PARTNER RANJANG TUAN MUDA "Sekuel Hot Daddy"

PARTNER RANJANG TUAN MUDA "Sekuel Hot Daddy"
Semakin Rumit


__ADS_3

Yang Hanna dengar hanya bunyi pintu yang ditutup dengan keras. Badai malam ini memang mengacaukan segalanya, tetapi tak mungkin hal seperti itu dapat dilakukan. Wanita itu beranjak dari duduknya dan meninggalkan roti yang baru selesai dia panggang lalu segera menuju pintu depan.


Rey berdiri di pintu yang baru saja dibantingnya. Kemudian berjalan menjauhi pintu tersebut sambil terus memegangi kepalanya yang berlumjr darah.


Hanna berlari menghampiri pria itu untuk memastikan apa yang terjadi. "Rey, apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bisa terluka seperti ini?" Tanya Hanna dengan ekspresi cemasnya.


"Seseorang berniat untuk membunuhku!!"


"Maksudmu?!" Tanya Hanna meminta penjelasan.


Rey pun menjelaskan pada Hanna perihal apa yang baru saja dia alami. Mimik wajah Hanna selalu berubah-ubah setiap kali mendengar setiap kalimat yang keluar dari bibir Rey. Kadang terlihat kesal, marah dan tidak percaya. Tapi dengan status Rey tidak mengherankan jika dia memiliki banyak musuh dan saingan.


"Apa kau sudah memiliki gambaran tentang siapa orang yang mencoba membunuhmu?" Tanya Hanna memastikan. Wanita itu sedang mengobati luka di pelipis dan tulang pipi Rey akibat perkelahian tadi. Selain dua luka itu, ada juga luka di lengan kiri atas.


Rey menggeleng. "Aku masih belum tau, siapa pelakunya dan apa motifnya. Aku meminta Max untuk menyelidikinya."


"Kau harus lebih berhati-hati, Rey. Musuh mu ada dimana-mana, seharusnya kau menyewa beberapa Bodyquard untuk melindungi keselamatanmu sendiri, sekuat apapun dirimu, kau hanyalah manusia biasa, yang terkadang bisa lengah dan pasti terluka. Aku hanya tidak ingin kau sampai kenapa-napa." Tutur Hanna ditengah kesibukannya


Hanna menempelkan sebuah kasa pada pelipis kanan Rey yang terluka lalu merekatkannya dengan plaster. Sedangkan luka di tulang pipinya Hanna tutup dengan plaster luka selebar dua jari orang dewasa.


"Kenapa belum tidur? Ini sudah hampir tengah malam."


"Aku lapar dan tidak bisa tidur. Aku akan menyiapkan air hangat untukmu. Pasti tubuhmu terasa tidak nyaman. Setelah ini mandilah lalu istirahat." Hanna bangkit dari kursinya dan pergi begitu saja.


"Hanna, ayo kita menikah!!"


Tapp...


Langkah kaki Hanna terhenti setelah mendengar kalimat yang baru saja Rey ucapkan. Wanita itu sontak menoleh dan mendapati Rey tengah menatap serius padanya.


Hanna mengurungkan niatnya untuk pergi dan kembali menghampiri Rey. "Apa maksudmu, Rey?" Tanya Hanna meminta penjelasan.


"Ayo kita menikah!! Jujur saja, Hanna. Aku lelah dengan hubungan tanpa status yang kita jalani saat ini. Aku tau kau memang masih belum ingin membangun sebuah komitmen, tapi pernikahan akan membuat hubungan kita menjadi lebih baik."


"Untuk apa Rey, untuk apa pernikahan tanpa cinta? Pernikahan bukan sekedar memakai gaun dan jas yang mewah. Berdiri di depan altar dengan disaksikan banyak pasang mata, bertukar cincin saling berciuman dan lain sebagainya. Pernikahan adalah hubungan antara dua hati, jika tidak ada cinta di dalamnya lalu untuk apa sebuah pernikahan?!"


"Apa bedanya dengan yang kita jalani saat ini?!" Rey menyela cepat. Suaranya sedikit meninggi dan penuh penekanan. "Tinggal dan tidur dibawah satu atap yang sama, melakukan hubungan intim setiap saat layaknya pasangan suami-istri. Melakukan ini dan itu berdua. Apa semua itu masih belum cukup untuk membangun sebuah ikatan?!"

__ADS_1


"Bukan begitu Rey maksudku, aku~"


"Pikirkan baik-baik. Jika kau tidak setuju dengan keinginanku, kau boleh mundur dan hubungan terlarang ini sebaiknya kita akhiri cukup sampai di sini!!" Rey bangkit dari duduknya dan meninggalkan Hanna begitu saja.


Wanita itu mengusap wajahnya kasar. Dia bingung harus bagaimana sekarang, menyetujui apa yang menjadi keinginan Rey, atau berhenti dan mengakhiri hubungan tanpa status yang telah mereka jalani selama bertahun-tahun.


Hanna merasa tidak layak bagi Rey. Mereka berasal dari dua dunia yang berbeda. Rey berasal dari keluarga baik-baik, sedangkan dirinya? Bahkan kehidupannya tidak layak untuk diceritakan. Apakah wanita seperti dirinya pantas untuk Rey?


