PARTNER RANJANG TUAN MUDA "Sekuel Hot Daddy"

PARTNER RANJANG TUAN MUDA "Sekuel Hot Daddy"
Kehilangan Arah


__ADS_3

Hanna terus berlari tanpa arah. Air matanya tumpah membasahi wajah cantiknya. Seharusnya dia tidak merasa sesesak ini, tapi kenapa saat mendengar jika kemungkinan ia dan Rey bersaudara membuat hatinya seperti tertimpa bongkahan batu besar.


Hati Hanna hancur, entah disadari atau tidak, perasaan itu telah tumbuh di dalam hatinya. Entah sejak kapan perasaan itu tumbuh, Hanna tidak tau. Yang jelas perasaan itu kini membuat hatinya sesak.


Di dalam kegelapan malam dan di bawah sinar sang rembulan. Hanna terus berlari tanpa arah, sesekali Ia terjatuh dan segera bangkit lagi.


Entah sudah berapa banyak luka yang Ia dapatkan pada kedua kakinya serta siku lengannya, namun rasa sakit dan perih yang ada di tubuhnya tidak sesakit hatinya yang telah hancur menjadi kepingan-kepingan kecil.


Wanita itu menghentikan langkahnya yang mulai terseok-seok akibat luka pada lututnya yang terus mengeluarkan darah, Hanna mendongak menatap Sang Dewi malam yang perlahan cahayanya mulai memudar dan tertelan awan hitam.


Gelapnya malam ini segelap hatinya, cahaya dalam hatinya mulai memudar dan redup bagaikan malam tanpa cahaya sang Rembulan.


Pernikahan yang dia pikir akan berakhir bahagia, ternyata hanya tinggal angan-angan saja. Bagaimana tidak, pria yang selama ini hidup bersamanya, kemungkinan besar adalah saudara kandungnya.


Ada darah sama yang mengalir dari tubuh mereka berdua, sulit bagi Hanna untuk bisa menerima kenyataan itu begitu saja. Bagaimana tidak, karena dia sudah terlanjur mencintainya.


SREGGGG ,,, !!! ,,,


Gadis itu menoleh kebelang. Tak ada siapa-siapa selain ranting-ranting kering dari pepohonan yang memenuhi seluruh penjuru hutan.


Suara burung gagak yang terbang di atas sana seakan mengundang kematian, waktu seakan terhenti detik itu juga. Semua diam, bahkan desiran angin pun tak lagi terasa. Hanna kembali mengayunkan kakinya secara bergantian, melewati jalan terjal yang mengarah pada tebing curam.


Kedua kakinya tak beralas menimbulkan rasa dingin dan sakit yang luar biasa akibat tajamnya bebatuan yang Ia pijaki. Telapak kakinya penuh luka dan darah membekas pada tanah dan setiap bebatuan yang di pijakinya, entah jawaban apa yang ingin Ia temukan di atas sana?


Mungkinkah sebuah jawaban dari keraguan hatinya, namun itu sangat mustahil.


Malam kian pekat cahaya rembulan kian meredup. Tak ada yang bisa Hanna temukan di ujung langkahnya, ujung kakinya berhenti tepat di bibir jurang yang sangat terjal.


Angin malam berhembus perlahan menerbangkan beberapa helai rambut panjangnya yang terus melambai karena terjangan angin. Dinginnya malam tak bisa lagi Ia rasakan, bahkan rasa sakit pada kakinya tidak lagi terasa.


Karena rasa sakit itu tidak separah hatinya yang berdarah, bibirnya bergetar. Isakan semakin keras terdengar, sampai ribuan cairan-cairan kristal bening bercucuran membasahi wajah cantiknya yang sebab.


Hanna masih berdiri di sana, perlahan Ia memejamkan matanya. Dengan ragu Ia melangkahkan satu kakinya yang mungkin akan menenggelamkan tubuhnya seperti rembulan malam yang termakan kegelapan.


"Apa yang kau lakukan?!" Hanna tersentak setelah mendengar teriakan keras dari arah belakang.

__ADS_1


Sontak Ia menoleh dan sosok Rey telah berdiri tepat di belakangnya. Dengan terpaksa Ia menarik kembali kakinya membuat butiran batu melayang dan jatuh kedasar jurang.


"Rey, kaukah itu?" Gumam Hanna dengan suara tertahan.


Hanna tidak dapat melihat dengan jelas wajah pria yang berdiri sekitar 3 meter dari tempatnya karena terhalang air mata. Namun dia sangat mengenal jelas suaranya.


"Menjauh dari sana!!" Bentak Rey dengan suara meninggi.


Rasa hangat seketika menyelimuti perasaan Hanna melihat kedatangan pria itu di sana, rasa hampa yang sejak tadi memenuhi ruang dalam hatinya kini terisi karna kedatangannya.


