PANGERAN KUTUB UTARA

PANGERAN KUTUB UTARA
CINTA YANG LAIN.


__ADS_3

Pagi itu Bintang tidak datang mengantarkan Ara seperti biasanya. Dia dapat kabar dari Gilang yang menelepon kerumah kalau Bintang sedang sakit dan ijin tidak masuk sekolah.


Ara merasa lega. Bukan lega karna Bintang sakit. Tapi lega karna tak harus bertemu muka dengan cowok itu. Cowok dingin yang sudah membuat jantungnya berdegup gak karuan. Cowok yang perhatian palsunya itu malah membuat ara jatuh cinta kepadanya. Sungguh dia ingin menghindari Bintang sejauh yang dia bisa.


"Ra.. "


Tata memanggil Ara ketika mereka berpapasan di tangga.


"Eh, iya kenapa Ta?"


Ara menoleh dan menghentikan langkahnya


"Pulang sekolah kita kerumah Bintang ya, lu udah tau kan dia lagi sakit?"


"I.. iya gue tau, tapi maaf ya ta gue gak bisa deh kayanya, kalau lu mau jenguk duluan aja ta."


Ara ragu menjawab


"Gak bisa kenapa Ra? Bintang pasti seneng kalau lu jenguk dia."


Huhu iya, Ara lupa. Dia sekarang adalah pacarnya Bintang walaupun hanya pura pura. Jika Ara menolak ajakan Tata, pasti tata curiga kenapa dia tidak mau menjenguk Bintang. Keadaan ini benar benar menyebalkan untuk Ara.


"Gimana? Lu mau kan ikut kerumah Bintang. Nanti gue sama Gilang nunggu lu didepan gerbang ya oke?!"


Tanpa menunggu persetujuan Ara. Tata pergi dari hadapannya meninggalkan Ara yang kini mematung karna kebingungan. Duh dia harus pergi atau engga ya. Suasananya pasti bakal canggung banget. Tapi kalau gak ikut, Tata dan Gilang pasti curiga. Karna saat ini statusnya adalah pacar Bintang. Orang yang harusnya ada disamping Bintang ketika dia sakit.


***


Bel pulang sekolah berbunyi.


Ara dan Vania berjalan kearah gerbang sekolah. Dari kejauhan dia sudah bisa melihat Tata dan Gilang menunggu didalam mobilnya.


Tata melambaikan tangannya ke Ara. Gadis cantik itu tersenyum sambil turun dari mobilnya.


"Yuk ra kita jenguk Bintang! "


Tata mengapit tangan Ara dan membawanya ke arah mobil.


Ara menoleh sebentar ke Vania dibelakangnya. Vania tersenyum dan mengangguk. Dia sudah tau Ara bakal di ajak menjenguk Bintang oleh Tata. Vania juga menyarankan agar Ara ikut saja jika tidak ingin Tata atau Gilang curiga dengan status bohongannya bersama Bintang.


Mobil Gilang melaju cepat membelah jalan didepannya.


***


Sebuah mobil putih datang dan langsung disambut oleh seorang satpam didepan sebuah rumah yang cukup besar dan megah. Halaman rumahnya benar benar luas, sepertinya luasnya seukuran dengan luas rumah Ara. Ada beberapa Mobil terparkir berjejer di bagasi yang terletak disamping rumah itu. Ada beberapa Moge juga.


Ara melongo takjub, bukan main si Bintang ternyata tajir bener. Pantes saja banyak cewek cewek yang pengen banget bisa deket sama dia.


"Yuk, kita masuk kedalam!"


Gilang mengajak Ara dan Tata masuk.


Tak lama Ibunya Gilang keluar dan kaget ketika melihat ada Ara disana.


"Eh ada Ara, ada Tata juga, yuk masuk yuk, tante seneng banget loh kalian mau mampir kesini."


Ibu Nina memegang bahu Ara sambil tersenyum sumringah. Dia senang Ara mau mampir kerumahnya. Tata yang melihat itu hanya bisa menekuk wajahnya.

__ADS_1


"Tante, gimana keadaan Bintang? "


Tata menanyakan lebih dulu, padahal Ara baru saja hendak membuka mulutnya.


"Udah mendingan Ta, dia lagi istirahat di kamarnya."


"Bintang sakit apa tante?"


Ara bertanya pelan.


"Dia cuman kecapean sayang, badannya demam tapi udah minum obat barusan, mudah mudahan cepet baikan ya, tadi baru aja tante cek, kalau mau masuk aja ke kamarnya ada diatas ya. Tante mau kebdapur dulu nyuruh bi ijah bikinin cemilan buat kalian, oke!"


"Gak usah repot repot tante."


Ara merasa tidak enak karna seharusnya dia yang membawa makanan jika berniat menjenguk Bintang. Ini malah dia yang disuguhi makanan oleh tuan rumahnya.


"Ah, gak repot, anggep rumah sendiri ya."


Ibu Nina meninggalkan mereka bertiga diruang tamu.


"Yuk kita ke kamar Bintang!"


Tata lebih dulu berjalan didepan Ara dan Gilang. Dia sepertinya apal letak kamarnya Bintang. Mungkin Tata bukan pertama kalinya kesini. Pikir Ara.


Langkah Gilang terhenti saat sampai didepan sebuah kamar dengan cat pintu berwarna hitam. Gilang mengetuk pelan kemudian mulai membuka pintunya perlahan. Ara dan Tata mengikuti Gilang masuk ke dalam kamar itu.


Auranya gelap dan serba hitam. Ara sempat merinding bulu kuduknya. Si Bintang ini benar benar deh seleranya suram banget.


