
"Maaf, nomor yang Anda hubungi sedang~"
Rey memutuskan sambungan telfonnya begitu saja. Nomor Hanna tetap tidak bisa dihubungi sejak pagi tadi. Rey tidak tau apa yang sedang dilakukan oleh wanita nya tersebut. Sampai-sampai dia begitu sibuk.
Baru saja Rey hendak menutup matanya. Namun dering pada ponselnya menyita kembali kesadarannya. Dia pikir Hanna yang menghubunginya, tapi ternyata Aster.
Penasaran kenapa Ibunya menghubunginya malam-malam begini. Rey pun segera menerima panggilan tersebut.
"Ada apa, Mi? Kenapa menghubungiku malam-malam begini? Apa ada masa~"
"Rey, datang ke rumah sekarang juga. Hanna datang dan mengamuk. Dia ingin membunuh Daddy mu. Sepertinya telah terjadi kesalah pahaman diantara mereka berdua. Hanna tidak bisa tenang, jadi kami tidak bisa memberi penjelasan apa-apa." Tutur Aster.
"Apa?! Hanna mengamuk di sana, aku tutup dulu Mi. Aku akan segera ke sana." Rey menyambar kunci mobil dan long Vest nya yang tergantung di belakang pintu.
Ray tidak tau apa yang terjadi pada Hanna, dan kenapa dia bisa sampai mengamuk di kediaman orang tuanya? Itulah yang harus dia cari tau. Dan Rey tidak akan pernah mengampuni Hanna jika wanita itu sampai melukai kedua orang tuanya.
-
-
-
Sebuah ujung senjata api mengacung padanya. Di depan Nathan yang tampak tenang, seorang wanita muda yang wajahnya di penuhi air mata tengah menatapnya dengan tatapan membunuh.
Nathan tidak terlihat gentar sama sekali meskipun hidupnya kini berada di ujung tanduk. Karena tidak menutup kemungkinan jika Nathan akan meregang nyawa bila Hanna sampai menarik pelatuk pada senjata nya.
"Katakan padaku, Nathan Xiao. Kenapa kau membunuh orang tuaku?! Kenapa kau membunuh mereka? KENAPA?!" teriak Hanna penuh emosi.
"Aku sungguh tidak tau apa yang kau katakan, Hanna. Memangnya siapa orang tuamu? Dan bagaimana bisa kau menuduh Paman sebagai orang yang membunuh mereka?"
"KARENA KAU ADA DI SANA SAAT MEREKA TIADA!!" Bentak Hann menyela ucapan Nathan.
"Katakan siapa nama ayahmu?" Tanya Nathan, dia masih terlihat tenang. Sementara Aster mulai panik. Dia takut jika Hanna sampai melepaskan tembakannya pada Nathan.
"Hanna, dengarkan kami, Nak. Ayo kita bicara baik-baik. Mungkin saja ini hanya salah paham saja. Turunkan senjata mu dan kita bicara, Nak."
__ADS_1
"DIAM!!" bentak Hanna penuh emosi.
Cretekk...
Hanna tersentak saat merasakan sesuatu menempel pada kepala belakangnya. Dia tau jika itu adalah ujung dari senjata api. Yang menjadi pertanyaannya, siapa yang bermaksud untuk membunuhnya. Apa orang itu sudah bosan hidup.
Dengan Emosi, Hanna menyikut orang itu, namun serangannya terbaca dan dia berhasil mematahkan serangan Hanna. Senjata dalam genggaman Hanna terlepas dari genggamannya.
Matanya kembali membelalak saat ujung pistol menempel pada keningnya. Tapi bukan itu yang membuat Hanna terkejut, melainkan orang yang menodongkan senjata padanya.
"Rey," lirih Hanna setengah bergumam.
"Aku tidak akan segan-segan untuk meledak kepalamu jika kau sampai berani menyentuh apalagi menyakiti orang tuaku!!" Tatapannya tajam dan penuh intimidasi. Auranya begitu suram dan begitu berbahaya.
"Sebelum kau meledakkan kepalaku, aku yang akan lebih dulu melenyapkan mu!!" Balas Hanna tak mau kalah.
"Kau pikir kau siapa bisa mengancam ku?!"
Rey mendorong Hanna dan menghimpit tubuhnya pada tembok. Sebelah tangannya mencengkram rahang wanita itu. Rey tidak peduli meskipun Hanna adalah seorang wanita, dia tetap akan menghabisinya jika wanita itu berani melukai kedua orang tuanya.
Hanna memang sangat penting dalam hidup Rey. Tapi kedua orang tuanya juga sama pentingnya untuk pria itu. Dan jika harus memilih diantara mereka, tentu saja Rey akan memilik Aster dan Nathan.
