PARTNER RANJANG TUAN MUDA "Sekuel Hot Daddy"

PARTNER RANJANG TUAN MUDA "Sekuel Hot Daddy"
Ini Nyata Atau Tidak?!


__ADS_3

Sengat matahari pagi menghantam lembut wajah cantik itu saat ini. Sepasang biner Hazel nya tergoda untuk meliriknya. Silau. Benar-benar silau. Padahal ini bukanlah musim panas.


Hamparan biru di atas sana terlihat bak samudera yang luas. Burung-burung kenari kecil terlihat berputar-putar sejenak di Awang-Awang, sebelum akhirnya memutuskan untuk mengistirahatkan dirinya dengan bertengger di besarnya batang pepohonan.


Bunga-bunga, pepohonan, dan semua mahluk yang hidup dan bernapas… semuanya pasti merasakan kesedihan yang sama.


Hanya bisa memandang langit dari bawah, tanpa bisa seujung kukupun menyentuhnya. Hanya bisa bermimpi untuk bisa meraihnya, walaupun hanya sedikit saja, untuk meraup cakrawala di atas sana.


Setiap kali sang indra melihat ke bawah, barulah mereka tersadar, bahwa itulah yang dinamakan mimpi.


Grepp..


Sepasang Biner indah itu terbuka perlahan, memperlihatkan sepasang Hazel yang menawan, ketika ia merasakan sepasang tangan kekar melingkari perut ratanya serta seseorang yang menyandarkan dagunya pada bahu kanannya.


Wanita itu menoleh, bibirnya langsung disambut oleh bibir Kissable milik pria yang sedang memeluknya. Mereka berciuman dengan disaksikan oleh sang penguasa hari yang telah bertahta di singgasananya.


"Bisakah kau mencubit ku?"


Rey memicingkan matanya. "Untuk apa?"


"Untuk memastikan jika ini nyata atau tidak."


Rey mendengus geli. Dengan gemas dia menarik ujung hidung Hanna. "Kau ini ada-ada saja. Jelas ini nyata, apa kau masih belum percaya jika kita telah menikah?" Hanna mengangguk. Rey kembali memeluk Hanna dengan lebih erat dari sebelumnya.


"Rasanya aku seperti sedang bermimpi. Mimpi yang sangat aneh tapi sungguh nyata."


Rey menarik kepalanya untuk menatap wajah Hanna. Matanya memicing bingung. "Kenapa harus mimpi yang aneh?" Rey menuntut sebuah penjelasan dari Hanna.


"Haruskah aku memberikan penjelasan padamu? Tanpa ku perjelas pun, kau sudah tau pasti jawabannya. Jadi untuk apa dijelaskan lagi?"


"Aku hanya ingin tau saja." Kembali Rey memeluk Hanna. Jika diperhatikan, mereka terlihat layaknya pengantin baru pada umumnya.

__ADS_1


"Kau ingin sarapan apa? Hari ini adalah hari perdanaku menjadi istrimu, dan sebagai pendamping yang baik, aku ingin menyiapkan sarapan untukmu."


Rey menolak. "Sebaiknya biar pelayan saja yang menyiapkannya. Aku tidak ingin mati keracunan karena hasil masakanmu yang buruk itu!!"


Mata Hanna sontak membelalak. "Apa kau bilang? Kau menyebut masakan ku buruk? Begini-begini aku sudah pernah membuat orang satu rumah keracunan karena masakanku yang huwah.. dan luar biasa. Enak saja kau menyebutku buruk, lebih dari buruk yang ada!!"


"Dan aku tidak mau menjadi korban mu selanjutnya!!" Tegas Rey.


"Huft, siapa juga yang ingin memasak untukmu!! Aku tidak ingin kecewa, karena sudah jelas jika kau pasti akan langsung menolaknya!!" Ujar Hanna.


Bukan rahasia lagi jika Hanna sangat payah dalam segala hal. Terutama pada urusan masak memasak. Jangankan memasak makanan layak makan, memasak mie instan saja dia tidak bisa. Hanya memasak air yang Hanna bisa.


"Mandilah dulu, setelah ini kita sarapan sama-sama." Ucap Rey yang kemudian di balas anggukan oleh Hanna.


"Baiklah, aku tau. Aku mandi dulu." Hanna menarik pakaian Rey di bagian depan dan memaksa pria itu untuk menundukkan tubuhnya, sebuah kecupan mendarat pada bibir itu. "Aku masuk dulu." Rey mengangguk.


