
Rey menutup latop nya saat Nathan datang mengunjunginya. Ayah tiga anak itu tersenyum tipis. Nathan menghampiri Rey yang berdiri menyambutnya. Sebuah pelukan hangat dia berikan pada sang putra kebanggaannya.
Kemudian Rey mempersilahkan Nathan untuk duduk. Tak lupa dia juga meminta sekretarisnya menyiapkan kopi untuk dirinya dan sang ayah.
"Apa yang membuat Daddy datang kemari? Tidak biasanya," ucap Rey membuka perbincangan.
"Tidak ada, Daddy kebetulan lewat jadi sekalian mampir." Jawab Nathan.
Sejak memiliki Rey. Nathan menjadi lebih bijaksana dan tidak mudah emosi dalam menghadapi masalah. Dia bisa lebih mengontrol tempramennya yang sangat buruk.
Kehadiran Rey dalam rumah tangganya dan Aster memang membawa banyak perubahan dalam diri seorang Nathan Xiao. Bahkan Cris dan Zhoumi nyaris tidak mengenalinya lagi. Karena Nathan yang mereka kenal pemarah, tiba-tiba saja berubah menjadi sosok yang bijaksana.
"Daddy sudah makan siang? Bagaimana kalau setelah ini kita makan siang bersama?" Usul Rey yang dibalas anggukan setuju oleh Nathan. Sebenarnya tujuan utama Nathan mengunjungi Rey adalah untuk mengajaknya makan siang bersama.
"Daddy rasa bukan ide buruk." Jawab Nathan tersenyum. "Oya, Rey. Bagaimana kau dan Hanna bisa saling mengenal dan kemudian jatuh cinta?"
Rey menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. "Kami tidak saling mencintai. Sejak awal hubunganku dan Hanna tidak lebih sekedar saling menguntungkan, kami hidup bersama tanpa rasa cinta."
"Dia membutuhkan pelampiasan, sedangkan aku membutuhkan seseorang yang bisa melepaskan ku dari belenggu kesendirian. Itulah alasan utama kenapa akhirnya kami memutuskan untuk bersama."
"Anehnya aku selalu marah dan kesal setiap kali dia bersama pria lain, walaupun itu adalah sahabatnya. Dan akhir-akhir ini, aku merasakan perasaan aneh yang tidak pernah rasakan sebelumnya. Aku selalu ingin bersamanya, dan hatiku rasanya sesak saat melihat air matanya. Dad, sebenarnya perasaan apa yang aku rasakan ini?"
Nathan tersenyum tipis. Dengan mantap dia menjawab. "Cinta. Daddy yakin itu adalah cinta. Hanya saja kau belum menyadarinya." Ucap Nathan. Sedangkan Rey memilih diam dan tidak menjawab.
Benarkah yang dia rasakan pada Hanna adalah cinta? Tapi Rey masih ragu, dan dia membiarkan waktu yang menjawab semua yang dia rasakan pada Hanna.
Rey melihat jam yang melingkari pergelangan tangannya kemudian bangkit dari duduknya."Sudah waktunya makan siang, bagaimana kalau kita berangkat sekarang?" Ucap Rey yang kemudian dibalas anggukan oleh Nathan.
Nathan dan Rey berjalan beriringan meninggalkan ruangan CEO. Saat berjalan bersama dan beriringan, mereka tidak terlihat seperti ayah dan anak. Tapi justru terlihat seperti kakak beradik.
-
-
-
__ADS_1
Hanna menghentikan langkahnya saat melihat sebuah gaun pengantin mewah terpajang pada sebuah manequine di boutique. Tertarik dengan gaun itu, Hanna memutuskan untuk masuk ke dalam boutique untuk melihatnya.
Kedatangan Hanna disambut seorang penjaga boutique, yang kemudian menemani Hanna melihat gaun cantik tersebut.
"Boleh aku mencoba gaun ini?" Tanya Hanna pada wanita yang memakai kemeja putih dan rok sepan berwarna hitam tersebut.
"Tentu, Nona. Saya akan membantu Anda. Yang ini atau Anda ingin mencoba dan melihat yang lainnya juga?"
"Yang ini saja." Wanita itu mengangguk.
"Mari ikut saya, Anda bisa mencobanya di ruang pas." Ucap wanita itu, kemudian mengarahkan Hanna menuju ruang pas dengan gaun tersebut di tangannya.
.
.
Hanna terpaku menatap dirinya sendiri di cermin. Gaun pengantin berwarna putih gading bermodel kemben membalut tubuh rampingnya. Hanna terlihat begitu cantik dalam balutan gaun itu.
