
Di sebuah ruangan, Kabir merenungi nasib yang kini menimpanya. Kehilangan istri dan kehilangan putra yang sangat dia sayangi, sepertinya takdir sedang menguji kesabaran pria itu. Ema yang merasa terpukul dengan kepergian sang cucu, kini banyak mengurung diri di kamar.
Wanita itu terus saja menangis dan kadang tertawa. Ada penyesalan dalam hatinya atas apa yang terjadi dengan sang cucu, itu adalah kesalahannya. Andai dia tidak egois dan membiarkan sang cucu bertemu dengan ibunya, mungkin saat ini dia masih bisa melihat dan bermain dengan sang cucu.
“Ajay, maafkan nenek. ini semua salah nenek,” kembali tangis wanita tuaa itu pecah, kini rasa bersalah terus menghantui pikiran dan perasaannya. Ada rasa takut saat bertemu dengan Kabir, takut jika sang putra menyalahkan apa yang terjadi pada Ajay.
Ema kembali dihantui bayang-bayang itu, Kabir yang tidak pulang selama 2 hari membuat Ajay merindukan sang mama. Dengan egoisnya Ema melarang dan menjelek-jelekkan Sonia di hadapan putranya.
Flashback on
“Mama kamu itu tukang selingkuh Ajay, kamu tau apa itu selingkuh?” Tanya Ema yang sudah frustasi menghadapi cucunya yang terus aja rewel dan membuat hatinya menjadi panas.
“Ajay tau nek, tapi mama nggak gitu, nenek ayo antar ajay kerumah mama.” Ucap bocah kecil itu dengan tangis yang terisak. Ajay sudah tau apa arti selingkuh, dia mencari di mesin pencarian yang serba tau dan mendapatkan penjelasannya.
“Mama kamu itu sudah tidak suci lagi, dan nenek tidak mau kamu berdekatan dengan wanita yang kotor seperti itu. Kamu nanti akan dihina sama temen-temen mu, Sudah jangan rewel lagi, ayo kita makan sekarang.” Ajak Ema dengan kesal, tangannya menarik kasar tubuh bocah yang kini tampak makin kurus.
“Nenek bohong! nenek jahat! mama Nia orang baik nek!” teriak Ajay histeris, bocah itu tidak selera lagi untuk makan. Beberapa hari ini bocah itu tidak makan, keculi di paksa dan tidak lama akan di muntahkan lagi. Ema tidak menggubris cucunya. Rasa benci kepada Sonia seakan membuat matanya buta dan telinganya tuli.
Permintaan Ajay tidaklah berlebihan, tapi kebencian Ema yang membuat semuanya jadi tidak baik di matanya. Ajay masuk ke kamarnya, bocah itu naik ketempat tidur. Tubuhnya bergetar dan merasa perubahan suhu yang begitu cepat membuat bocah itu menghentikan tangisnya.
Bayangan sang mama kembali memenuhi ruang pikirannya, Suhu tubuh Ajay semakin tinggi dan membuat bocah itu mengigau, dia berjuang sendiri. Sementara Ema sibuk mengomel dan menyantap makan siangnya sendirian.
Wanita itu tidak mencari keberadaan cucunya dan menganggap kepergian cucunya ke dalam kamar merupakan hal yang biasa. Hujan turun dengan deras, Ajay semakin merasakan sakit pada kepalanya. Tidak kuat untuk bangun, bocah itu berusaha memanggil sang nenek dengan suaranya yang lemah.
__ADS_1
Merasa tidak ada jawaban bocah itu berusaha menjangkau meja dan menjatuhkan gelas yang ada di nakas. Berharap ada tanggapan dari sang nenek, tapi kembali Ajay harus menelan kekecewaan. Sang nenek yang sudah selesai makan kini sibuk di dapur membereskan semuanya, hari ini asisten rumah tangga yang bekerja di rumah mereka sedang ijin pulang kampung.
Ema masih terus mengomel di tengah suara hujan yang deras dan petir yang menyambar-nyambar. Saat sadar sedari tadi cucunya belum keluar kamar dan jam sudah menunjukkan pukul 2 siang lebih, Ema berniat melihat cucunya di kamar.
Betapa terkejutnya Ema melihat pecahan gelas yang berserakan di lantai dan cucunya yang terbaring dengan wajah pucat. Sungguh Ema yang masih diliputi rasa kesal sehingga tidak peka dengan keadaan sang cucu yang kini sedang berjuang dengan maut.
