
PLAK!!
Tangan Andina ditahan oleh seseorang sebelum menyentuh dan mendarat di wajah Hanna. Seorang pria muda nan tampan yang entah dari mana datangnya tiba-tiba sudah ada diantara mereka berdua.
Dan kedatangannya tentu saja membuat Hanna terkejut setengah mati. Dengan keras kemudian dia memekik...
"REY!!"
Hanna sungguh-sungguh sangat terkejut dengan kemunculan Rey yang begitu tiba-tiba, begitu pula dengan Andina. Bagaimana tidak, seorang pria tampan yang entah dari mana datangnya tiba-tiba muncul di depannya.
Andina menatap pria di depannya tanpa berkedip sedikit pun, memandang wajah tampan itu dengan tatapan yang sulit di jelaskan. Hingga satu kalimat meluncur bebas dari bibirnya.
"Tampan," gumam Andina tanpa sadar..
Tanpa menghiraukan Andina yang sedang mesem-mesem seperti orang gila. Hanna menarik lengan Rey dan membawa pria itu keluar dari kamar tersebut. Dia tidak rela jika ada orang lain yang memperhatikan Rey sampai sedetail itu.
"Hanna, pelan sedikit. Kau membuatku hampir terjungkal." Seru Rey melayangkan protesnya.
"Kita harus pergi dari sini, aku tidak ingin jika kau sampai terlibat masalah juga dengan manusia-manusia bodoh itu." Jawab Hanna.
"Kenapa? Apa kau takut mereka akan menerkam ku, seperti seekor singa yang menangkap mangsanya?"
"Jangan konyol, lagipula belum saatnya kau ambil bagian dalam drama ini. Selain itu, ada hal yang lebih penting yang perlu kau lakukan untukku!!"
Rey memicingkan matanya. "Hal penting, apa?" Tanya pria itu penasaran.
Mereka tiba di anak tangga terakhir dan baru saja melewati ruang keluarga. Hanna menghentikan langkahnya begitu pula dengan Rey.
"Pergi kemana sebenarnya kau semalam? Kenapa tidak memberitahuku? Dan kenapa seharian ini ponselmu juga tidak bisa dihubungi? Apa kau tau bagaimana cemasnya diriku? Kau tiba-tiba menghilang dan tidak ada kabar sama sekali, aku~"
Chu...
Kalimat Hanna di intrupsi oleh Rey yang langsung membungkam bibirnya. Pria itu mel*mat dan memagut bibir wanita di pelukannya ini dengan kasar dan menuntut.
Meskipun awalnya sempat terkejut, namun akhirnya Hanna bisa menerima ciuman tersebut dengan sangat baik. Bahkan dia tak segan membalas ciuman Rey yang terkesan menuntut dan terburu-buru itu.
Dan Rey baru mengakhiri ciumannya setelah dia melihat wajah Hanna memerah karena kehabisan napasnya. "Kenapa kau masih saja payah, hm." Gumam Rey sambil menghapus sisa liur di bibir Hanna.
__ADS_1
Hanna berdecak dan menatap Rey sebal. Tapi itu tidak lama. Kemudian wanita itu menatap pria didepannya dengan serius. "Oya, Rey. Bagaimana kau bisa tau jika aku ada di sini?" Tanya Hanna sambil menatap pria itu penasaran.
"Karena hati kita selalu terhubung." Rey menarik gemas ujung hidung Hanna. Lagi-lagi wanita itu berdecak sebal. Bukan jawaban itu yang dia harapkan. "Apa urusanmu di sini sudah selesai?" Hanna mengangguk. "Ayo pulang."
Hanna menerima uluran tangan Rey sambil tersenyum lebar. Baru saja mereka hendak pergi dari sana, namun kedatangan Kim Tan menghentikan langkah keduanya. Pria itu menatap marah pada Hanna yang berani datang tanpa ijin darinya.
"Siapa yang mengijinkan mu menginjakkan kaki di rumah ini?!"
Hanna melepaskan pelukannya pada lengan Rey lalu menghampiri pria setengah itu. "Ini adalah rumah Ibuku, jadi untuk apa aku meminta ijin darimu?" Jawab Hanna sambil menatap Kim Tan dengan pandangan menantang.
"Rumah Ibumu?! Kau pasti bermimpi, ini adalah rumahku, hasil dari jerih payahku. Ibumu tidak ada hubungannya dengan rumah ini!!"
"Begitulah? Apa kau masih bisa mengatakan omong kosong lagi ketika pengacara yang angkat bicara? Sebaiknya segera persiapkan diri Papa, karena tak lama lagi aku akan kembali dan mengambil semua yang seharusnya menjadi milikku!! Rey, ayo pergi dari sini, terlalu lama di rumah ini membuatku muak!!"
"HANNA, BERANINYA KAU!!'
Prakk!!
Rey menarik Hanna ke dalam pelukannya dan menahan vas bunga yang Kim Tan lemparkan padanya dengan lengan kirinya. Akibatnya lengan Rey terluka dan cidera.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Rey memastikan, Hanna mengangguk.