Aster menarik Rey menjauh dari wanita itu. Lalu mengakui wajah Hanna dan mengunci langsung ke dalam manik matanya. Melihat tatapan hangat dan tulus Aster membuat tatapan tajam Hanna perlahan melunak.
"Sekarang bicaralah, Nak. Siapa nama ayahmu, dan kenapa kau bisa menuduh jika Paman Nathan adalah pelakunya, juga orang yang menyebabkan kedua orang tua mu meninggal?" tanya Aster dengan lembut.
Hanna mengeluarkan sebuah DVD dari tasnya yang kemudian dia berikan pada Aster.
Wanita itu meminta Rey untuk memutarnya. Dia sangat penasaran apa yang ada di dalam DVD tersebut, sampai-sampai Hanna beranggapan jika Nathan adalah orang yang membunuh orang tuanya.
Sekarang Aster dan Nathan paham kenapa Hanna sampai menuduhnya melenyapkan kedua orang tua nya. Antara Hanna dan Nathan hanya sebuah kesalahpahaman saja.
Nathan menghampiri Hanna dan mencoba menjelaskan padanya. Jika dia bukan dalang di balik peristiwa tersebut, dan kedatangannya malam itu bukan untuk membunuh orang tua Hanna, melainkan menyelematkan mereka, tapi dia terlambat.
"Jadi kau adalah putri Leon, Hellena. Kau sudah salah paham, Nak. Kedatangan Paman di sana bukan untuk membunuh orang tuamu, tapi untuk menolong mereka. Tapi Paman terlambat."
__ADS_1
"Ayah mu adalah tangan kanan Paman dan orang yang paling ku percayai. Malam itu Ibumu menghubungi Tao dan mengatakan jika rumah kalian diserang oleh orang yang tidak dikenal."
"Setelah memberitahuku, kami pergi ke sana untuk membantu mereka, tapi terlambat. Karena orang tuamu sudah tiada saat kami tiba di sana. Aku berusaha mencarimu, tapi tidak ketemu."
"Dari sumber yang aku dapatkan, kau di selamatkan oleh mantan pengasuhmu. Dan sejak saat itu aku tidak berusaha mencari mu lagi. Karena aku tau kau hidup dengan baik."
Hanna menjatuhkan tubuhnya pada ubin lantai yang dingin dan keras. Air matanya kembali tumpah dan membasahi wajah cantiknya. Hanna menangis sejadi-jadinya, sambil berkali-kali memukuli dadanya yang terasa sesak.
Rey menghampiri Hanna lalu membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Bahkan Rey tidak peduli meskipun air mata Hanna nantinya akan mengotori kain berharga mahal yang melekat di tubuhnya.
Nathan dan Aster tidak menyalahkan Hanna, atas apa yang telah dia perbuat. Mereka bisa mengerti dan memahami, karena jika berada di posisi Hanna, Aster dan Nathan pasti akan bersikap sama.
"Rey, sebaiknya bawa Hanna untuk beristirahat. Biarkan dia tenang dulu." Ucap Aster yang kemudian di balas anggukan oleh Rey.
Melihat cara jalan Hanna yang terpincang-pincang karena luka pada telapak kakinya yang kembali terbuka akibat heels yang dia pakai sejak pagi. Rey pun memutuskan untuk menggendongnya bridal style.
Rey membiarkan Hanna bersandar padanya. Karena saat ini dia memang membutuhkan sebuah sandaran.
.
.
.
Rey menutup kembali pintu kamarnya lalu menghampiri Hanna yang duduk melamun ranjang miliknya. Pria itu melepaskan long Vest yang dia pakai sebagai luaran tank top hitamnya. Ia dan Hanna saling berhadapan.
Hanna mempoutkan bibirnya dan menatap Rey dengan kesal. Seumur-umur baru kali ini, pria itu memperlakukannya dengan kasar. Tapi Hanna tidak bisa menyalahkannya juga, karena itu adalah kesalahannya.
"Maaf, Hanna. Karena terbawa emosi aku jadi bersikap kasar padamu." Ucap Rey penuh sesal.
Hanna menggeleng. "Tidak, Rey. Itu bukan salahmu. Aku bisa mengerti, jika ada diposisi mu aku juga akan melakukan tindakan yang sama." Jawabnya.
Rey menarik Hanna ke dalam pelukannya. Dan mendekap tubuh wanita itu dengan erat.
Dia sungguh-sungguh menyesal karena telah memperlakukan Hanna dengan sangat buruk. Dia hanya emosi, lagipula siapa yang tidak akan marah ketika melihat nyawa kedua orang tuanya berada dalam bahaya.
__ADS_1
-
Bersambung.