PARTNER RANJANG TUAN MUDA "Sekuel Hot Daddy"

PARTNER RANJANG TUAN MUDA "Sekuel Hot Daddy"
Sama-Sama Tersiksa


__ADS_3

Rey berbaring terlentang di Suite Room di sebuah hotel mewah dikhawasan kota S. Penampilannya tidak Serapi sebelumnya. Tiga kancing kemeja yang terbuka, rambut berantakan serta sepasang Biner sewarna galaksinya menatap kosong pada langit-langit kamar.


Cklekk..


Pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok pria jangkung dengan wine di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya tersembunyi di dalam saku celananya.


"Apa yang terjadi? Kenapa mengusirnya sebelum kau memakannya?" Tanya pria itu seraya meletakkan wine yang di bawanya ke atas meja.


"Tidak berselera." Jawab Rey dingin dan acuh tak acuh.


"Memangnya sejak kapan kau punya selera pada mereka?" Pria itu tersenyum mengejek."Wanita itu masih di lobi, kalau kau berubah pikiran, aku bisa memanggilnya kembali untukmu."


"Ambil saja jika aku mau." Ucapnya. "Dan sejak kapan aku berselera pada pelacur?" Rey menatap langsung ke dalam manik mata sahabat jangkungnya itu.


Sedangkan si pria jangkung itu mengendikkan bahunya. "Kau yang tiba-tiba memintaku menyiapkannya. Jadi aku menuruti apa yang kau perintahkan saja!!" Jawabnya tak mau kalah.


Dia menatap Rey penasaran. "Tapi kenapa tiba-tiba, bukankah selama ini kau memiliki seorang partner yang sangat hebat? Dan setahuku hanya dia yang bisa membuatmu merasakan kepuasan, apa kau tidak lagi berselera padanya?!"


"Kau terlalu banyak bicara!!"


"Aku hanya bertanya bung, dan kenapa kau harus tersinggung?!"


"Berisik!!"


"Lama-lama aku terkena darah tinggi bicara dengan manusia kutub sepertimu!! Sudahlah, lebih baik aku lanjut berpesta saja." Pria itu kemudian meninggalkan Rey begitu saja.


Rey bangkit dari berbaring nya. Jari-jari besarnya kemudian meraih ponselnya yang ada di atas meja dan mendesah berat. Sudah satu Minggu sejak insiden hari itu, ia dan Hanna tidak lagi bertemu apalagi saling berkomunikasi.


Mereka benar-benar bagaikan orang lain sekarang. Saat bertemu secara tidak langsung, baik Rey maupun Hanna akan saling diam seolah tak saling mengenal. Satu hal yang tidak mereka sadari, jika sikapnya itu telah melukai perasaan masing-masing.


Rey merapikan kembali penampilannya yang berantakan sebelum meninggalkan hotel. Dia masih harus bertemu dengan beberapa rekan bisnisnya satu jam lagi.


Tapp...


Rey menghentikan langkahnya dan mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil, saat mata hitamnya tanpa sengaja melihat siluet seorang wanita yang sangat dia kenal berdiri di seberang jalan sambil menjinjing sebuah belanjaan.


Dia terlihat celingukan seperti sedang menunggu seseorang, sampai sebuah sedan hitam bertenti tepat di depan dia berdiri. Si pengemudi terlihat keluar dari dalam mobil tersebut dan menghampiri wanita itu yang pastinya adalah Hanna.


Namun beberapa saat kemudian si pria meninggalkan Hanna dengan marah dan masuk kembali ke dalam mobilnya. Sepertinya Hanna menolak untuk ikut bersamanya.


Hanna mengangkat wajahnya. Dan detik itu juga dua pasang mutiara berbeda warna milik mereka saling mengunci dan bersirobok, saling menatap dalam diam dengan diselimuti kerinduan.


"Rey," gumaman lirih keluar dari bibir Hanna. Yang gerakan bibirnya dapat dibaca oleh Rey. Ya, wanita itu menyebut namanya.

__ADS_1


Jika saja mereka tidak dalam keadaan yang sangat rumit. Pasti Hanna sudah menghampiri Rey dan langsung memeluknya, tapi masalahnya saat ini mereka tengah terjebak dalam situasi yang sulit dan membuat keduanya sama-sama dilemah.


"Hanna..."


Kontak mata diantara mereka berakhir oleh kedatangan sahabat Hanna. Ekspresi wajah Hanna yang semula sendu berubah cerita setelah melihat kedatangan sahabatnya tersebut.


"Dasar siput, beli minuman saja sampai satu tahun. Apa kau tau, aku hampir mati kering karena menunggumu!!" Protes Hanna pada orang itu.


"Ck, berhentilah menyalahkan ku, Nona Kim. Sebaiknya kita pergi sekarang, aku sudah sangat kepanasan, bagaimana kalau make up dan perawatan mahal ku sampai luntur oleh sengatan matahari yang sangat menyakitkan ini?!"


Hanna terkekeh geli mendengar ucapan dan melihat ekspresi sahabatnya itu. "Dasar Mr. kecantikan. Ni, bawah semua barang belanjaan ku!!" Hanna menyerahkan semua belanjaannya para Derby dan meninggalkannya begitu saja.


"Yakk!!! Hanna, sialan kau!! Siapa yang belanja, siapa yang membawanya. Gadis menyebalkan, tunggu aku!!"


Rey mendengus berat. Pria itu masuk kembali ke dalam mobilnya lalu menyalahkan mesinnya. Mobil mewah keluaran terbaru itu meninggalkan area hotel dan melaju menuju kencang jalan raya yang padat kendaraan.