Rey mengeluarkan sebuah kotak rokok dan pematik dari dalam saku celananya, mengambil satu batang lalu menyulutnya.


Seperti bibir Hanna, rokok sudah lama menjadi candu bagi Rey. Karena hanya rokok yang menjadi sahabat setianya selama ini saat dia dalam keadaan yang buruk.


-


-


-


Nathan memicingkan matanya melihat Aster yang sedari tadi terlihat sangat sibuk. Saking sibuknya sampai-sampai istrinya itu tidak memiliki waktu untuk memperhatikannya. Dan Nathan tau apa alasannya.


"Sayang, bisa bantu turunkan koper itu tidak? Aku menyimpan beberapa gaun cantik dan perhiasan yang belum pernah aku pakai sama sekali. Rencananya akan aku berikan pada menantuku."


Nathan mendengus, bagaimana bisa Aster bicara tanpa menatap padanya. Dari pada akan terjadi perang dunia, Nathan pun menurutinya dengan menurunkan koper itu dari atas lemari.

__ADS_1


"Sepertinya kau sangat bahagia?"


"Tentu saja, memangnya ibu mana yang tidak bahagia mendapatkan putri baru. Apalagi putrinya itu sangat cantik dan baik seperti Hanna. Aku telah kehilangan dua putriku, dan sekarang aku mendapatkan seorang putri pengganti. Jadi aku akan memperlakukannya dengan sangat baik." Tuturnya panjang lebar.


Semua yang ada di dalam koper itu adalah barang mewah. Tiga set perhiasan, 5-6 helai dress dan gaun pesta yang masih baru, ada pula tas dan sepatu dengan merk ternama. Dan semua itu akan Aster berikan pada Hanna.


"Nah, itu pasti mereka datang." Ucap Aster mendengar deru suara mobil yang memasuki halaman mansion.


Nathan berjalan ke arah jendela untuk melihat siapa yang datang. Tenyata benar, itu adalah Rey dan Hanna. Melihat pasangan muda itu membuat Nathan teringat pada masa mudanya bersama Aster. Rey seperti photo kopi dirinya, bukan hanya dari segi wajah saja, tapi semua yang ada pada dirinya menurun pada putranya itu.


Dengan semangat, Aster menuruni tangga untuk menyambut putra dan menantunya. Bahagia terlihat jelas pada raut mukanya ketika Aster menyabut Hanna ke dalam pelukannya.


"Sayang Mami, akhirnya kau datang juga. Ayo ikut Mami, akan ku tunjukkan sesuatu untukmu." Tanpa menghiraukan Rey, Aster membawa Hanna menuju kamarnya. Sedangkan Rey dan Nathan hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah wanita itu.


Rey dan Nathan kemudian berjalan menuju ruang keluarga, lalu mereka berbincang di sana. Ada beberapa hal yang ingin Nathan tanyakan dan bicarakan pada putranya itu.


"Daddy pikir kau dan Hanna tidak jadi menikah, apalagi hubungan kalian sempat renggang menjelang pernikahan."


Sontak Rey mengangkat wajahnya dan menatap sang ayah penuh keheranan. "Dari mana Daddy tau jika hubunganku dan Hanna sempat merenggang?" Tanya Rey penuh selidik.


"Dari sikap dingin dan acuh kalian saat bertemu di restoran, apa kau tidak mengingatnya? Saat itu kau sedang menemani Daddy untuk bertemu kolega dan rekan bisnis." Tutur Nathan.


Rey mengangguk. "Aku mengingatnya. Ya, hubungan kami memang sempat merenggang karena sikap kekanakan ku. Aku terlalu kekanakan dan membuat hubungan diantara kami merenggang."


"Mungkin karena aku cemburu setelah melihat Hanna dipeluk mantan kekasihnya di depan mataku. Aku marah-marah tidak jelas dan akhirnya kami menjauh."


"Kau cemburu? Apakah itu artinya kau dan Hanna sudah saling mencintai?" Tanya Nathan memastikan.


Rey menggeleng. "Aku masih tidak yakin, Pa. Aku ragu untuk menyebutnya cinta. Kami akan menjalani hubungan ini seperti air, biarkan mengalir sendiri dengan apa adanya."


"Kau sudah semakin dewasa, Rey. Dan Daddy bangga padamu, Nak." Rey hanya tersenyum menyikapi ucapan sang ayah. Mungkin saja Nathan benar, jika yang dia rasakan pada Hanna sebenarnya adalah cinta.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2