"Urusan Hanna menjadi urusanku juga, karena dia adalah wanitaku. Dan mulai detik ini, kerja sama Kim Group dan Qin Empire berakhir. Aku akan mencabut semua saham yang di tanam di perusahaanmu!!"
Mata Kim Tan membelalak. "Apa maksudmu? Dan siapa kau sebenarnya?" Tanya pria itu penasaran.
"Papa buta ya? Perhatikan siapa yang ada dihadapanmu ini, hanya karena dia tidak memakai pakaian formalnya dan merubah sedikit tatanan rambut, jadi kau tidak mengenali pria ini lagi?" Sahut Hanna.
Lagi-lagi kedua mata Kim Tan membelalak. Pria itu langsung bersujud dan berlutut setelah menyadari siapa pria yang ada di depannya itu.
"Tuan Qin, maafkan saya. Sungguh, saya tidak mengenali Anda. Saya bersalah, jangan putuskan hubungan kerja sama kita dan~"
"Aku tidak bisa memberimu toleransi lagi. Aku sudah memberimu kesempatan terakhir, dan kau tetap melakukan kesalahan yang sama. Maka kali ini tidak ada kesempatan kedua lagi. Hanna, kita pergi!!" Rey merangkul bahu Hanna.
Keduanya berjalan beriringan meninggalkan kediaman keluarga Kim.
.
__ADS_1
.
.
"Apa?! Jadi sebenarnya Ibumu masih hidup dan selama ini dia terbaring koma, dan alasanmu pergi semalam adalah karena dia?!" Rey mengangguk.
Dia telah menceritakan semuanya pada Hanna. Rey memang tidak bisa berbohong apalagi menyembunyikan sesuatu dari wanita itu. Karena sejak awal memang tidak ada rahasia diantara mereka.
Saat ini mereka sedang berada di Villa yang sejak dua Minggu lalu di tempati oleh Hanna. Hanna baru selesai mengobati lengan kiri Rey yang terluka demi melindungi dirinya.
"Awalnya aku tidak percaya ketika seseorang mengirimkan sebuah video padaku. Aku pergi untuk memastikannya, dan ternyata itu benar Mami." Jelas Rey.
"Lalu bagaimana dengan ayah dan kakak perempuanmu? Apa mereka masih hidup juga?"
Rey menggeleng. "Laurent meninggal, sedangkan Daddy menghilang dan belum berhasil ditemukan sampai detik ini. Aku sendiri tidak tau apakah dia masih hidup atau sudah meninggal." Jawab Rey.
Hanna menangkup wajah Rey kemudian mengecup singkat bibir Kissable-nya. "Aku tau ini pasti sulit untukmu. Tapi kau harus bisa menerima dan berlapang dada. Jika dia masih hidup, seperti Mami mu, pasti beliau akan kembali ke sisimu." Tutur Hanna.
"Aku harap begitu." Jawab datar pria itu.
Hanna bangkit dari duduknya kemudian berjalan kearah tempat sampah untuk membuang kapas dan potongan kasa. "Aku merindukanmu, Hanna." Hanna tersentak kaget saat merasakan sepasang tangan tiba-tiba memeluknya dari belakang. Namun detik berikutnya sudut bibir itu tertarik ke atas.
Hanna melepaskan pelukan Rey kemudian merubah posisinya. Mereka berdiri saling berhadapan. "Aku juga." Jawabnya. Rey mendekatkan bibirnya pada bibir Hanna lalu meraup bibir tipisnya.
Sesaat kemudian Hanna merasakan bibir pemuda itu menyapu permukaan bibirnya. Hangat, lembut, manis seperti kue yang baru keluar dari oven. Dan Hanna membiarkan bibirnya dijajah untuk beberapa saat sebelum dia ganti mel*mat.
Kedua lengan Hanna menggalung pada leher Rey, sedangkan tangan pria itu memeluk pinggang Hanna dan membunuh jarak diantara mereka.
Mereka sama-sama tidak rela untuk mengakhiri ciumannya, namun kebutuhan untuk bernafaslah yang membuat mereka melepaskan tautan bibirnya, tapi itu pun singkat saja.
Bibir mereka tetap lekat bertaut, tangan-tangan mereka tak kalah sibuk merambah ketika Rey berjalan mundur dan Hanna maju bak pasangan dansa yang undur diri dari arena panggung, beringsut kembali ke tempat tidur yang baru saja mereka tinggalkan.
Tubuh Hanna jatuh di atas tempat tidur dengan Rey yang berada di atas tubuhnya. Pria itu menyeringai nakal ketika menatap wanita di bawahnya ini.
Hanna menarik tengkuk Rey dan bibir mereka kembali bertemu. Dan selanjutnya bukan lagi bibir mereka yang bersatu, melainkan tubuh dan raganya. Menjadikan malam yang dingin ini menjadi malam yang hangat dan panjang.
-
__ADS_1
Bersambung.