
Tubuh pria itu terhuyung kebelakang karena pelukan Aster yang tiba-tiba. Wanita itu menangis sejadi-jadinya dalam pelukan pria tersebut yang pastinya adalah Nathan. Bukan hanya Aster yang menangis, namun Gavin dan Rio juga. Sementara Rey masih diam terpaku pada posisinya berdiri.
Rey tidak bergerak satu inci pun melihat pemandangan tersebut. Benarkah yang berdiri di depannya itu adalah ayahnya? Kenapa Rey begitu meragukannya?
Karena yang Rey ingat ayahnya adalah pria dengan satu mata, sedangkan orang itu memiliki dua mata yang utuh.
"Sampai kapan kau akan berdiri di sana, Rey? Kemari lah dan peluk ayahmu, apa kau tidak merindukannya, Nak?" Aster menatap Rey yang masih bergeming.
"Apa dia benar, Daddy? Maaf Mi, tapi aku sedikit meragukannya. Mami lupa ya, Daddy adalah pria cacat, sedangkan pria itu memiliki mata yang utuh. Mungkin hanya wajahnya saja yang sama, tapi mereka adalah dua orang yang berbeda." Tutur Rey.
Mata Aster membelalak mendengar apa yang Rey katakan. Wanita itu mengangkat wajahnya dan menatap pria yang dia yakini sebagai Nathan itu dengan seksama, benar apa yang Rey katakan. Tapi suara itu, benar-benar suara suaminya. Lalu siapa yang bisa membuktikannya?
"Kalian tidak perlu ragu, dia memang Nathan. Dan aku yang menyembuhkan mata kanannya!!" Sahut seseorang dari arah belakang.
Zhoumi datang dan menjelaskan semuanya. Dia juga ingin meminta maaf pada Rey karena telah merahasiakan kebenaran ini selama bertahun-tahun.
Bukan tanpa alasan. Keadaan Nathan pada saat itu memang sangat memprihatinkan. Selain karena dia koma, dia juga mengalami luka bakar yang sangat serius hingga mencapai 60%.
Beruntung Zhoumi adalah dokter yang jenius, sehingga dia bisa menemukan sebuah serum yang bisa menyembuhkan luka bakar di tubuhnya dan mengembalikan penglihatan pada mata kanannya. Meskipun waktu yang dia butuhkan sangat lama dan biaya yang harus dia keluarkan juga tidak sedikit.
"Kalian tidak perlu meragukan dia Nathan yang asli atau bukan. Karena yang berdiri dihadapan kalian ini adalah Nathan yang asli."
Hilang sudah keraguan di hati Rey akan siapa pria itu. Rey menghampiri sang ayah kemudian memeluknya. Pemuda itu sampai tidak bisa menahan isakan nya, Rey menangis saking bahagianya.
"Maaf, karena semapat meragukan dirimu." Bisik Rey penuh sesal.
Nathan menggeleng. "Tidak apa-apa, Nak. Daddy bisa mengerti." Nathan melepaskan pelukannya dan menatap putranya itu dengan seksama. Sepuluh tahun telah berlalu, kini putranya telah tumbuh menjadi lelaki yang sangat tampan.
"Sudah cukup terharunya. Sebaiknya sekarang kita makan malam dulu, nanti kita lanjut mengobrol lagi." Ucap Aster mengintrupsi. Semua mata tertuju padanya. Mereka mengangguk. Semua berjalan ke meja makan.
.
.
__ADS_1
.
Usai makan malam. Mereka lanjut mengobrol di ruang keluarga. Kehangatan yang telah lama mati kembali hidup di mansion mewah tersebut setelah kembalinya Aster dan Nathan.
Duka dan kesedihan yang selama ini selalu terlihat dimata Rey perlahan memudar, meskipun kesedihan itu masih tampak jelas dimatanya, jika saja Laurent masih hidup, pasti keluarganya akan utuh.
"Rey," panggil Hanna sambil menggenggam tangan Rey.
Rey mengangkat wajahnya dan menatap Hanna sedikit datar. Wanita itu tiba-tiba tersenyum lebar membuat Rey ikut tersenyum juga. Diusapnya kepala coklat Hanna dengan lembut.
Sementara itu. Nathan dan Aster tidak bisa meloloskan pandangannya sedikit pun dari mereka berdua. Sama seperti yang Aster rasakan ketika pertama kali melihat Hanna, Nathan pun merasakan debaran yang sama.
Dia juga berpikir jika Lovely nya masih hidup. Mungkin dia akan seusia dengan Hanna. Tiba-tiba Aster berdiri dan menghampiri Hanna.
