PARTNER RANJANG TUAN MUDA "Sekuel Hot Daddy"

PARTNER RANJANG TUAN MUDA "Sekuel Hot Daddy"
Pertemuan Hanna Dan Diego


__ADS_3

Terik matahari menyengat ratusan pasang mata yang ada di kota ini. Kota yang terkenal sebagai metropolitan, dimana gedung-gedung bisnis besar, mall, apartemen, dan gedung-gedung pemerintahan semuanya berpusat di sini.


Seoul, adalah kota yang tak pernah mati. Pada siang hari akan ada banyak kendaraan-kendaraan berlalu lalang di jalanan, dan pada malam hari digantikan oleh nyala lampu warna-warni di tepi jalan raya yang menyediakan hiburan malam.


Demi mengurangi kemacetan, banyak masyarakat yang berjalan kaki sebab jarak dari kantor ke kantor dan ke pusat hiburan yang tidak begitu jauh.


Seorang pria mengumpat kesal karena kondisi jalan yang macet parah. "Sial! Kenapa harus macet?" gerutunya tak jelas .


Matanya seakan menelurusi jalanan jauh ke depan sana. Sepasang biner matanya mengkap pemandangan deretan mobil mulai dari yang mewah, sampai kendaraan umum tengah berbaris rapat dan tidak menunjukkan pergerakkan, sekalipun ada, itupun hanya sedikit.


"Rey, panas. Sampai kapan kita akan terjebak di sini?" Rengek seorang wanita yang duduk di samping kursi kemudi.


"Entah, mungkin lebih dari satu jam."


"Hah!! Bisa-bisa aku mati kelaparan di mobil. Tau begitu aku tidak setuju untuk pergi dan makan diluar bersamamu." Ucapnya sedikit menyesal.


"Kenapa kau malah menyalahkan ku? Siapa tadi yang merengek minta untuk makan di luar?" Jawab Rey tak mau kalah.


Hanna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Memang bukan salah Rey sepenuhnya, karena sebenarnya itu adalah ide Hanna. Tapi seperti biasa, wanita tidak mau disalahkan.


"Tapi tetap saja kau yang salah. Kenapa kau tadi mau aku ajak pergi? Seharusnya kau tidak mau!!"


Rey memutar mata jengah, dia malas harus berdebat dengan Hanna. Karena jika diteruskan, pasti sehari tidak akan cukup. Satu-satunya jalan terbaik adalah mengalah.


.


.


Setelah terjebak macet panjang akibat perbaikan jalan, akhirnya mereka bisa lolos. Butuh waktu 1 jam lebih untuk keluar dari macet berkepanjangan tersebut. Saat ini Hanna dan Rey sudah tiba di restoran yang pelanggannya hanya dari kalangan atas saja.


Selain mewah dan bertaraf internasional. Restoran tersebut juga dikenal dengan harga makanannya yang sangat tinggi, satu porsi makanan bisa menguras isi kantong. Itulah kenapa hanya mereka yang berdompet tebal yang bisa datang ke sana.


Orang dari kalangan menengah kebawah akan berpikir dua kali jika datang ke restoran tersebut.


"Kau mau pesan apa?" Tanya Hanna sambil melihat-lihat menu yang ada di restoran tersebut.


"Samakan saja denganmu." Jawab Rey tanpa menatap lawan bicaranya, fokusnya tertuju pada benda tipis super canggih ditangannya. Meskipun tidak sedang berada di kantor, Rey tetap tidak bisa melepaskan tanggung jawabnya sebagai seorang Bos.

__ADS_1


Ting...


Lonceng di atas restoran berbunyi, menandakan ada pelanggan yang datang. Seorang pria terlihat melenggangkan kedua kakinya secara bergantian memasuki restoran tersebut. Dibelakangnya beberapa orang turut mengekor.


"Hei, bukankah dia adalah Diego Moella!!"


Degg...


Hanna tersentak saat nama itu 'Diego Moella' di sebut oleh salah seorang pengunjung restoran. Dengan kaku Hanna menoleh kebelakang, dan ternyata benar, itu memang dia. Diego datang bersama manager, asisten dan dia Bodyquard nya.


Sementara itu...


Rey langsung kehilangan moodnya karena keberadaan pria itu. Dia menyangkan kenapa orang yang selalu berhasil menghancurkan moodnya, hanya dengan mendengar namanya saja malah datang ke restoran yang sama seperti yang dia datangi bersama Hanna.


"Kita pindah ke ruang VIP saja, disini membuatku tidak nyaman. Sebaiknya pakai kembali kacamatamu, aku tidak ingin mantan kekasihmu itu sampai mengenalimu!!" Hanna mengangguk.


Rey menghampiri pelayan restoran dan meminta diantarkan ke ruang VIP. Rey benar-benar tidak rela jika Hanna dan Diego sampai bertemu apalagi bertatap muka.


