah dia melihat Ara sesedih ini sebelumnya.
"Gue juga gak tau Van, gue ngerasa ada yang hilang, biasanya pagi pagi gue udah ngeliat dia, mungkin lama lama gue bakal terbiasa."
Vania diam sesaat. Sepertinya dugaannya memang benar, selama ini Ara sudah mulai ada rasa sama Bintang.
Jelas saja, cewek ini selalu kemana mana sama cowok itu, diperlakukan seperti pacar sungguhan, siapa yang gak akan baper..
"Yaudah jangan sedih ya, kita makan aja yuk ke kantin. Masih ada setengah jam nih sebelum bel masuk!" Ajak Vania.
Ara mengusap air matanya sambil mengangguk pelan.
Mereka pun kemudian berjalan ke arah kantin sekolah yang letaknya di ujung bangunan.
"lo tunggu disitu aja, nanti gue pesenin minum buat lo oke?"
Vania menunjuk barisan yang ada bangku dan meja kosongnya.
Ara berjalan seperti patung tanpa nyawa, linglung.
Tata yang kebetulan melihat cewek itu di kantin langsung punya ide yang sangat brilian.
"Aha, ketemu juga nih waktu yang pas, gue kerjain lo Ra! mampus!"
Tata yang baru mau masuk ke kantin membatalkan niatnya untuk jajan. Dia segera berbalik arah dan menyuruh temannya bram untuk menemuinya di belakang sekolah.
"Ada apa bos nyuruh gue kemari?"
"lo mau duit gak?" tanya Tata pada Bram.
"Ya mau lah, ya kali ada orang yang gak mau duit!"
"Yaudah gue punya kerjaan nih buat lo, ntar gue kasih lo duit yang banyak kalau lo berhasil ngelaksanain kerjaan ini!"
"Kerjaan apa, Bos?"
Tata mendekatkan wajahnya ke telinga Bram.
"Kerjain orang yang namanya Ara, dia kelas X. kasih bangkunya lem power biar mampus tuh anak!"
Bram mengerutkan alisnya sesaat lalu kemudian tertawa keras.
"Haha itu sih kecil!" katanya.
"Bagus, udah buruan kerjain! mumpung tuh anak lagi di kantin sekolah!"
"Oke!"
__ADS_1