
Hamparan padang bunga Daisy menghiasi gundukan bukit. Satu per satu tangkai bunga bergerak kesana kemari tertiup semilir angin musim semi.
Matahari sudah menggantung di ufuk barat. Lembayung senja memayungi permadani langit. Nyanyian burung-burung camar mengalun dari seberang, memanggil jiwa yang lain agar turut serta bernyanyi bersama mereka.
Hanna berjalan meniti padang bunga Daisy itu dengan riang. Ayunan langkah kakinya seirama dengan kicauan burung camar yang berbondong-bondong terbang untuk kembali ke sarangnya.
Daun Maple terusb berguguran dari pohonnya kemudian menyelimuti tanah basah yang berwarna kecoklatan.
Tanah bukit menebarkan bau basah selepas hujan, disertai embun yang menetes di setiap kelopak dedaunan. Hanna menginjakkan kakinya di hamparan padang bunga yang tengah bermekaran. Sangat indah.
Warnanya begitu elok dan menyejukkan mata. Campuran warna merah,Β pinkΒ dan magenta berbaur menjadi satu. Tanah yang gembur terasa empuk dan nyaman di kaki kecilnya.
Wanita itu tak henti-hentinya berdecak kagum pada ciptaan Tuhan satu ini.
Wangi bunga Daisy yang khas menggelitik hidungnya dengan semerbak. Pandangan matanya tertumbuk ke arah sosok pria yang tengah duduk di atas rumput subur yang ditumbuhi ilalang. Gadis itu menghampirinya dengan senyum indah yang tersungging di wajah cantiknya.
Hanna duduk bersimpuh seraya tersenyum manis pada pria itu yang pastinya adalah Rey."Sudah lama menungguku?" Kelopak mata itu perlahan terbuka, memperlihatkan Biner sewarna galaxy yang terlihat begitu mempesona.
"Kau terlambat 10 menit, Nyonya Muda." Ucap Rey dan membuat ekspresi Hanna berubah seketika.
Wanita itu menatap sebal suaminya. "Ck, dasar patung es menyebalkan. Aku hanya terlambat 10 menit dan kau langsung melayangkan protes. Sungguh, kau bukan suami yang romantis. Seharusnya kau menyambut ku dengan manis."
"Terlalu mengerikan!!"
Hanna mendengus sebal. Bagaimana bisa dia menikahi pria seperti balok es berjalan. Rey memang tidak ada romantis-romantisnya, dan dia sangat manis ketika mereka menjadi partner di atas ranjang saja. Setelahnya dia akan kembali pada sifat aslinya, dingin dan menyebalkan.
"Sepertinya sia-sia saja aku datang kemari, kau menyebalkan Rey!!" Hanna hendak pergi dari sana, namun segera ditahan oleh Rey. Tubuh wanita itu jatuh dipangkuan suaminya.
"Kau pikir bisa kabur begitu saja setelah mendebat ku, Nyonya Muda." Ucap Rey sambil mengunci langsung ke dalam manik mata Hanna.
Hanna mengangkat lengannya dan memeluk leher Rey. Mata mereka saling menatap dan mengunci. Kesal masih terlihat jelas pada mimik muka Hanna karena sikap menyebalkan Rey.
"Giliran mau pergi saja kau baru bersikap seperti ini, dasar suami menyebalkan!!" Hanna menggerutu masih dengan menatap Rey dengan sebal.
"Lalu kau ingin supaya aku bagaimana, Hanna? Bukankah memang begini diriku, aku tidak bisa menjadi orang lain yang harus berkata manis setiap detik dan waktu."
"Bukan itu, aku tidak butuh rayuan gombal mu, tapi setidaknya lakukan hal manis layaknya suami pada umumnya. Misalnya seperti~"
__ADS_1
"Ini?!" Rey menyela cepat.
Pria itu memberikan sebuah bunga dan coklat pada Hanna. Rey memang sudah menyiapkannya dan menyimpan kedua barang itu di samping dia duduk, sehingga Hanna tidak menyadarinya.
Hanna menerima bunga dan cokelat itu dengan wajah berseri-seri. Dia sangat menyukai dengan kejutan yang Rey berikan. Dan inilah yang Hanna maksud tadi.
"Nah begini dong, ini baru namanya suami yang romantis. Terimakasih, Rey. Aku menyukainya." Ucap Hanna.
"Lalu apa imbalannya untukku?"
"Ini." Hanna menangkup wajah Rey lalu mengecup singkat bibirnya. "Dan malam ini kau akan mendapatkan lebih."
"Dan aku sangat menantikannya." Jawab Rey dan kembali membenamkan bibirnya pada bibir Hanna.
