
Rey tiba di Villanya dan mendapati tempat itu dalam keadaan sepi seperti tidak berpenghuni. Hanya ada seorang pelayan yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Lalu pandangannya bergulir pada jam dinding, dan waktu menunjuk angka 21.00 malam.
Pelayan itu kemudian menghampiri Rey dan membungkuk padanya. "Dimana Hanna? Apa dia sedang pergi?"
"Nona Hanna tidak kembali kesini sejak satu Minggu yang lalu, Tuan. Saya sendiri tidak tau Nona pergi kemana karena dia tidak mengatakan apapun," jawab Pelayan itu menjelaskan.
Rey hanya mengangguk. Dia melanjutkan langkahnya dan pergi ke kamarnya yang ada di lantai dua.
Sejak pembicaraan mereka malam itu. Hanna dan Rey memang tidak saling bertemu dan komunikasi. Rey sengaja tidak menghubungi dan menemui Hanna karena ingin memberikan waktu pada wanita itu untuk berpikir.
Rencananya malam ini Rey ingin membahas lagi mengenai masalah tersebut. Tapi Hanna malah tidak ada di rumah dan tidak pulang selama satu Minggu. Rey mencoba menghubunginya, tapi ponselnya malah tidak aktif.
Rey menyambar kunci mobilnya dan berniat untuk mencari Hanna. Tapi kedatangan wanita itu yang tiba-tiba membuat langkah Rey terhenti. Hanna menutup kembali pintu kamarnya dan menghampiri Partner Ranjangnya tersebut.
"Rey, kau ada di sini?!" Tegur Hanna setibanya dia di depan Rey.
Tanpa menjawab pertanyaan Hanna. Rey menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Dan apa yang dia lakukan tentu saja membuat Hanna terkejut sekaligus kebingungan. Karena tidak biasanya pria itu bersikap seperti ini.
"Rey, ada apa? Apa telah terjadi sesuatu?" Tanya Hanna memastikan.
"Hanna Kim, DARI MANA SAJA KAU!!" Rey melepaskan pelukannya dan bertanya dengan nada meninggi. Hanna hanya diam sambil terus memandang Rey yang juga menatap padanya. "Aku pikir kau meninggalkanku lagi, kata pelayan kau tidak kembali selama satu Minggu."
Hanna tersenyum. Wanita itu menghampiri Rey kemudian menangkup wajahnya. "Aku tidak pergi kemanapun. Selama beberapa hari ini aku pergi karena ada urusan. Dan jika aku pergi, lalu siapa yang akan menjadi pengantinmu? Aku sudah memikirkan dan merenungkannya, aku mau menikah denganmu."
"Hanna, kau serius?" Hanna mengangguk.
"Benar apa yang kau katakan malam itu, kita tidak bisa melakukan dosa lebih banyak dari yang telah kita lakukan. Kita tidak membutuhkan cinta, karena kita memang diciptakan untuk saling mengisi dan melengkapi."
Tubuh Hanna sedikit terhuyung kebelakang karena ciuman Rey yang tiba-tiba. Sebelah tangan Rey menekan tengkuk Hanna, sedangkan tangan satu lagi memeluk erat pinggang rampingnya.
Kedua mata Hanna yang sebelumnya terbuka kini tertutup sepenuhnya. Begitu pula dengan Rey. Kedua tangan Hanna memeluk leher Rey, mereka terus bergerak kebelakang dalam posisinya itu seperti pasangan yang sedang berdansa.
__ADS_1
Tubuh Hanna terlempar ke atas tempat tidur dengan Rey yang menindih tubuhnya. Bibir mereka tetap bergulat panas, hingga des*Han demi des*han yang mampu membangkitkan birahi keluar dari sela-sela ciuman panas mereka.
Setelah puas dengan bibir Hanna, kemudian ciuman Rey turun menuju leher jenjangnya, mengecupi nya dan meninggalkan jejak kepemilikan di sana.
Ciuman itu semakin turun dan turun lagi menuju dada Hanna yang masih tertutup kain dress nya, yang kini tersingkap ketika Rey membuka satu persatu kancingnya.
Melihat dua bukit kembar Hanna membuat kobaran gairah di mata Rey semakin menyala. Seperti api yang berkobar di tengah kegelapan malam. Rey kembali membenamkan bibinya pada bibir Hanna dan menciumnya seperti tadi.
Tapi sayangnya aksi mereka tidak bisa lebih dari sekedar berciuman karena Hanna masih kedatangan tamu bulanan. "Apa yang membuatmu berubah pikiran dan akhirnya setuju untuk menikah denganku, Hanna?" Kini keduanya duduk bersandar disandaran tempat tidur sambil bergandengan tangan.