"Hanna!!"


Diego tidak menyia-nyiakan kesempatan yang dia miliki. Aktor dunia itu bangkit dari duduknya dan segera menyusul Hanna yang sudah semakin menjauh. Rasa rindu yang telah dia pendam selama bertahun-tahun akan dia tuntaskan hari ini juga.


"Hanna," panggil Diego sambil menahan pergelangan tangan Hanna. Membuat langkah mereka mau tidak mau terhenti.


Tubuh Hanna terdorong kebelakang karena pelukan Diego. Pria itu langsung menubruk Hanna tanpa menghiraukan pria yang ada bersamanya.


"Hanna, aku sangat merindukanmu." Bisik Diego sambil mengeratkan pelukannya. Hanna yang merasa terancam mendorong tubuh Diego hingga pelukan itu terlepas.


"Kau salah mengenali orang, Tuan. Aku bukan Hanna, tapi namanya Natasha!!"


Diego tertawa. Dia tau wanita di depannya ini sedang bercanda. Mungkin Hanna sedang kesal padanya karena dulu dia meninggalkan nya. "Hanna, lelucon mu tidak lucu sama sekali. Kau pikir bisa menipuku hanya dengan mengganti nama. Dasar gadis bodoh." Diego mengacak kepala Hanna yang langsung di tepis olehnya.


"Ya, aku memang Hanna, Diego Moella. Orang yang kau campakkan dan kau tinggalkan beberapa tahun lalu demi mengejar karier. Mulai sekarang berhentilah bersikap jika kita sangat dekat, dan jangan menggangguku lagi, karena aku sudah memiliki suami!!"


"A-apa?!"


"Aku yakin kau tidak buta. Pria di sampingku ini adalah suamiku. Namanya, Rey Xiao. Maaf, tapi kami harus pergi. Rey, ayo." Rey mengangguk.

__ADS_1


Hanna kembali memeluk lengan Rey yang tidak tertutup kain kemejanya. Keduanya berjalan menjauh, meninggalkan Diego yang masih terpaku di tempatnya berdiri. Menatap kepergian mereka dengan tatapan tak terbaca.


Tangan Diego terkepal kuat. Apa itu artinya dia sudah kalah? Mungkinkah Hanna sudah tidak lagi mencintainya? Memikirkan hal itu membuat dada Diego berdenyut nyeri.


Diego berbalik. Semua mata kini menatap padanya. Orang-orang di sana menatapnya dengan berbagai tatapan, dari tatapan iba sampai mencemooh.


"Diego, sebaiknya kita makan sekarang. Makananmu sudah datang." Ucap wanita berambut sebahu bernama Lisa pada pria tersebut.


"Lisa, batalkan semua jadwalku hari ini. Tiba-tiba aku tidak enak badan. Kalian makan saja, aku tidak lapar." Diego meninggalkan rekan-rekannya dan pergi begitu saja. Mungkin dia perlu menenangkan diri untuk saat ini.


-


-


-


Keheningan menyelimuti kebersamaan Rey dan Hanna. Sudah sejak 1 jam yang lalu mereka hanya saling diam dalam kebisuan. Tak ada sepatah kata pun keluar dari bibir keduanya. Sesekali Rey menatap wanita disampingnya yang hanya menatap kosong ke depan.


Pria itu mendesah berat. Dia bosan dengan suasana seperti ini. "Sampai kapan kau akan diam dan melamun seperti orang bodoh, Hanna Kim?!" Tegur Rey sedikit geram. Sontak Hanna menoleh, menatap pria disampingnya.


"Kau bicara padaku?!"


"Bukan, tapi pada batu!!" Rey keluar dari mobilnya dan meninggalkan Hanna begitu saja.


Pria itu mengeluarkan sebungkus rokok dan pematik dari saku celananya. Mengambilnya satu batang lalu menyulutnya. Wajah tampannya tidak menunjukkan eskpresi apapun, datar.


Sebenarnya Rey sangat kesal, moodnya benar-benar berantakan karena mantan kekasih Hanna. "Rey, apa kau kesal?" Tegur Hanna yang entah sejak kapan sudah ada di samping Rey.


Pria itu tidak menjawab dan hanya melirik Hanna melalui ekor matanya. Rey menghisap kembali rokoknya dan menghembuskan asapnya melalui mulutnya.


"Aku tau jika masih ada keraguan di dalam hatimu!! Sebaiknya pernikahan kita ditunda saja. Aku tidak ingin jika kau sampai menyesal dikemudian hari. Sudah hampir petang, sebaiknya kita pulang!!"


Rey membuang ****** rokoknya dan masuk kembali ke dalam mobilnya. Diikuti Hanna yang juga ikut masuk ke dalam mobil.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2