
DI dalam gedung olahraga
Pertandingan basket berjalan dengan sengit. Bintang sedikit kewalahan karna tak ada yang segesit Bayu dalam posisi shooting guard.
Bintang kini hanya mengandalkan Radit teman sekelasnya untuk bisa mengoper bola dengan tepat sasaran kepadanya.
Skor dipapan masih menunjukan angka seri 5-5. masih tersisia 1 babak lagi untuk mencetak point ke ring lawan agar Bintang bisa membawa nama sekolahnya menjadi juara kali ini. Seandainya ada Bayu mungkin semua akan jadi lebih mudah.
"Radit over!" Teriak Bintang saat melihat posisi Radit yang terjepit oleh pemain lawan.
Radit pun dengan gesit melambungkan bolanya ke arah sang kapten.
Bintang terpaksa harus melakukan shooting dari luar garis three-point dengan secepat mungkin karna tak ada lagi pemain didepan yang bisa dia andalkan. Bak adegan slow motion bola melambung dengan diiringi tatapan harap-harap cemas semua murid sekolah SMA Bina Bangsa.
dan BRUG !
Dengan cantik bola pun berhasil masuk ke delam ring di iringi riuh teriakan para murid.
Ara dan Vania saling berpelukan di bangku penonton. Sementara Tata terlihat sedang menerima telpon dari pojok ruangan.
"Apa?" pekik Tata dengan mata membulat.
"Maaf bos kita lepas kendali.." ucap seseorang dari sebrang telpon.
"Gue kan cuman nyuruh kalian rebut hpnya dan nakut-nakutin dia. Kenapa sampe nyelakain segala!" Tata terlihat kaget dan emosi.
Tata pun menutup telponnya dengan cepat. Raut wajahnya berubah menjadi sangat gelisah.
Wasit tiba-tiba menghentikan pertandingan saat pelatih dari SMA Bina Bangsa membisikan sesuatu di telinganya.
Pertandinganpun dihentikan. Para pemain dan para penonton tampak bingung.
__ADS_1
Tak lama suara pak kepala sekolah menyerua diantara mereka lewat pengeras suara yang terletak di setiap sudut gedung olahraga.
"Selamat sore anak-anak. Sore ini kita mendapatkan kabar duka ditengah-tengah pertandingan. Bapak harap kalian bersedia untuk mengirimkan doa sejenak bagi salah satu anak terbaik di sekolah kita. Barusan bapak mendapatkan kabar kalau ananda Gilang dari kelas dua belas IPA telah berpulang kepangkuan Nya.."
Sontak suasana di dalam gedung seketika berubah menjadi hening. Ara dan Vania ternganga tak percaya saking syoknya. Ara langsung menoleh ke arah Bintang.
Bintang seolah membeku, bak disambar petir di siang bolong lututnya tiba tiba seperti tak punya tenaga sama sekali. Bintang terkulai bersimpuh dengan air mata yang mulai menggenang di kedua pipinya.
Ara segera turun dan berlari ke arah lapangan.
Belum selesai keterkejutan semua orang di lapangan. Tiba-tiba kepala sekolah melanjutkan pengumuman lain.
"Dan mari berikan doa kita juga bagi ananda Bayu dari kelas sebelas IPA yang baru saja mengalami kecelakaan. Bayu sekarang sedang koma dan di rawat di Rs Permata Hati. Semoga doa kita bisa membuatnya cepat pulih. Berdoa dimulai."
Deg! Jantung Ara seolah berhenti berdenyut. Ara kaget bukan main. Bayu? sekilas bayangan wajah Bayu muncul di pikirannya.
Semua yang berada di dalam gedung olahraga kini menunduk dalam kesedihan. Tak ada lagi keriuhan ataupun tawa ceria seperti tadi saat pengumuman duka ini dibacakan.
Ara terkulai lemah dan ikut bersimpuh di dekat Bintang. Bintang melihat Ara dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.
Ara tak berkata apa-apa lagi langsung saja dipeluknya bintang erat sambil mengusap-usap punggungnya.
"Ra.. Gilang Ra!" Ucap Bintang lirih dengan air mata yang sudah mengalir deras di wajah mahluk yang katanya pantang untuk menangis itu
"Sabar tang.. sabar. Lu harus kuat!"
