PANGERAN KUTUB UTARA

PANGERAN KUTUB UTARA
KAU ANGGAP AKU APA?


__ADS_3

Bintang masuh berdiri beku dalam pikirannya sendiri. Pertanyaan Bayu jelas menjadi sebabnya. Ara yang tak ingin lama lama dalam situasi mencekam itu langsung saja menarik tangan Bintang meninggalkan kerumunan orang yang mulai menatap kepo ke Arah mereka bertiga.


"Ra, Sore gue tunggu disini. jam 4!" Suara Bayu menghentikan langkah Ara dan Bintang. Ara menoleh sesaat. Bayu tersenyum dan kemudian melambai pergi dari sana. Bintang hanya melirik sinis kepergian Bayu. Dilepaskannya tangan Bintang ketika sadar mereka sudah hampir sampai didepan Villa. Ara kemudian setengah berlari mendahului Bintang.


Bintang memanggilnya pelan. "Ra.." Ara menghentikan langkahnya tanpa menoleh.


"Gak apa apa tang. Lu gak perlu merasa gak enak. Lupain aja apa yang udah bayu tanyain tadi. Lagian kita emang cuman pura pura ajakan, lu gak perlu merasa gak enak sama gue"


Ara kemudian berlari meninggalkan Bintang sendirian yang masih mematung memandanginya dengan tatapan datar.


***


Ara menghambrukan dirinya dikasur tak peduli mamahnya menatapnya dengan tatapan kebingungan.


"Kenapa kok balik balik mukanya cemberut gitu sayang ?"


Tanya mamahnya sambil merapikan baju di dalam tas hitam berukuran sedang dan dipindahkannya ke dalam lemari disudut kamar.


"Gak apa apa mah." Elak Ara yang kemudian. Dia tak mau kalau sampai mamahnya tau kejadian tadi. Bisa syook dia. Dia saja masih syok dan masih bertanya tanya. Mengapa Bayu bisa kebetulan liburan disini juga? Apa Bayu senekat itu membututinya kesini? Atau memang ini murni kebetulan saja. Ah Ara menggaruk garuk kepalanya sendiri . Pusyiiiing men!.


Tak lama hpnya berdenyit dan dilihatnya nomor baru muncul mengirim sebuah pesan. Ara membuka isi pesannya.


from : 0812xxxxx


jam 4 ya Ra gue tunggu ditempat tadi. Ada yang pengen gue omongin, oke?


'Siapa nih?' Ara mengerutkan alisnya.


belum sempat dia menebak tiba tiba hpnya kembali berdenyit.


from : 0812xxxx

__ADS_1


Save no gue ya ,Bayu ;)


Sontak mata ara melotot kaget. Gila! Tau dari mana nih anak nomor telponnya? bener bener gak bisa dikasih tau si Bayu. Padahal tadi udah kena bogem mentah dari Bintang. Tetep gak ada kapoknya tu anak. Ara geleng geleng kepala. Maunya apa sih?


Tak dipedulikannya sms dari Bayu. Terserahlah, dia gak mau ambil pusing.


"Mah, aku tadi ketemu tante Nina loh dibawah." Ara membantu mamahnya merapikan baju baju miliknya.


"Iy, sayang. Kan ini emang Villa punya keluarganya. Maaf ya mamah lupa mau cerita ke kamu. Kita liburannya barengan sama mereka. Semalem itu sebelum tidur, tante Nina nelpon mamah ngajakin holiday.."


Mamahnya tersenyum kemudian melanjutkan ceritanya.


"Terus mamah pikir pikir yah kenapa enggakan? lagian kamu sama alfa juga pasti butuh refreshing sekali kali. Semenjak pindah ke bandung kita belum pernah sekalipun liburan kemana mana, nah pas tuh tante Nina ngajakin, yaudah mamah iyain aja, makanya dadakan gini yang penting jadikan.. "


Ara mengangguk ngangguk. Iya juga sih.


Tak lama terdengar suara seseorang mengetuk pintu kamar. Ara dan mamahnya menoleh bersamaan.


Dibukanya daun pintu dengan perlahan. Muncul seorang pelayan pria separuh baya memakai stelan jas hitam dengan senyum ramah.


Ara melirik jam didinding kamar tepat pukul 12.00 wib.


"Baik pak kita akan segera menyusul." Ibu Ara mengangguk lalu pelayan itupun permisi pamit meninggalkan mereka.


