PARTNER RANJANG TUAN MUDA "Sekuel Hot Daddy"

PARTNER RANJANG TUAN MUDA "Sekuel Hot Daddy"
Pertemuan Aster Dan Hanna.


__ADS_3

Jantung Hanna berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya. Gugup terlihat jelas dari gurat wajahnya. Bagaimana tidak, hari ini, saat ini, detik ini Rey akan mempertemukan dirinya dengan ibunya.


Jari-jari lentiknya yang saling meremas terlihat berkeringat. Tidak pernah Hanna segugup ini. Rey yang menyadari sikap Hanna hanya bisa mendengus geli. Karena tidak biasanya dia bersikap seperti ini.


"Tenanglah, tidak perlu segugup ini. Ibuku orang yang baik kok, dia tidak akan menggigit juga."


"Tetap saja, Rey. Aku tidak bisa merasa tenang. Aku gugup, sangat-sangat gugup."


Rey menggenggam jari-jari lentik Hanna. Bibirnya mengurai senyum tipis. "Kau tenang saja, ibuku pasti akan menyukaimu." Ucap Rey meyakinkan.


Hanna mencoba membuat dirinya setenang mungkin. Namun kegugupan kembali mendera hatinya ketika mobil yang dikemudikan oleh Rey berhenti di sebuah bangunan mewah yang memiliki tiga lantai, kediaman utama keluarga Xiao.


Rey turun dari mobil tersebut diikuti Hanna yang kemudian berdiri disampingnya. Rey mengulurkan tangannya yang kemudian disambut oleh si wanita. Keduanya berjalan beriringan memasuki kediaman keluarga Xiao.


"Jangan gugup, semua akan baik-baik saja." Ucap Rey yang kemudian dibalas anggukan oleh Hanna.


-


-


-


Tau akan ada tamu yang datang. Dengan dibantu beberapa pelayan, Aster menyiapkan makan malam. Rey mengatakan akan mengenalkan seseorang padanya, yang menurut putranya itu adalah orang yang kelak akan menjadi menantu keluarga Xiao.


Mendengar suara deru mobil yang memasuki halaman membuat perhatian Aster teralihkan. Wanita itu meninggalkan dapur dan bergegas menuju ruang utama untuk menyambut tamunya


Cklekk...


Pintu besar nan tinggi itu terbuka dengan lebar. Sosok wanita berusia 46 tahun berparas anggun dan bertubuh indah, berdiri di sana dalam balutan dress hitam yang sangat kontras dengan kulitnya yang seputih porselen.


Tubuh Hanna dan Aster sama-sama terpaku. Dua mutiara berbeda warna milik mereka saling menatap selama beberapa saat. Aster memperhatikan Hanna dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu kembali ke wajahnya lagi.


Paras cantik yang Hanna miliki mengingatkan Aster pada masa mudanya dulu. Jika boleh jujur, wajah Hanna dan dia saat muda bak pinang di belah dua. Bedanya Hanna lebih dewasa, tidak seperti dirinya yang kekanak-kanakan.

__ADS_1


"Ya Tuhan, jika saja bayiku masih hidup. Pasti Lovely sudah seusia perempuan ini." Lirih Aster membatin.


Ada sebuah rahasia besar yang tidak di ketahui banyak orang kecuali Nathan dan kedua buah hati mereka. Jika Aster pernah hamil lagi 4 tahun setelah kelahiran Rey. Saat itu Aster dan Nathan sedang berada di luar negeri, sementara Laurent berada di Korea.


Nathan sedang mengurus proyek besar yang mengharuskan dia berada di Inggris selama beberapa tahun, awalnya Nathan hanya pergi sendiri, namun beberapa bulan kemudian Aster menyusul ke sana bersama Rey yang pada saat itu baru berusia 3 tahun. Laurent menolak untuk ikut karena harus bersekolah.


Dua tahun di Inggris, Aster kembali hamil. Tapi sayangnya kandungannya saat itu sangat lemah. Resiko keguguran sangat tinggi sehingga dokter menyarankan supaya dia tidak kelelahan apalagi melakukan perjalanan jauh.


Aster berhasil menjaga kandungannya sampai akhirnya dia melahirkan. Namun duka menghampiri mereka, bayi yang belum genap berusia satu Minggu itu menghilang dan tidak ditemukan jejaknya.


Ada beberapa sumber yang mengatakan jika ada seorang suster yang tergabung dalam sindikat gelap menculik bayi mereka dan menjualnya pada orang kaya yang memang tidak memiliki anak demi sebuah keuntungan besar.