Bahkan penjaga boutique yang menemaninya sampai tidak berhenti-berhenti memuji kecantikannya.
"Kau terlalu menuji, bisakah aku memakainya beberapa menit lagi. Aku ingin menunjukkannya pada calon suamiku."
"Tentu, Nona. Silahkan."
Hanna mengutak-atik ponselnya mencari nomor Rey. Dia ingin menunjukkan gaun pengantin yang dipakainya ini pada pria itu. Jika Rey setuju, maka Hanna akan mengambilnya.
Panggilannya tersambung, namun tidak ada jawaban. Hanna tidak tau apa yang sedang Rey lakukan. Wanita itu mencoba menghubunginya sekali lagi, dan akhirnya Rey menerima panggilannya.
"Ada apa, Hanna?" Tanya Rey to the poin.
Hanna memanggil penjaga boutique yang menemaninya lalu meminta dia untuk memegang ponselnya. Dia ingin menunjukkan gaun pengantin yang dicoba itu pada Rey.
Terlihat jelas dari raut wajahnya. Rey terpaku dan terpukau melihat Hanna yang tampak begitu cantik dalam balutan gaun pengantin putih gading itu.
"Rey, bagaimana menurutmu, bagus tidak? Aku ingin gaun ini di pernikahan kita. Kau setuju kan?"
__ADS_1
"Hanna, dimana kau sekarang?" Alih-alih menjawab, Rey malah balik bertanya.
"Beauty Boutique," jawabnya singkat.
"Tunggu sebentar, aku akan segera ke sana." Ucap Rey, kemudian dia memutuskan sambungan telfonnya begitu saja.
Hanna menyimpan kembali ponselnya. Penjaga boutique meninggalkannya sendiri, dia masih harus melayani pelanggan lain. Sedangkan Hanna menunggu Rey datang, itulah kenapa dia masih memakai gaun pengantin itu.
Bosan menunggu Rey yang tak kunjung datang. Hanna mencoba mengusir rasa bosannya dengan bermain ponsel. Mungkin saja ada beberapa artikel yang menarik, pikirkan nya.
Gerakan tangan Hanna terhenti setelah dia membaca sebuah artikel yang mengatakan jika seorang aktor berinisial 'D' akan kembali ke negara kelahirannya. Dan inisial D yang dimaksud tentu saja Hanna tau.
"Hanna,"
Perhatian Hanna teralihkan sepenuhnya oleh suara berat seorang pria yang masuk dan berkaur di dalam telinganya. Wanita itu menoleh.
Seorang pria tampan yang memakai kemeja biru navy dan vest abu-abu kombinasi hitam berjalan menghampirinya, dengan kedua tangannya yang tersembunyi di dalam saku celananya.
Sudut bibir Hanna tertarik ke atas menyambut kedatangan pria yang dalam beberapa hari ini akan menjadi suaminya. Hanna berdiri, sebuah ciuman langsung mendarat manis bibirnya.
"Kenapa kau memintaku menunggu? Apa kau ingin memilih gaun lain yang akan kupakai nanti?" Hanna menatap Rey yang berdiri didepannya.
Rey menggeleng. "Kau sudah menemukan gaun terbaik. Untuk apa memilih lagi? Aku kesini justru karena ingin melihatmu memakai gaun ini secara langsung." Jawabnya Rey dan sekali lagi mencium bibir Hanna.
Hanna mengalungkan kedua tangannya pada leher Rey. Wanita itu memiringkan kepalanya, dan bibirnya bergerak menuju bibir pria di depannya. Hanna menguasai ciuman itu sepenuhnya, bibirnya terus mel*mat bibir Rey dan menginvasi nya.
"Aku tidak suka di dominasi, Sayang." Ucap Rey dan mengambil alih ciuman tersebut.
Hanna membiarkan Rey terus menginvasi bibirnya. Mel*mat dan memagutnya dengan keras. Ciuman mereka semakin lama semakin dalam dan menuntut. Namun sayangnya ciuman itu tidak berlangsung lama, Rey sadar posisi mereka mereka saat ini.
"Kita lanjutkan nanti. Aku suka dengan gaun pilihanmu, kita ambil yang ini. Ayo, aku akan membantumu melepas gaun ini." Hanna mengangguk. Sebenarnya dia sudah sangat gerah dengan gaun cantik yang melekat ditubuhnya itu.
-
Bersambung.
__ADS_1