"Aku hanya berpikir dan merenungkannya. Kata-katamu malam itu membuatku sadar, jika apa yang kita lakukan selama ini memang salah. Dan itulah kenapa akhirnya aku memutuskan untuk kembali dan menemui mu. Aku tidak ingin dikutuk oleh mendiang ibuku jika terus-terusan melakukan dosa." Jawabnya.
"Lalu kau ingin pernikahan yang seperti apa?"
"Sederhana namun penuh kesan. Aku tidak butuh pesta meriah dengan ribuan tamu undangan, ataupun gaun pengantin yang mewah dan cincin berlian. Cukup kita berdua dan beberapa orang saja yang menurutmu penting. Itu sudah lebih dari cukup."
"Aku akan mengurus semuanya. Kau tidak perlu memikirkan apapun tentang pernikahan kita. Sebaiknya sekarang kau tidur, aku akan terus disini bersamamu." Ucap Rey yang kemudian dibalas anggukan oleh Hanna.
-
-
-
Alat-alat medis memenuhi tubuhnya. Jika diperhatikan pria itu baru saja bangun dari tidur panjangnya, koma. Sebelah tangannya bergerak menuju mata kanannya, dia merasa heran, karena selama ini yang dia tau mata itu sudah tidak sempurna lagi.
"Dimana ini?" Gumam pria itu berbisik. Sebelah tangannya mencengkram kepalanya yang serasa ingin pecah. Mungkin efek dari tidur panjangnya.
Suara decitan pintu di buka dari luar langsung menyita semua perhatiannya, seorang pria berjalan menghampirinya sampai tersenyum lebar. Bangga sekaligus bahagia terlihat jelas dari raut wajah dan sorot matanya.
Pria itu mendekati pria yang sedang berbaring itu. Dengan tenang dia berkata. "Akhirnya kau bangun juga dari tidur panjang ku, adikku!!"
__ADS_1
-
-
-
Hujan di pagi hari membuat langit terlihat muram. Derasnya air yang turun membuat aktifitas kota nyaris lumpuh. Meskipun tak sedikit yang nekat menerjang hujan untuk pergi bekerja atau sekolah. Tak bisa dipungkiri, hujan di pagi hari memunculkan rasa malas yang kuat.
Semangat pagi yang telah tersusun tiba-tiba bisa hilang ketika hujan turun. Rasa ingin kembali ke tempat tidur dan menarik selimut pun mencuat seperti magnet. Begitu pula yang dirasakan oleh dara jelita berparas ayu ini, Hanna Kim.
Hanna sedang menikmati secangkir coklat panas sambil menyaksikan rinai hujan yang sedang turun di luar sana. Membuat suhu udara pagi ini semakin menurun.
"Apa yang sedang kau lakukan di sana?" Hanna menoleh setelah mendengar suara berat seorang pria masuk dan berkaur di dalam telinganya. Wanita itu kemudian berbalik dan menghampiri Rey yang baru saja bangun.
"Tidak ada, hanya sedang menikmati hujan." Jawabnya.
"Kemari lah, aku sangat kedinginan karena kehilangan selimut alami ku." Rey menarik lengan Hanna lalu mendekap wanita itu ke dalam pelukannya. "Kenapa kau bangun pagi-pagi sekali? Apa karena hujan?"
"Ya, itu adalah salah satu alasannya. Tapi ada alasan lain yang memaksaku untuk bangun lebih awal. Tamuku yang terlalu banyak membuatku harus mengganti p*mb*lut lebih awal." Jawabnya.
"Aku sudah memberitahu Ibu mengenai rencana pernikahan kita. Dan dia setuju kita menikah, dia memberikan restu untuk kita." Rey mendekap tubuh Hanna dengan sangat erat. Menyandarkan dagunya pada kepala coklat itu.
"Tapi, Rey. Aku sangat takut."
"Apa yang kau takutkan? Apa kau takut aku akan meninggalkan dan mencampakkan mu jika aku sudah bosan?!" Tebak Rey seolah mengerti apa yang Hanna pikirkan.
"Itu salah satunya. Alasan lainnya adalah aku takut Ibumu tidak menyukaimu setelah bertemu denganku."
"Kau tenang saja, Mamiku bukan wanita yang pemilih untuk masalah menantu. Dia pasti akan merestui pernikahan kita. Aku berani menjaminnya."
"Ya, semoga saja."
__ADS_1
-
Bersambung.