PANGERAN KUTUB UTARA

PANGERAN KUTUB UTARA
DIA UNTUK AKU SAJA


__ADS_3

Bayu masih mencengkram kerah baju Bintang. Menatapnya dengan sorot tajam bak panah siap melesat menembus cakrawala. Bintang hanya diam lebih tepatnya membiarkan Bayu melampiaskan emosinya pada dirinya.


"Kenapa lo diem aja hah!" Dilepaskannya cengkramannya dari tubuh Bintang dan dengan satu hendakan dia dorong tubuh Bintang ke belakang. Hampir saja Bintang jatuh kalau dia tidak langsung berpegangan pada salah satu tiang dibelakangnya.


"Bisa bisanya ya lo habis nyampakin Tata terus langsung jadian sama orang lain, Hebaat banget lo!"


Bintang menoleh kaget. Mengapa Bayu bisa tau hubungannya dengan Tata? sedangkan dia tidak pernah cerita apapun selain pada Ara.


"Bay, cukup! udah. Gue gak mau kalian berantem lagi !"


Ara berdiri ditengah tengah mereka mencoba memisahkan Bayu yang mulai tak terkontrol emosinya.


"Lo tau dari mana tentang gue sama Tata?"


Tanya Bintang sambil menyipitkan matanya.


"Masih penting gue tau dari mana?"


Ejek Bayu dengan suara geram.


"Lo ngasih tau dia Ra?"


Kali ini pandangan Bintang beralih ke Ara. Ara dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Ikut gue!" Bintang langsung menarik satu tangan Ara dan membawanya pergi dari hadapan Bayu.


Bayu mencoba menghentikannya namun Ara segera memberikan kode agar Bayu tetap ditempatnya.


Setelah cukup jauh Bintang berhenti dan segera menatap Ara marah.


"Kenapa lo kasih tau Bayu apa yang terjadi antara gue sama Tata sih Ra? Gue cerita cuman ke lu karna gue percaya lu bisa jaga rahasia gue!"


"Engga tang, dengerin dulu gue gak pernah cerita tentang lu sama Tata ke Bayu ,serius."


"Lo gak usah bohong Ra, kalau bukan dari lo terus dia tau dari siapa?" Bintang meninggikan suaranya. Bintang tak sadar mencengkram kedua lengan Ara begitu kuat sampai Ara meringis kesakitan.


"Gue kan udah bilang gue gak pernah cerita apa apa!! lepasin tangan gue tang sakit!"


Ara mencoba melepaskan diri, Bintang kemudian sadar jika genggamannya terlalu kuat. Dilepaskannya perlahan tangan gadis didepannya.


"Tang, gue masa bodo lu mau percaya apa engga. Gue udah ngomong jujur sama lo. Gue gak pernah cerita apapun sama Bayu, gue juga kaget kenapa dia tau soal lu sama Tata." Suara Ara mulai bergetar.


"Terus dia tau dari siapa kalau bukan lo?"


"Gue gak tau, kenapa lo gak tanya aja sih sama Bayu sendiri !"

__ADS_1


Ara tak mampu lagi menahan air matanya untuk tak keluar.


"Gue capek tau tang! kenapa lo seenaknya nyalahin gue! walaupun gue cuman pacar pura pura apa lo berhak nuduh gue tanpa bukti kaya gini? kalau lo gak percaya sama gue yaudah terserah lo !"


Ara berlari dan meninggalkan Bintang.


"Ra tunggu!" Bintang berusaha menghentikan langkah Ara. Namun Ara tak bergeming. Dia terus berlari tanpa menoleh sedikitpun.


"Please berhenti Ra!"


Bintang memegangi tangan Ara. Ara kesal seenaknya aja nih cowok tanpa mikirin perasaannya sama sekali.


"Ra berhenti!" Setelah Bintang menyusul berdiri dihadapan Ara. Barulah Ara menghentikan langkahnya.


"Lepas!!" Pinta Ara sambil berteriak tanpa menatap Bintang sama sekali. Emangnya Bintang doang yang bisa bentak bentak orang, gumam Ara dalam hatinya.


"Oke gue lepas.." Bintang melepaskan genggamannya. Ara berusaha menyembunyikan tangisannya. Di tatapnya Ara dengan rasa bersalah. Dia mungkin terlalu cepat menyimpulkan. Namun bukan tanpa alasan. Itu semua karna memang cuman kepada Ara lah dia berbagi cerita tentang dirinya dengan Tata. Walaupun Bayu teman sekelasnya dan gosip antara Tata dan Bintang yang menjalin hubungan saat itu sudah menyebar luas. Tapi tak ada yang benar benar tau kebenarannya. Apalagi fakta bahwa Bintang mencampakkan Tata jelas hanya Ara yang tau. Karan seisi sekolah taunya hubungan mereka hanya TTM (teman tapi mesra) saja.


