
“Ajay, papa bukannya diam saja. Tapi kita harus punya adab terhadap orang tua, dan hal itu yang papa lakukan. Ajay tidak mau kan jadi anak durhaka?” Tanya Sonia kepada sang putra yang tampak menyimak ucapannya. Ajay terdiam sejenak, sebenarnya hati anak itu berontak tapi pikirannya membenarkan apa yang ibunya katakan.
“Iya ma,” Sahut Ajay singkat. Sonia membawa putranya masuk, dengan harapan sang ibu akan berhenti mengata-ngatainya. Dengan langkah yang sedikit ragu Sonia terus saja berjalan dan kini sampailah wanita cantik beranak satu itu di depan pintu.
“Assalamualaikum,” Ucap Sonia. Ema dan Kabir menoleh dan melihat ke arah pintu, Ema berdiri di situ dan Ajay yang tampak ketakutan dengan tatapan tajam sang nenek.
“Waalaikumsalam ….” Sahut Kabir dan Ema bersamaan.
“Kamu dari mana aja, jam segini baru pulang. Kamu nggak tau kalau malam ini kan ada pengajian dan kita selalu yang menyiapkan konsumsinya. Seharusnya kamu tidak hanya mementingkan pekerjaanmu saja, pikirkan juga kami yang di rumah!” Teriak Ema menyambut kedatangan Sonia.
Kabir ikut berdiri dan merangkul sang ibu, sebenarnya pria itu tidak suka dengan cara ibunya menegur Sonia. Tapi apa hendak dikata ibunya memang tidak menyukai istrinya sejak mereka menikah, tetapi cinta kabir membuat sang ibu terpaksa merestui putranya menikahi wanita yang tidak taat kepada agamanya itu.
“Ibu, sudah lah … malu kan didengar orang. Ntar dikira kita nggak ikhlas kalo sampe ada yang denger ibu membahas soal makanan, Nia kamu bawa Ajay masuk ya. Kamu sudah sholat?” Tanya Kabir lembut, pria itu sudah berusaha membawa sang ibu ke ruang tengah agar tidak ada tetangga atau jamaah yang mendengar omelan sang ibu.
“Sudah mas, tadi sudah sholat dan sekarang tinggal nunggu sholat isya aja.” Jawab Sonia sambil membawa Ajay untuk masuk ke kamarnya seperti yang diperintahkan sang suami.
“Kamu itu terlalu memanjakan istri, coba kamu liat gimana dia sama ibu! sopan pun nggak ada!” Hardik Ema kepada sang putra.
__ADS_1
“Ibu, aku mohon tenangkan hati ibu. Aku melihat Sonia sudah mulai berubah, ayo bu kita dukung dia. Jangan biarkan dia sendiri menjalankan proses hijrahnya, Aku takut dia frustasi dan akhirnya menyerah untuk menjadi lebih baik.” Sahut Kabir berusaha sabar.
Ema tidak bisa menahan lebih lama hidup bersama dengan menantu yang tidak diinginkan. Dalam pikiran Ema dia menginginkan Kabir untuk menikah dengan wanita soleha dan sesuai dengan pilihannya.
Perdebatan antara Kabir dan Ema akhirnya berakhir, Sonia pun sudah keluar dari kamar Ajay dan kini pindah ke kamarnya. Setelah membersihkan diri, Sonia berniat untuk melakukan sholat isya. Semantara Kabir sholat di mesjid seperti biasanya, dalam doanya Sonia memohon ampunan dan kekuatan untuk tetap berada di jalan Allah.
Selesai semuanya kini sepasang suami istri itu duduk di sofa yang ada di pinggir ranjang. Kabir akan berangkat besok dan entah kenapa hatinya terasa berat meninggalkan anak dan istrinya bersama Ema, sementara sang ibu sudah gelisah dengan keberadaan sang istri.
Ema sangat sayang dengan Ajay, tapi ketika dia sedang kesal dengan Sonia maka makian dan hinaan pun tidak bisa ditahan dan akhir nya Ajay pun mendengarkan sang nenek yang berkata buruk tentang ibunya.
