
Temaram malam, menyelusup masuk menyelimuti kamar yang juga ditutupi hening tanpa suara.
Lampu kristal yang menggantung di langit-langit kamar menyala terang, memberikan cahaya pada ruangan yang telah ditinggalkan siang.
Lambaian gorden putih yang digantung pada bagian sisi jendela melambai dengan gemulai, menari riang namun anggun bersama desau angin yang berhembus dengan lirih.
Di depannya, karya Tuhan tersaji begitu apik, memecah hitam pekat langit dengan bintik terang dari delapan arah mata angin. Cahayanya terpantulkan, pun tertuju pada dewi bulan yang bagian tubuhnya hanya setengah lingkaran.
Emas cantik, beriringan dengan perak berkelip di atas sana. Dan semua itu dimeriahkan oleh lampu dibawah gedung pencakar langit. Sungguh teramat cantik.
Di sebuah sudut kamar, berhadapan langsung dengan jendela yang terbuka lebar lebar, membiarkan sang bayu menghembuskan surainya hingga sedikit berantakan milik seorang wanita berparas cantik ini.
Berdiri di depan jendela kamarnya yang terbuka, menggenggam setangkai mawar biru yang begitu cantik dan se anggun parasnya.
"Karena aku takut kehilanganmu!!"
Rona merah muncul di pipi Hanna. Kata-kata Rey dua hari yang lalu kembali terngiang di telinganya. Rasanya seperti ada jutaan kupu-kupu yang berterbangan dan menggelitik perutnya. Hanna tersenyum simpul.
Kalimat yang Rey ucapkan mungkin sangat sederhana, namun kata-kata itu memberi arti tersendiri bagi Hanna. Begitu dalam dan membuat perasaannya menghangat.
"Kau melamun lagi?" Tegur Rey yang entah dari mana datangnya tiba-tiba sudah ada disamping Hanna.
"Omo!!" Dan kedatangannya yang tiba-tiba membuat Hanna terkejut setengah mati. "Rey, apa kau ingin membuatku jantungan?!" Protes Hanna sambil mengusap dadanya naik turun.
"Salah sendiri melamun, memangnya apa yang kau lamun kan?" Rey menatap Hanna dengan penuh selidik, dia sungguh penasaran apa yang tengah di lamunkan oleh wanita itu.
Hanna menggeleng. "Tidak ada." Dusta nya. Hanna tidak ingin jika Rey sampai meledeknya karena melamunkan dirinya. Lebih baik berbohong karena itu demi kebaikannya sendiri. "Kapan kau masuknya? Kenapa aku tidak menyadarinya?"
"Karena kau terlalu sibuk melamun!!"
Hanna mendecih dan menatap sebal suaminya itu. "Siapa yang melamun? Itu hanya perasaanmu saja, aku sedang menikmati bintang di atas sana." Ucapnya.
"Sebaiknya tutup kembali jendelanya, kau bisa masuk angin jika terlalu lama berdiri di sini." Rey beranjak dari samping Hanna dan berjalan menuju tempat tidur.
Rey melepas jas dan sepatu kerjanya lalu menggantinya dengan sendal rumah yang biasa dia pakai. Rey juga menanggalkan Vest dan kemejanya.
"Akan ku siapkan air hangat untukmu." Hanna menutup kembali jendela kamarnya lalu berjalan ke arah kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuk Rey mandi.
Malam ini Rey lembur, itulah kenapa dia pulang agak telat.
Setelah airnya siap. Hanna memanggil Rey dan memintanya untuk segera mandi. Dan yang selanjutnya wanita itu lakukan adalah meminta pelayan menyiapkan makan malam untuk suaminya. Hanna yakin jika Rey belum makan malam.
Sembari menunggu Rey selesai mandi. Hanna menyiapkan pakaian untuknya. Satu setel piyama dia letakkan di atas tempat tidur.
"Cantik, kita bertemu lagi!!"
__ADS_1
"OMO!!"
Hanna memekik dan terlonjak kaget. Nyaris saja wanita itu terkena serangan jantung dadakan karena ulah Suketi yang muncul tiba-tiba. Alhasil sebuah vas bunga melayang dan mendarat mulus pada kepala hantu gaul tersebut.
"Ya, kepala Suketi malah tertimpuk lagi." Keluh si Miss K sambil mengusap kepalanya yang baru saja ditimpuk oleh Hanna.
"Salahmu sendiri, siapa suruh kau mengejutkanku dan muncul dengan tiba-tiba." Jawab Hanna tak mau kalah.
"Suketi, 'kan cuma mau memberi kejutan." Ujar si Miss K.
"Seharusnya kau tidak perlu muncul tiba-tiba juga, dasar hantu, sukanya mengejutkan manusia. Bagaimana kalau jantungku sampai melompat keluar, apa kau mau tanggung jawab jika aku sampai mati?!"
Suketi menggeleng. "Tidak mau, jika Hanna sampai mati. Bisa-bisa Suketi di lempar ke dalam sumur buaya oleh si tampan, apalagi sikapnya 11 12 dengan Daddy-nya. Suketi takut."
Cklekk...
Decitan suara pintu kamar mandi di buka mengintrupsi obrolan dua wanita berbeda alam tersebut. Mata Suketi langsung berbinar, dan air liur menetes dari bibirnya melihat Rey yang begitu sexy dan menggoda, pria itu bert*lanjang dada.
Hanna yang tidak rela tubuh setengah tel*njang dilihat oleh orang lain, bahkan itu hantu sekalipun. Hanna segera menghalangi pandangan Suketi dengan merentangkan kedua tangannya di depan hantu itu.
