PARTNER RANJANG TUAN MUDA "Sekuel Hot Daddy"

PARTNER RANJANG TUAN MUDA "Sekuel Hot Daddy"
Mimpi Buruk Hanna


__ADS_3

"REY, TIDAK!!!"


Wanita itu terbangun dengan keringat bercucuran di sekujur tubuhnya, dan kepala berdenyut menyakitkan sementara nafasnya terengah-engah. Terbangun dari sebuah mimpi buruk memang selalu tidak menyenangkan.


Hanna berteriak histeris. Dia baru saja bermimpi buruk, sangat buruk malah, sampai-sampai membuatnya sangat ketakutan setengah mati.


Dalam mimpi itu, Hanna melihat Rey yang di bunuh oleh orang tidak dikenal tepat didepan matanya. Parahnya lagi mimpi itu terlihat seperti nyata.


"Hanna, ada apa? Apa kau bermimpi buruk?" Tegur Rey dengan mata masih setengah terbuka. Pria itu terbangun oleh teriakan Hanna, Rey terkejut.


"Rey!!" Tubuh Rey terhuyung kebelakang karena pelukan Hanna. Hanna memeluknya dengan sangat erat, seolah-olah dia takut jika pria itu akan menghilang dari sisinya, selamanya. "Hiks.. Hiks..."


Rey melonggarkan pelukannya dan menatap wanita itu penuh keheranan. Apakah mimpi yang dia alami seburuk itu? Sampai-sampai membuat Hanna ketakutan dan menangis, Rey menatap Hanna, jari-jari besarnya menghapus air mata yang membahasi wajah cantiknya.


"Sekarang katakan padaku, memangnya mimpi buruk apa yang kau alami sampai-sampai membuatmu menangis dan ketakutan? Apa kau bermimpi buruk tentang diriku?" Tanya Rey yang kemudian dibalas anggukan oleh Hanna.


"Mimpi yang sangat buruk. Bahkan lebih buruk dari yang kau bayangkan."


"Hanna, itu hanya mimpi, dan mimpi adalah bunga tidur. Sebaiknya sekarang tidur lagi. Jangan takut, mimpi tetaplah mimpi. Yang tidak mungkin terjadi dalam kehidupan nyata kita. Aku akan menemanimu, jadi jangan takut lagi."


Kemudian Rey menuntun Hanna untuk berbaring. Posisi mereka saling berhadapan. Sebelah tangan Rey melingkari pinggang Hanna, sedangkan dagunya bersandar pada kepala coklat terangnya.


Rey tidak tau mimpi apa yang Hanna alami sampai-sampai membuatnya begitu ketakutan. Apakah mimpi yang dia alami seburuk itu? Dia akan bertanya setelah Hanna mulai tenang.


-


-


-


Pesawat yang membawa seorang aktor ternama baru saja mendarat di bandara internasional kota S. Seorang pria dengan balutan pakaian casual turun dari pesawat yang membawanya. Tidak hanya sendiri, pria itu datang bersama timnya.


Pria itu menghentikan langkahnya. Pandangannya kemudian menyapu, menyusuri setiap inci kota kelahiran yang telah dia tinggalkan selama bertahun-tahun lamanya. Kota yang memberinya jutaan kenangan, baik itu indah maupun menyakitkan.


"Akhirnya aku tiba kembali di kota ini." Ucap pria itu masih dengan posisi yang sama. Kedua matanya tertutup rapat, sedangkan tangannya ia rentangkan.


Diego membuka kembali matanya. Pria itu melanjutkan langkahnya menuju mobil yang menunggu untuk menjemputnya. Dia harus tiba di lokasi konfrensi pers degan tepat waktu.


Kedatangannya bukan untuk sebuah pekerjaan. Tapi juga untuk memperbaiki apa yang dulu pernah dia hancurkan, dengan memperbaiki apa yang dulu telah retak karena perbuatannya.


-


-

__ADS_1


-


Hanna melirik jam yang melingkari pergelangan tangan kanannya. Hari ini dia berencana untuk bertemu dengan sahabat serta seseorang yang telah dia anggap sebagai kakaknya.


Memang, jarak usia antara Hanna dan orang itu hanya satu bulan, tapi dia menghargainya sebagai seorang kakak.


Pandangan Hanna menyapu. Dia sudah tiba di tempat mereka berjanji akan bertemu, tapi sosok yang dia cari belum juga menampakkan batang hidungnya.


"Hanny, Bunny, Sweety...!" Sampai seruan keras dari arah belakang mengalihkan perhatiannya. Hanna menoleh, senyum di bibirnya mengembang lebar melihat siapa yang sedang melambai padanya.


"Eonni..." Seru Hanna dan menghampiri wanita yang dia panggil Eonni itu. Kemudian mereka saling berpelukan selama beberapa saat, untuk melepas rindu. "Eonni, aku kangen."


"Eonni juga," jawab perempuan itu kemudian melepaskan pelukannya. "Bagaimana kabarmu, Han? Sepertinya kau dalam keadaan baik."


"Sangat baik malah, Eonni sendiri bagaimana?" Tanya Hanna balik.