Ema sibuk membersihkan lantai dengan mulut yang masih saja mengomel, kesadaran Ajay sudah melayang. Bocah itu kini sudah tidak sadarkan diri, dengan suhu tubuh yang sangat tinggi.
Selesai membersihkan pecahan gelas, barulah Ema mendekati Ajay. Tangannya dengan cepat menyibak selimut, yang menutupi tubuh bocah itu. Mata Ema terpaku melihat ajay yang pucat pasi seolah tak berdarah lagi.
“Ajay, ayo bangun kita makan du–” ucapan itu terhenti. Ema yang menyentuh tangan Ajay sangat terkejut dengan suhu tubuh cucunya, Panas dan wanita itu langsung memegang wajah sang bocah.
“Astaghfirullah Ajay! bangun nak … BANGUUUUN!” Teriak Ema panik. Tapi tubuh Ajay sudah didak bisa bergerak lagi, dengan cepat Ema memanggil tetangganya yang seorang dokter. Hujan lebat dengan petir yang menyambar tidak membuat langkah Ema surut.
“Dokter … tolong Ajay!” Teriak Ema saat melihat sang dokter yang sepertinya baru saja pulang dinas dan keluar dari mobilnya.
“A-Ajay Dokter, dia tidak bangun dan badannya panas.” Ucap Ema dengan gugup dan takut. Dokter itu tidak banyak bicara lagi, dia langsung melangkah lebar agar cepat mencapai rumah tetangganya itu.
Dokter memeriksa Ajay dan betapa terkejutnya dia, bocah itu sudah tidak bernyawa lagi. Sang dokter memeriksanya sampai tiga kali dan berusaha menekan dada Ajay sebagai pertolongan pertama. Tapi semuanya sia-sia saja. Bocah itu sudah berpulang beberapa menit yang lalu.
Tubuh panas Ajay kini sudah berubah menjadi dingin, Dokter berbalik ke arah Ema yang menunggu keterangan sang dokter dengan wajah khawatir.
“Bagaimana Dokter?” Tanya Ema dengan rasa takut yang menyelimuti dirinya.
__ADS_1
“Kita terlambat bu, Ajay sudah berpulang kepada sang khaliq. Dia menahan rasa sakit nya beberapa jam yang lalu sampai lidahnya digigit, beruntung lidah itu tidak terluka. Maafkan saya yang tidak bisa berbuat apa-apa bu. Kenapa ibu tidak segera membawanya kerumah sakit saat demamnya belum terlalu tinggi? Atau setidaknya ibu mengatasinya terlebih dahulu?” Pertanyaan demi pertanyaan keluar dari sang dokter, karena dia tidak melihat tanda-tanda adanya pertolongan pertama dari orang yang berada di hadapannya itu.
Deg!
Jantung Ema berdebar kencang, harus nya tadi dia menyusul sang cucu dan memastikan keadaannya. Ema kini hanya bisa menangis, tubuh tuanya ambruk di lantai. Tangisnya pun pecah seiring dengan hujan yang berhenti.
Semua terasa begitu cepat, Ema tidak menyangka kalau itu adalah pertemuan terakhirnya dengan sang cucu. Hal yang membuat wanita itu semakin menyesal adalah, ternyata permintaan Ajay tadi adalah permintaan terakhirnya.
Flashback off
Kini semuanya sudah terlambat. Tidak ada lagi yang bisa dia sesalkan, rasa bencinya membuat cucu satu-satunya berpulang dengan cara yang sangat memilukan. Ema terus mengutuk dirinya sendiri, tangisan kembali pecah di dalam kamarnya. Ema sering bicara sendiri dan kali ini Kabir bisa mendengarnya dengan jelas dari balik pintu.
Ceklek!
Ema terkejut melihat putranya yang berdiri dengan wajah kecewa dan menatapnya dengan pandangan yang sulit untuk diartikan.
“Ibu … kenapa Ibu tega melakukan hal ini kepada bocah yang seharusnya tidak merasakan dampak dari perpisahanku dengan Sonia.”
❤️❤️❤️
Tegaaa nya kamu Ema, hanya karena kebencian membuat mu melewatkan hal terpenting itu. 🥺😭
Yuuukk jempolnya pemirsaah, komen, vote dan hadiah ya, jgn lupa subscribe.
__ADS_1
Pemirsaah maaf ya beberpaa hari kemarin gak up, othor lg rempong maksimal di dapur. makasiih dukungannya pemirsaahh.
❤️❤️❤️😭🥺😭🌹🌹🌹