“Mas … apa sebaiknya kita ngontrak rumah saja ya? aku ngerasa ibu tidak menyukai kehadiranku di rumah ini dan hal ini nggak baik untuk Ajay. Gimana menurut mas?” Tanya Sonia.
“Besok kamu akan pergi selama 5 hari dan mungkin akan lebih, bagaimana kami berdua bisa menghadapi ibu mas? Tanya Sonia dengan mata yang berkaca-kaca. Sebenarnya dia bisa saja tinggal di apartemen yang selama ini tempat dia berkencan dengan Zaki, tapi hal itu tidak akan dia lakukan lagi karena dia sudah bertekad untuk berpisah dari Zaki.
“Atau begini saja, selama aku pergi bagaimana kalau kamu menginap di guest house atau sejenisnya tapi yang syariah, dan bawa Ajay bersamamu. Nanti aku yang akan bicara pada ibu. Aku tidak ingin membuat kamu tidak nyaman, tapi keadaan kita saat ini pun tidak memungkinkan untuk kita langsung pindah. Kamu tau sendiri kan syarat yang ibu berikan, kita boleh pindah kalau sudah bisa membeli rumah sendiri dan itu dengan cara cash bukan nyicil. Aku berharap dalam beberapa bulan kedepan uang kita sudah cukup dan kita bisa membeli rumah walau kecil.” Ucap Kabir panjang lebar.
Sonia merasa terharu dengan pemikiran suaminya, dia bisa melihat sosok Kabir yang bertanggung atas dirinya. Tidak hanya memikirkan fisik tapi Kabir juga memikirkan tentang psikologisnya. Sonia menghambur ke dalam pelukan suaminya, ada rasa sesal kenapa dia memberikan ruang untuk pria lain mengisi hatinya.
__ADS_1
Kabir membalas pelukan Sonia, walaupun saat ini mereka hidup sederhana tapi Sonia mau berbagi bahu untuk saling memikul selama mereka berumah tangga. Kabir tidak mengetahui adanya pria lain yang yang mengisi hati sang istri tapi doa pria yang berprofesi sebagai ustadz itu selalu meminta untuk Sonia agar bisa menjaga diri dan menjaga hati.
Setelah berbincang ringan, kini mereka berdua pun pindah ke ranjang berukuran sedang yang selama ini menjadi peraduan, dalam susah maupun senang. Kabir tidak lupa memohon kepada Allah, untuk bisa menjadi suami yang bisa membahagiakan istri dan anaknya.
Waktu berlalu, malam berganti pagi, sesuai rencana Kabir bersiap untuk berangkat mengikuti jadwal yang diberikan pondok untuk mengisi kajian di kota lain dan diperkirakan Kabir akan pergi selama 5 hari.
Saat sarapan, Kabir berusaha untuk bicara kepada Ema. Dia sedang berpikir bagaimana sebaiknya agar ibunya tidak tersinggung. Sesekali Sonia melirik sang suami, sambil menyuap makanan ke dalam mulutnya. Sementara Ajay tidak ada perubahan, bocah itu tetap saja seperti biasa dan sudah terbiasa dengan sang nenek yang bicara ketus atau marah-marah dengan sang ibu.
“Bu, aku akan keluar kota selama kurang lebih 5 hari, dan Sonia kebetulan akan menginap dekat kantornya. Nia sudah pindah ke divisi lain dan namanya baru pindah kerja pasti akan membutuhkan konsentrasi tinggi. Aku harap ibu bisa memakluminya, Ajay akan ikut dengan Sonia bu.” Ucap Kabir menjelaskan.
Ema sebenarnya merasa senang jika Sonia tidak berada di rumahnya, tapi dia tidak suka jika sang cucu tidak bersamanya. Walau ketus dan pemarah, sebenarnya Ema sangat menyayangi sang cucu.
“Biarkan Ajay bersama ibu,”
❤️❤️❤️
Aampuunn deh mertua kek gini 🤕🤕🤕
__ADS_1
Yuuukk like, komen, vote dan hadiahnyaa. Jangan lupa subscribe ya pemirsaaahh. tengkyyuhh
❤️❤️❤️🤕🤕🤕🌹🌹🌹