
Erangan dan des*han menggema diruangan itu, sebuah kamar mewah dengan gaya klasik. Dinding yang di dicat dengan perpaduan warna putih gold itu tidak terlihat kontras karena keadaan kamar yang remang. Hanya cahaya bulan yang berasal dari pintu balkon yang sengaja dibuka.
"Rey..."
"Teruslah mend*sah, Sayang."
"Aahh.."
Pergumulan dua mahkluk itu terus berlanjut. Ranjang yang berdecit ribut, permukaan dua tubuh tanpa bus*na yang begitu panas, hawa dominasi yang begitu kuat menguar di sebuah ruangan tersebut.
"Kau s-semakin basah dan hangat, Baby~"
"Sshh, Rey a-aku..ahh…"
Tak terhitung berapa kali mereka telah mencapai puncaknya, yang pasti kegiatan panas mereka terus berlanjut.
Tak peduli keringat membuat warna kilau di tubuh pol*s keduanya, tak peduli nafas nyaris terputus akibat kenikmatan yang terlalu berlebih, tak peduli suara semakin serak hasil rintihan dan des*han sepanjang malam.
"Kau lelah?"
"Lanjutkan, Rey, ini terlalu nikmat untuk dihentikan."
Begitulah, Hanna pasti menolak untuk berhenti. Ketika dia merasakan kenikmatan yang tak terbantahkan itu. Dan entah sudah berapa kali mereka melakukan pelepasan, namun semua itu tidak akan cukup. Mereka baru mengakhiri kegiatan panasnya ketika fajar hampir tiba.
"Rey, bisakah kau mencabut milikmu dari lubang buayaku terlebih dahulu sebelum kau benar-benar tidur?" bisiknya tepat ditelinga pria itu.
"Tidak!!"
"Rey, berhentilah bersikap menyebalkan!!" Geram Hanna namun dihiraukan begitu saja oleh pria itu.
Rey mengeratkan pelukannya pada tubuh polos Hanna dan berguling, sehingga posisinya sekarang dibawah wanita itu. Tangannya terulur mengusap dan memeluk punggung polos si wanita. Sampai akhirnya mereka sama-sama tertidur.
Banyak yang mengira jika Hanna dan Rey adalah sepasang kekasih atau bahkan suami-istri. Wajar saja jika banyak orang yang berpikir demikian, karena mereka selalu bersama setiap ada kesempatan.
Dan tak jarang Rey membawa Hanna mendatangi acara-acara penting baik itu di dalam atau luar negeri. Rey memperkenalkan wanita itu pada semua kolega dan rekan bisnisnya, itulah kenapa mereka berpikir jika Hanna salah pasangan Rey.
Tapi kenyataanya tidaklah seperti apa yang orang pikirkan. Kebersamaan mereka hanya untuk memuaskan nafsu semata. Tak ada cinta dalam hubungan mereka, begitulah yang Hanna pikirkan. Seandainya ada pun, perasaan itu harus segera dihentikan!!
.
.
__ADS_1
.
Cahaya sang surya mulai memasuki kamar itu, kamar yang menjadi saksi setiap kegiatan mereka di atas ranjang. Rey bangun lebih awal dan menyiapkan sarapan untuk Hanna juga dirinya.
Jika biasanya menyiapkan sarapan adalah pekerjaan wanita, maka yang terjadi diantara mereka malah sebaliknya. Hanna sangat payah dengan urusan dapur.
Jangankan untuk memasak makanan yang bisa di makan. Merebus air saja dia tidak bisa. Itulah kenapa Rey melarang Hanna untuk masuk ke dapur, dia tidak ingin keracunan untuk yang kedua kalinya karena masakan wanita itu.
"Duduklah, ayo kita sarapan. Aku sudah menyiapkan makanan untukmu." Ucap Rey sambil meletakkan menu terakhir yang dia buat di atas meja.
Hanna menyapukan pandangannya. Dia merasa heran dan aneh melihat keadaan Villa yang legang. "Dimana para pelayan? Kenapa kau menyiapkan sarapan sendiri? Aku juga tidak melihat mereka."
"Aku menyuruh mereka untuk pulang. Kita tidak butuh banyak pelayan di sini. Cukup satu pelayan dan seorang tukang kebun serta dua Bodyquard untuk berjaga di sini." Jawab Rey.
"Aku masih tidak mengerti, kenapa pagi ini otakku lama sekali loading nya?" Ucap Hanna.
"Sudah, jangan banyak berpikir lagi, sebaiknya kita sarapan sekarang sebelum makanannya menjadi dingin." Ucap Rey yang kemudian di balas anggukan oleh Hanna.
"Baiklah."
-
-
-
Dan sejak saat itu, dia tidak ingin lagi membangun sebuah komitmen dengan lawan jenisnya, itulah kenapa Hanna begitu menikmati hubungan tanpa status yang dia jalani bersama Rey.