Ara melihat sekeliling, tak banyak hiasan dikamar itu, hanya beberapa Foto saja yang menghiasi dinding kamar Bintang.


Matanya langsung tertuju ke arah tempat tidur. Sosok itu sedang tertidur lelap. Wajahnya terlihat sedikit pucat. Ya itu Bintang. Sosok dingin itu begitu manis ketika dia tertidur. Tak akan ada yang mengira cowok itu sedingin es kutub.


"Ka.. apa kita keluar aja, Bintang kayanya lagi pules kasian."


Ara berbicara sepelan mungkin agar Bintang tidak bangun.


"Lu disini aja Ra, Bintang sebentar lagi juga bangun. Gue kebawah dulu ya sama Tata. Kalau butuh apa apa panggil gue aja diluar oke?!"


Belum sempat Ara menjawab, Gilang sudah lebih dulu menarik Tata keluar. Tata tampak kesal namun berlaga tersenyum saat Gilang mengajaknya untuk meninggalkan Ara disana.


Tinggallah Ara disana. Berdiri mematung. Dia bingung harus ngapain. Ditatapnya Bintang. Perlahan Ara mulai duduk ditepi ranjang. Matanya tertuju pada satu bingkai Foto, foto lawas, sepertinya foto keluarga Bintang. Ada dua anak laki laki sedang dipangku oleh dua sosok ayah dan ibu.


Ara tersenyum. Kemudian ditatapnya Bintang. Begitu tampan dan sempurnanya cowok didepannya ini. Hidung yang mancung, bentuk muka yang tegas dan perawakan bak model papan atas. Siapapun akan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Sayang sikapnya yang dingin itu yang membuatnya sulit untuk didekati.


Bintang meringis. Seperti sedang mengigau. Ara kaget kemudian mencoba memegang tangan Bintang.


"Tang, lu kenapa?"


"Ya ampun kok panas banget badan lu tang!!"


Ara sontak memegangi kening Bintang untuk lebih memastikan suhu tubuhnya.


Betapa kagetnya Ara karna tubuh Bintang memang benar benar panas.


"Tang, gue panggil kak Gilang dulu ya!!"


Ara hendak pergi namun tiba tiba saja tangannya dicegat oleh Bintang dari belakang.

__ADS_1


Ara menoleh, Bintang mulai membuka matanya.


"Ra... " Ucap Bintang dengan suara parau.


"Iya tang? Lu butuh apa? Mau minum tang? "


Ara mengambil gelas berisi air putih dimeja sebelah tempat tidur Bintang.


Kemudian membantu Bintang untuk bersandar pada kepala kasurnya.


"Hati hati tang. Gue bantu!! "


Ara mencoba membantu memapah badan Bintang.


"Ra.. minum.. " Kata Bintang pelan.


Ara mengangguk kemudian menyodorkan gelas berisi air putih ditangannya.


Bintang meminum airnya sampai habis tak bersisa. Buset keausan ni anak. Pikir Ara.


"Gue ambilin lagi ya airnya kebawah?" Ara bertanya sambil menatap Bintang. Bintang tak menjawab, dia malah memegang tangan Ara.


"Ra.. Disini aja jangan kemana mana, gue tadi mim mimpi.. "


Bintang memutus omongannya sendiri. Ara menatapnya bingung. Menunggu Bintang menyelesaikan omongannya.


"Gue.. mimpi alm bokap gue Ra.. "


Ara tersentak kaget.. Dia baru tahu kalau ternyata ayah Bintang telah tiada. Dilihatnya Bintang, matanya berkaca kaca seperti hendak menangis namun masih ditahannya. Ara paham betul perasaan Bintang. Karna diapun telah kehilangan sosok paling berarti itu dalam hidupnya.


Mereka saling diam sejenak.


"Gue.. kangen bokap gue ra!"


Bintang terisak. Tak menyangka Ara kalau cowok dingin yang selama ini dia kenal, cowok angkuh ini bisa menangis juga. Tak tahan Ara untuk tak ikut menangis. Dipeluknya Bintang ragu ragu. Tak terasa air matanya pun ikut mengalir, bukan hanya karna melihat Bintang menangis. Tapi karna dia juga ingat almarhum ayahnya sendiri.


Ceklek..


Tata masuk kedalam kamar itu. Dia tampak kesal melihat Bintang sedang dipeluk Ara.


"Sorry gue ganggu.. "


Tata agak meninggikan suaranya. Sengaja biar Ara menoleh.


Ara buru buru melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya.


"Engga kok ta, masuk aja"


"Lu udah mendingan tang?" Tata memandangi Bintang, Bintang malah membuang mukanya ke arah lain.


Tata jadi keki sendiri. Dia merasa keberadaannya disana malah jadi pengganggu. Sikap Bintang benar benar acuh. Ditambah dia melihat Ara memeluk Bintang dan Bintang sepertinya tidak marah.


Itu membuat hatinya jadi cemburu dan sakit bukan main. Harusnya dia yang ada disana. Yang jadi obat ketika Bintang sakit. Karna dulu pun dia lah orang satu satunya yang Bintang cari ketika Bintang ada masalah. Namun kini semenjak dia menerima cintanya Gilang.. keadaan jadi berubah total. Bintang mulai menjauh. kini Bintang seperti orang asing dimatanya.


"Ra, tante Nila nyuruh kita turun buat ikut makan siang."


Ara manggut manggut. Dia melangkah keluar tanpa berkata apa apa lagi.

__ADS_1


...***...


__ADS_2