Rey mel*mat dan memagut bibir Hanna dengan lembut, memberikan gigitan dan hisapan kecil pada bibir ranum itu. Tidak ada penolak kan, Hanna justru menerimanya dengan sangat baik.
Kedua tangan Hanna kembali memeluk leher Rey, ketika pria itu semakin memperdalam ciumannya. Ciuman Rey semakin dalam dan menuntut. Benar-benar sebuah ciuman manis dan sangat menghanyutkan.
Namun mereka harus segera mengakhiri ciumannya. Wajah Hanna memerah, dia sudah mulai kehabisan napasnya.
Menikmati langit senja bersama pasangan adalah hal paling romantis yang paling Hanna idam-idamkan. Dia dan Rey memang sering melewatkan Senja bersama, tau sebelum mereka memiliki sebuah hubungan yang pasti.
Semburat warna jingga yang memayungi langit senja memberikan arti tersendiri bagi Hanna. Karena Senja menyimpan 1000 makna yang tidak banyak diketahui oleh manusia, seperti senja yang setia pada langitnya, itulah yang Hanna inginkan.
"Apa yang membuatmu begitu menyukai senja?" Tanya Rey memecah keheningan.
"Karena Senja itu indah. Lihatlah warna langitnya, burung-burung camar yang terbang melintasi lautan, di tambah dengan semilir angin dan fenomena matahari terbenam. Bukankah semua itu sangat luar biasa?" Ujar Hanna.
"Ada satu hal yang lebih luar biasa dari semua itu." Ucap Rey membuat wajah Hanna kini terarah Padanya.
"Apa?"
"Kamu!!"
Blusshh...
Rona merah muncul di wajah Hanna. Wanita itu langsung tersipu malu setelah mendengar kalimat ringan namun penuh makna yang keluar dari bibir Rey, sampai-sampai Hanna kehilangan kata-kata setelah mendengar apa yang pria itu katakan.
__ADS_1
Hanna membuang muka ke arah lain. Supaya Rey tidak melihatnya. Dia terlalu malu dan gugup hanya untuk sekedar memandang wajah tampannya.
"Tiba-tiba aku lapar, ayo turun." Hanna bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja. Meninggalkan Rey sendiri yang masih bertahan dalam posisinya.
Pria dalam balutan t-shirt putih dan rompi hitam bertudung serta jeans belel itu hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah wanitanya.
Rey bangkit dari duduknya dan segera menyusul langkah Hanna yang semakin jauh.
.................-"-............β¦β¦
"Hanna, awas."
Rey menarik lengan Hanna ketika sebuah mobil melaju kencang ke arahnya. Nyaris saja wanita itu tertabrak jika Rey tidak lebih dulu menariknya.
"Apa kau gila?! Bagaimana kau bisa menyebrang tanpa melihat kanan-kiri dulu!!" Bentak Rey marah.
"Rey, aku~"
"Bagaimana jika mobil itu sampai menabrakmu!! Bagaimana kalau kau terluka parah karena kecerobohanmu itu!!"
Hanna menundukkan kepala tanpa berani membalas ucapan Rey lagi. Dia tidak menduga bila Rey akan semarah ini padanya. Mata Hanna membelalak, saat dia merasakan tarikan pada lengannya serta dekapan seseorang pada tubuhnya. Rey memeluknya.
Rey membenamkan wajahnya pada lengkungan leher Hanna. "Aku tidak mungkin bisa memaafkan diriku sendiri jika hal buruk sampai menimpamu, Hanna." Ucapnya.
Hanna mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Rey. "Maaf, Rey. Aku tidak menyadari jika ada mobil yang melaju dengan kencang. Maaf, sudah membuatmu ketakutan."
"Dasar bodoh, memangnya suami mana yang tidak ketakutan saat melihat istrinya dalam bahaya." Ucap Rey.
Hanna mengangkat wajahnya. Matanya dan Rey saling menatap dalam. "Rey, kenapa kau takut hal buruk sampai menimpaku? Apa yang membuatmu sampai se takut itu?"
"Karena aku takut kehilanganmu!!"
-
Bersambung.
Huhuhu π€§π€§π€§ Kenapa cerita ini sepi banget kayak kuburan ya. Banyak View tapi yang nangkring di sini bisa di itung sama jari ππ Ayolah kasih dukungan buat author biar makin semangat buat up setiap part-nya.
__ADS_1
Maaf kalau terkadang telat dan part nya terlalu pendek. Author dalam mode teler gara-gara hamil muda.
Terus dukung author ya, tinggalkan like koment nya πππ Author juga pengen rasain seperti para Author pames yang jumlah like koment nya banyak πππ