
Masih sangat segar, jangan lupa buat mampir dan baca new novel Author ya. Tinggalkan like koment biar Authornya makin semangat 🤗🤗
-
Hanna menghampiri si ibu tiri yang terlihat tidak suka melihat kedatangannya. Wanita itu menyeringai sinis, menatap Vina dengan pandangan meremehkan.
"Ibu tiri, kenapa kau terlihat tidak suka melihat aku ada di sini?" Tanya Hanna tanpa basa-basi.
"Apa yang kau lakukan di sini? Memangnya siapa yang mengijinkan mu untuk masuk? Bahkan ayahmu sendiri yang telah mengusir-mu dan mendepak mu keluar dari rumah ini!!"
Hanna menatap beberapa wanita yang ada di sana. Mereka saling berbisik-bisik membicarakan dirinya. Sedangkan Hanna hanya menyikapi dengan seringai tipis. Dia tidak peduli.
"Ini adalah rumahku, rumah ibuku, memang apa salahnya jika aku kembali ke rumah ini? Memangnya siapa dia bisa mengusir dan mendepak ku keluar dari rumah ini?!"
"Aku adalah pemilik sahnya, sedangkan kalian bertiga hanya numpang hidup padaku. Tapi gaya kalian selangit seolah kalian adalah pemilik dari semua harta peninggalan ibuku. Sangat memalukan!!"
Vina yang geram langsung menampar pipi Hanna. Gadis itu sengaja tidak menghindar apalagi menahan tangan Vina. "Sebaiknya jaga ucapanmu jika kau tidak ingin aku sampai merobek mulutmu!!" Ucap Vina memperingatkan. Dari nada bicaranya terlihat jelas jika dia sedang geram.
Hanna tertawa mengejek. Membuat Vina semakin kesal dan marah. "Ibu tiri, sebaiknya kau berhentilah mengomel dan marah-marah. Lihatlah kerutan diwajahmu yang semakin banyak itu."
"Yakk!!"
"Hahaha!!" Hanna tertawa sambil berjalan meninggalkan ruang tamu. Wanita itu begitu puas melihat wajah merah Vina karena marah.
Hanna melambaikan tangannya, wanita itu berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Ini adalah rumahnya, hak miliknya, jadi untuk apa ia harus mengalah pada orang asing dan ayah yang tidak pernah peduli padanya?
Hanna bukanlah wanita lemah yang mudah untuk ditindas. Hanya saja hari itu dia dalam keadaan kacau karena kepergian sang ibu yang begitu tiba-tiba, sehingga dia memilih diam ketika ayahnya sendiri mengusir dirinya.
.
.
.
Brugg...
Hanna menjatuhkan tubuhnya pada kasurnya yang super empuk dan nyaman. Dia sangat merindukan tempat tidurnya yang sudah lama tidak ditempatinya itu, dan kini menjadi milik Andina, saudara tiri Hanna.
"CK, sebenarnya apa yang sedang dilakukan oleh pria menyebalkan ini sih? Kenapa ponselnya masih tidak bisa dihubungi?" Hanna melemparkan ponselnya begitu saja.
__ADS_1
Hanna merasa kosong sejak Rey menghilang. Memang ini belum 24 jam, tapi dia merasa kesepian tanpa keberadaan pria itu. Apakah Hanna mulai bergantung pada Rey? Maka jawabannya ya.
Tak bisa Hanna pungkiri, jika keberadaan Rey benar-benar berarti bagi dirinya. Dia tidak hanya membawa tawa, namun juga menghapus duka.
Saat dia jatuh terpuruk, hanya Rey yang selalu ada untuknya. Dia yang selalu mengulurkan tangan dan memeluknya ketika Hanna berada dalam situasi yang tidak baik-baik saja. Sehingga sedikit banyak kehadiran Rey membawa arti dalam hidup Hanna.
Apa kali ini dia yang akan ditinggalkan? Apa Rey akan balas dendam padanya karena dia pernah meninggalkannya? Bahkan Hanna tidak tau.
Hazelnya seakan kehilangan cahaya untuk hidup, yang saat ini kedua bola mata tersebut lihat hanyalah sebuah pantulan wajahnya yang terlihat sangat menyedihkan, hidupnya memang sangat menyedihkan, dan ia berharap bahwa kedua sang ibu kini berada di sini sekarang. Namun itu tidaklah mungkin.
Hanna menarik napas panjang, menghirup udara dan menghembuskannya, kedua matanya sembab akibat terlalu lama menangis. Apa yang ia tangisi sebenarnya? Hidupnya? Takdir menyedihkannya? Atau... Rey? Entahlah, kenapa dia harus serapuh ini.
Apakah Hanna merasa takut, maka jawabannya 'Iya' dia takut di tinggalkan seperti sang ibu yang meninggalkannya.
Kedua matanya kembali memanas, tanpa sadar kedua kaki jenjang tersebut bergetar seolah kehilangan tenaga untuk berpijak. Jika saja dia berdiri di lantai, pasti Hanna sudah jatuh terduduk sekarang.
