PARTNER RANJANG TUAN MUDA "Sekuel Hot Daddy"

PARTNER RANJANG TUAN MUDA "Sekuel Hot Daddy"
Ingin Menua Bersamamu


__ADS_3

Hanna membuka matanya setelah hampir tiga jam tertidur pulas. Pandangannya lalu bergulir pada jam yang menggantung di dinding kamar. Dan waktu telah menunjuk pukul 23.00 malam.


Wanita itu mencoba bangkit dari berbaring nya, tapi luka pada lutut dan telapak kakinya membuat dia kesulitan untuk bergerak.


Perhatian Hanna langsung teralihkan oleh suara decitan pada pintu, sosok Aster berjalan menghampirinya.


"Kau sudah bangun, Sayang? Mami lega karena baik-baik saja. Maafkan, karena Mami kau menjadi seperti ini. Mami sungguh-sungguh minta maaf, Hanna." Ucap Aster penuh sesal.


"Apa aku dan Rey benar-benar bersaudara?" Tanya Hanna. Suaranya terdengar serak, sedangkan kedua matanya tampak berkaca-kaca. Hanna masih belum bisa menerima kenyataan jika dia dan Rey bersaudara.


Aster melihat kesedihan, ketakutan dan keputusasaan di mata Hanna. Wanita itu meraih tangan Hanna yang terasa dingin lalu menggenggam jari-jari lentiknya.


Aster menggeleng. "Bukan, kau dan Rey bukan saudara Hanna. Mami pikir kau adalah Lovely, putri kami yang hilang. Tapi ternyata bukan, kau dan dia memiliki tanda lahir yang sama. Saat memelukmu, Mami merasakan sebuah getaran tak biasa. Namun saat melakukan tes DNA hasilnya negatif, yang itu artinya kau dan Rey bukanlah saudara." Ujar Aster menjelaskan.


Sepasang matanya kembali memancarkan kehidupan setelah mendengar jawaban Aster. Rasa sesak yang sebelumnya menghimpit dadanya perlahan menghilang, tergantikan rasa lega yang tidak bisa Hanna gambarkan dengan kata-kata.


"Benarkah itu, Bibi?" Sekali lagi Hanna memastikan. Aster mengangguk, meyakinkan pada Hanna jika dia dan Rey bukanlah saudara.


"Itu benar, Sayang. Ini semua salah Mami, sekali lagi Mami minta maaf." Ucap Aster penuh sesal.


Perhatian kedua wanita cantik itu teralihkan oleh kedatangan dua pria yang berjalan beriringan memasuki kamar tersebut. Hanna sedikit terkejut melihat plaster membalut tulang pipi dan dagu Rey, dia juga melihat sebuah tali hitam yang mengikat keningnya yang tertutup poni rambutnya.


Hanna ingin sekali bertanya, tapi dia rasa ini bukanlah saatnya. Rey menghampiri Hanna kemudian berdiri disampingnya, jari-jari besarnya menepuk-nepuk kepala coklat itu. Meyakinkan pada Hanna jika semua akan baik-baik saja.


Nathan mendekati mereka berdua lalu menyatukan tangan Hanna dan Rey. Sambil tersenyum lebar. Kemudian Rey berkata."Kami merestui kalian untuk menikah, kalian adalah pasangan yang sangat serasi. Maaf, karena salah paham, kalian nyaris saja berpisah." Ucap Nathan panuh sesal dalam setiap kalimatnya.


"Apa sekarang kau merasa lega? Ini hanya salah paham Hanna, seperti yang aku katakan padamu sebelumnya. Kita bukan saudara, seperti rencana sebelumnya, kita akan segera menikah." Ucap Rey sambil mengunci langsung sepasang mutiara indah itu.

__ADS_1


"Sepertinya kalian butuh waktu berdua untuk mengobrol. Kami akan keluar sekarang." Ucap Aster sambil menatap keduanya bergantian.


"Sebaiknya kalian menginap saja. Ini sudah malam, lagipula banyak kamar kosong di rumah ini. Aku akan meminta pelayan menyiapkan kamar untuk kalian." Ucap Rey.


Rey beranjak dari samping Hanna kemudian melenggang keluar bersama orang tuanya. Dia harus mengantarkan Aster dan Nathan untuk beristirahat.


Hanna kembali berbaring. Lutut dan kakinya terasa berdenyut sakit. Mungkin selama beberapa hari dia harus menjadi penghuni tempat tidur, karena kakinya tidak bisa dipakai untuk berjalan. Bahkan darah segar masih tampak merembes dari perban yang membebat kedua telapak kakinya. Belum lagi luka pada lututnya.


