
Sonia yang mendengarkan hal itu terlihat bingung. Sekilas wanita cantik itu menatap sang suami, dan Kabir pun hanya mengangguk kecil. Ada rasa kesal di Sonia, kenapa suaminya tidak memiliki ketegasan sedikitpun.
Dengan hati kesal Sonia mengikuti apa yang diputuskan oleh suaminya, sesaat wanita itu menarik nafas panjang dan menghembuskannya kasar. Semua sesuai dengan. Keinginan sang ibu dan Kabir selalu tidak berdaya ketika Ema sudah punya mau.
"Nenek, Ajay mau ikut mama …." Ucap bocah berumur 10 tahun itu. Ema mengusap lembut kepala Ajay, wanita itu berjongkok dan mensejajarkan tingginya dengan Ajay.
"Ajay, kamu sayang gak sama nenek?" Tanya Ema.
"Sayang nek, kan nenek ibu nya papa." Jawab Ajay polos.
"Naah, papa kan mau pergi keluar kota, jadi Ajay yang temani nenek sebagai pengganti papa. Mau ya?" Sahut Ema dengan wajah yang memelas, acting Ema selalu membuat Sonia jengah.
Bukan hanya dengan Kabir ibu mertuanya seperti itu, ternyata terhadap cucu nya pun dia begitu. Tidak sedikitpun Ema menganggap Sonia ada, seperti anak yatim saja Ajay saat ini.
Ajay menatap mata kedua orang tuanya untuk meminta pendapat, anak kecil itu sebenarnya sering merasa tertekan karena selalu mengikuti keinginan sang nenek.
'Jangan pernah kamu berharap bisa membawa cucu ku Nia, silahkna kau hidup bebas di luar sana. Aku akan menyelamatkan Ajay dari Kehidupan dan didikan tak bermoral.' guman Ema dalam hati. Sonia yang memperhatikan raut wajah serta tatapan sekilas Ema, dia pun bisa memahami apa yang ada dalam pikiran Ema.
'Suatu hari nanti anakmu akan menyadari kesalahannya yang tidak pernah mengerti perasaan ku, bu. Dan ibu sendiri akan menyesal dan memohon. padaku untuk bisa meminta maaf dari ku." Gumam Sonia dalam hati.
"Tapi … kasian mama nek, kalo mama tinggal sendirian." Ucap Ajay sedih. Ema sekilas menatap tajam Sonia, sementara Sonia tidak sedikitpun membuang pandangannya.
"Ajay, mama kamu kan sedang dapat jabatan baru, dia akan lebih sibuk dari sekarang. Daripada Ajay tidak ada teman kan lebih baik sama nenek," Sahut Ema menyindir sekaligus memprivokasi bocak tampan itu.
__ADS_1
Ajay terdiam dan mendapatkan anggukan kecil dari sang mama. Dengan tatapan lesu, Ajay pun menuruti kehendak sang nenek. Kabir tersenyum melihat apa yang dia atur, kini berjalan sesuai dengan rencana. Pria itu sungguh tidak peka dengan perasaan sang istri dan anak, sikapnya yang lembut ternyata tidak memiliki ketegasan dan kepekaan.
Hal inilah sebenarnya yang membuat Sonia kesal dan marah, entah apa yang ada dalam pikiran suaminya mengenai rumah tangga mereka.
"Bagaimana dia bisa menjadi imamku, sementara hak ku tidak dia berikan. Bukan hanya uang yang aku butuhkan tapi juga perlindungan diri dan kebahagiaan hati. Huufftt … kapan kamu berubah mas?" Guman Sonia lirih nyaris tak terdengar. Wanita itu menuju kamarnya dan mengemasi barang yang akan dia bawa dalam keadaan kesal dan akhirnya mendiamkan sang suami yang kini sudah masuk kedalam kamarnya.
"Nia, aku harap kamu nggak marah ya …." Ucap Kabir yang kini duduk di tepi ranjang. Pria itu memperhatikan istrinya sedang berkemas.
Sonia menghentikan kegiatannya, hatinya sedang sakit. Perlakuan mertuanya yang kasar dan perlakuan suaminya yang lembut, manis tapi menyakitkan karena tidak adanya ketegasan. Lengkap sudah rasa yang kini ada di hati wanita cantik itu.
