
Hanna menatap Rey dan mendesah berat. Dia tidak tau sampai kapan pria itu akan bersikap acuh dan mendiaminya seperti ini?
Sejak insiden di restoran, sikap Rey menjadi sangat dingin pada Hanna. Jangankan berbincang seperti biasanya, menjawab ucapan Hanna saja tidak, Rey terus saja mendiaminya. Dan hal tersebut membuat Hanna menjadi sedikit frustasi.
Hanna menghampiri Rey di kamarnya sambil membawa secangkir kopi untuknya. Pria itu hanya menoleh sebentar lalu fokusnya kembali pada laptopnya. Hanna mendesah untuk yang kesekian kalian, sikap Rey masih sama.
"Aku membuatkan kopi untuk mu," Hanna meletakkan kopi itu disamping laptop Rey."Apa yang sedang kau kerjakan, Rey? Sepertinya sangat serius," kemudian Hanna mendaratkan pantatnya disamping Rey.
...
"Ada film baru di bioskop, bagaimana kalau kita nonton akhir pekan ini. Bukankah kau pernah berjanji akan membawaku menonton?" Hanna meletakkan dagunya dipundak Rey.
Hanna mencoba membujuk Rey supaya tidak mendiaminya lagi. Jujur saja dia sangat tersiksa dengan sikap Rey yang seperti ini, tapi sepertinya hal tersebut tidak berhasil, Rey masih tetap mendiaminya.
"Aku tidak akan mengganggumu. Entah apa yang membuat sikapmu menjadi sedingin ini padaku. Aku tidak akan memaksamu untuk mempercayaiku."
Bukan aku, tapi kau yang membutuhkan waktu untuk merenung. Untuk sementara sebaiknya kita berpisah saja dan saling merenung, aku akan pulang ke kediaman lama ku." Hanna bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.
Hanna menghapus air mata yang mengalir deras di pipinya. Rey tidak menyadari jika wanita itu menangis. Berpisah untuk sementara waktu mungkin adalah pilihan terbaik, agar mereka sama-sama saling merenungkan perasaan masing-masing.
Rey menoleh setelah mendengar suara pintu ditutup dari luar. Sosok Hanna sudah menghilang dari jangkauan matanya.
Rey mendesah berat, dia tidak tau kenapa hubungannya dan Hanna menjadi semakin rumit, apakah menikah dengannya adalah sebuah keputusan yang tepat atau tidak? Rey menyerahkan semuanya pada waktu.
-
Kedatangan Hanna di kediaman keluarga Kim tentu saja tidak disambut baik oleh Ibu dan saudari tirinya. Tapi dia tidak peduli dan tidak mau ambil pusing. Hanna langsung pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua, ini adalah rumahnya, tentu dia yang lebih berhak atas mereka.
"Apa yang kau lakukan di kamarku?!" Andina menyusul Hanna yang saat ini sedang berbaring di kasurnya.
"Aku yakin tidak amnesia, memangnya sejak kapan kamar ini menjadi milikmu? Aku tidak pernah merasa memberikannya padamu, lalu kenapa bisa menjadi milik mu?" Hanna membuka matanya yang sebelumnya tertutup, tatapan dingin dia berikan pada Dina.
"Kau, kenapa sangat menyebalkan!!"
"Keluarlah, aku sedang tidak ingin debat denganmu. Sebaiknya kau cari kamar lain saja, karena mulai hari ini aku akan tidur di sini!!"
__ADS_1
"Apa?!"
"Kau sudah mendengarnya, dan aku malas jika harus mengulanginya lagi!! Keluarlah!" Pinta Hanna sekali lagi.
Andina menghentakkan kakinya kesal. Dengan hati dongkol Andina meninggalkan kamar tersebut, rasanya dia ingin sekali menghajar Hanna, tapi hal tersebut tidak dia lakukan. Mengadukan pada Vina mungkin lebih baik.
Hanna membiarkan ponselnya terus berdering tanpa berniat untuk mengangkatnya. Wanita itu tidak peduli siapa yang menghubunginya, dia hanya menenangkan pikirannya dan tidak diganggu untuk saat ini.
Apa yang terjadi antara dirinya dan Rey membuat Hanna di Landa galau berkepanjangan, di satu sisi dia merasa kosong, tapi disisi lain dia merasa kecewa atas sikap Rey yang seolah tidak mempercayainya.
Dia tau, jika antara mereka menang tidak ada cinta. Bahkan rencana pernikahan itu juga bukan karena dua hati yang saling mencintai, tapi karena sama-sama tidak ingin melakukan dosa lebih banyak lagi.
