
Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Itulah yang menimpa Kim Tan dan Vina. Bagaimana tidak, sudah tidak bisa membayar semua makanan yang dipesan, harus mencuci piring dan membersihkan seluruh restoran yang berjumlah tiga lantai.
Rasanya Vina ingin membunuh suaminya. Jika bukan karena dia, pasti dirinya tidak akan tersiksa seperti ini.
"Kenapa hanya diam saja, Ma? Ayo kita segera selesaikan ini supaya bisa cepat pulang."
Vina melempar kap pel ditangannya ke wajah Kim Tan dan berteriak marah. "Ini semua karena dirimu!! Jika saja kau tidak akal-akalan mentraktir mereka, pasti putrimu yang kurang ajar itu tidak akan mengerjai kita sampai seperti ini!!", Teriak Vina penuh emosi.
Tidak ada jawaban apalagi kalimat balasan. Tan hanya bisa menunduk menyesali perbuatannya. "Maaf, Ma. Aku tidak akan mengulanginya lagi." Ucapnya penuh sesal.
"Sudah, jangan merengek, sebaiknya segera kita selesaikan saja. Aku sudah muak berada di sini terlalu lama."
Vina bersumpah akan membalas Hanna suatu saat nanti. Dia tidak akan pernah melupakan penghinaan yang wanita lakukan padanya hari ini.
Akan Vina pastikan, jika Hanna akan merasakan pembalasan yang setimpal yang tidak mungkin pernah bisa dia lupakan sepanjang hidupnya, karena sudah berani mencari masalah dengannya.
Vina akan menunjukkan pada Hanna, dengan siapa sebenarnya dia berhadapan. Hanna pasti akan menyesalinya.
Tanpa mereka sadari. Ada dua orang yang sejak tadi melihat mereka dari kejauhan. Si wanita terlihat puas melihat Kim Tan dan Vina begitu tersiksa.
"Sudah puas?" Tanya pria di sampingnya. Wanita itu yang pastinya adalah Hanna mengangguk.
"Lumayan, karena itu barulah permulaan. Aku pasti akan mengambil semua yang seharusnya menjadi milikku, karena kedua orang gila harta itu tidak berhak memiliki semua yang mereka nikmati saat ini. 1000 kali lipat, rasa sakit yang aku rasakan akan aku kembalikan pada Vina dan Kim Tan!!" Kedua tangannya terkepal kuat dan matanya berkilat tajam.
"Ayo pergi," Hanna menatap Rey dan kemudian mengangguk. Keduanya masuk ke dalam mobil, dan dalam hitungan detik, kuda besi itu melaju menuju jalanan yang padat kendaraan.
-
-
-
Sepasang mutiara kelopak mata itu terbuka perlahan. Memperlihatkan sepasang Hazel yang sangat jernih dan indah. Pandangan wanita itu kemudian menyapu. Asing, itulah kesan pertama setelah kelopak matanya terbuka sepenuhnya.
"Nyonya, Anda sudah sadar?" Seorang pria menghampirinya dengan raut wajah yang terlihat begitu senang.
"Di mana aku?" Tanya wanita itu pada pria yang berdiri di sampingnya.
__ADS_1
"Anda berada di rumah sakit, Nyonya. Dan setelah bertahun-tahun, akhirnya Anda kembali sadar." Ujar pria itu tak bisa menahan rasa harunya.
"Bertahun-tahun?" Ia mengulang kalimat pria itu.
Pria itu mengangguk. "Benar, Nyonya. Ada terbaring koma lebih dari 10 tahun pasca kecelakaan pesawat yang terjadi hari itu." Tuturnya.
Wanita itu mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi hari itu. Dan air matanya pun jatuh bercucuran tanpa mampu dia bendung lagi. "Aku mengingatnya, lalu bagaimana dengan suami dan putriku?"
Pria itu menundukkan kepala lalu menggeleng."Nona meninggal, sedangkan Tuan menghilang. Dan sampai detik ini kami tidak bisa menemukan keberadaannya."
"Demi mengungkap dan menemukan pelaku dibalik tragedi yang menimpa kalian. Tuan Besar sampai membeli 2 mayat dari rumah sakit, lalu mengoperasi wajahnya supaya mirip dengan kalian berdua. Agar semua orang yakin jika kalian telah meninggal." Tuturnya.