Ini memang kesalahannya. Jika saja dirinya tidak melakukan kebodohan, pasti akibatnya tidak akan seperti ini.


.


.


.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" Tegur Rey yang entah sejak kapan sudah ada di samping Hanna. Karena terlalu lama melamun, sampai-sampai Hanna tidak sadar jika Rey sudah tiba lagi di kamar.


Kedua lengan Hanna mengalung pada leher Rey."Apa kau tau jika aku hampir gila memikirkan jika kita benar bersaudara? Aku pikir aku akan mati, Rey. Aku pikir kenyataan akan membunuhku." Ucap Hanna sambil mengunci manik hitam itu.


"Apa yang membuatmu takut? Dosa besar yang telah kita lakukan, atau karena hal lainnya?" Rey mencoba mencari kebenaran dari Hanna, tentang apa yang wanita itu rasakan sebenarnya.


"Aku tidak ingin mengakuinya, tapi aku tidak bisa memungkiri jika kau adalah pria paling berharga dalam hidupku, Rey. Aku~ Emmpphh." Kalimat Hanna di intrupsi oleh Rey yang langsung membekap bibirnya dan mel*mat belahan tipis itu dengan kuat.


Rey terus mel*mat bibir Hanna, atas dan bawah bergantian. Sebelah tangan Rey membingkai wajah wanita di bawahnya. Ciuman mereka semakin lama semakin dalam dan menuntut.


Des*han dan erangan berkali-kali lolos dari bibir Hanna, Rey terus mencium dan mel*mat bibir itu lagi dan lagi.

__ADS_1


"Katakan jika ini gila, Hanna. Tapi aku tidak ingin berpisah apalagi jauh darimu. Dulu kita pernah berjanji untuk menghentikan perasaan yang ada di hati, tapi aku justru tidak ingin menghentikannya. Aku...Ingin menua bersamamu,"


Pandangan Hanna seketika memburam, manik hazel nya bergerak gelisah, suaranya tercekat, lelehan kristal bening itu telah menggenang di pelupuk matanya. Yang perlahan berubah menjadi lelehan-lelehan bening yang kemudian berjatuhan dari pelupuk mata Hanna.


Dia terharu sekaligus bahagia mendengar apa yang Rey katakan. Entah kenapa dia merasa seperti ada jutaan kupu-kupu yang terbang dan hinggap dihatinya. Dan bisakah yang Hanna rasakan ini adalah cinta? Hanna masih belum yakin.


"Rey, sebenarnya apa yang terjadi pada wajahmu? Kenapa kau bisa terluka begini dan~ OMO!! MATAMU?!" Hanna memekik diakhir kalimatnya.


Rey menarik benda hitam bertali itu dari matanya. Dan tidak terlihat ada yang salah pada mata itu, selain memar dan sedikit memerah pada bagian putihnya. Yang menjadi pertanyaannya, kenapa Rey sampai menutupnya?


"Kenapa kau harus menutupnya?"


"Karena aku tidak ingin orang lain sampai melihatnya. Ini sangat memalukan!! Merusak imageku saja," Rey kembali memasang Eyepatch itu pada mata kanannya. Hanna mendesah berat.


"Apa penampilan menurutmu adalah segalanya?"


"Bagaimana orang akan menilai ku saat melihat keadaan mataku yang seperti lingkaran panda?! Ini mengerikan, Hanna!"


Hanna hanya memutar jengah matanya. Menurutnya Rey sangatlah berlebihan soal penampilan."Yeah, terserah kau saja. Oya, bagaimana dengan Bibi Aster dan Paman Rey? Apa mereka benar-benar menginap?" Tanya Hanna yang kemudian di balas anggukan oleh Rey.


"Ya, dan malam ini kau akan tidur di kamarku." Rey mengangkat Hanna bridal style dan membawanya keluar kamar.


"Untuk apa? Memangnya kenapa jika aku tidur di kamar ini?" Kedua lengan Hanna memeluk leher Rey, matanya mengunci manik pria yang memakai pakaian tanpa lengan itu.


"Kau terlalu banyak tanya, Nyonya Muda." Ucap Rey.


Hanna mempout kan bibirnya. Dengan kesal dia meninju dada Bidang Rey. "Menyebalkan!!" Pria itu hanya terkekeh, geli melihat ekspresi Hanna yang begitu menggemaskan dimatanya.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2