PANGERAN KUTUB UTARA

PANGERAN KUTUB UTARA
AKU YANG LEBIH MEMGINGINKANMU


__ADS_3

Vania yang digandeng tangannya oleh Bintang tak bisa lagi menyembunyikan wajah bahagianya.


Dia pasrah saja ketika Bintang menarik tangannya dan berhenti disebuah rak dekat salah satu jendela. Sinar matahari yang redup menerpa tubuh jangkung Bintang. Wajah tampan Bintang terlihat lebih bersinar diterpa cahaya sore yang anggun.


Vania berdecak kagum. Karya Tuhan yang sangat Indah. Tatapannya tak bergeming sedikitpun.


"ini ada novel bagus, lo pasti suka! nih!"


Bintang menyerahkan sebuah novel berjudul PENGKHIANAT


Vani memperhatikan Novel itu dan merasa aneh dengan judulnya, mengapa bintang memilihkan judul PENGKHIANAT?. Mengapa bukan novel romantis seperti yang dia berikan pada Ara kemarin. Dan dia tahu betul novel BUNGAKU itu adalah novel yang penulisnya tak lain adalah Bintang sendiri! makanya dia penasaran setengah mati ingin membaca novel itu. Tapi novel itu selalu raib diperpus setiap kali dia ingin meminjamnya.


Tapi sekarang Ara malah diberikan langsung oleh si empunya bukunya.


"Ceritanya tentang hubungan yang didalamnya ada seorang pengkhianat besar! loe pasti suka deh kalau tau endingnya"


Bintang terdengar menyindir Vania. Namun Vania tak sadar. Dia malah tersenyum dan berpikir jika sekarang sikap bintang lebih hangat padanya.


"Makasih ya tang, bukunya pasti gue baca dirumah sampai selesai."


Vania terlihat malu dari nada bicaranya. Bintang tersenyum kecut. Benar dugaannya. Vania memang suka kepadanya. Makanya gerak geriknya aneh tiap kali mereka papasan atau gak sengaja ketemu karna dia sedang nyamperin Ara.


"Lain kali kita pergi berdua gimana?" Ajakan Bintang sontak membuat Vania hampir berteriak kegirangan. Diapun mencoba untuk bersikap tenang padahal hatinya sangat ingin beteriak kencang "IYA MAUUUU!!!"


"Iya tang boleh."


Vania gak curiga sedikitpun, dia gak sadar kalau Bintang hanya ingin melihat ekspresinya saja.


"Oke makasih ya Van" Bintanh tersenyum manis padahal hanya dibuat buat, bikin Vania makin meleleh karna ketampanannya.


"Yuk kita samperin Ara."

__ADS_1


Bintang berjalan meninggalkan Vania yang sudah dibuatnya melambung tinggi. Baru kali ini Bintang bicara dengan nada lembut kepadanya. Dan kagetnya Bintang mau ngajak dia jalan berdua saja, tanpa Ara lagi. Itu seperti mimpi yang menjadi kenyataan saja.


Ara menatap Bintang dan Vania yang menghampirinya tanpa curiga sedikitpun. Vania berharap Ara bisa segera menyudahi hubungan pura puranya dengan Bintang agar dia bisa lebih leluasa pedekate dengan cowok yang disukainya itu.


"Tang, kita cari makan dulu yuk, gue laper nih, disebelah kayanya ada tukang bakso deh,"


Ara memegangi perutnya yang mulai keroncongan.


Bintang tersenyum. Dasar si Ara diotaknya yang ada cuman makanan aja. Dia bahkan gak tau sudah dikhianati sahabatnya sendiri.


"Yaudah hayu, gue juga udah nemu nih buku yang gue cari. gue bayar dulu ya. Punya lu mana? sini biar sekalian!"


Vania ikut ke kasir dan membayar buku yang tadi Bintang rekomendasikan padanya tanpa curiga sedikitpun jika buku itu sedang menyindir kondisinya saat ini dengan Ara.


Ara melangkah lebih dulu dan menghampiri kedai tukang bakso yang terletak persis disebelah toko buku.


Ara langsung memesan 2 mangkok bakso untuknya dan masing masing 1 mangkok bakso untuk Vania dan Bintang.


