
Ara berjalan menyisir bibir pantai dengan sendal yang dicopotnya. Kini kaki mulusnya sudah telanjang dan dibiarkannya sapuan ombak menerpa telapak kakinya. Jam baru menunjukan pukul 10 lewat. Sebelum jam makan siang dia ingin berkeliling disekitar Villa tempatnya menginap. Menikmati pemandangan hamparan air berwarna biru sejauh mata memandang.Indah sekaliiii. Ara berdecak kagum.
Tiba tiba ponselnya berbunyi dan ternyata panggilan itu dari mamahnya.
"Hallo Ra, kok gak balik balik ngambil hpnya? kamu nyasar?" Tanya mamahnya dengan suara cemas.
"Engga mah, mana mungkin Ara nyasar! ini aku lagi nyari udara seger aja disekitar Villa gak jauh kok, bentar lagi Ara balik, oke."
Ara mencoba menjelaskan pada mamahnya.
"Yuadah kalau ada apa apa telpon mamah ya?!"
"Siap mah!"
Mamah Ara pun kemudian mematikan telponnya.
Sinar matahari mulai terik, cahaya sang surya menerpa kulit kuning Langsat nya. Ara tak menyadari Bintang sedari tadi terus memperhatikannya dari ayunan. Memperhatikan setiap gerak geriknya dengan tatapan lurus lurus.
Namun Raut wajah Bintang tiba tiba berubah jadi menegang, tatapannya menajam seiring dilihatnya seseorang sedang berjalan menghampiri Ara.
Wajah yang sangat tak asing lagi, Bayu. Mengapa si brengsek itu ada disini, batin Bintang yang tiba tiba merasa emosi karnanya.
"Hai, Ra.." Sapaan lembut itu membuat Ara menoleh, kaget ditatapnya Bayu yang sedang berjalan sambil tersenyum hangat ke arahnya.
__ADS_1
"Bayuu!!!!"Seru Ara tak percaya.
"Kok bisa ada disini????" Tanya Ara yang keheranan dengan kehadiran Bayu.
"Iya dong gue lagi liburan disekitar sini. Lu sendiri lagi ngapain sendirian disini?"
Belum Ara membuka mulut. Tiba tiba Bintang mencengkram bahunya. Bintang lalu tersenyum sinis pada Bayu teman sekelas didepannya itu.
"Kebetulan kita lagi liburan bareng nih Bay!" Bintang mengangkat alisnya kemudian tak berkata apa apa lagi. Ara mencoba melepaskan tangan Bintang tapi Bintang malah mempererat cengkramannya.
"Hayu balik ke Villa!! disini cuacanya mulai panaasss!!!" Cetus Bintang dengan menekan intonasi pada kata 'Panas' membuat Bayu menyipitkan matanya dan menatap Bintang dengan penuh emosi. Kalau saja tak ada Ara disana. Dia pasti sudah melayangkan bogem mentah untuk Bintang. Betapapun dia sangat kesal semenjak mengetahui Bintang hanya memanfaatkan Ara sebagai pacar bohongannya. Walaupun dia tak tau pasti apa alasan Ara setuju untuk menjalani peran itu. Tetap saja baginya Bintang sama saja sudah mempermainkan perasaan seorang cewek sebaik Ara.
Ara mulai merasakan ketegangan diantara kedua cowok didekatnya ini. Dia benar benar takut kalau sampai ada insiden yang tak diinginkan. Terlebih sepertinya Ara bisa menangkap wajah emosi dari masing masing cowok ini.
Bintang tersenyum meledek. Sambil mengambil langkah mendekati Bayu. Kini jarak mereka hanya sejengkal saja.
"Siapa lo merintah-merintah gue, bangsaat!!!"
Bintang mengatupkan bibirnya menahan amarah yang mulai tak terkendali. Entah mengapa emosinya terpancing saat melihat Bayu hendak mendekati Ara.
"Udah deh lo gak usah pura pura disini. Ini bukan sekolah !!! jadi lo gak perlu cape cape nyuruh Ara akting pura pura jadi pacar lo tang!!! gue udah tau semuanya apa lo lupa Hah?! Apa perlu gue bocorin satu sekolah biar lo paham posisi lo tuh cuman cowok cemen yang berlindung diketiak seorang cewek!!!!" Rahang bayu mengeras dia mengepalkan kesepuluh jarinya kuat kuat untuk menahan diri agar tak sampai meledak.