Nathan sudah mencoba melacaknya, menyebar semua anak buahnya, tapi tetap saja dia tidak bisa menemukan keberadaan putri bungsunya. Dan hal tersebut sempat membuat Aster mengalami depresi.


Mereka sangat kehilangan, begitu pula dengan seluruh keluarga Xiao termasuk Laurent.


Dia sangat menantikan adiknya itu, tapi Tuhan malah berkehendak lain. Sedangkan Rey pada saat itu masih sangat kecil sehingga dia tidak mengingat jika pernah memiliki adik perempuan.


"Mi, dia Hanna. Gadis yang aku ceritakan pada Mama. Dan rencananya kami akan segera menikah, aku akan menikahi Hanna akhir pekan ini."


"Tapi, Rey. Apa ini tidak terlalu terburu-buru? Kita belum mekiliki persiapan apapun,"


"Itu tidak perlu, Mi. Aku dan Hanna telah sepakat untuk menggelar pernikahan kami secara sederhana. Tidak penting semua kemewahan itu, yang terpenting adalah restu dari Mami."


"Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh orang tua, selain memberikan restu pada putra-putrinya." Ucap Aster sambil menatap keduanya bergantian.


"Itu sudah lebih dari cukup untuk kami, karena restu Mami adalah hal yang paling utama." Aster menghampiri Rey dan Hanna lalu memeluk mereka berdua.


Hangat dan nyaman...


Adalah dua hal yang Hanna rasakan ketika sepasang tangan itu memeluknya dengan erat dan hangat. Sedangkan Aster merasakan getaran berbeda ketika Hanna membalas pelukannya.


Keduanya sama-sama memejamkan mata, menikmati kehangatan pelukan masing-masing. "Ya Tuhan, jika saja Lovely ku masih hidup. Pasti dia sudah sebesar gadis ini." Ucap Aster membatin.

__ADS_1


Kemudian Aster melepaskan pelukannya. Bibirnya mengurai senyum lebar. "Ayo, Mami sudah menyiapkan makan malam untuk kita semua."


"Gavin, berhenti menghubunginya terus. Karena aku yang lebih dulu mengenal Veronica!!"


"Tidak bisa!! Veronica adalah gadis impianku. Dan dia lebih menyukaiku dibandingkan dirimu!!"


"Itu karena kau serakah!! Jika kau tidak menikung ku terlebih dulu, pasti Veronica sudah menjadi milikku!!"


Perhatian mereka bertiga teralihkan oleh perdebatan dua BU-DI yang sedang memperebutkan satu perempuan. Siapa lagi mereka jika bukan Gavin dan Rio.


Rio mengenal seorang perempuan bernama Veronica, tapi dengan entengnya Gavin merebutnya dan mengajak perempuan itu berkencan tanpa sepengetahuan Rio. Tentu saja hal tersebut membuat Rio sangat marah dan kesal setengah mati.


"Pokoknya kau harus berhenti dan tinggalkan dia, atau aku akan membuka aibmu di depan semua orang kalau kau suka memakai boxer dan celana dal*m berwarna pink?!"


"Kau pikir kau sendiri yang bisa mengancamku?! Aku juga punya rahasia tentang dirimu. Kau masih suka menghisap Dot susu saat mau tidur." Gavin tak mau kalah. Dia juga mengancam akan membuka aib Rio di depan semua orang.


Rey yang melihat perdebatan konyol mereka hanya bisa mendengus geli. Dia tidak tau kapan kedua pamannya itu akan bersikap dewasa dan tidak lagi seperti bocah.


"Paman cukup!! Hentikan perdebatan konyol kalian. Apa kalian tidak malu dengan umur?! Kalian bukan anak kecil lagi," tegur Rey dan menghentikan perdebatan mereka berdua.


Glukkk...


Susah payah Gavin dan Rio menelan saliva nya. Melihat tatapan Rey yang begitu tajam membuat keduanya serasa seperti sedang uji nyali.


Rey benar-benar Nathan versi muda, pemuda itu tidak hanya mewarisi wajah Nathan, tapi juga semua yang ada di dalam dirinya. Termasuk sifat dan tempeamen buruknya.


"Sudah-sudah, hentikan kalian berdua. Sebaiknya sekarang kita makan malam. Hanna, ayo. Jangan hiraukan mereka." Hanna hanya mengangguk.


Baru saja mereka hendak meninggalkan ruang tamu dan berjalan menuju meja makan. Suara pintu di buka dari luar menyita perhatian semua orang. Tubuh Aster, Rey, Gavin dan Rio menegang, mata mereka membelalak melihat sosok yang berdiri di depan pintu sambil mengurai senyum lebar.


"Apa kalian akan makan malam tanpa diriku?!"


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2