
Fajar kini membuka lebar matanya, mentari telah tampak menduduki tahtanya di ujung timur. Kicauan-kicauan lembut terdengar manis menyapa pendengaran seorang wanita yang tengah berdiri di balkon kamar seorang pria yang tak lama lagi menjadi suaminya.
Manik senada hazel miliknya tersembunyi di balik kelopak matanya yang tertutup rapat. Surai halusnya seakan menari karena hembusan angin pagi ini.
Kedua tangannya dia rentangkan. Membiarkan sang bayu menjamah sebagian kulitnya yang terbuka. Udara pagi hari memang sangat sejuk dan segar karena masih alami, dan Hanna mengakui itu.
Namun ketenangannya harus terusik ketika dia merasakan sepasang tangan yang memeluknya dari belakang. Tanpa bertanya dan melihatnya, tentu saja dia tau siapa yang memeluknya ini.
"Hei, Tuan Muda menyebalkan. Bisa tidak, sekali saja jangan mengusik ketenangan ku?! Apa kau tidak tau jika aku sedang menikmati udara pagi hari?!" Protes Hanna pada sosok yang memeluknya.
"Aku tidak peduli. Salahmu juga kenapa menghilang dari pelukanku sebelum waktunya?!"
Hanna mendengus berat. Dilepaskannya pelukan itu kemudian dia berbalik, posisinya dan Rey saling berhadapan. "Ck, sampai kapan kau akan memakai benda itu, Rey Xiao?! Bahkan matamu tidak separah itu, lagi pula ini di dalam ruangan ini hanya kita berdua. Kau ingin menyembunyikan dari siapa?" Tanya Hanna memprotes Rey yang tak mau melepas benda hitam bertali yang melekat pada mata kanannya.
"Kau berisik sekali, kenapa semakin hari kau semakin bawel saja, hah?! Lagipula ini mata-mataku sendiri, mau aku apakan juga terserah diriku!!"
Hanna memutar jengah matanya. Bicara dengan Rey memang membutuhkan kesabaran ekstra, dan beginilah dia. Tidak mau mengalah dan selalu ingin menang sendiri.
"Terserahlah, minggir lah aku mau mandi." Hanna mendorong dada Rey dan meninggalkannya begitu saja.
"### Wanita ini, berani sekali dia mengabaikan ku setelah mendebat ku?! Hanna, tunggu!!"
-
Aster menatap puas hasil masakannya yang saat ini tersusun rapi di atas meja. Sedikitnya ada 10 menu berbeda yang telah dia masak bersama pelayan di rumah putranya.
Senyum dibibir Aster mengembang lebar manakala dia melihat kedatangan suaminya. Nathan terlihat menuruni tangga dan berjalan menghampirinya.
"Dimana Rey dan Hanna? Apa mereka belum bangun?" Tanya Nathan setibanya dia meja makan.
__ADS_1
Aster menggeleng. "Aku rasa mereka masih di kamarnya, mungkin masih mandi. Aku sudah menyiapkan kopi untukmu. Sambil menunggu anak-anak, minumlah dulu." Aster menyerahkan secangkir kopi yang masih mengepul pada Nathan.
Mereka memutuskan untuk menunggu Rey dan Hanna dengan menikmati kopi di ruang keluarga. Lagipula ini masih terlalu awal untuk sarapan, belum genap jam 7 pagi.
Sementara itu...
Hanna dan Rey belum juga keluar dari kamar mandi. Mereka mandi bersama, meskipun Hanna bersikeras menolaknya, tapi bukan Rey namanya jika dia akan menyerah dan membiarkan wanita itu memang darinya.
"Aaahhhh... Rey, lebih pelan sedikit!!" Jerit Hanna karena permainan Rey yang terlalu kasar.
"Diam lah, Baby. Dan nikmati saja." Bisik Rey.
Rey menghimpit tubuh Hanna pada tembok. Dia terus menurun wanita itu dengan meletakkan sebelah kaki Hanna di pinggulnya. Tubuh mereka polos tanpa busana. Rey terus menusuk Miss Hanna sambil mel*mat bibirnya. Dan kegiatan mereka saat ini, sering kali di sebut sebagai olah raga pagi hari.
.
.
.