"Bagaiama kau bisa berada di sini?" Pertanyaan amburadul macam apa yang Hanna lontarkan sebenarnya.


Ia berkata seakan tidak bertemu lama dengan Rey, wajar saja karena saat ini jiwanya terguncang hebat akibat kenyataan pahit yang baru saja di terimanya. Rey berjalan menghampiri Hanna dan berhenti tepat di hadapannya.


"Aku tidak tau apa yang telah Mamiku katakan padamu, sampai-sampai membuatmu menjadi seperti ini. Hanna, apa yang terjadi, kenapa kau tiba-tiba saja berlari dan pergi ke tempat seperti ini?!"


"Karena aku ingin mati!!"


"Apa kau sudah tidak waras?!"


Hanna menjatuhkan tubuhnya begitu saja. Berkali-kali dia memukul dadanya yang terasa sesak. Rasanya Hanna ingin mati saja detik ini juga.


Dia sudah tidak mampu lagi menghadapi dunia. Bagaimana tidak, pria yang selama ini hidup bersamanya layaknya suami-istri adalah kakaknya sendiri. Meskipun sebenarnya dia masih meragukan kebenarannya.


Hanna tidak ingin percaya, tapi fakta yang ada membuat dia merasa hancur sangat hancur. Hanna kembali menangis dan kali ini lebih keras dari sebelumnya.


"Hanna, aku mohon bicaralah. Katatan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau sampai bersikap seperti ini?!" Tanya Rey meminta penjelasan.


"Kita sudah melakukan dosa besar, Rey. Kita sudah melakukan kesalahan yang sangat besar. Bumi dan langit akan mengutuk kita. Kita tidak akan pernah diampuni."


Rey memicingkan matanya. "Apa maksudmu? Sebenarnya apa yang kau bicarakan?!"


"Karena kemungkinan kita berdua adalah kakak beradik. Banyak fakta yang menunjukkan jika aku adalah putri orang tuamu yang hilang, salah satunya adalah tanda lahir di punggungku ini."


"Apa?" Rey menatap Hanna seolah tak percaya dengan apa yang baru saja Hanna katakan.

__ADS_1


"Kita bersaudara , Rey."


"Lelucon macam apa yang kau katakan ini, Hanna Kim?! Jika kau memang tidak setuju menikah denganku, tidak usah mencari alasan yang tak masuk akal seperti ini!!", Bentak Rey penuh emosi.


"INI BUKAN LELUCON!!" teriak Hanna emosi. Wanita itu menangis semakin kencang.


Rey menatap Hanna dengan pandangan gamang. Rasa tidak percaya masih terlihat jelas di matanya. "Konyol," pria itu berkata lirih.


Hanna tiba-tiba mengangkat wajahnya dan menatap lekat-lekat wajah pria di depannya . Senyum pahit terlukis jelas di wajah cantiknya.


"Apakah aku sedang bermimpi, Rey? Ataukah aku baru saja terbangun dari mimpi buruk?" Ucap Hanna dengan nada yang begitu menyayat.


"Berhentilah mengatakan omong kosong!!"


"Bagaimana kau bisa menemukan aku di sini? Apa kau mencemaskanku?" Lagi-lagi wanita itu melontarkan pertanyaan yang menurut Rey sangat tidak masuk akal.


Rey mendesah berat. Pria itu menarik Hanna ke dalam pelukannya dan mendekap erat tubuhnya. Pria itu memejamkan kedua matanya sambil mengeratkan pelukannya.


"Dimana pun kau berada, aku pasti akan menemukanmu. Karena hati kita sudah saling terhubung. Mungkin yang kita jalani hanyalah sebuah hubungan semu. Tapi percyalah jika kau adalah wanita yang sangat berharga dalam hidupku."


"Aku tidak peduli apapun statusmu. Kita akan selalu bersama hingga akhir nafasku. Siapa pun dirimu, aku tidak peduli meskipun pada kenyataannya kau adalah adikku. Selamanya aku akan tetap menjadi pria mu, dan hanya kau yang layak berada di sisiku." Tutur Rey panjang lebar.


"Rey," Hanna memeluk Rey erat sambil terus menyeruhkan namanya.


Dia tidak tau bagaimana akhir kisahnya dan Rey nantinya. Apakah semua akan berakhir dengan bahagia, atau justru dengan uraian air mata....


-


(SPOILER UNTUK BAB SELANJUTNYA)


"Hasilnya negatif, Hanna...ternyata bukan Lovely kita."


"Kami merestui kalian untuk menikah, kalian adalah pasangan yang sangat serasi. Maaf, karena salah paham, kalian nyaris saja berpisah."


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2