"Dia emang gitu tang, Ara bahkan sanggup makan somaynya mang udin 3 piring sekaligus!" Vania tertawa namun Ara tak peduli. Yang penting perut kenyang, urusan malu mah belakangan.


"Eh iya tadi lu beli buku apa Ra?"


Ara mengeluarkan sebuah buku resep makanan dari plastik miliknya.


"Gue beli buku resep Van, lumayan buat nambah referensi menu baru buat ditoko mama"


"Nyokap loe punya toko apa Ra?"


Tanya Bintang penasaran.


"Toko bakery tang, yaah lumayanlah buat pemasukan keluarga. Semenjak bokap gak ada, kami harus bisa lebih mandiri lagi soal masalah keuangan."

__ADS_1


Bintang hanya manggut manggut. Sementara itu Vania sibuk dengan novel ditangannya. Ara yang tahu kalau sahabatnya itu tak suka membaca novel agak heran. Tapi dia masa bodo mungkin sekarang Vania mulai hobi karna ikut ikutan si tangki air pikirnya.


Tak lama 4 mangkuk bakso sudah tersaji didepan mereka. Dan merekapun mulai menyantap bakso dengan lahap.


****


Esoknya Ara dan Bintang seperti biasa berangkat ke sekolah bareng. Dan seolah kembali menjadi manusia kutub utara yang dingin dan tanpa ekspresi. Sepanjang jalan tadi hanya satu kalimat yang keluar dari mulut Bintang "Lo udah sarapan?"


dan dijawab anggukan oleh Ara. Ya, itu lebih baiklah, dari pada kemarin kemarin Bintang bahkan seperti tak menganggap keberadaan Ara. Ara seperti manusia kasat mata dihadapan Bintang. Namun sekarang dia mulai terbiasa dengan sikap Bintang. Walau sulit mengendalikan perasaannya setiap kali Bintang melakukan hal tak terduga seperti tiba tiba menggenggam tangannya atau mengelus kepalanya. Waktu berjalan begitu cepat. Sudah dua minggu lebih dia pura pura jadi pacarnya Bintang. tinggal sebentar lagi hubungan pura puranya ini akan berakhir. Tapi kenapa Ara rasanya tak ingin ini semua cepat selesai? Andai ini bukan pura pura. Ah, tapi itu semua mustahil. Dimata Bintang Ara hanyalah cewek asing yang dia ajak untuk bekerjasama tak lebih.


"Ra, pagi pagi udah ngelamun!" Bayu menepuk pundak ara dan berjalan disampingnya mengimbangi langkahnya.


Seulas senyum manis menghiasi wajah tampannya. Ara tak mengerti kenapa pesona Bayu tidak bisa menyentuh hatinya. Padahal jelas jelas cowok ini lebih perhatian kepadanya


"Hmm bay maaf ya gue duluan, gue ada tugas yang harus dikerjain."


Ara hendak ngibrit namun tangan bayu telah lebih dulu mencegatnya.


"Ra, mau sampai kapan ngehindarin gue?"


Bayu mendekatkan badannya, ekspresi wajahnya berubah jadi serius. Sejak kemarin Bayu tidak bisa tidur nyenyak karna gadis ini. Dia belum pernah merasa segelisah ini ketika seseorang menghindarinya.


Ara hanya diam. Dia bingung harus menghadapi bayu dengan sikap apa. Ara tidak mau Vania marah lagi kepadanya. Karna yang Ara tahu Vania itu sukanya sama Bayu bukan sama Bintang.


"Ra," Bayu memegang lengan Ara, tapi Ara buru buru menepisnya.


"Bay, please ya untuk saat ini jangan deket deket gue dulu oke?! Gue harus cepet ke kelas udah telat nih!" Ara langsung lari tanpa memperdulikan bayu yang nelangsa dibuatnya. Bayu menghela nafasnya. Dia harus memikirkan cara agar Ara mau kembali bersikap seperti biasanya lagi. Dia harus segera menemui Vania untuk merencanakan strategi agar Ara tidak salah paham lagi kepadanya.


Sementara itu dibelakang mereka Bintang memperhatikan Bayu dengan tatapan datar.


***

__ADS_1


__ADS_2