Saat masih renaja. Hanna memiliki sebuah impian, jika dia dewasa nanti, pemilik mata Hazel itu ingin menikah dan berdiri di atas Altar bersama pria yang dia cintai. Tapi sepertinya itu hanya sebuah mimpi kosong di siang bolong.
Mimpi indah yang tidak akan pernah menjadi nyata. Dan Hanna sudah menyadari semua dari awal, jika hubungannya dan Rey tidak mungkin bisa lebih dari hanya sekedar Partner Ranjang.
-
Rey menghentikan mobil mewahnya di sebuah club malam ternama di kota S. Pria itu terlihat turun dari mobilnya lalu masuk ke dalam bar tersebut.
Hingar-bingar lampu warna-warni khas klub malam menyambut kedatangan Rey di 'Night's Star Club' berbagai pemandangan menjijikkan mengiringi di setiap langkahnya.
Tidak ada yang menegurnya, apalagi menghinanya. Semua acuh dan sibuk pada dunianya masing-masing.
Rey berjalan menuju menuju konter bar. Karena hanya di sana satu-satunya tempat yang membuatnya merasa nyaman saat berada di club' malam.
"Berikan minuman seperti biasa untukku." Pinta Rey pada bartender di depannya.
"Bos besar, malam ini Anda datang."
"Hn,"
"Anda pasti sangat sibuk sampai-sampai jarang berkunjung kemari," ucap si bartender sambil meracik minuman untuk Rey.
"Sepertinya bar mu semakin ramai saja," Rey memperhatikan sekelilingnya, orang-orang penuh sesak memenuhi club' malam tersebut.
__ADS_1
"Ya, mungkin karena Diego Moella akan melakukan pertunjukkan menyanyi di sini. Makanya banyak fans nya yang datang untuk menyaksikan aktor dan penyanyi favoritnya itu." Ujarnya.
Diego lagi, kenapa Rey harus mendengar nama itu dimana-mana? Rey benar-benar muak mendengar nama orang yang berhasil menghancurkan moodnya tersebut. Dan pergi ke club' malam sepertinya bukan pilihan yang tepat.
Setelah menghabiskan dan membayar minumannya, Rey memutuskan untuk pergi dari sana. Dia tidak ingin bertemu dengan batang hidung pria yang bernama Diego Moella tersebut. Dan benar saja, tak lama setelah kepergian Rey, Diego dan rombongannya tiba di club' malam tersebut.
-
Pagi yang indah disambut oleh matahari pagi dan sejuknya udara yang belum terkontaminasi polusi asap pengendara. Burung-burung kecil bahkan dapat merasakan betapa besarnya kasih sang pencipta untuk semua mahkluk hidup yang ada di bumi ini.
Sama halnya juga dengan yang dirasakan oleh seorang gadis cantik bernama lengkap Hanna Kim ini, menikmati indahnya langit di pagi hari dari balkon kamarnya. Dia hirup oksigen yang masih bersih itu sebanyak-banyaknya.
'Hah... Akhirnya aku bisa menikmati pagi seindah ini.' Gumamnya sambil meregangkan otot tubuhnya.
Saat ini, Hanna seperti penikmat seni yang ada di Galeri yang menampilkan lukisan-lukisan luar biasa yang memiliki harga jual tinggi. Bedanya, hasil seni yang ada di depan dia saat ini, jauh lebih indah dan luar biasa dari lukisan-lukisan yang dipajang di galeri.
Di saat Hanna sedang asik menikmati paginya, dari dalam kamar, terdengar nada masuk dari ponselnya yang sengaja ia letakkan di atas nakas di samping tempat tidur miliknya.
Tidak ingin membiarkan sang penelepon menunggu lama, Hanna bergegas mengambil ponsel warna putih garing itu dan menggeser layarnya pada simbol telepon berwarna hijau, setelah membaca identitas penelepon.
"Baiklah, kita bertemu di tempat biasa. Dan aku akan menagih janjimu, kau harus mentraktirku hari ini,"
"Bukan masalah. Aku ingin mengenalkan seseorang padamu,"
"Heh, siapa? Apa dia kekasihmu?"
"Bukan, kami masih proses pendekatan."
"Wow, oke-oke. Aku sangat penasaran dengan orang yang akan kau kenalkan padaku itu."
"Jangan terlambat, atau traktirannya batal!!"
"Ck, dasar menyebalkan. Baiklah, aku tau. Aku tidak akan terlambat, ya sudah sampai jumpa di sana."
Kemudian Hanna memutuskan sambungan telfonnya. Dia harus bersiap-siap, atau Derby akan membatalkan niatnya untuk mentraktir nya hari ini, mengingat betapa pelit dan perhitungannya sahabatnya tersebut.
__ADS_1
-
Bersambung.