"Ini bukan urusan lo! Gak usah lo ikut campur!!!"
__ADS_1
"Jelaas ini urusan gue. Pertama karna lo udah gitu aja ninggalin Tata seenaknya. Kedua karna gue sekarang cinta sama MAHARANI. Dan gue gak akan biarin lo mainin perasaan dia!" Sungut Bayu membuat Bintang tak tahan lagi untuk tak menonjok wajah Bayu yang begitu menantang dihadapannya. Ara sampai ternganga mendengar pengakuan cinta Bayu. Ini memang bukan kali pertama Bayu mengungkapkan perasaannya tapi tetap saja itu membuatnya kaget bukan main. astagaa Bayu emang cowok nekaat, disaat kaya gini masih sempet sempetnya dia bikin pengakuan cinta.
BRUGGHH!!! Satu tonjokan mendarat tepat dipipi kanan Bayu membuatnya terhuyung jatuh kebelakang.
Ara sontak kaget dan menjeriiit keras. dia mencoba meminta agar Bintang tenang sambil mengapit tangan Bintang dari samping. Semua orang yang sedang berada disekitar situ kontan langsung memusatkan perhatiannya pada mereka. Bayu meringis memegangi tepi bibirnya yang terlihat lecet mengeluarkan sedikit darah segar.
"Bay, please lo pergi dari sini ya. Ini bukan waktu yang pas buat nyari gara gara!" Pinta Ara kemudian dengan wajah yang sudah sangat memelas.
Bayupun bangkit dan kembali mendekati Bintang yang masih menatapnya dengan tatapan emosi dan sudah bersiap melayangkan bogem mentahnya lagi.
"Gue dari kemaren penasaran satu hal. Kenapa lo marah hah? apa jangan jangan sekarang lo suka juga sama Ara?" Bayu menyipitkan matanya. Bintang terlihat kaget dengan pertanyaan Bayu. Dia hanya diam mematung. Perlahan emosinya menurun ditatapnya Ara yang tanpa sadar ingin mendengar jawaban dari pertanyaan Bayu tadi.
"Jawab bangsaat!!!!!!" Bayu mencengkram kerah baju Bintang dengan satu hentakan. Tapi Bintang membiarkannya begitu saja. Dia beku dan tak berkata apapun. Dia tak tahu harus menjawab apa. Karna dia memang tidak pernah berpikir untuk jatuh cinta lagi semenjak hubungannya berakhir dengan Tata. Tapi Bintang tak sadar. Ada secercah rasa yang perlahan menyeruak masuk kedalam rongga hatinya yang telah lama beku. Rasa itulah yang akhir akhir ini membuat hatinya sedikit melembut dan peduli pada seseorang yang bahkan hanya dia jadikan sebagai tameng untuk membuat Tata menjauh dari dirinya. Dia sudah menutup hatinya untuk Tata namun pintu lain malah terbuka begitu saja. Mengalir apa adanya tanpa dia bisa cegah dan tanpa pernah dia sadari.
"Kenapa lo diem? gak bisa jawab apa gak mau jawab nih?"
"Udah bayu udah!!"
Pinta Ara yang mencoba melerai karna tak enak banyak mata yang memandang ke arah mereka sedari tadi. Ara memandang Bintang yang semakin beku dengan pikirannya sendiri. Bayu terlihat puas akan hal itu. Setidaknya saat ini dia selangkah lebih maju dari Bintang dalam mengungkapkan perasaannya.
Ara sebenarnya kecewa. Kalaupun jawabannya tidak, setidaknya akan lebih baik jika Bintang menjawab dari pada hanya diam saja dan membiarkan Ara terus menerka nerka. Namun dia tidak dalam posisi bisa meminta jawaban dari pertanyaan Bayu. karna Ara memang tidak punya hak bahkan nyaris tak punya kuasa apapun. Dia hanyalah orang asing yang tiba tiba hadir dalam hidup Bintang. Bukan sebagai orang yang istimewa melainkan hanya diajaknya untuk bekerjasama saja. Tak lebih.
...***...
__ADS_1