"Sayang, akhirnya kau turun juga. Ayo, Mami sudah memasak banyak makanan enak pagi ini. Apalagi Daddy mu sudah mengeluh lapar sedari tadi." Aster dan Hanna meninggalkan para pria.
Melihat sikap ibunya pada Hanna membuat Rey mendengus berat. Apa harus selalu menculiknya seperti itu?! Sesungguhnya Rey keberatan karena Aster selalu membawa Hanna pergi ketika dia bersamanya.
"Tidak perlu merasa kesal. Biarkan saja, kau tau sendiri bukan jika Mami mu telah kehilangan kedua putrinya, dan kehadiran Hanna bisa sedikit mengobati rasa perih dihatinya." Ucap Nathan memberi pengertian.
Tidak ada jawaban dari Rey, sebagai gantinya pemuda itu hanya menganggukkan kepala. Dan selanjutnya sarapan mereka lewatkan dengan tenang.
Obrolan hangat dan ringan mewarnai kebersamaan mereka di meja makan. Tak jarang Aster membuat pipi Hanna merona karena ucapannya. Dan ber ending dengan Rey yang menghentikannya.
__ADS_1
Setelah sarapan, Aster dan Nathan berpamitan pulang. Sedangkan Rey harus pergi bekerja, dia ada pertemuan penting pagi ini dengan para dewan direksi. Sementara Hanna pergi ke rumah lamanya, ada hal penting yang harus dia temukan di sana.
-
Andina menatap sinis wanita yang saat ini berhadapan dengannya. Siapa lagi jika bukan Hanna. Dia tidak tau apa tujuan kedatangan Hanna kali ini, Andina berusaha untuk menahannya tapi itu adalah Hanna.
"Yakk!! Apa yang kau lakukan di kamar orang tuaku?! Hanna, keluar dari sana atau aku akan menyeret mu keluar!!"
Seakan tuli, Hanna mengabaikan teriakan Andina. Wanita itu tetap mengobrak Abrik apa yang ada di dalam lemari pakaian ayah dan ibu tirinya. Hanna harus menemukan kebenaran itu, kebenaran tentang siapa orang tua kandungnya.
"Akhirnya ketemu juga." Hanna berlutut di depan kemari yang terbuka itu. Sedangkan pakaian di dalamnya sudah berserakan di lantai karena ulahnya.
"Hanna, apa yang kau lakukan? Itu milik ibuku!!" Hanna mengeluarkan senjata api yang sedari tadi dia sembunyikan di dalam tasnya. Tubuh Andina membeku di tempatnya saat ujung pistol itu mengacung padanya. "Apa yang kau lakukan? Apa kau ingin membunuhku?!"
"Diam dan jangan banyak bicara atau aku akan menembak mu sampai mati!!"
Hanna mengambil kotak yang sudah tampak usang tersebut lalu membawanya menuju tempat tidur. Di dalam kotak itu Hanna menemukan selembar foto, dimana dirinya yang masih bayi di gendong oleh seorang wanita dan di samping mereka seorang pria berdiri merangkul orang yang menggendongnya tersebut.
Hanna membalik foto tersebut. Di bagian belakang terdapat tanggal dan tahun foto itu diambil. Bukan hanya foto itu. Hanna juga menemukan sebuah surat serta video yang tersimpan di sebuah DVD.
Hanna tak kuasa menahan air matanya saat membaca surat tersebut. Wajah cantiknya mengucurkan cairan bening yang terlihat seperti aliran sungai kecil disisi hidung mancungnya.
Wanita itu menangis dan meraung sejadi-jadinya setelah melihat isi dalam video tersebut. Dalam video tersebut terlihat seorang pria yang sedang membantai kedua orang tuanya.
Kemudian seorang wanita yang selama ini dia ketahui sebagai ibunya datang meyelamatkan dirinya yang sedang menangis ditengah kobaran api yang sangat besar.
Dan dimenit ke 39, dia melihat keberadaan pria yang wajahnya mirip Rey berdiri diantara kobaran api yang membakar rumahnya sambil membawa sebuah senjata api ditangan kirinya.
Hati Hanna seanak tertohok saat mengetahui siapa nama pria tersebut. Pria jangkung itu memanggilnya dengan sebutan 'Bos Nathan!!'
__ADS_1
-
Bersambung.