"Lalu bagaimana dengan kakek buyut, di mana dia sekarang?"
"Beliau telah meninggal 5 tahun yang lalu karena penyakitnya. Dan sebelum pergi, Tuan Besar menitipkan ini untuk Anda."
Kedua mata Hazelnya tampak berkaca-kaca melihat foto seorang pria muda yang saat ini ada di genggamannya. "I-Ini? Suamiku?" Ucapnya setengah bergumam.
"Bukan, Nyonya. Tapi itu adalah Tuan Muda, saat ini beliau telah tumbuh menjadi pemuda yang sangat tampan dan hebat. Bukan hanya wajahnya, tapi Tuan Muda juga mewarisi sifat ayahnya."
"Benar, Nyonya. Dia adalah putra bungsu Anda, Rey Xiao!!"
-
-
-
Rey mengecup singkat bibir Hanna sebelum wanita itu turun dari mobilnya. Tapi sepertinya dia tidak puas dengan ciuman singkat tersebut. Hanna mengalungkan kedua tangannya dan balas mencium bibir si pria dengan keras.
Kedua lengan Hanna menggalung pada leher Rey, bibirnya terus mel*mat bibir partner ranjangnya tersebut. Hanna memang sangat luar biasa, dia begitu pandai dalam mengimbangi ciuman Rey. Buktinya ciuman mereka kini sepenuhnya dikuasi olehnya.
Rey yang memang tidak suka didominasi segera mengambil alih ciuman tersebut. Ciuman itu kini sepenuhnya berada dalam kendala Rey.
Bibir mereka terus saling mel*mat , menyesap dan menghisap. Kepala mereka bergerak ke kanan dan ke kiri seirama. Posisi mereka tidak lagi duduk saling berhadapan, Rey menarik Hanna untuk berpindah ke jok belakang mobilnya. Kini ia menindih wanita itu.
Meskipun sangat menginginkan Hanna, tapi Rey harus tetap menahannya. Ini adalah tempat umum, dan dia tidak ingin membuat keributan karena fenomena mobil bergoyang.
__ADS_1
"Sudah cukup untuk hari ini, Baby. Segera rapikan penampilanmu." Rey mengecup singkat bibir Hanna kemudian bangkit dari atas tubuhnya.
"Malam ini kau akan menemaniku?'
"Aku belum bisa memastikannya, karena rencananya siang ini aku akan pergi ke kota B untuk sebuah hal penting."
"Aku mengerti. Ya sudah aku turun dulu." Sekali lagi Hanna mencium bibir Rey dan pergi begitu saja.
Setelah memastikan Hanna masuk. Rey menghidupkan kembali mesin mobilnya. Mobil sport mewah itu selanjutnya melaju kencang pada jalanan kota yang padat kendaraan. Dia sudah terlambat lebih dari satu jam.
Masa bodoh, memangnya siapa yang berani menegurnya. Orang akan berpikir dua kali untuk mencari masalah dengannya.
.
.
.
"Hanna."
Langkah Hanna terhenti. Terlihat Derby berlari menghampirinya. "Kau diantarkan lagi oleh pria itu? Kenapa kau selalu mau diantar jemput oleh dia, tapi selalu menolak ku? Memangnya apa bedanya, dia pria aku juga pria." Ucapnya.
Hanna menyentak tangan Derby dari bahunya dan berdecak sebal. "Tentu saja beda, dia adalah priaku sedangkan kau adalah sabahat ku!!"
"Memangnya kapan kau akan merubah seratus itu? Aku tidak mau jika hanya menjadi sahabatmu, Hanna kau tau kan jika~"
"Aku tau, tapi aku tidak mau tau!! Sudahlah, sebaiknya kau diam dan jangan mengoceh lagi. Jangan rusak persahabatan kita karena perasaan konyol mu itu!!"
Derby mendesah berat. Berbicara dengan Hanna memang terkadang membutuhkan kesabaran yang sangat-sangat ekstra."Baiklah, tapi aku akan tetap berdoa supaya suatu saat nanti kau berubah haluan dan mencintaiku!!"
Hanna memutar matanya jengah. Wanita itu kemudian beranjak dari hadapan Derby dan pergi begitu saja. "Hm, terserah!!"
"Yakk!! Hanna, tunggu aku!!"
-
Bersambung
__ADS_1