"Mas itu seorang ustad, seharusnya tau bagaimana rasanya di perlakukan seperti ini. Aku bekerja toh atas ijinmu mas, dan selama ini Ajay tetap mendapatkan perhatianku. Tapi apa yang mas lakukan? Keinginan ibu tidak bisa mas kendalikan, aku sadar diri ini bukan siapa-siapa mas. Aku hanya anak panti yang kamu nikahi dan kamu sangat tau aku tidak akan bisa kembali ke panti ku lagi karena, aku harus patuh dengan perintahmu. Tolong mas pikirkan sedikit saja bagaimana perasaanku," jawab Sonia panjang lebar dan menumpahkan sedikit uneg-uneg nya. Kabir terdiam sejenak, pria itu berusaha mengerti apa yang baru saja diucapkan oleh istrinya.
"Sayang, bersabarlah … ketaatanmu pada suami akan mendapatkan surga nya Allah. Lihatlah ibu, sebenarnya beliau sangat perhatian denganmu, dia mendukung karirmu. Coba kamu ingat lagi apa kata ibu tadi, karena jabatan baru mu, pasti kamu akan sangat sibuk. Itu artinya ibu mengerti dengan keadaanmu sayang." Jelas Kabir panjang lebar sesuai pemikirannya.
"Terserah mas aja lah kalau begitu, hanya satu pesanku. Aku bukan manusia sempurna dan aku tidak tau sampai kapan aku akan kuat untuk bertahan. Permintaanku tidak banyak mas, aku hanya ingin kamu menganggap aku ada dan penting. Aku juga ingin berbakti pada ibu, selama ini aku tidak tau siapa ibu dan ayahku. Tapi bagaimana bisa aku menyayangi ibu, jika ibu sendiri tidak pernah menginginkan aku apalagi menganggapku sebagai menantunya." Ucap Sonia dengan air mata yang sudah tidak bisa dibendung lagi.
Entah kekuatan dari mana wanita itu sepertinya tidak mampu lagi menahan rasa sesak di dalam hatinya. Sekilas bayangan Zaki bermain dalam pikirannya.
Zaki dan Kabir sama-sama pria lembut, tapi bedanya Zaki lebih peka dan mengerti bagaimana membahagiakan wanitanya. Sementara Kabir, kebalikannya.
'Astaghfirullah … kenapa aku jadi membandingkan mereka. Zaki aku ingin lepas dari mu …." Sonia tersadar dari lamunannya yang sempat terbayang dengan sosok Zaki dan tanpa sengaja wanita itu membandingkan dengan suaminya.
"Sayang, tolong jangan biarkan hatimu diliputi amarah. Aku tidak ingin kita menjadi anak durhaka, bersabarlah. Sebenarnya ibu menyayangimu, hanya saja caranya yang mungkin tidak cocok dengan kamu." Sahut Kabir. Pria tampan itu berusaha meyakinkan sang istri dengan keyakinannya.
__ADS_1
Sonia merasa bosan dengan kalimat itu, entahlah mungkin saat ini Sonia ingin di mengerti. 11 tahun membina rumah tangga, Sonia selalu mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari mertuanya.
Sonia kini sedang mengemas pakaian Zaki yang akan digunakan nanti saat tugas luar kota, wanita itu sedang menguatkan hati untuk tetap bisa sopan dengan suaminya. Walaupun hatinya kini sangat kesal, penuh dan berdarah.
"Semoga apa yang mas katakan itu benar. Aku juga berharap mas bisa membedakan mana yang tulus sayang dan mana yang membenci ku dengan sangat dalam. Sudah lah mas, aku lelah …." Ucap Sonia menyerah. Wanita itu tidak ingin membuat suaminya, jadi tidak konsentrasi saat bekerja karena saat berangkat mereka bertengkar.
"Aku menyayangimu Sonia, aku berharap kamu mau bersabar dan memahami keadaanku dan posisiku. Ayo kita istirahat, hari semakin malam." Ucap Kabir lembut dan hanya di sahuti anggukan kecil dari Sonia. Wanita itu berdiri dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Sampai kapan aku akan mampu bertahan mas? Jika ada orang yang bisa membuatku bahagia, salahkah aku jika menginginkannya?"
❤️❤️❤️
Aduuhh aku sendiri kok bingung juga ya jadi nya. Sabar ya Sonia... Kabir juga membingungkan deh sikapnya 🤔🤔🤔
Yuukk jempolnya di banyakin, komennya yang rame, vote nya yang buuanyak.
Dear pemirsaahh..
maaf lahir dan batin ya, maafkan jika author banyak salah. author berharap pemirsa tetap setia dengan karya2 author yang receh ini.
selamat hari raya idul fitri pemirsaaahh. tengkyuuuhh...
❤️❤️❤️🌹🌹🌹
__ADS_1