Bagi Hanna, cinta sejati dan kisah yang indah hanya ada dalam sebuah dongeng belaka.
Rey pernah menawarkan sebuah pernikahan, tapi Hanna menolaknya karena dia tidak ingin terikat oleh hubungan apapun. Hanna tidak peduli bagaimana orang akan menilainya, karena ini adalah hidupnya, jalan yang menurutnya terbaik yang telah dia pilih.
"Hanna." Seru Derby saat melihat kedatangan sahabatnya itu.
"Der, kenapa kau bisa ada di sini?"
"Aku sengaja menunggumu. Temani aku ke Mall. Mama ulang tahun hari ini, dan aku berencana membelikan kado untuknya."
"Eh, jadi hari ini Bibi NingNing ulang tahun?" Derby mengangguk. "Baiklah kalau begitu, aku juga akan membeli kado untuknya."
Derby membukakan pintu untuk Hanna dan mempersilahkan wanita itu untuk masuk. Hanna sudah tidak memiliki ibu lagi, dia sangat sensitive jika sudah berhubungan dengan yang namanya ibu. Apalagi Ibu Derby sangat baik padanya.
__ADS_1
15 menit perjalanan. Mereka tiba dipusat perbelanjaan. Hanna dan Derby berjalan beriringan meninggalkan parkiran dan menuju dalam mall. Entah kado apa yang akan Hanna beli untuk Ibu dari sahabatnya ini. Dia menginginkan sesuatu yang istimewa.
"Hanna, bukankah itu adalah ibu tiri mu?" Hanna berhenti dan mengikuti arah tunjuk Derby.
Dari tenpatnya berdiri, dia melihat Vina yang sedang bersama pria lain. Tak ingin kehilangan moment luar biasa itu. Hanna segera memotretnya dan mengirimkannya pada sang ayah. Dia ingin melihat perang dunia kedua antara Kim Tan dan istri tersayangnya itu.
"Sudah biarkan saja, mereka tidak ada urusannya denganku." Hanna menarik Derby dengan tidak sabaran dan membuat pria itu nyaris terjungkal karena ulahnya.
Setelah menemukan hadiah untuk ibu Derby. Hanna pergi ke boutique yang hanya menyediakan pakaian khusus pria. Sekalian jalan, Hanna berencana membeli kemeja untuk Rey. Dia tidak ingat kapan terakhir kali membeli baju untuk pria itu.
"Apa kau berencana membelikan setelan jas untukku?" Tanya Derby begitu antusias ketika Hanna berjalan diantara deretan jas dengan berbagai merk ternama dunia.
"Dalam mimpimu!!"
"Lalu untuk siapa kau ingin membelinya?"
"Tentu saja untuk teman ranjang ku, siapa lagi." Jawabnya acuh tak acuh.
Derby memicingkan matanya. "Maksudmu pria itu?" Hanna menoleh lalu mengangguk. Untuk apa pula dia harus membohongi Derby, karena pada kenyataannya dia memang ingin membeli pakaian untuk Rey.
"Sepertinya ini tidak buruk!!"
Hanna melihat dan mengamati sebuah kemeja hitam lengan terbuka yang memiliki slim body, yang artinya pas ditubuh Rey. Tak hanya mengambil satu kemeja. Hanna mengambil lima tentu dengan model berbeda. Dua lengan panjang dan tiga lengan terbuka.
Setelah mendapatkan barang pilihannya. Hanna membawanya menuju kasir lalu membayarnya. Tak tega melihat Derby yang terus merengek. Akhirnya Hanna membelikan satu kemeja untuknya. Dan itu membuatnya sangat gembira.
"Hanna, sedang apa kau di sini?" Langkah kaki Hanna terhenti detik itu juga setelah dia mendengar suara dingin seorang pria masuk dan berkaur di dalam telinganya.
Sontak saja Hanna menoleh dan mendapati Rey berjalan menghampirinya. Tidak hanya sendiri, dia bersama asisten pribadi dan beberapa staf Mall.
"Rey, kau ada di sini juga?" Alih-alih menjawab pertanyaan pria itu. Hanna malah balik bertanya tanpa rasa berdosa sedikit pun.
Hanna tau jika Rey sedang kesal karena dia jalan bersama orang lain. Tapi wanita itu mencoba untuk meredam kekesalannya. "Aku menemani temanku membeli kado ulang tahun untuk ibunya, dan aku membelikan sesuatu untukmu juga." Hanna menunjukkan paper bag yang ada di tangannya.
"Akan ada badai hari ini, sebaiknya kau segera pulang dan jangan pergi kemana pun lagi. Aku akan menemui mu setelah pekerjaanku selesai." Ucap Rey yang kemudian dibalas anggukan oleh Hanna.
"Baiklah."
-
Bersambung.
__ADS_1