"Jangan dilihat, aku tidak rela jika tubuh indah suamiku dilihat oleh wanita lain."
"Hanna, jangan menghalangi, biarkan aku melihatnya juga. Ada barang bagus, sayang dong jika di biarkan."
Sementara itu...
Rey yang melihat perdebatan mereka berdua hanya bisa mendengus. Dia geli sendiri pada tingkah Hanna. Bagaimana bisa wanita itu berdebat dengan seorang hantu yang jelas berbeda dunia dengannya. Tidak masuk akal tapi sungguh nyata.
"YAKK!! HANTU MES*M!! BERHENTI MENATAP LAPAR SUAMIKU!! KELUAR SEKARANG ATAU~"
"Hanna, Sayang. Kau itu harus berbagi pada sesama. Jangan pelit, atau nanti kuburan mu sempit loh."
"Masa bodoh, keluar sekarang juga atau aku akan menggantung mu?!" Ancam Hanna bersungguh-sungguh.
Suketi mempoutkan bibirnya. "Hanna, kau sangat jahat, menyebalkan. Baiklah, Suketi akan pergi sekarang. Sampai jumpa, bye..."
"Kenapa tidak dari tadi saja!! Dasar hantu menyebalkan!!"
Mengabaikan Suketi yang baru saja pergi. Hanna menghampiri Rey yang masih bertahan pada posisinya. Wanita itu kemudian memberikan baju ganti pada Rey.
Hanna tidak kau jika suaminya yang super tampan namun dingin ini sampai masuk angin karena terlalu lama setengah tela*jang. Tapi tentu saja masih dengan mulut berkomat-kamit tidak jelas.
"Sudah menggerutu nya?" Ucap Rey yang saat ini berdiri berhadapan dengan Hanna. "Kalau sudah temani aku makan malam, aku lapar." Wanita itu mendesah berat dan mengangguk.
Hanna mengikuti Rey ke arah sofa yang ada di tengah ruangan. Ini sudah lewat pukul 9 malam. Jadi Rey malas jika harus menyantap makan malamnya di meja makan.
__ADS_1
-
Pria itu tak bosan-bosannya menatap foto seorang wanita cantik yang menghiasi layar ponselnya. Sudut bibirnya tertarik ke atas. Membentuk senyum perih di wajah tampannya.
"Hanna, kenapa kau berubah Sayang? Kenapa kau tidak mencintaiku lagi, padahal aku pergi demi mengejar masa depan kita. Tapi kenapa kau malah menghianati cinta kita?" Ucap pria itu yang pastinya adalah Diego.
Diego menyesali keputusan Hanna untuk tidak lagi mengulang masa lalu mereka. Padahal Diego masih sangat mencintainya, dia kembali juga untuk Hanna, tapi hati wanita itu telah berpindah dan singgah pada yang lain.
"Ini sudah malam, sebaiknya kau segera tidur. Besok kau ada pemotretan untuk iklan terbarumu."
Diego mengangkat kepalanya dan menatap pria yang berdiri di depannya tersebut. "Ini masih terlalu awal untuk tidur. Lagipula aku tidak terbiasa tidur, jika kau lelah. Sebaiknya kau tidur saja."
Wanita itu mendesah berat. "Berhentilah bersikap bodoh dan tolol Diego Moella. Wanita di dunia ini bukan hanya dia saja. Dia sudah tidak menginginkanmu, jadi untuk apa kau terus memikirkan dia?! Berhentilah menjadi pria dungu yang diperbudak cinta!!" Peringat wanita itu dan pergi begitu saja.
Diego menatap pintu yang baru saja di banting dengan keras itu dan mendesah berat. Dia tidak tau kenapa Maya menjadi begitu sensitif jika ada hubungannya dengan Hanna.
Tak ingin terlalu ambil pusing. Diego bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah tempat tidur. Dia tidak ingin diomeli oleh Maya lagi.
-
"Hanna, apa ini?!"
Hanna hanya tersenyum tiga jari memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi. Rey menatap Horor beberapa telor ceplok yang tersusun di atas meja yang semuanya nyaris gosong.
"Aku berusaha membuatkan sarapan untukmu, tapi malah begini jadinya." Jawab Hanna sambil tersenyum miris.
Rey mendesah berat. "Berapa kali aku harus memperingatkan mu supaya tidak memaksakan diri untuk membuat sarapan jika tidak bisa. Lalu apa yang terjadi pada tanganmu?" Rey mengangkat tangan Hanna, ruam merah tampak pada punggung tangannya.
Hanna menarik kembali tangannya. "Ini kena minyak." Jawabnya singkat.
Lagi-lagi Rey mendesah berat. Di tariknya lengan Hanna lalu membawa wanita itu ke dalam pelukannya. "Tidak perlu berusaha dengan susah payah hanya untuk menyenangkan ku. Dan aku tidak akan memaksa apalagi menuntut mu untuk melakukan apa yang tidak kau kuasai." Ujar Rey.
Hanna mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan suaminya. "Aku hanya ingin melakukan apa yang seharusnya seorang istri lakukan. Itu adalah kewajiban ku sebagai istrimu."
"Kau sudah melakukan yang terbaik, Sayang. Jangan memaksakan diri lagi, aku tidak ingin kau sampai celaka hanya karena diriku."
"Rey,"
"Kita sarapan di luar saja. Kebetulan hari ini aku free dan tidak akan pekerjaan." Hanna tersenyum lalu menganggukkan kepala.
"Baiklah." Jawabnya.
-
Bersambung.
__ADS_1