-


-


-


"Rey, kemana Hanna akhir-akhir ini? Kenapa kau tidak pernah membawanya datang mengunjungi Mami dan Daddy? Mami, sangat merindukannya."


Rey tidak langsung menjawab dan malah mengabaikan Aster. Pemuda itu menghampiri Nathan yang sedang membaca koran. Rey mencoba menghindari pertanyaan Aster, karena dia bingung harus menjawab bagaimana.


"Janji ya, awas kalau tidak. Mami akan memasukkan mu kembali ke dalam perut!!" Ancam Aster bersungguh-sungguh.


Rey hanya memutar jengah matanya mendengar ancaman ibunya. Menurut nya ancaman Aster terlalu berlebihan. Bagaimana mungkin dia bisa masuk kembali ke dalam perut ibunya setelah dewasa, sungguh tidak masuk akal.


"Rey kau mau kemana lagi? Kau baru saja sampai?" Seru Aster melihat Rey yang sudah mau pergi.


"Pulang,"


"Pulang kemana? Inikan rumah mu!!" Serunya.


"Aku akan tidur di rumahku sendiri, Mi. Banyak hal yang harus aku selesaikan. Aku pulang dulu, jaga diri kalian baik-baik." Pesan Rey pada kedua orang tuanya.


Aster mendengus berat. Putranya itu memang sangat sulit diatur, tapi dia tidak heran lagi, mengingat gen yang mengalir dalam diri putranya itu.


-


-

__ADS_1


-


Hanna diam termangu di balkon kamarnya dengan di temani angin malam yang berhembus perlahan, berpayungkan langit malam yang di taburi oleh ribuan bintang dan cahaya bulan yang sangat terang.


Kalimat Rey hari itu masih terngiang-ngian di telinganya, begitu tajam dan menusuk ke dalam relung hatinya.


Sepanjang dia mengenal Rey, itu adalah pertama kalinya dia mengatakan kalimat setajam itu. Semua yang Rey katakan dan keputusannya malam itu, mengganjal di hatinya dan sangat mengganggu fikirannya.


"Nona, Anda apa? Kenapa belum tidur?" Datang seorang wanita dengan tatapan tertuju pada Hanna. Wanita itu berdiri di samping Nona-nya dan menatapnya penuh keheranan.


"Aku tidak bisa tidur Bibi, ada sesuatu yang mengganjal di hatiku." Hanna menghela nafas seraya memejamkan matanya.


"Nona, Anda memiliki masalah?" Tanya wanita itu penuh selidik. Hanna menggeleng cepat."Lantas, apa yang mengganggu pikiran Nona?"


"Bibi, boleh aku bertanya sesuatu?" Hanna menatap wanita itu dengan serius.


Wanita itu mengangguk. "Tentu saja, memangnya apa yang ingin Nona tanyakan?" Tanya wanita itu.


"Bagaimana jika seorang pria tiba-tiba meminta pada teman teman wanitanya untuk menjauhi, hanya karena hal sepele, misalnya karena pria lain, padahal mereka tidak memiliki hubungan yang lebih rekat dari sekedar partner ranjang? Apa pria itu memiliki alasan yang kuat kenapa dia mengatakan hal tersebut?"


"Kenapa Nona menanyakan hal semacam ini? Memangnya kisah siapa yang Nona ceritakan?" Wanita itu mengerutkan dahinya, menatap Hanna penuh selidik.


"Kisah dari novel yang aku baca, beberapa halaman terakhirnya hilang tanpa tau sebab dan alasannya. Itulah yang membuatku sangat penasaran." Tutur Hanna berbohong. Tidak mungkin jika dia mengatakan jika itu adalah kisahnya sendiri.


"Ada dua kemungkinan, Nona. Pertama, karena dia memiliki alasan yang sangat kuat. Kedua, karena pria itu mencintai si wanita dan cemburu karena dia dekat dengan pria lain, hanya saja dia tidak mau mengakuinya, karena belum yakin contohnya."


"Jawabanmu maknanya sama, lalu mana yang benar?" Tanya Hanna dengan nada sedikit kesal.


"Tidak tau, mungkin saja keduanya. Aiss, Nona kenapa Anda bebitu serius, itu kan hanya cerita di novel tapi kenapa Nona begitu penasaran eo?"


"Karena aku sangat penasaran dengan akhir kisahnya."


"Nona, padahal itu hanya karangan seorang penulis saja, tapi Anda begitu serius. Sudah larut malam, sebaiknya Nona masuk, udaranya sangat dingin." Pinta wanita itu, Hanna mengangguk pelan.


"Sebentar lagi aku masuk."


Selepas kepergian wanita itu. Hanna kembali pada fikirannya. Wanita itu menghela nafas dan mendongak, keputusan Rey benar-benar seperti misteri yang sulit di pecahkan, dan itu sangat mengganggu fikirannya. Sampai-sampai membuat yeoja itu tidak bisa tidur dengan nyenyak dan makan dengan enak.


Hufffttt .. !! ..


Hanna kembali menghela nafas untuk yang kesekian kalinya. Matanya masih menatap lurus langit yang gelap seakan-akan mencari jawaban di sana.


"Ada apa denganku? Kenapa aku menjadi seperti ini? Aku merasa kosong semenjak dia menjauh, ya Tuhan perasaan apa ini? Benarkah ini yang dinamakan cinta?" Gumam Hanna pelan.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2