Pashmina Untuk Kupu-kupu

Pashmina Untuk Kupu-kupu
Bab 22: Kabar Duka


__ADS_3

Hari ini Sonia sangat bersemangat kerja, beberapa pesan masuk ke ponselnya dari Zaki, wanita itu tidak menghiraukannya. Apalagi yang harus dia pikirkan, surat pengunduran dirinya sudah di setujui oleh nyonya besar yang saat ini menjadi sahabatnya. 


Memiliki sahabat sebaik Zoya, membuat Sonia semakin bersemangat untuk menjadi lebih baik lagi. Dia tidak ingin mengecewakan sang sahabat, kisah masa lalu yang salah akan di simpannya sebagai peringatan dan pelajaran hidup. Allah akan selalu menutup aibnya, karena dia bersungguh-sungguh untuk bertaubat. 


Tanpa terasa waktu sudah berlalu dan kini saatnya dia pulang. Tubuh lelahnya sangat membutuhkan istirahat, menjelang keluar dari perusahaan, Sonia berusaha menyelesaikan semua pekerjaannya dengan baik. 


Sepertinya Rima belum pulang kerja, Sonia bergegas membersihkan diri. Tiba-tiba dia berpikir untuk segera masak untuk mereka makan malam, lalu mengirimkan email ke perusahaan ZA Group. Dengan hati riang wanita itu memulai kegiatannya, makan malam sederhana sudah selesai. 


Waktu sudah mulai gelap, suara motor Rima terdengar memasuki garasi. Gadis itu mengucap salam sebelum masuk kedalam rumah, dengan cepat dia meraih tangan Sonia dan mencium punggung tangan wanita itu. Sonia yang baru saja mendapatkan perlakuan manis dari Rima, merasa ada yang hangat di hatinya dengan apa yang Rima lakukan. 


“Ahh … senangnya, sekarang aku sudah punya mbak, punya pekerjaan yang menyenangkan. Nikmat mana lagi yang kau dustakan Rima.” Ucap gadis itu dengan wajah yang berseri. Mereka berdua tertawa bersama, menikmati sore yang indah dengan obrolan seputar pekerjaan yang mereka geluti. Hingga tiba-tiba Sonia teringat, dia lupa menanyakan dimana Rima bekerja. 


“Rim, Aku lupa nanya sama kamu, kamu kerja di perusahaan apa?” Tanya Sonia. 


“Ya Allah … iya Mbak, Aku sampe lupa ngasih tau, kemaren kita sama-sama sibuk yak. Aku keterima di perusahaan besar mbak, dan nggak pernah kebayang sebelumnya bisa kerja di perusahaan itu sebelumnya. Prameswara Group, Aku di bagian logistik Mbak.” Jelas Rima panjang lebar. 


Glek!


Sonia menelan salivanya kasar, Kenapa Allah membuat cerita yang unik dalam hidupnya. Hari ini dia mendapatkan persetujuan untuk keluar dari perusahaan besar itu dan di hari yang sama Rima yang kini menjadi bagian dalam hidupnya, ternyata bekerja di perusahaan itu.


“Wah bagus tuh Rim, kamu kerja yang bener ya. Perusahaan Prameswara terkenal royal kepada karyawan,” Tutur Sonia dengan wajah yang berseri. 


“Alhamdulillah mbak, Aku janji akan bekerja dengan jujur dan semoga bisa awet disana. Eh iya Aku juga lupa, Mbak kerja dimana?” Tanya Rima. 

__ADS_1


“Aku di Supermarket ‘Wara’. Tapi akhir bulan ini Aku resmi keluar Rim, setelah grand opening. Aku sudah di terima kerja di perusahaan ZA Group,” Jawab Sonia dengan wajah yang tak kalah ceria. Rima bingung melihat dari kakak angkatnya itu, supermarket besar itu kan baru saja dibuka, lalu kenapa Sonia ingin berhenti. Rima baru hari ini bekerja di Prameswara Group, jadi belum tau kalau supermarket ‘Wara’ adalah anak perusahaan dari perusahaan raksasa itu. 


“Kenapa pindah Mbak?” Tanya Rima. 


“Mbak ingin mencari pengalaman di perusahaan lain Rim, mungkin sudah bosan kali ya di Prameswara, hahaha.” Tawa Sonia garing. 


Rima ikut tertawa, Sonia sudah berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan membuka kisah lama hidupnya pada siapapun yang baru saja dia kenal. Beberapa saat mereka bicara dan akhirnya terputus karena ada telepon masuk ke ponsel milik Sonia. Rima pamit untuk membersihkan diri, Sonia mengangguk dan beranjak ke dalam kamarnya untuk bicara dengan orang yang berada di seberang sana. 