"Bodoh!! Rey Xiao menyebalkan!!"
Kemudian Hanna menjatuhkan kepalanya di atas bantal empuknya. Kedua matanya semakin lama semakin terasa berat. Dan hanya dalam hitungan detik saja wanita itu sudah masuk ke alam mimpinya.
-
"Mohon tinggalkan pesan suara, nomor yang Anda~"
Rey memukul setir mobil dengan kesal, ia kehilangan obatnya, Hanna tidak berada di Villa miliknya, wanita itu pergi entah kemana.
Hilang bagaikan debu yang tersapu angin, tanpa jejak yang tersisa. Kemudian ia menghubungi Leo, meminta bantuan pada pria itu agar menanyakan keberadaan Hanna pada sepupunya . Namun nihil, Hanna sedang tidak bersama Derby.
Rey tidak tau kemana perginya wanita itu. Karena Hanna tidak memberitahunya. Tiga tempat yang Rey datangi untuk mencari keberadaannya, namun nihil, Hanna tidak berada di mana pun.
"Hanna, dimana kau sebenarnya? Lihat saja, jika kau berani meninggalkanku lagi. Aku pasti akan membunuhmu!!"
Mobil Rey berhenti di sebuah taman kota. Keberadaannya di sana sedikit banyak menarik perhatian para kaum hawa, baik itu yang sendiri ataupun yang telah berpasangan. Namun Rey tidak peduli.
Pria itu duduk di atas kap mobilnya sambil menikmati sebatang rokok beraroma mint yang diapit oleh kedua jarinya. Menghisapnya dalam-dalam, lalu menghembuskan perlahan.
Tidak ada yang istimewa pada penampilannya seperti biasanya. Hari ini dia terlihat santai dalam balutan t-shirt putih press body berlengan pendek yang dibalut long Vest hitam, dan celana jeans berwarna hitam pula.
Ini bukanlah hari kerjanya, dan Rey ingin santai meskipun hanya sebentar.
"Hari ini Mamiku pergi ke kediaman keluarga Kim, aku dengar darinya jika ada wanita muda yang datang dan membuat keributan di sana. Dia mengaku sebagai Tuan Rumah dan membuat Nyonya Vina sangat marah."
__ADS_1
"Huh, memang dasar gadis tidak tau diri!!"
Rey membuang puntung rokoknya yang hanya tinggal setengah lalu masuk ke dalam mobilnya. Dari percakapan kedua wanita muda itu, dia bisa langsung tau siapa yang mereka bicarakan dan orang yang mereka bahas.
Rey sudah tau di mana Hanna berada saat ini. Rumah ibunya.
-
Hanna membuka matanya dan mendapati langit yang semula berwarna biru cerah berubah warna menjadi kekuningan. Diujung barat sana sang penguasa hari mulai merangkak turun dan kembali menuju peraduannya. Yang artinya sore telah tiba.
Wanita itu turun dari ranjangnya dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Masih banyak pakaian miliknya di kamar ini yang baru dan lebih dari kata layak untuk di pakai.
15 menit berlalu, Hanna terlihat lebih Fresh. Tubuh rampingnya dalam balutan mini dress kuning bermotif bunga yang terbuka di bagian pundaknya. Rambut panjangnya diikat ekor kuda dan wajah cantiknya dipolesi make up tipis.
"Sempurna." Hanna tersenyum setelah melihat penampilannya sendiri di cermin.
Brakkk!!
Perhatian Hanna teralihkan oleh dobrakan keras pada pintu. Seorang wanita masuk ke dalam kamar tersebut dengan wajah memerah karena marah.
"Oh, Fake Nona Muda sudah pulang rupanya," Hanna menyeringai, menatap Andina dengan seringai meremehkan.
"Apa yang kau lakukan di kamarku? Dan kenapa kau memakai bajuku?! Lepaskan!!"
Hanna menatap Andina dengan seringai yang sama. Dia geli mendengar ucapan wanita itu yang penuh halu.
"Apa kau bilang? Kamarmu, bajumu? Sejak kapan milikku menjadi milikmu? Memangnya pernah ya aku memberikannya padamu? Sejak lahir, kamar ini adalah milikku dan aku yang lebih berhak atas kamar ini dan semua isinya dibandingkan pencuri seperti dirimu!!"
"Pencuri?! Siapa yang kau sebut pencuri?!" Dina menatap Hanna dengan marah.
"Kau dan ibumu, karena kalian berdua adalah seorang pencuri ulung yang tidak tau malu!!"
"HANNA?!"
PLAK!!
Tangan Andina ditahan oleh seseorang sebelum menyentuh dan mendarat di wajah Hanna. Seorang pria muda nan tampan yang entah dari mana datangnya tiba-tiba sudah ada diantara mereka berdua.
Dan kedatangannya tentu saja membuat Hanna terkejut setengah mati. Dengan keras kemudian dia memekik...
"REY!!"
__ADS_1
-
Bersambung.