PARTNER RANJANG TUAN MUDA "Sekuel Hot Daddy"

PARTNER RANJANG TUAN MUDA "Sekuel Hot Daddy"
Semua Milik Hanna


__ADS_3

Hanna mengubah posisi tidurnya. Kini tubuhnya menghadap ke kanan. Di mana langsung disambut dengan wajah tampan seseorang. Yang tak lain adalah Rey, pria yang selama beberapa tahun ini menjadi partner ranjangnya. Wanita itu tersenyum.


Rey Xiao, adalah sosok yang sangat sempurna. Lahir dengan wajah rupawan dan berasal dari keluarga yang lebih dari kaya. Dan wanita itu menjadi partner ranjang sah seorang pewaris dalam keluarga tersebut. Pastinya Hanna bahagia bukan?


Entah, Hanna tidak bisa menjawab pasti. Hanya dengan sebuah status yang tidak jelas, apakah bisa dikatakan jika hidupnya sempurna karena pria itu adalah miliknya. Tentu saja tidak.


Karena hati seorang Rey Xiao bukanlah miliknya, atau bahkan tidak akan pernah jadi miliknya.


Hanna menggerakkan jari-jarinya di atas wajah tampan Rey yang terlewat sempurna. Mulai dari sepasang mata yang selalu menatapnya dengan berbagai tatapan, kadang lembut, kadang tajam, kadang penuh cinta, penuh cemburu sampai penuh intimidasi.


Hidung mancung yang semakin menonjolkan ketampanannya. Dan terakhir bibir kissable yang selalu memanggil namanya dengan penuh kelembutan ketika mereka melakukan hubungan ranjang.


Bibir yang selalu mengatakan kata-kata f*lgar.


Bibir yang selalu berkata sinis dan tajam yang tak jarang membuat Hanna kesal setengah mati.


Bibir yang selalu mengecup bibir ranum miliknya, yang selalu membuatnya candu sehingga Hanna menginginkan lebih dan lebih lagi.


"Dasar Iblis, aku tidak tau mantra apa yang kau gunakan untuk menjerat diriku, sampai-sampai aku tidak bisa lepas darimu. Bahkan ketika aku mencoba untuk lari dan menjauh dari hidupmu."


Hanna mendekatkan wajahnya. Bibirnya bergerak menuju bibir kissable Rey lalu mel*matnya singkat. Ciuman itu tak lebih dari 30 detik.


"Rey Xiao, salahkah aku jika aku berharap lebih padamu?" Gumam Hanna, setitik kristal bening jatuh dari pelupuk matanya dan jatuh di atas pipi Rey.


Hanna segera menyeka air matanya. Kembali dia berbaring di samping Rey dan membenamkan wajahnya pada dada bidang yang tersembunyi di balik singlet hitam ketatnya.


Rey masih terjaga dalam tidurnya. Kelopak matanya terbuka. Menampakkan sepasang kelereng pekat dengan sorotan yang sulit didefinisikan. Ada sebuah emosi di sana. Tidak, bahkan tidak hanya sebuah. Ada beberapa emosi di sepasang mata elangnya.


Rey mendengarnya. Bisikan lirih dari wanita di pelukannya ini. Wanita yang sempat menghilang dari hidupnya, sebelum akhirnya dia kembali ke sisinya lagi.


Pria itu mengubah posisinya menjadi telentang. Ia menatap kosong langit-langit kamarnya.


Dengan perlahan ia menolehkan kepalanya ke kiri. Di sana ia bisa melihat wajah damai partner ranjangnya yang sudah terlelap. Rey dapat menemukan jejak air mata di pipi wanita itu. Yang juga jatuh ke atas wajahnya. Tatapan pria itu sedikit melunak.

__ADS_1


"Dasar bodoh!!"


Kemudian Rey merengkuh Hanna ke dalam pelukannya, pria itu mendekap tubuhnya dengan sangat erat. Mata hitam itu kembali tertutup, dan kembali dia terlelap dalam tidurnya.


-


"Ma, berikan uang padaku. Aku ada janji dengan teman-temanku akan pergi berbelanja bersama mereka hari ini."


Seorang wanita muda merengek meminta uang pada ibunya. Hari ini dia ada janji untuk pergi berbelanja bersama teman-temannya. Karena mall mengadakan sale besar-besaran.


Bukannya memberi. Wanita setengah baya itu malah mengomelinya habis-habisnya. "Apa, uang lagi?! Andina, bukankah Mama baru memberimu uang Minggu lalu, dan sekarang kau meminta lagi? Memangnya kau pakai untuk apa uang-uangmu itu?"


"Untuk apa? Tentu saja untuk foya-foya. Memangnya untuk apa lagi? Lagipula papa tiri sangat kaya raya, jadi jika hanya 10 juta won aku rasa itu bukanlah jumlah yang besar." Tutur wanita bernama Andina tersebut.