Kabir menghubungi Sonia, setelah sekian lama mereka tidak ada komunikasi membuat Sonia merasa canggung. Dia teringat dengan Ajay, ingin sekali bicara dengan putra nya tapi selalu tidak bisa karena Kabir selalu memiliki alasan agar mereka tidak saling bicara. 


“Assalamualaikum, ya Mas.” Ucap Sonia. 


“Waalaikumussalam, Nia apa kabar mu?” Tanya Kabir. Pria itu hati-hati saat ini ketika bicara dengan calon mantan istrinya. 


“Apakah kau tidak ingin bertemu dengan Ajay?” Tanya Kabir dengan suara bergetar. Sonia menangkap ada hal yang tidak beres dengan putranya. 


“Aku selalu ingin menemuinya, tapi Mas dan ibu yang tidak pernah mengijinkannya. Bisakah aku bicara dengannya mas?” Tanya Sonia. Ada rasa rindu yang menyesakkan dada, wanita itu ingin saat ini juga berangkat ke rumah itu untuk memeluk sang putra. 


“Ni-Nia … maafkan aku, hiks … temuilah putra kita untuk yang terakhir kali. Datanglah sekarang kesini Nia,” Ucap Kabir terisak. Pria itu sungguh tidak bisa menahan tangisnya, Sonia memiliki firasat yang tidak enak. Beberapa hari ini memang dia selalu terpikir tentang putranya, tapi karena selalu dibatasi atau lebih tepatnya dihalangi membuat Sonia tidak berani menghubungi. 


“A-apa maksudnya Mas? Untuk yang terakhir itu maksudnya apa?” tanya Sonia mulai panik. 


“Ni-Nia … kita sayang dengan Ajay, tapi Allah lebih sayang dengan dirinya. Datanglah Nia, temui dia ….” Ucap Kabir terbata. 

__ADS_1


Duuaaarrrr!


“AJAAAYYYY jangan tinggalin Mama huuu huuu….” Teriak Sonia histeris. Tangisan Sonia pun pecah, hatinya seperti di tusuk ribuan pedang. Rima yang mendengar itu langsung lari mendekati Sonia yang kini sudah menangis histeris, Gadis itu mengambil ponsel yang terjatuh dari tangan wanita yang sudah dianggapnya seperti kakak sendiri. 


“Mbak … ada apa? tenang Mbak … sabar,” ucap Rima setelah bertanya. 


“Ajay anak ku … Rima, anakku sudah tidak ada Rim ….” Rima yang mendengarkan itu merasa bingung. Dia yang tidak tau apapun tentang kehidupan Sonia segera menempelkan benda pipih yang ternyata masih terhubung dengan orang yang menghubungi. 


“Hallo, maaf ini dengan siapa?” Tanya Rima. 


“Saya Kabir, ayah dari Ajay. Saya mantan suaminya Sonia. Maaf anda siapa? bisakah tolong anda bawa Sonia kerumah saya sekarang?” Tanya Kabir bertubi-tubi. Sesaat Rima terhenyak, ternyata wanita baik hati yang sudah membantunya itu, seorang janda yang kini terpisah dengan putranya.  


“Baiklah Kak, saya akan antarkan Mbak Nia. Tolong kirimkan alamatnya ya Kak,” Sahut Rima dengan cepat. Dia akan membawa Sonia ke rumah yang mantan suaminya. 


“Mbak Nia yang sabar, ayo Aku antar mbak. Sabar ya mbak,” ucap Rima sambil membimbing Sonia untuk besiap. 


“Rima, kamu bisa nyetir mobil?” Tanya Sonia. 


“Bisa Mbak, mbak mau nya kita pake mobil apa motor?” Tanya Sonia di tengah-tengah kesibukan wanita itu yang sedang berkemas. 


“Pake mobil aja Rim, oya … nanti kalau disana kamu mendengar ada orang yang bicara macam-macam tentang Mbak, tolong kamu tidak membenci Mbak ya Rim,” Ucap Rima. Tatapannya sendu dan ada beban berat yang kini terlihat jelas oleh Rima. 


“Iya Mbak, Rima percayanya sama Mbak Nia aja. Lagian mereka siapa? Bukan siapa-siapanya Rima juga. Sudah selesai Mbak? Ayo kita berangkat.” 

__ADS_1


__ADS_2