Hanna hanya merasa takut, dia takut setelah bosan, Rey akan membuangnya dan mencampakkan dirinya. Seperti yang telah pria itu lakukan padanya beberapa tahun yang lalu.


Hanna menyembunyikan wajahnya diantara kedua lututnya yang dia tekuk, isa kan pelan terdengar dari sela-sela bibir tipisnya. Punggungnya naik turun, Hanna menangis. Suaranya yang pilu membuat hati siapa pun serasa diiris termasuk sosok tampan yang tengah memperhatikannya dari kejuahan, Rey.


Rey menyandarkan punggungnya pada tembok di belakangnya. Entah keputusannya salah atau benar untuk mengajak Hanna menikah, sementara wanita itu masih belum sembuh dari luka lama yang digoreskan oleh masa lalunya.


Tidak ada yang salah dalam perkataan Hanna. Pernikahan tanpa cinta bagaimana mungkin bisa berjalan selaras, tapi disisi lain Rey tidak ingin terus-terusan melakukan dosa besar dengan melakukan hubungan terlarang dengan wanita itu.


Rey tidak akan memaksa Hanna. Dia akan memberikan waktu pada wanita itu untuk berpikir, kapanpun Hanna ingin, Rey siap untuk menikahinya dan membahagiakannya. Cinta bisa tumbuh dan hadir sendiri seiring berjalannya waktu.


-


-


-


Aster menghampiri Rey yang sedang berdiri termenung di depan dinding kaca di kamarnya. Wanita itu tidak tau kapan Rey datang karena dia sedang mandi.


Merasa namanya dipanggil oleh sang ibu, Rey pun menoleh. Sudut bibirnya tertarik ke atas melihat wajah cantik yang tidak pernah lekang oleh waktu itu.


Rey melangkah menghampiri Aster lalu memeluknya. "Aku merindukan, Mami." Ucapnya setengah berbisik.


"Mami juga merindukanmu, Nak. Sangat-sangat merindukanmu." Satu Minggu belakangan ini Rey memang jarang mengunjunginya. Aster tidak tau apa yang sedang dilakukan oleh putranya ini.


Aster melepaskan pelukannya dan memicingkan mata melihat wajah murung putranya. "Ada apa, Rey? Kenapa kau terlihat murung, apa sesuatu terjadi? Kau tidak sedang dalam masalah bukan?" Tanya Aster memastikan.


Rey menggeleng. "Aku tidak apa-apa, Mi. Sungguh, aku baik-baik saja." Jawabnya meyakinkan.


Entah apa tujuan Rey menemui Aster. Yang jelas dia sangat merindukan Ibunya. Pasti Aster kesepian karena ia tidak jarang datang untuk berkunjung.

__ADS_1


"Aku sangat lapar, bisakah Mami menyiapkan makan siang untukku?" Ucap Rey yang kemudian di balas anggukan oleh Aster.


"Tentu, nak."


-


-


-


Derby terus memperhatikan Hanna yang sedari tadi hanya diam termenung dengan pandangan kosong ke depan. Entah apa yang sebenarnya wanita itu pikirkan, Derby mencoba menebak isi dalam kepala Hanna tapi tidak bisa.


Sejak kedatangan mereka di cafe 30 menit lalu. Hanna terus saja diam seperti sedang melakukan sesuatu. Derby sungguh merasa penasaran, tapi Hanna tetap tidak mau membuka suaranya.


Klonteng..Klonteng..


Gubrak..


Hanna sedikit terlonjak, dia terkejut begitu pula dengan beberapa pengunjung cafe. Sedangkan Derby hanya menunjukkan senyum tanpa dosanya.


Hanna mendengus geli. "Dasar bocah, apa tidak bisa diam dan tidak berulah?" Hanna bangkit dari duduknya lalu menghampiri Derby yang sedang duduk di lantai. Hanna tidak tau bagaimana pria itu bisa terjengkang dari kursinya.


"Hanna, pelan-pelan. Sakit!!" Jerit Derby pura-pura kesakitan. Sedangkan Hanna hanya memutar jengah matanya. "Kenapa kau terus saja melamun, memangnya apa yang sedang kau pikirkan?" Setelah cukup lama, akhirnya sebuah pertanyaan terlontar dari bibir Derby.


Hanna menggeleng. "Tidak ada, aku tidak sedang memikirkan sesuatu. Hanya saja aku merasakan sesuatu yang tidak enak, tapi itu bukanlah sebuah masalah yang besar." Tuturnya.


"Aku sudah sangat kelaparan,bisakah kita makan sekarang?" Hanna mendengus, kenapa pria ini selalu saja rewel jika sudah berhubungan dengan makanan?


"Jika lapar kenapa tidak makan? Dasar bodoh!!"


"Hanna, kau menyebalkan!!"


"Bodoh!!"


Derby mendesah dan dia menyerah. Jika diteruskan pasti akan sangat panjang. Lebih baik dia makan karena cacing-cacing dalam perutnya sudah ribut minta diisi, masa bodoh dengan Hanna.


"Sudahlah, dari pada berdebat hal tidak penting denganmu!! Lebih baik aku makan saja!!"

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2