Pashmina Untuk Kupu-kupu

Pashmina Untuk Kupu-kupu
Bab 17: Pertemuan Dengan Ameer


__ADS_3

Setelah menyelesaikan makannya Sonia berniat untuk kembali ke penginapan, lelah mendera tubuh dan pikirannya. Wanita itu memberikan anggukan kecil pada Ameer dan temannya sebagai wujud sopan santun budaya orang timur. Kedua pria tampan itu pun membalas anggukan dari wanita yang melewati mejanya. 


Sonia tidak lupa menyimpan kartu nama di dalam dompet, Tuhan selalu membuat jalan hidup manusia penuh kejutan. Hal itu berusaha dinikmati oleh Sonia, Wanita itu tidak ingin larut dalam kesedihan dan kini mulai merancang langkah apa jika terjadi sesuatu dengan pekerjaannya. Sepanjang jalan Sonia berusaha berpikir jernih, sebuah pemikiran menghampiri otak cerdasnya. Jika dia ingin lepas dari Zaki itu artinya dia harus segera mencari perusahaan lain untuk dia mencari nafkah. Hidup sebatang kara membuat wanita itu kuat, Kabir dan Zaki adalah masa lalu yang harus dia tutup. 


Ameer masih berada di restoran itu bersama sahabatnya, sesaat senyum menggores bibir pria tampan berjambang tipis. Setelah menyelesaikan acara makan malam yang berkesan itu Ameer menatap kedua mata sahabatnya yang merangkap sebagai asisten pribadinya. 


“Syam, siapa wanita itu? lo selidiki sampai tuntas. Gue gak nerima penolakan,” Titah Ameer. Hal itu membuat Syam menatap nanar sepasang netra sahabat yang merangkap bos plus saudara angkatnya. Lebih tepatnya Syam yang diangkat saudara oleh Ameer.


Ameer Ahmad seorang pria berdarah pakistan indonesia, baru saja menginjakkan kakinya di bumi pertiwi ini untuk melanjutkan tampuk kekuasaan sang ayah Zabir Ahmad. ZA Group yang menangani multi bisnis merupakan perusahaan yang tidak kalah besar dengan Prameswara Group. CEO muda yang merangkap ustad itu sedang mencari wanita yang mampu menggetarkan hatinya, misi yang terdengar lucu karena ini sudah menjadi ketetapan sang ummi. 


Ameer sering mengisi acara ketika ada undangan yang masuk di managementnya. Kegiatan yang membuat hidupnya lebih hidup, dengan membawa nama panggung ‘Ustad Zaid”. Otak nya yang cerdas menjadikannya seorang penghafal Al Qur’an sekaligus mendapatkan penghargaan bergengsi sebagai pebisnis muda berprestasi di kancah dunia. 


“Heem … sepertinya kali ini gue dapet tugas khusus nih. Kenapa bos?” Tanya Syam sambil tersenyum menggoda Ameeer. Pria berhidung mancung dengan alis tebal dan mata yang tajam itu menatap datar sang sahabat. 


“Lo Kerjain aja apa yang gue minta, kalo keberatan ya siap-siap aja potong gaji.” Ucap Ameer santai. Hal itu adalah senjata paling ampuh untuk membuat Syam mematuhi perintah bosnya.  


“Oke bos, semoga aja dia masih single dan ummi setuju.” Ucap Syam dengan mengurangi volume suaranya di kalimat terakhir. 


Plak!

__ADS_1


“Awww sakit bro,” Jerit Syam tertaham sambil mengusap lengannya yang habis di pukul Ameer. 


“Jangan mencari masalah Syam, gue mau dia.” Ucap Ameer dengan senyum tipisnya. Syam mencebik kesal, sedari tadi pria yang mengikuti garis ketampanan sang bos rasa saudara itu memperhatikan ada yang aneh dengan Ameer. 


“Belum ketangkep aja udah posesif gitu bos,” Ucap Syam dan langsung berdiri. Pria itu membayar pesanan mereka dan Ameer pun berjalan begitu saja menuju mobilnya.  


Kedua pria itu kini sudah melajukan mobil mewah milik Ameer dengan kecepatan sedang. tujuan mereka mension mewah milik keluarga Ameer. 


Ummi Fatimah dan abi Zabir Ahmad sedang menikmati tontonan televisi sambil memakan cemilan ringan dan teh hangat. Kedua pria tampan itu masuk setelah mengucap salam, para pelayang dengan sigap membawa tas dan jas tuan mudanya, setelah menyalim tangan kedua orang tua itu dengan takzim Ameer duduk di sisi sang ummi. Syam mengambil posisi duduk dekat abi. 