Sang pelatih dari kedua sekolahpun sepakat untuk menghentikan pertandingan sebagai bentuk penghormatan kepada semua murid yang sedang berduka.
Bintang segera bangkit dengan lemah menuju parkiran mobil ditemani Ara.
Sementara dari pojok lapangan Tata yang juga mendengarkan pengumuman itu tak kalah syok. Tata membeku dan teringat momen-momen saat bersama Gilang. Ini berita yang benar-benar mengejutkan.
__ADS_1
Kenapa Gilang harus pergi secepat ini? bahkan saat dirinya belum mengucapkan maaf kepada pria itu. Entah kenapa hatinya tiba-tiba sakit bagai teriris sayatan pisau berkarat. Sesal itu muncul sekarang menghantui benaknya.
Dikediaman rumah Bintang.
Bintang dan Ara dengan langkah cepat memasuki rumah yang sudah ramai oleh para pelayat.
Langkah Bintang terhenti saat dilihatnya tubuh abangnya kini telah terbujur kaku di depannya. Ibunya yang melihat kedatangan Bintang langsung tergopoh-gopoh lari ke arahnya sambil terisak dengan keras.
"Tang.. Abangmu kenapa bunuh diri?lihat dia sudah coba ibu bangunkan dari tadi tapi tidak mau bangun Tang, bangunkan dia tang. Bilang kalau ibu gak suka dia becanda kaya gini hu hu!" Ucap ibunya sambil mencabik baju Bintang dan memukul-mukul dada Bintang sambil terus menangis dengan keras.
Ara tersentak kaget. Bunuh diri? bagaimana mungkin ? kenapa ? Ara menatap jasad Gilang dengan tatapan tak percaya.
"Ayo tang bangunkan dia cepat!" Hardik ibunya yang membuat hati Bintang semakin pilu.
Bintang langsung memeluk ibunya yang sedang tak terkendali sambil membawanya ke dekat tubuh Gilang yang kini sudah membisu selamanya.
"Bang.. kenapa bang? apa yang bikin lo sampe senekat ini? kenapa lo pergi ninggalin kita? ayo kita berantem lagi bang! ayo bangun !" Bintang memeluk jasad Gilang dengan tatapan nanar.
Ara yang melihat itu tak kuasa membendung air matanya. Kematian Gilang benar-benar mendadak ditambah sekarang Bayu sedang koma dirumah sakit membuat hati Ara semakin tak karuan rasanya.
Ara sebenarnya ingin menemui Bayu. Tapi dia memilih menemani Bintang lebih dulu baru setelah ini dia akan langsung menjenguk Bayu.
Bintang bersimpuh lemah di dekat jasad abangnya. Teringat kembali kenangan saat mereka bersama. Meskipun mereka sering beradu pendapat tapi Gilang dan Bintang sangat saling menyayangi. Apalagi semenjak kepergian ayah mereka Gilanglah yang menjadi pengganti sosok super hero dimata Bintang.
Tak heran jika kematian Gilang ini seolah menambah lubang besar di hati Bintang. Kehilangan sosok ayahnya dulu sudah cukup mampu meluluh lantakkan kebahagiannya. Mengapa Tuhan tega membiarkan Bintang mengulang masa itu kembali?
Ara mengerti perasaan Bintang pasti sangat kehilangan sekarang. Dia teringat akan alm ayahnya yang pergi meninggalkannya saat dia masih kecil. Ara seperti kehilangan arah dan tujuan saat itu. Kematian memang satu hal yang pasti.
Dan siapapun yang bernyawa pasti akan mengalaminya. Kita hanya perlu mempeesiapkan diri. Entah itu besok lusa atau bahkan bisa jadi di detik berikutnya.
Ara mendekat dan merangkul Ibu Bintang. Dia sudah mengabari ibu dan kakaknya untuk datang ke kediaman Bintang. Ara berharap kedatangan Ibunya bisa lebih menguatkan Ibunya Bintang meski tidak akan mengurangi kesedihannya kehilangan salah seorang putra yang sangat di cintianya.
__ADS_1