"Kau bodoh atau apa sih? Jelas-jelas uang dan semua harta itu milik Hanna, tanpa tanda tangan dan stempel darinya bagaimana kita bisa mengambil dan menikmati semua harta kekayaan yang wanita itu tinggalkan untuk putrinya?! Jadi berpikirlah dengan otakmu, jangan dengan lutut mu!!"


"Cih, dasar menyebalkan!!" Kata Andina dan pergi begitu saja. Sedangkan Vina hanya bisa menghela napas dan menggelengkan kepala melihat tingkah putrinya.


Tapi sayangnya Hanna tidak diijinkan untuk menikmati apa yang seharusnya menjadi miliknya, ayahnya yang serakah merebut seluruh harta kekayaan Hanna dan mengatasnamakan miliknya.


Namun hukum tidak bisa ditipu, hukum bisa membuktikan jika semua harta dan kemewahan yang mereka miliki adalah milik Hanna.


Tapi sayangnya dia tidak mau terlalu ambil pusing dan memikirkan tentang hartanya. Karena yang ada dipikiran dia saat ini adalah balas dendam dan menghancurkan mereka yang telah menghabisi nyawa Ibunya yang sangat berharga.


-


Hanna mengerjapkan matanya saat dia merasa terganggu dengan berkas-berkas cahaya yang menerobos pori-pori gorden jendela kamar bernuansa putih gold tersebut.


Manik Hazel miliknya mulai menampakkan diri. Masih pukul enam pagi. Wanita itu perlahan mendudukkan dirinya.


Mulai meregangkan ototnya. Kepala berhelaian coklat gelap miliknya itu menoleh ke arah Rey yang masih terlelap. Hanna tersenyum tipis.


Dengan kaki tel*njang. Hanna berjalan menuju balkon kamarnya. Udara pagi yang masih sejuk langsung menyambutnya ketika pintu kaca itu terbuka dan wanita itu menginjakkan kakinya di sana.

__ADS_1


Hanna merentangkan kedua tangannya diudara sambil menutup kedua mata Hazelnya. Tak jauh dari balkon kamarnya terdapat puluhan bunga mawar yang baru saja bermekaran. Tak sedikit juga bunga yang telah berguguran.


Hingga perpaduan cantik dari berbagai warna kelopak bunga terlihat memenuhi halaman belakang yang luas itu. Ya… musim semi telah tiba. Musim kesukaannya.


Ia menghirup nafasnya dalam-dalam merasakan oksigen yang meyeruak masuk ke dalam alveolusnya dengan sebuah senyuman yang bertengger dengan manis di wajah ovalnya.


Sesekali terdengar kicauan burung yang berbunyi serempak di atas dahan dan membuatnya merasakan ketenangan juga kedamaian yang luar biasa. Ini adalah rutinitasnya setiap pagi. Merentangkan tangannya ke udara, menghirup aroma rumput yang dibasahi embun, dan merasakan sinar hangat matahari yang menyentuh pori-pori kulitnya.


Angin yang berhembus cukup kencang terlihat menggoyangkan rambut ikal kecoklatannya dan gaun berwarna peach selututnya. Membuatnya nyaris terlihat seperti… malaikat.


Ia lalu membuka matanya perlahan masih dengan senyum simpulnya. Lalu di fokuskan pandangannya tepat ke arah langit yang saat ini belum didominasi oleh warna biru dan putih yang membaur menjadi satu.


"Aku mencarimu, dan ternyata kau ada di sini.", Hanna menoleh saat merasakan sepasang tangan kekar memeluknya dari belakang.


Hanna sedikit mengangkat wajahnya, dan bibirnya langsung disambut oleh bibir Rey. Pria itu kemudian mel*mat dan memagut ranum tipis itu dengan lembut.


"Kenapa tidak membangunkan ku?"


"Kau terlihat lelah, jadi aku tidak tega untuk membangunkanmu." Jawab Hanna.


Hanna melepaskan pelukan Rey kemudian merubah posisinya. Ia dan pria itu saling berhadapan.


"Aku akan menyiapkan sarapan untuk kita. Sebaiknya sekarang kau mandi, bukankah semalam kau bilang ada pertemuan penting dengan kolegamu dari luar negeri?!" Tutur Hanna.


Rey menangkap wajah Hanna kemudian mengecup singkat bibir tipisnya. "Tidak perlu membuat sarapan, kita sarapan di luar saja. Aku tidak mau sampai keracunan lagi karena masakanmu." Ujar Rey.


Hanna mendecih dan menatap Rey sebal."Dasar menyebalkan, kenapa masih diingat-ingat, bikin malu saja." Kemudian wanita itu beranjak dari hadapan pria di depannya dan pergi begitu saja. Sedangkan dia hanya mendengus dan menggelengkan kepala.


"Dasar bocah!!"


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2