"Sayang, kita akan menjadi keluarga. Ada ritual khusus yang selalu dilakukan keluarga kita secara turun temurun, ikutlah dengan Mami. Mami akan memberikan sesuatu untukmu."
Hanna menatap Rey, pria itu mengangguk. Dan setelah mendapatkan anggukan dari calon suaminya itu. Hanna pun ikut Aster ke kamarnya.
"Nak, sampai kapan kau akan bersikap dingin pada Daddy? Apa kau masih belum yakin jika aku adalah ayah kandung mu?" Rey menatap Nathan yang juga menatap padanya.
Rey menggeleng. "Sama sekali tidak, aku hanya merasa bingung. Aku tidak tau bagaimana harus memulai perbincangan denganmu."
Nathan tersenyum tipis. "Daddy mengerti, Nak." Ucapnya tersenyum.
.
.
.
"Hanna, coba gaun ini. Ini adalah gaun saat Mami masih seusia mu dulu. Gaun ini Mami beli ketika pergi ke London bersama Daddy Nathan. Tapi Mami belum pernah memakainya karena keburu hamil besar." Wanita itu terkekeh.
"Apa ini tidak terlalu berlebihan, Bibi. Ini sangat indah dan pasti mahal. Aku tidak enak jika harus menerimanya." Ucap Hanna.
__ADS_1
Aster menggeleng. Wanita itu mendorong Hanna supaya dia mencoba gaun tersebut. Entah kenapa jantung Aster berdegup kencang saat dia hendak membantu Hanna membuka resleting pada dress yang membalut tubuhnya.
Aster berdiri di belakang Hanna. Tangannya sedikit gemetar, kedua matanya membelalak dan air matanya tumpah tak bisa dibendung lagi ketika dia melihat sebuah tanda lahir di punggung kiri Hanna.
Dengan tangan gemetar saat dia hendak menyentuh tanda lahir tersebut. "Ada apa, Bibi?" Heran Hanna melihat Aster yang tiba-tiba diam. Kedua mata Hanna sedikit membelalak melihat wajah Aster yang telah berurai air mata. "Bibi, ada apa? Kenapa kau menangis?" Tanya Hanna kebingungan.
"Hanna, boleh Mami bertanya sesuatu padamu?" Hanna mengangguk. "Apa yang ada di punggungmu itu adalah sebuah tanda lahir?"
Hanna berjalan menuju cermin lalu menatap warna hitam di kulit punggungnya. Hanna menyentuh tanda lahir itu dan mengangguk.
"Aku memiliki tanda ini sejak aku masih kecil, dan aku menyadarinya saat aku berusia 8 tahun. Awalnya aku tidak tau jika aku memiliki sebuah tanda lahir. Sampai Mama sendiri yang menunjukkannya." Jelas Hanna.
"Hanna, saat pertama kali melihatmu untuk yang pertama kalinya. Mami merasakan sebuah getaran tak biasa, kau mengingatkan Mami pada Lovely, putriku yang hilang. Saat melihat tanda lahir ini. Mami semakin yakin jika kau adalah dia."
Air mata Hanna jatuh bercucuran dengan derasnya. Entah kenapa ada rasa sesak yang terasa menghimpit dadanya. Hingga membuatnya merasa sesak dan sulit untuk bernapas.
Seketika dia teringat kata-kata terakhir mendiang Ibunya. Jika sebenarnya dia bukanlah putri kandungnya. Apakah itu artinya dirinya adalah putri Aster dan Nathan yang hilang. Hanna menggeleng, wanita itu berjalan mundur sambil terus berurai air mata.
"Tidak, pasti Bibi bercanda. Aku bukan dia, aku bukan putrimu. Aku adalah putri wanita bernama Victoria. Dialah ibuku, ibuku!!"
"Hanna, dengarkan Mami dulu. Mami bukan bermaksud untuk~"
"Maaf, Bibi. Aku harus pergi." Hanna menyela air matanya dan pergi begitu saja. Aster pun segera mengejarnya. Sedangkan Hanna sudah berlari menuruni tangga sambil terus bercucuran air mata.
"Hanna, tunggu. Dengarkan Mami dulu. Hanna...!!"
Dan teriakan Aster menyita perhatian Rey dan Nathan yang sedang berbincang di ruang keluarga. Rey langsung berdiri saat melihat Hanna berlari menuruni tangga sambil menangis. Tanpa mendengar dulu penjelasan dari Aster. Rey pun bergegas mengejar Hanna yang berlari meninggalkan rumahnya.
"Hanna, tunggu!!"
-
Bersambung.
__ADS_1