***


Ara, Alfa dan Mamahnya berjalan menyusuri koridor ujung. Ternyata ruang makannya terletak dibalkon lantai kedua menghadap langsung ke arah Pantai dengan pemandangan yang sekali lagi memanjakan mata dan membuat takjub siapapun yang melihatnya.


Ara sudah melihat seluruh keluarga Bintang termasuk Tata duduk disebuah meja yang berbentuk membulat. Ditariknya napas dalam dalam. Kenapa ya Tuhan, dia harus selalu dalam situasi tidak tenang setiap berhadapan dengan Bintang. Bintang menoleh ke arahnya mengikuti pergerakannya. Tata menyipit melihat Bintang yang mulai memperhatikan kehadiran Ara.


"Dindaa... Haloo apa kabar?"

__ADS_1


Tante Nina berdiri kemudian memeluk ibunya Ara dengan wajah sumringah.


"Baik Nin. Gimana kabar kamu sama anak-anak? Baik jugakan?"


"Alhamdulillah baik Din, Seneng deh akhirnya kita bisa liburan bareng lagi, malah sekarang tambah rame karna bawa anak anak ya kan?"


Tante Nina mengelus punggung Ara dan kemudian menyuruh semuanya untuk duduk.


"Emang mamah sama tante Dinta suka liburan bareng dulu?" Tanya Gilang penasaran.


"Jelas" jawab ibu Ara dan ibunya Bintang bersamaan. Merekapun kemudian tertawa.


"Dulu mainnya bukan cuman ke pantai santolo. Tapi kita udah ngejelajahin hampir semua pantai tempat di pulau jawa ya Din?"


Ibu Ara tertawa mengingat kejadian dimasa mudanya dulu bersama sahabat baiknya ini. Betapa waktu cepat sekali berlalu. Dia tak menyangka setelah sekian lama tak bertemu sahabatnya ini, dia baru tahu jika nasib sahabatnya tak beda jauh darinya. Mereka sama sama kehilangan suami mereka. Itu juga yang membuat Ibu Ara dan Ibunya Bintang semakin punya ikatan yang kuat. Mereka diam diam sering menelpon satu sama lain hanya untuk sekedar curhat soal suami mereka atau sekedar bertukar kabar tentang anak anaknya.


Seorang pelayanpun tiba tiba muncul membawa senampan ikan bakar yang menggungah selera. Di ikuti beberapa pelayan lain yang membawa minuman beserta makanan yang lainnya.


Ara menelan ludah. Astagaa nikmat sekali keliatannya! Rasanya Ara ingin buru buru memindahkan semua makanan lezat itu kedalam tenggorokannya. Dia menelan ludah dalam dalam. Berharap tante Nina si empunya tempat segera mengakhiri perbincangannya dengan mamahnya dan memulai menawarinya makan. Bintang yang menangkap ekspresi Ara yang kelaparan langsung mengambil satu piring ikan bakar kan kemudian menaruhnya dipiring kosong milik Ara. Membuat seluruh orang dimeja makan terdiam menatapnya. Tak berapa lama Tante Nina pun tertawa sambil menepuk nepuk keningnya sendiri.


"Astaga maafin tante ya Ra. Karna keasikan ngobrol lupa buat ngajak makan. Yaudah hayu kita makan sama sama."


Ara jadi malu karna sikap Bintang. Apaan sih nih anak sengaja banget bikin dia malu.


Ara melirik Bintang sebal namun cowok itu cuman membalasnya dengan mengangkat alisnya. Membuat Ara makin sewot dan dia pun segera makan tanpa memperdulikan Bintang lagi.


Ara tersedak. Membuat alfa kakaknya kontan yang duduk disampingnya menoleh kaget. Dia hendak mengambilkan air namun Bintang sudah lebih dulu menyodorkan segelas Air dibibir Ara. Ara buru buru meminumnya dan Bintang pun kembali mengambilkan tisu untuk Ara. Kejadian itupun membuat semua orang dimeja makan memperhatikan keduanya.


"Pelan pelan makannya. Ini makanan gak bakal kemana mana.."


Ucapan Bintang itu malah membuat Ibu Ara dan Ibu Bintang tersenyum berbarengan.

__ADS_1


Namun tidak dengan Tata, dia terlihat kesal dan geram. Tata merasa akhir akhir ini Bintang jadi sedikit lebih peduli pada Ara. Dia bertekad harus segera mencari cara untuk memisahkan mereka berdua. Harus! Secepatnya! Karna sepertinya sinyal bahaya mulai muncul dihadapannya.


...***...


__ADS_2