“Kalian dari mana aja?” tanya Fatimah dengan senyum yang menghiasi bibirnya. Ameer merebahkan kepalanya di paha sang ummi, hal itu tentu saja membuat Zabir membulatkan kedua matanya. 


"Abi … sama anak kok cemburuan gitu, ini juga gitu, kapan kamu akan kenalkan ummi sama wanita pilihan mu nak?" Tanya Fatimah lembut. Wanita itu memang tidak bisa bicara kasar, apalagi dengan putra tercintanya yang selalu saja pandai membuatnya bahagia. 


"Ummi, pembahasannya bisa di ganti gak? Ameer alan bawakan wanita yang pantas untuk menjadi menantu ummi. Sabar ya cantiik …." Ucap Ameer sambil mencolek dagu sang ibu. Fatimah sangat senang ketika sang putra merayunya seperti itu, tapi tidak bagi Zabir. Syam yang melihat hal itu langsung melempar bantal sofa ke arah Ameer. 


Buk!


“Eh kulkas, jangan ngerayu gadis paling cantik ya dirumah ini, kalo nggak mau jabatan lo, di cabut sama big boss.” Ucap Syam tidak kalah menggoda Fatimah dengan sebutan ‘Gadis’. Semua yang ada di ruangan itu sontak tertawa. Keluarga Ahmad memang bisa dijadikan teladan karena hampir tidak pernah sama sekali mereka ribut, Hal ini lah yang membuat Ameer sering takut untuk mendekati wanita. 

__ADS_1


“Umi, abi … Jika suatu hari nanti Ameer mendapatkan seorang wanita yang biasa-biasa saja apakah akan direstui?” Tanya Ameer tiba-tiba. Pria itu berjaga-jaga dulu, jika saja wanita incarannya yang belum diketahui namanya itu menjadi jodohnya. 


Abi Zabir menarik nafasnya dalam, tatapan pria itu langsung menatap kedua netra sang istri. Fatimah seperti memberikan isyarat kepada suaminya. Zabir pun tersenyum tanda mengerti. 


“Ameer, saat abi dan ummi menikah dulu, Abi hanyalah karyawan biasa sebuah perusahaan besar. Sementara Ummi dari keluarga berada, tapi satu hal yang Abi salut, Ummi tidak memberatkan Abi dengan permintaan ini dan itu. Pernikahan kami sangat sederhana dengan biaya yang sangat kecil, tapi coba kalian lihat sekarang kerjasama dan kerja keras kami ternyata mendapatkan ridho Illahi Robbi.” Ucap Zabir dengan senyum menghiasi bibirnya, mata pria yang beranjak tua itu menerawang mengingat masa muda dulu saat menikahi wanita paling cantik yang pernah dia temui. 


Ameer merasa lega, orang tuanya memang contoh yang patut di banggakan. Syam menatap Ameer dengan senyum, ijin sudah dikantongi, kini tinggal usaha saja untuk mendapatkan wanita yang diincar oleh putra mahkota kerajaan bisnis AZ Group.


“Heemm kalo misalnya dia seorang janda gimana Mi?” Tanya Ameer lagi. Pria itu harus bersiap dengan segala kemungkinan, agar dia pun bisa bersiap diri menghadapi keputusan orang tuanya. Bisa saja kan dia yang masih perjaka tong-tong, mendapatkan jodoh seorang janda. 


Kini giliran Fatimah yang menjawab, wanita berhati lembut dan selalu baik dengan siapapun itu kini mengusap kepala sang putra. Senyuman terkembang di bibirnya dan sesaat tatapannya menuju ke arah sepasang netra sang suami. 


“Jika dia bersungguh-sungguh untuk menjadi istri dan taat kepada suami, mau menerimamu apa adanya. Sudah selesai dengan masa lalunya, Ummi dan abi Insyaa Allah tidak masalah. Semua orang punya masa lalu, tapi kita hidup untuk masa depan, nak.”


❤️❤️❤️


Gaasss laah Ameer, buruan di cari. ingat ya Meer, pesona janda itu menyilaukan 🤣🤣🤣.


Maariii jempolnyaaa pemirsaahh, berikanlah othor semangat dengan dukungan kalian. Jempol, komen positif, vote, hadiah dan subscribe. cuuusss buruan. tengkyuuuh pemirsaaahh.

__ADS_1


❤️❤️❤️🤣🤣🤣🌹🌹🌹


__ADS_2