"Seperti yang kau lihat, Eonni juga baik."


Hanna tersenyum lebar. "Lega mendengarnya. Nanti lagi saja mengobrol nya. Aku sudah sangat kelaparan, sebaiknya kita pergi cari makan dulu." Ucap Hanna yang kemudian dibalas anggukan oleh wanita itu.


.


.


Penasaran apa yang terjadi di sana. Hanna menarik Ara untuk mendekat untuk melihat apa yang terjadi di sana. Mereka sangat-sangat penasaran setengah mati.


"Permisi, permisi, permisi,"


Hanna membelah lautan manusia yang jumlahnya puluhan itu. Suaranya yang lembut dan merdu bak lonceng memaksa sebagian orang untuk menyingkir, memberikan ruang pada wanita itu untuk lewat.


"Sebenarnya ada apa ini? Kenapa kalian berkerumun di sini?" Tanya Ara penasaran.


"Kami menunggu idol kami, Diego Moella. Dia tiba hari ini dan sebentar lagi akan datang, dari informasi yang beredar, katanya Diego akan melakukan konferensi di gedung ini." Jawab salah satu fans girl itu.


Degg..


Hanna sedikit tersentak saat mendengar nama Diego disebut-sebut. Itu artinya orang yang mereka tunggu adalah pria itu, Diego. Tanya menghiraukan Ara, Hanna berjalan membelah dan meninggalkan kerumunan itu.


Ara yang tidak ingin ditinggalkan segera menyusul Hanna yang sudah jauh meninggalkannya. Agar kesulitan karena jumlah orang yang berkerumun di sana, tidak sedikit.


"Hanna, tunggu!!" Seru Ara. "Kenapa kau meninggalkanku? Bukankah kau sendiri yang tadi penasaran, tapi kenapa kau malah pergi begitu saja? Padahal aku ingin sekali melihat dan bertemu dengan Diego." Ara menggerutu.


"Kalau kau ingin melihat dan bertemu dengan aktor hebat dan terkenal itu, yang tunggu saja. Aku tidak berminat!!" Hanna melanjutkan langkahnya. Moodnya hancur seketika setelah nama orang itu disebut. "Eonni, tiba-tiba aku kurang enak badan. Kapan-kapan saja ya makan bersamanya. Maaf, aku harus pergi."

__ADS_1


Yang bisa Ara lakukan hanyalah menghela napas. Dia tidak bisa menghentikan Hanna, apalagi menghentikannya. Tak ingin mati kelaparan, Ara memutuskan untuk makan siang sendiri.


-


-


-


Rey mematikan televisi nya saat semua saluran yang dia putar membahas tentang kedatangan seorang aktor yang nama dan sosoknya tidak lagi asing baginya. Diego Moella, yang tak lain dan tak bukan adalah mantan kekasih Hanna.


Mood Rey langsung hancur berantakan setiap kali mendengar nama itu disebut atau ada artikel dan saluran televisi yang membahas tentang dia. Alasannya tentu hanya satu, Hanna.


Rey berharap mereka berdua tidak pernah bertemu lagi. Meskipun kemungkinannya sangat kecil, karena mereka berada di negara dan kota yang sama, tapi itulah yang Rey harapkan.


Brakk...


Rey terlonjak kaget dan nyaris saja terkena serangan jantung dadakan karena bantingan pada pintu ruang kerjanya. Sosok jelita yang wajahnya ditekuk terlihat memasuki ruangannya.


Pria itu meletakkan ponselnya lalu bangkit dari kursinya. Rey menghampiri Hanna. "Ada apa? Kenapa kau terlihat kesal?" Tanya Rey penasaran. Kedua tangannya memeluk pinggang ramping wanita itu.


"Apa kau tidak tau jika aku sedang kesal?! Aku badmood." Jawabnya dengan ekspresi yang sama.


"Alasannya?"


"Haruskah aku memberikan jawabannya? Kau bisa kebakaran jenggot kita aku mengatakan apa alasannya."


"Karena mantan kekasihmu itu?" Tebak Rey 100% benar.


"Bisakah kau tidak usah membahas apapun tentang dia? Itu hanya membuat mood ku semakin buruk saja!!" wanita itu menjawab, kesal masih terlihat pada raut wajahnya.


"Baiklah kalau begitu. Apa kau sudah makan siang?" Hanna menggeleng. "Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Aku akan meminta Max menyiapkan makan siang untuk kita." Usul Rey.


"Sepertinya bukan ide yang buruk. Kebetulan aku memang sangat lapar." Jawab Hanna sambil mengusap perutnya.


"Kalau begitu tunggu sebentar." Hanna mengangguk.


Hanna diam termenung selama beberapa saat. Mungkin untuk saat ini lebih baik jika dia tidak pergi kemana pun, Hanna sungguh tidak ingin bertemu dengan pria itu. Karena bertemu dengannya hanya akan membuka luka lama dihatinya yang lama tertutup, akan kembali terbuka.


Hanna akan bersembunyi untuk sementara ini. Setidaknya sampai Diego sudah tidak ada lagi di negeri ini.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2