"Maafin gue Ra.." Bintang melembutkan suaranya.


Ara masih tak bergeming. Masa bodo sekarang. Dia benar benar kecewa dengan sikap Bintang.


"Ra..." Bintang mengambil kedua tangan Ara kedalam genggamannya. Kali ini dengan lembut. Ara berontak tapi Bintang membiarkannya sampe Ara cape sendiri. Dan akhirnya membiarkan tangannya masih dalam genggaman cowok jangkung itu.


"Maafin gue Ra.." Bisik Bintang ditelinga Ara.


Dibiarkannya Ara terus menangis sampai puas. Sampai kemeja Bintang basah oleh air mata Ara. Urusan Bayu yang tau hubungannya dengan Tata akan dia selidiki nanti.


"Tang.." Ucap Ara pelan.


"Kenapa Ra?"


"Ngadep ke samping!" Perintah Ara.


"Kenapa?"


"Udah ikutin aja ngadep kesamping!"


"Iya tapi kenapa?" Bintang penasaran.


"Gue mau buang ingus!" Ucap Ara malu.


Bintang kemudian terkekeh. Diambilnya sapu tangan dari dalam saku celananya.


"Nih!" Bintang malah mendekatkan wajahnya ke Ara. Membuat Ara sontak langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia gak mau kalau Bintang sampai melihatnya sedang meler. Bisa jatuh harga dirinya didepan cowok yang disukainya.

__ADS_1


"Kenapa sih malu malu gitu! sini gue bersihin!"


"Gak usah! gue aja!" Ara menerima sapu tangan dan kemudian berbalik badan membersihkan hidungnya yang sedari tadi meler karna kebanyakan nangis.


"Udah buang ingusnya?"


Ara berbalik dan mengangguk malu.


"Gue cuci dulu ya sapu tangannya ntar gue balikin lagi"


"Gak usah Ra buang aja ke tempat sampah. Sapu tangan gue banyak dirumah."


Ara tak menjawab. Tak tega dia membuang walau hanya sapu tangan apalagi pemberian dari Bintang.


Bintang melihat jam ditangannya. Waktu menunjukkan pukul 17.30 wib. Langit disekitar pantai sudah berubah warna keorenan. Bintang menggenggam satu tangan Ara. Ara menghela nafas panjang. Kenapa ya bintang kayanya biasa aja. Padahal Ara setengah mati menahan kegugupannya setiap kali tangan Bintang menyentuhnya.


"Ikut gue, gue mau nunjukin sesuatu ke lo.."


"Apa?" Tanya Ara penasaran


"Udah ikut aja!"


Tak lama Ara dan Bintang sampai disebuah tepi pantai yang posisinya lebih tinggi diantara tepi yang lain. Lebih tepatnya diatas sebuah bebatuan yang posisinya membuat seluruh permukaan air berwarna biru itu terlihat lebih jelas dari setiap sudutnya.


Mata Ara terbelalak kagum.


"Gila cantik banget !" Mulut Ara berdecak. Saat dirinya mendapati Matahari senja yang hendak tenggelam seperti dimakan laut. Pemandangan yang bak lukisan saja.


"Cantik kan?" Bintang menoleh ke Ara. Ara mengangguk ngangguk masih dengan keterpesonaannya. Ini pertama kalinya dia melihat Matahari tenggelam dengan sangat jelas. Semilir angin membuat rambut ara berkibar membuat wajah gadis yang sedang tersenyum memandangi Senja semakin terlihat manis. Bintang yang pandangan matanya teralihkan menatap Ara dengan tatapan berbeda. Ada yang mulai masuk ke relung hatinya. Sesuatu yang diluar rencananya.


"Tang, lu sering kesini?"


Pertanyaan Ara memecahkan kebengongan Bintang.


"Lumayan, tiap kesini gue pasti akan mampir kalau gue sempet.."


"Sama Tata?" Tanya Ara hati hati takut menyinggung Bintang.


"Engga. Lu orang pertama yang gue bawa kesini."


"Hah?"


"Kenapa hah?"


Ara hanya diam tak mengerti maksud ucapan Bintang.

__ADS_1


__ADS_2